pertanyaan itu…


Sebelum ku sanggup mencipta sebuah wasiat, ingin ku mengeluarkan uneg2 ini, yang telah lama terpendam namun baru dapat kudefinisikan dengan jelas setelah tadi sempat menguraikannya panjang lebar kepada ukhti yang dengan sabar mendengarkanku hingga ia berkata, “Ne, aku juga nggak tahu jawabannya tapi lekaslah mencari jawabnya, jangan berlama2 dalam kondisi ini. Kamu harus segera menemukan turn pointnya, titik balik”

hh… ya tentunya, aku pun tak ingin berlama2 dalam kondisi ini. Tidak enak. Sungguh.

Hmm, begini, perlahan coba kugambarkan.

Keberadaanku dalam jamaah ini, awalnya memang “tercebur” eh tau2 sudah di dalam… perlahan, perlahan, mencoba mengkritisi, mencari jawaban, bertanya sana-sini, berdoa sampai akhirnya yakin. Ya, aku harus bertahan di jamaah ini. Ini penguatku di atas jalan ini. Jalan yang masih panjang, ujungnya belum tiba dan pangkalnya pun tak nampak.

Hingga ujian2 itu tiba, sungguh tak mudah. Berbadai-badai menghantam dengan telak, menyayat-nyayat hingga ku merintih “ya Rabb, sungguh perih, tolong jangan Kau berikan aku derita sepedih ini, aku tak sanggup”

Mencoba bangkit dan terus bertahan, di atas gerbong yang semakin melaju kencang. Aku tak ingin terlibas.

Jamaah. Tanzhim. Ya.

Suatu keniscayaan demi terorganisasinya da’wah ini secara profesional. penguat diri menuju cita2 terbesar. Kekhalifahan. Ishlah.

Suatu wadah yang insya Allah menyelamatkan. Sarana yang paling tepat.

Namun, sudah tepatkah ku di sini?

Arusnya semakin deras! Peganganku melemah.

Dulu, aku bisa menjawabnya dengan mantap. ‘ya, aku harus berada di sini! Tak banyak orang dapat bertahan untuk terus melakukan perbaikan. Orang dengan mudah kecewa, pergi. Meninggalkannya tanpa mau tahu lagi. Egois. Hanya dapat menyalahkan.’

Siapa yang berishlah kalau mereka yang berpotensi itu semua lari meninggalkannya karena merasa tak sejalan dengan rasional mereka, masya Allah… memang. Orang2 yang bertahan dalam barisan ini tak senantiasa lebih baik dari mereka yang di luar. Namun, mereka mau bersabar, mereka tak mudah kecewa, mereka mauberkomitmen, mereka bertahan dengan keimanannya untuk tetap dalam 1 barisan. Dan itu tak mudah.

Sekali lagi itu tak mudah. Ujiannya tak seindah yang kau bayangkan.

Hanya niat yang lurus dan hati yang bersih yang mampu bertahan.

karenaNya

karenaNya

lalu aku?

Ya Rabb, sungguh jika bukan karenaMu, akan kutinggalkan barisan ini.

Aku merasa lemah sungguh. Jujur, tak ada lagi alasan selainMu untuk bertahan.

Ukhuwah? Retorika katanya. Bahkan omong kosong bagiku.

Kecewa? Tidak! Sungguh bukan itu. Jalan ini memng terjal. Hanya yang kuat yang akan mampu bertahan. Jika kau merasa lemah, justru kau harus menguatkan yang lain. Jika merasa semakin jauh, justru kau harus mendekat. Iya aku tahu itu.

Hm,, tunggu. Mungkin masih ada. Aku tak ingin melihat teman2ku jatuh 1/1, aku harus menyangga mereka. Aku tak ingin melihat mereka jatuh. Atau ada lagi. Aku tak mungkin bertahan sendirian, jika aku pergi maka siapa yang akan menopangku?

Apakah aku salah berpikir begini? Apakah niatku sudah tidak lurus lagi ya Rabb?…

Tapi masih lebih baik kah daripada bertahan hanya karena tidak ingin berbeda dari yang lain. Tak ingin dicap “kecewa”, “sakit hati” dsb

Semakin lama, lelahnya semakin terasa. Jenuh.

Carilah aktivitas lain yang dapat merilekskanmu…

Apa lagi? Kau pikir masih ada sela di antara sekian banyak amanahmu? Kau tak punya lagi waktu untuk memikirkan kesenanganmu. Kau harus belajar menyukai seluruh amanahmu. Ini bukan bebam ukhti, ini adalah garis hidupmu. Tiap tarikan nafas dan denyut nadimu adalah da’wah… camkan itu

Aku tak mungkin memilih aktivitas yang tak bisa kukorelasikan dengan da’wah.

Da’wah adalah hidupku.

Iya, aku tahu. Tapi aku lelah…

Sama ukhti, saudara2mu yang lain juga. Ayo dukung mereka! Semangati! Rangkul mereka!

Sudah, sudah, tapi mereka sangat sibuk. Mereka mengabaikanku.

Teorinya memang mudah. Kita adalah batu2 bata yang saling menindih satu sama lain, maka kita harus saling menanggung beban, saling mengingatkan, saling menyayangi karenaNya..

Benarkah?

Bukan hanya retorika?

Bahkan aku sudah terlalu lelah memikirkannya.

Sudah terlalu malas.

Kini, jalani saja. Matinya hati akan mempermudah semuanya. Tak banyak kompromi, tak banyak protes. Jalani saja.

Seperti mayat hidup…?

Lalu apakah kita ini barisan zombi?

Barisan yang tak punya hati? Tak tahu ke mana tujuan?

Berjalan saja. Yang penting seirama.

Kau kecewa?

Tidak! Sungguh.

Hanya aku tidak tahan. Aku merasa tak sanggup. Tak semua orang harus berada di dalam kan?

Jika ku tak sanggup lagi memberikan yang terbaik dalam barisan ini

Jika ku tak sanggup lagi mengkritisi barisan ini

Jika ku tak sanggup lagi mengikuti lajunya yang semakin cepat

Bahkan jika ku sudah terlalu lelah untuk beretorika. Untuk meyakinkan diri bahwa aku harus tetap berada di dalam

Namun sungguh, aku tak kecewa. Sistem ini sudah baik. Semakin baik bahkan. Bukan pula karena oknum tertentu. Aku tahu amanah yang berada di pundak mereka. Amat tak bijak jika ku menyalahkan siapa2.

Tapi memang ku sudah terlalu lelah.

Tak mungkin lah ku meminta cuti. Istirahat.

Istirahat seorang muslim adalah ketika kakinya telah menginjak pintu surga…

Lalu aku harus berbuat apa?

Harus bertanya pada siapa?

Bertanya pada manusia hanya akan menyesatkan.

Bisa2 mereka turut tersesat bersamaku. Aku tak mau itu.

Namun memang amat kurasakan.

Barisan ini terlalu ideal jika nantinya kami harus terjun ke dunia yang sebenarnya tetapi ia terlalu semrawut jika harus mengahadapi realita da’wah dalam masyarakat kami sekarang.

Lantas?

Justru dengan berjamaahlah aku ditempa untuk menjadi kuat mengahadapi realita nanti. Dan dengan tetap mempertahankan idealisme inilah aku akan sanggup bertahan menghadapi realita masyarakatku kini.

Namun bagaimana nasib mereka di luar pagar ini?

Anak-anak jalanan.

Kaum papa yang bahkan tak mengenal makanan 3x sehari.

Apalah arti da’wah bagi mereka jika kita yang berada di sini nyaman membuat acara2 bergengsi di ruang berAC dan bahkan tak sanggup untuk meyakinkan teman terdekat kita sendiri bahwa mereka memang sebenarnya butuh Islam!

Apa tujuannya?!!

Sungguh, yang ada di hadapanku hanyalah apa yang disyari’atkan dan apa yang memang harus kulakukan untuk membuat da’wah ini indah di mata ummat. Tak ada lagi.

Aku juga tak hendak memilih apa yang hanya kusuka jika itu tak bersinggungan dengan da’wah ini.

Aku hanya minta waktu untuk menyelesaikan amanahku yang lain.

Mengurus takdirku yang lain. Keluargaku.

Tanggung jawabku dunia-akhirat. Aku tak mau durhaka di mata mereka palagi Allah. Aku tak ingin berbuat zholim.

Berhenti mencampuri takdir ukhti. Biarlah Allah yang mengaturnya. Lepaskan…

Ya aku tahu. Lantas aku harus berbuat apa?

Bagaimana sesungguhnya berserah diri?

Jika hati ini Ia yang punya namun raga dan pikiran ini tak sanggup lagi bertahan?

Ya Rabb, aku harus berbuat apa?

Selamatkan aqidahku ya Rabb…

Aku takut sungguh…

Bahkan menangis pun aku tak sanggup lagi…

Izinkanku benar2 berserah ya Rabb

 

Dengan sisa2 tenaga dan semoga keimanan yang utuh bahwa tangan ini ada yang Menggerakkan dengan kuasaNya. Semoga yang membacanya senantiasa Allah naungi dengan keimanan yang teguh.

Sungguh Allah Maha Pembolak-balik hati

Wallahu a’lam bishshowab

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s