Membangun mimpi,,,


Membangun mimpi akan masa depan dengan orang yang disayangi adalah hal yang menyenangkan ketika dunia sudah begitu terasa sempit dan hampa.

Saat itu di tengah teriknya matahari di dalam bus AC Bekasi-Kalideres (kalau tidak salah), aku kembali merajut mimpi indah bersama ukhti tersayang tentang keluarga, anak,  usaha bersama. Bahkan ia sudah memesan 3 rumah pada temannya yang kenal dengan pengusaha yang akan membangun komplek perumahan ikhwah! ^^ ya, sudah lama kami merencanakan akan tinggal dalam satu tempat yang bisa jadi tempat kami membangun mimpi bersama. Wawa Family (Najwa, Salwa, Nawa). kami akan hidup bertetangga dengan membuka usaha Apotik. Ka Nawa sebagai apoteker, Ka Salwa  bagian pemasaran, Najwa bagian manajerial dan suami Ka Salwa sebagai pembaca pasar (lho, sopo iki? hehe piss Ka… ;p ).

kami benar-benar ingin menjadi seorang ibu. ibu yang kuat bagi anak-anak kami. anak-anak yang kelak akan menjadi mujahid pembangun kejayaan Islam. seperti cerita Ka Salwa tentang penaklukan Konstantinopel. adalah seseorang yang diramalkan akan membawa kejayaan.  beliau kemudian mempunyai anak dan ternyata anaknyalah yang membawakan kejayaan tersebut. anak yang ditempa oleh didikan seorang yang diramalkan akan membawa kejayaan. [saya tidak mahir soal sejarah jadi maaf jika ternyata salah]. Entah bagaimana aku pernah berintuisi bahwa suatu saat yang akan menjadi pendamping hidupku adalah orang yang jauh lebih tua dariku ataupun lebih muda dariku dan ia akan melakukan perubahan besar bagi ummat, bagi Indonesia, pembangun peradaban Islam dan darinyalah lahir seorang anak yang akan membawakan kejayaan Islam. waallahu a’lam. mungkin ini hanya harapanku yang begitu muluk.

Mimpi…

mimpi yang menjadi ‘azzam perjuangan di jalan Allah

mimpi yang terkadang menabrak tembok dan runtuh  manakala mengingat realita

hingga entah kenapa bayanganku akhir2 ini selalu pada ajal, seolah sekejap lagi ku akan dijemputnya. tidak, tidak sama sekali aku berniat menjemputnya duluan, na’udzubillah, apalah yang sudah diri ini tinggalkan bagi ummat, seberapa layakkah pula yang akan kubawa nanti tetapi jika ia datang, dengan suka cita kan kusambut ia. rindu ini sudah terlalu membuncah.

“Kita nggak  pernah tahu apa yang akan terjadi”

begitu ia menguatkanku sembari menggenggam erat tanganku.

terima kasih sudah mengulurkan tangan berkali-kali, tak bosan menarik diri yang seringkali terjatuh ini

tolong jangan tinggalkan aku jika suatu saat diri ini tak bisa lagi terkendali

aku butuh pegangan, sungguh.

hanya Allah yang layak memberikanmu sebaik-baiknya balasan

ukhti,

akankah kita bisa bergenggaman tangan ketika Hari Kebangkitan itu tiba?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s