Suatu Hari Di Terminal Pulo Gadung…


(foto ini beneran Terminal Pulo Gadung lho menurut Oom Google ^^)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Fiuh… hari yang seru (gak seperti biasanya ngerem di rumah). Observasi tentang Kawasan Bebas Asap Rokok di terminal Pulo Gadung. Kami berempat  (2akh-2ikh) menjelajahi kehidupan terminal yang keras (berlebihan… ^^)

Kira-kira pukul 13 setelah shalat dan maksi, kami pun briefing membagi tugas wawancara. 2akh (opo iki?) mewawancara Kepala Terminal n orang yang ga merokok (asumsinya ibu2), sedangkan 2ikh mewawancara perokok. setelah membeli ucapan terima kasih berupa Dodol Garut untuk sang kepala terminal, berpencarlah kami ke berbagai penjuru. alhamdulillah siang itu cuaca tidak begitu panas

Tiba di kawasan terminal kami disambut oleh polisi yang kebetulan sedang mejeng di depan Pospol yang berdiri di depan terminal. setelah menjelaskan maksud kami, kami disuruh mencari Kepala Terminal (Kater) di ruang administrasinya (yang belakangan diketahui sbg kantor dishub). sebelum ke kantor tsb, kami sempat mampir ke warung untuk membeli tanda terima kasih untuk informan berupa minuman dingin (dengan asumsi ‘mayan lah ya abis ditanya2in minum yg dingin2 hehe’), ternyata sang bapak penjual sedang tidur… setelah dibangunkan oleh bapak petugas di situ & sempat terjadi adegan ludruk yg tidak lucu sama sekali plus digodai sama mas2 terminal, sukseslah acara membeli minuman itu yg akhirnya dilayani oleh mbak2 yg jaga (dari tadi kek) 

Tenang, kisah ini baru dimulai… ^^

Bermodal kepedean dan tanya sana-sini sama bapak2 yang agak serem & bertampang “maunya apa ni anak?”, masuklah kami ke ruangan (yang lebih cocok disebut gudang daripada kantor) Dishub Antarkota. disambut oleh 2 orang ibu yg nampaknya sedang hectic dgn tugasnya noa’2in bus. setelah menjelaskan maksud kedatangan kami untuk mencari data blablabla… kami malah dinasihati untuk membuat surat tugas dari kampus blablabla… dan saat itu Kater yg kami cari sedang mobilisasi di sekitar terminal. batallah rencana pertama.

Yasudah kalau begitu kami mewawancara informan lain dulu saja..

Ucluk2 ke toko tempat jual buku, kami melihat sasaran empuk berupa 2 orang mbak2 yg sedang jaga toko. langsunglah kami to the point minta wawancara blablabla.. ternyata mereka berdua menolak dengan ekspresi curiga dan saling tatap. kenapa ya? padahal cuma mau ditanya soal rokok. “cari yang lain aja mbak” ujar mas2 yang jaga di situ juga. ok de… sebelum pergi, sekelebat menangkap tatapan aneh dari pemilik toko, seorang Kokoh separuh baya. ah sudahlah, sotoy mode: on aja kali ya…

Sekarang beralih ke seorang ibu pedagang kue basah. coba dimodif sedikit caranya dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu + salaman n senyum manis. setelah tahu kami mahasiswa & bermaksud mewawancara, sikap ibu itu jadi judes & menolak mentah2 bahkan buang muka sambil ngelipet tangan di dada. seorang bapak yang turut menyimak pembicaraan kami berkata “cari yang lain aja mbak, ibunya nggak mau”, “iya pak terima kasih”

Kenapa ya pada resisten gini? seolah ada “aturan tak tertulis” untuk menolak segala bentuk pencarian informasi. mulailah pikiran “sok-detektifku” bekerja, apa yang mereka sembunyikan? apakah di sini ana jaringan obat atau prostitusi terselubung? yasudah lah ya… lanjutgan…

Akhirnya kami memutuskan balik ke Pospol di depan terminal tadi krn menurutku yg lebih berwenang soal rokok itu ya polisi. bukankah kepala terminal hanya mengurus yang terkait transportasi & pelayanan jasa saja?

Di sana kami disambut dengan polisi yang memiliki pendengaran agak, maaf, gitu lah. kami disuruh menunggu karena sang komandan yang berwenang sedang menerima tamu. aku pun mulai membuka pembicaraan, sekedar mencuri2 sedikit informasi tentang ketertiban terminal, kejadian2, pedagang, termasuk soal rokok yg langsung dioper ke komandan. selesai menerima tamu, kami langsung duduk dengan manis dan menyampaikan maksud kami. sayang sekali kami kurang beruntung krn sang komandan “sedang istirahat sehingga tidak bisa diganggu” ujar bapak yg menyambut kami yang merupakan wakil dari sang-komandan-yang-sedang-tidur itu. kami menawar apakah bisa diwakilkan, tetapi kami malah dioper ke Dishub Dalam Kota krn katanya yang berwenang soal itu adalah Kater. saya menawar jika nanti orangnya tidak ada untuk kembali ke Pospol itu lagi tapi kami disuruh nunggu sampai sang-komandan-yang-sedang-tidur itu bangun. huufff… Indonesia tanah air beta…

bersambung ah… capek ngetiknya… (paling buntut2nya lupa trus ga dilanjutin lagi deh… haha…)

2 thoughts on “Suatu Hari Di Terminal Pulo Gadung…

  1. lanjutkan, Ney!
    tapi cuman mau berbagi pengalaman aja yah.. wawancara di tempat-tempat ‘keras’ gituw udah pernah beberapa kali aku lakukan. sanga menantang! karena kita harus ‘merubah’ diri kita agar sesuai dengan mereka: cara bicara (sesopan mungkin, pake kata2 yang mudah dimengerti), cara menatap (sehangat mungkin, senyaman mungkin), gestur tubuh saat bicara (sehormat mungkin), pola pikir kita (sesederhana mungkin), dll.. dll… Semua harus dirancang sedemikian rupa agar wawancara yang mau kita lakukan dapat berjalan dengan lancar (jaya! hehe)…

    Tapi, suatu hari, aku pernah tertampar oleh seseorang ney.. ketika aku mau mwawancara seorang bapak-bapak (ketua RT di lingkungan ‘kecil’), bapak2 itu bertanya satu pertanyaan yang membuat aku tersentak kaget dan jadi malu untuk melakukan melanjutkan wawancara:
    “Adik, kalo cuman mau wawancara aja, Bapak nggak mau.” Bapak capek di wawancara mulu sama adik2 mahasiswa. setelah kalian mendapatkan informasi dari saya, trus apa?” (redaksional nggak sama yah)

    WAH! Plaaak! (aku tertampar!)
    Malu…
    padahal waktu itu wawancara awal mau melakukan comdev.. tapi tetep aja malu!
    Gituw deh, Ney..
    jadi wajar2 aja sih ketika ada calon2 informan yang merespon kita dengan jutek.. (mencoba berempati ‘bagaimana jika aku adalah mereka’)

    semangat yah! terus!

  2. eh kakak! (hehe.. emang siapa lg yg bkunjung ksini mpe rajin ngomenin selain kamu? ^^)

    bener ka, mereka tuh udah kenyang sama wawancara yg kita lakuin tapi ga ngaruh apa2 sm kesejahteraan mereka. udah itu mending kita wawancaranya sopan. biasanya klo bawaannya tugas, kita wawancara suka “ngasal” nanya padahal kunci wawancara menurutku adalah empati terhadap mereka (kessos bangetz!) shg iklimnya hidup & natural, juga bikin qt tambah semangat menolong mrk dgn serius.

    huhu… jd inget PKMM di Kukel, trutama bu RT & anak2 itu… kangen… T-T

    makasih ya kak atas masukannya, mari lanjutkan! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s