Keuletan Jiwa


Semangat penanggungan dan naluri keulungan adalah gelora moral dan jiwa sekaligus yang hanya mungkin melahirkan bunyi cinta yang nyaring kalau ia menggaung dalam ruang kepribadian yang ulet.

 

Ulet. Pribadi yang ulet. Itu semua tentang daya tahan untuk terus memberi dan kemampuan untuk terus bertumbuh.

Keuletan adalah ciri pribadi yang kuat dan kokoh. Kerja-kerja batin dalam suatu tindakan cinta seperti memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi hanya mungkin dilakukan oleh jiwa-jiwa yang ulet: jiwa-jiwa yang selalu mampu menembus ketidakmungkinan, jiwa-jiwa yang selalu sanggup melawan kebosanan, jiwa-jiwa yang selalu bisa memecahkan kebekuan dan kemalasan, jiwa-jiwa yang selalu dapat mengalahkan kelelahannya sendiri.

Menjadi ulet adalah karakter utama yang diperlukan untuk menjadi pencinta sejati. Menumbuhkan dan merawat suatu hubungan jangka panjang, katakanlah sampai dua puluh lima atau lima puluh tahun, tentu saja membutuhkan daya tahan mental dan kemampuan untuk mempertahankan produktivitas hidup yang tinggi.

Lihatlah berapa lama waktu yang diperlukan para nabi untuk menyampaikan dakwahnya dengan hasil yang tidak dapat dipastikan? Lihatlah berapa lama waktu yang diperlukan para pemimpin bangsa untuk membangun bangsanya? Dalam kehidupan keluarga yang berlangsung hingga seperempat atau setengah abad, bagaimanakah kita mempertahankan kehangatan emosi melalui perhatian, penumbuhan, perawatan dan perlindungan terus menerus?

Keuletan adalah kesabaran pada maknanya yang progresif. Di sini bertahan tidak berarti berhenti. Di sini menanti tidak berarti melamun. Di sini mengalah tidak berarti mundur. Ulet adalah kata tentang geliat tanpa henti. Ulet adalah kata tentang pergerakan jiwa dalam dunia kebajikan yang tak selesai.

Jika ada latihan paling berat untuk menjadi pencinta sejati, maka inilah dia latihan itu: melatih jiwa menjadi ulet, melatih jiwa untuk tetap dan terus bergerak di tengah semua kesulitan, melatih jiwa melawan kebosanan dan kemalasan serta kelelahan, melatih jiwa melawan kesedihan dan keputusasaan serta ketakutan, melatih jiwa untuk mempertahankan kegembiraan dan keriangan serta kesenangan dalam semua situasi, melatih jiwa untuk tetap produktif daiam semua rintangan, melatih jiwa untuk tetap optimis dan progresif menghadapi waktu.

Tidak mudah memang. Tapi jalan cinta selalu begitu; itu adalah cerita panjang tentang kebajikan yang tak dapat dikalahkan oleh waktu. Para pencinta sejati selalu mampu menembus dinding waktu itu ketika mereka menjelma menjadi pribadi-pribadi yang ulet, yang selalu bergeliat dan bergerak dalam kebajikan tanpa henti. Tidak mudah memang.

Tapi jalan cinta selalu begitu.

_Serial Cinta-Anis Matta_

 

“Allahumma inni au’dzubika minal hammi wal hazan,
wa au’dzubika minal ‘ajzi wal kasal,
wa au’dzubika minal jubni wal bukhl,
wa au’dzubika min gholabatid daini wa qahrir rijal…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s