takdir,,,


banyak yang mencoba mengejanya

antara harapan dan kenyataan

optimis dan pesimis

berserah atau turut mencampuri

jadi apa?

takdir…

saat pikiran ini melayang akannya

seakan Allah Menunjukkanku sesuatu

melalui telepon, ketika tiba2 temanku ingin menanyakan sesuatu tentang apa yang ia diskusikan dengan kawan atheisnya

“Tuhan tuh ga akan menguji manusia melebihi kemampuannya. Tak ada selembar daun pun terjatuh dari pohonnya tanpa sepengetahuanNya”

“karena Tuhan Maha Tahu tentang manusia dan Menentukan segala apa yang manusia inginkan dan pilih, berarti manusia kayak boneka yang Tuhan mainkan sekehendakNya dong” <hatiku memberontak>

“tidak! Ia Memberikan pilihan pada manusia dan tiap-tiapnya ada konsekuensi yang harus ditanggung…”

menerawang pikiranku–flash back– sembari terus mendengarkannya bercerita,,

kata-kata meluncur dari lidahku. tentang keimanan, tentang keyakinan yang tak sekecil zarah pun ada keraguan, mematahkan segala rasionalisasi, jika kau benar-benar ingin mengenal Tuhan. Rabb semesta alam.

tanganku mendingin dan jantungku memacu cepat

masya Allah! mengapa sampai kulupakan keyakinan yang dulu begitu melekat!?

keyakinan yang begitu kuat hingga mampu menghalau segala kebimbangan

keyakinan bahwa apa yang kau yakini akan terjadi, ia pasti terjadi

dengan izinNya, dengan tanpa meragukanNya sedikitpun

jika yang kau niatkan itu suatu kebaikan dan kau tempuh dengan cara yang baik. mengapa ragu?

kini?

“Jangan pernah berpikir bahwa takdir itu kan kau peroleh dengan diam. takdir itu adalah apa yang telah terjadi. lahir–telah terjadi.  rezeki tergantung upaya manusia, pun cinta. bahkan walaupun kematian telah ditentukan waktunya, Allah masih Memberikan pilihan tentang bagaimana caramu menjemputnya. Allah Menakdirkan sesuatu sesuai apa yang kau putuskan. jika kau memutuskan A, maka Allah akan Memberikan jalan menuju A”

dan di antara takdir dan kenyataan bersemayamlah doa

doa yang tulus dan upaya untuk jujur pada diri sendiri

jujur, aku belum mengerti bagaimana cara jujur dengan diriku sendiri

“sekarang aku ingin kamu memilih, apakah akan berlari atau berhenti. dan jangan setengah-setengah. jika kamu ingin berlari, mulailah dari sekarang. dan jangan lagi melibatkan banyak orang. cukup mereka yang benar-benar paham mengenai hal ini. tunjukkan kalau kamu memang serius. jika kamu ingin berhenti, berhentilah dengan total dan mulailah dengan berhenti berasumsi karena hal itulah yang menghantuimu selama ini”

. .

. . .

… (apakah kau rela berhenti begitu saja? apa kau rela takdir itu datang tanpa kuperjuangkan semaksimal mungkin? sejak kapan kau jadi orang begitu saja menyerah pada ketidakjelasan?! tapi aku takut ketika sudah berjuang, hasilnya tidak sesuai dengan harapan! sejak kapan kau bisa menentukan hasil?! kau hanya diminta ikhtiar! usaha semaksimal mungkin! takdir itu urusan Allah! lalu apakah rela jika ini benar2 berakhir tanpa kau perjuangkan?.. bahkan ketika kau mencoba mengakhirinya, kau tidak benar-benar mengerti artinya. kau berdusta) …

. . .

. .

.

“aku nggak tahu bagaimana cara untuk kembali berlari.. aku takut ini akan kembali menyakiti (aku takut berlari sendirian).. aku lebih takut lagi pada Allah…”

“tapi kamu nggak sendiri” . . .  . .  .  “sekarang bagaimana?”

“aku butuh istikhoroh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s