ya Rabb, ridhoilah…


tertegun ku duduk sendiri di tengah remang cahaya sore yang mulai meredup

berulangkali menghela nafas, menanti.

menanti takdir  yang tak kunjung berubah

“ku selalu berharap dan tak pernah terbangun…”

ahh, entah kenapa aku begitu senang tenggelam dalam ke-melankolis-anku

hmm,, katanya mereka itu memang senang dalam kemurungannya

menyedihkan

hei, jad teringat “mengejar matahari”

mungkin sebaiknya aku mengikutinya

ya, agar tak selalu kulihat dunia ini abu2

dunia ini berwarna pelangi

karena ada hujan dan matahari

dan matahari itu menghangatkan,,

kejarlah!

tapi aku suka di sini

dalam sepiku

di luar terlalu bising

tetap saja rasanya sepi

biarlah di sini agar ku merasa aman

suaka…

semu.

aku rindu

sungguh aku rindu

aku rindu menjadi pecinta sejatiMu

berlinang hati ini cemburu

pada srikandi sufi itu

nikmatnya ia rasakan mencinta Sang Maha Pencinta

hingga tak ada cinta yang lain

hingga rela tubuhnya dibentangkan dalam neraka

dan tak pernah menghirup wangi surga

ahh,,

sang pencinta

hati ini sedang kering, mengharap embun. . .

ya Rabb, ridhoilah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s