7 Tahapan Da’wah Fardiyah


Diresume dari 7 Tahapan Da’wah Fardiyah tulisan Syaikh Mustafa Mashyur

 

Bismillahirrahmanirrahiim…

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

(Fushshilat : 33)

“Sungguh sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seseorang lantaran dakwahmu, itu lebih baik daripada terbitnya matahari”

(Ada pun yang menyebutkan lebih baik dari dunia dan seisinya atau pun unta merah)

-al-Hadits-  

          Hal pertama dan yang paling utama “DISANDANG OLEH SEORANG DA’I” adalah ikhlash. Jadi teringat taujih, “Potret da’wah wajah da’i, potret ummat wajah da’wah”. Intinya dalam berda’wah, mau yang bentuknya bagaimana pun ikhlash itu nomor satu karena taufik, hidayah dan berkah Allah tergantung padanya.

          Menurut yang ana pahami, DF itu berarti da’wah secara interpersonal dan intens terhadap seseorang tetapi tidak mesti man-to-man alias bisa beberapa orang sekaligus menDFkan 1 orang. Agar tercipta hubungan yang erat dengan saudara/i kita tersebut secara fikriyah (nashrul fikroh) dan qalb, DF memiliki tahapan2 yang harus dilalui agar mencapai tujuannya :

  1. Membina hubungan dan mengenal setap orang yang hendak dida’wahi àtak kenal maka ta’aruf (saling mengenal) – tafahum (saling memahami) – ta’awun (saling menolong) – takaful (saling menanggung) hingga itsar (saling mendahulukan dalam kebaikan) …

Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya,

Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah mereka bercahaya.

Mereka bukan para nabi dan syuhada.

Tetapi para nabi dan syuhada iri pada mereka.

Ketika ditanya para sahabat, Rasulullah SAW menjawab

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah,

 saling bersahabat karena Allah dan saling kunjung karena Allah”

(HR. Tirmidzi)

 

2. Membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwa à setiap orang diberi fitrah oleh Allah untuk mencari kebenaran, eksistensi Tuhan, dan Islam dalam dirinya. Hal ini bisa datang dari mana pun, tinggal bagaimana kepekaan kita menangkap gejala dari orang2 yang telah tersentuh cahaya Ilahi ini kemudian mencari celah untuk masuk.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

(Ali Imran : 191)

Setelah itu bagaimana upaya kita mengarahkan keimanan mereka ke jalan yang insya Allah menuju keselamatan dunia & akhirat. Makanya kita pun harus memiliki pemahaman yang benar soal keimanan ini (salimul aqidah atau aqidah yang lurus).

3. Membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara2 yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk2 ibadah yang diwajibkan à dengan memberikan pemahaman bahwa beriman itu belum cukup jika tidak beramal, dan beramal itu akan cacat jika tidak berilmu, jadi kita bantu mereka untuk memperoleh ilmu yang benar mengenai aqidah, ibadah, akhlak dsb.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Mujaadilah : 11)

4. Menjelaskan tentang pengertian ibadah secara syamil (menyeluruh) mencakup segala aspek kehidupan dengan al ikhlash was shawab atau niat yang lurus karena Allah serta mengikuti tuntutan rasulullah. Niat seperti yang tertuang dalam Hadits Arba’in yang pertama tulisan Imam Nawawi,

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsi ‘Umar Ibn Khatab r.a katanya ; Aku mendengar Rasulullah saw berkata : “Hanya segala amal dengan niat dan hanya bagi tiap-tiap seorang apa yang dia niatkan.Maka barang siapa hijrahnya kerana Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya.Dan barangsiapa hijrahnya bagi dunia yang dia akan memperolehinya atau perempuan yang dia ingin mengahwininya, maka hijrahnya kepada apa yang dikehendakinya”

5. Ke-beragama-an kita tidak cukup hanya dengan keislaman kita sendiri. Ibaratnya surga itu terlalu luas untuk kita sendirian. Jadi, kita perlu menyeru orang untuk menyeru atau memushlihkan orang. Namun, jangan sampai kita hanya menjadi calo-calo kebaikan yang hanya memberikan tiket tanpa benar-benar ingin pergi ke tujuan itu sendiri. Kembali ke awal, ikhlash, lillahi ta’ala. Selain itu Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka”.

6. Kewajiban tegaknya kekhalifahan tak mungkin ditunaikan secara individu. Ini nih pentingnya berjamaah [high recomended : Beginilah Jalan Da’wah Mengajari Kami_ M. Lili Nur Aulia] sesuai kaidah syariah : “Suatu kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu (waduh ilang tulisannya, baik ana coba menambahkan, semoga benar) itu menjadi wajib pula.”

7. “Dengan jamaah mana ia akan bergabung?” à menarik. Memilih jamaah berarti memilih jalan terbaik yang benar-benar menuju keselamatan. Hal ini terkait amal Islami yaitu prinsip dan asasi. Jalan terbaik ialah jalan yang mengikuti tuntunan Rasulullah saw dalam menegakkan daulah Islamiyah. Hal pertama yang harus ditegakkan untuk mencapainya adalah aqidah kemudian wihdah (persatuan), baru kekuatan tenaga dan senjata. Aqidah itu sendiri  dibangun melalui proses tarbiyyah. Barang siapa tidak melaluinya dalam mempresatukan ummat, akan membahayakan amal Islami. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan itu dimulai dari bawah, mengokohkan pondasi. Dasar itulah yang akan dapat mendirikan sebuah negara Islam dan khilafah Islamiyah. Selain itu, jamaah yang perlu diikuti adalah yang sudah tertanzhim (terorganisasi) dengan baik dengan program yang teratur dan terencana sehingga mudah dijalankan. Hal tersebut insya Allah dapat terpenuhi dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Waallahu a’lam bishshawab…

Iklan

11 thoughts on “7 Tahapan Da’wah Fardiyah

  1. rahmat berkata:

    kok akhirnya ikhwanul muslimin sih?
    berarti harus klemesirrr dunk
    emang ga ada jamaah yg akhi tawarkan lagi agar menjadi referensi yg bijak

  2. rona khatulistiwa berkata:

    syukron telah memberi komentar
    ana hanya meresume bab dalam buku tsb,
    silahkan antum baca sendiri sumber aslinya
    boleh juga ditambah dengan referensi lain mengenai Ikhwanul Muslimin atau pun harakah lain
    semoga dapat menyimpulkan dengan lebih bijak =)
    oya, iinsya Allah ana akhwat

  3. Walau pun banyak yang sudah mendapat izin untuk share, sebagai rasa sopan santun, saya ikut mengajukan permohonan untuk membagi tulisan anda (tentunya menyertakan sumber).

    Kalau tidak berkeberatan, mohon reply via email agar saya bisa cek jawabannya via email.

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s