Suatu Hari Di Terminal Pulo Gadung… (part 2)


Ah ini sih belum apa2, belum sampai berdarah2… lanjutgan!

Kami berjalan ke arah kantor Dishub Dalam Kota yang dimaksud. Di sana banyak bapak2 bertampang sangar dengan berbagai aktivitasnya. kami pun kembali menjelaskan kedatangan kami kepada seorang bapak yang bertanya. kami diminta menunggu karena sang Kater sedang mobilisasi. alhamdulillah bapak ini orang yang terbuka dan tidak menanyakan kelengkapan administrasi yg kami bawa (nggak kebayang kalo Mbah bikinin surat tugas mencari data ^^) yang aku tidak suka di sana kami diperlakukan kurang santun. bahkan temanku sempat mendapat perlakuan (yang menurutku) pelecehan verbal berkedok candaan. sabar.. sabar… Kami memutuskan menunggu di luar.  baru sebentar keluar, ada 2 orang bapak mengenakan seragam dinas, langsung saja kami hampiri tapi ternyata bukan beliau. akhirnya kami dioper ke Wakaternya.

Bapak ini tergolong muda dibandingkan rekan2nya, kami disambut denagn ramah di ruangan khusus.  mulailah kami mewawancara secara to the point. kali ini aku tidak merasa segan mengemukakan identitas sebagai mahasiswa. ya, jadi Perda tentang rokok itu menurut beliau adalah kerjasama antar Pemda, satpol PP,  dan terminal. hanya saja, Kater itu sendiri tidak bisa memaksakan pemberlakuannya karena terminal itu sendiri adalah kawasan semiterbuka yang menyulitkan pengawasan penuh. jadi Perda tsb diterapkan sekedar berupa himbauan & pemasangan stiker. sanksi yg dikenakan pun sulit diberlakukan krn kurangnya kontrol “ya, kalo mereka ngeliat petugasnya mah, langsung aja buang puntungnya”, dan itu membuat mereka tidak jadi diberi sanksi tindak pidana ringan yg baru saja dilakukan. ada pun ruang khusus merokok disediakan hanya bagi penumpang bus antar-kota. solusi yang diungkapkan bapak ini juga normatif sekali dan kembali menyalahkan pemerintah pusat karena pabrik rokok tidak ditutup sehingga orang dengan sendirinya akan terus membeli. beliau juga mengatakan bahwa instansi mereka tidak begitu berwenang dengan masalah tsb. beliau mengatakan bahwa harus ditanamkan kesadaran pada generasi yang masih kecil sekarang bahwa merokok itu berbahaya blablabla.. (berarti nunggu para perokok yg sekarang mati semua dong pak baru kita bebas rokok? ujarku dalam hati ). kemudian aku menanyakan perihal pertanyaanku yg masih mengganjal soal sikap orang2 di terminal, apakah memang ada sesuatu yg tersembunyi. bapak itu menjawab tidak ada kejadian apa2, hanya saja memang perlu berhati2 yang namanya di terminal itu, ada perbedaan suku dsb… yaudahlah kalau begitu. kami pun pamit setelah memberikan Dodol Garut yg tadi kami beli. oya satu lagi, bapak tadi juga seorang perokok…

Selanjutnya kami masih punya tugas mewawancara 2 orang “korban rokok”. kami minta bantuan 2ikh karena tugas mereka mewawancara 3 orang perokok telah selesai. kami pun kembali mencari sasaran. kali ini kami masuk ke warung makan yang dijaga oleh seorang ibu sambil ceritanya membeli minuman dan numpang istirahat [pelajaran yg kulupakan dari PKM, ketika hendak mendapatkan informasi, kita lebih baik jangan makan dulu alias makannya di tempat informan itu berada agar suasananya lebih akrab]. aku pun memulai pendahuluan dengan menanyakan daganannya kemudian dengan kurang cantiknya aku langsung menanyakan tentang rokok tapi kali ini aku tidak membawa embel2 wawancara.  karena kekurangcantikan tsb sepertinya ibu ini mengetahui maksud kami bertanya-tanya  dan menanyakan apakah kami sedang PKL dan dijawab oleh temanku dengan ngeles yg kurang cantik juga. alhamdulillah ibu ini toleran karena ternyata anak beliau sudah sarjana. (pantesan ngerti rasanya jadi mahasiswa). ibu ini menjawab dengan sikap tak acuh. intinya sih terserah saja mau diberlakukan atau tidak karena beliau juga sudah terbiasa dengannya dan tidak mau mencari masalah dengan orang. ibu ini pun ternyata dulu mantan perokok yg sudah berhenti merokok selama 7 tahun. kami pun mengakhiri perbincangan itu dan pamit pergi.

Berikutnya kami kembali ke bagian bus antarkota, bermaksud mencari sasaran di ruang tunggu penumpang. kami kembali melewati bapak2 sangar yg kembali menanyakan tujuan kami. “mau ngapain?”, “ya mau ke ruang tunggu”, jawabku sekenanya daripada kami harus menjelaskan panjang-lebar kepada mereka yg bertampang “mencurigai” itu. selanjutnya aku melihat 2 orang ibu sedang ngobrol berdua tapi temanku sudah berjalan ke arah lain. tiba2 ada seorang bapak bertampang sangar (ya namanya juga terminal, dari tadi ya ketemunya yg model begini) yg kupikir adalah supir, bertanya padaku “mau ke mana?” sambil mengikutiku, kujawab saja “mau ke ruang tunggu”. ia terus mengikutiku sambil kembali menanyakan hal yang sama. Bahkan berani memegang tanganku! (tenang nes tenang…) “nggak ke mana2!” jawabku dengan nada mulai jengkel. aku pun menghindarinya dan langsung mengejar temanku. kami pun duduk di bangku yang tersedia. temanku nampak bingung bagaimana harus memulai pembicaraan dan gerak-gerik kami mengundang perhatian beberapa orang. heff.. sulit kalau begini. kubilang saja pada temanku untuk mengajak ngobrol seorang ibu yg duduk di sebelahnya. mulai dari membicarakan cuaca, menanyakan hendak kemana dst… tapi gagal. akhirnya kami berdiam sejenak, memperhatikan sekitar. ada seorang ibu yg dengan santainya menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya tanpa rasa dosa. temanku langsung menoleh padaku dengan tatapan “lihat deh, masa?”, “biasa itu mah, namanya juga terminal” ujarku. akhirnya kami pergi karena sudah tak tahu lagi mau berbuat apa. kami pun berjalan ke luar. aku bertanya, kenapa ia tadi tidak menghampiri 2 orang ibu yg pertama kulihat. “Itu pungli, soalnya bawa gepokan uang”. o.. pantas.. aku tidak melihatnya tadi. kami berlalu dengan masih ditanya “kok cepet banget mbak?” 

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 14:30 dan temanku sudah harus kembali ke kampus pukul 16:00, maka kami langsung menuju bus AC 84 yg akan kembali membawa kami ke Depok. di bus kami mengevaluasi hasil wawancara kami. ternyata 2ikh dengan mudahnya mewawancara dengan menunjukkan KTM kuning mereka. bahkan, pakai merekam suara segala. hff,, hari baik untuk mereka (ups, alhamdulillah… ;p). akhirnya bus berangkat dan aku pun tidur karena kelelahan, cuaca mulai panas dan jalanan pun macet.

Hm,, ya itulah sekelumit hariku di terminal Pulo Gadung. sebenarnya ketika pertama kali mendapat tugas tsb di terminal pula, yg kupikirkan “aduh, ngomongin soal rokok kok di sini? ketawa lah mereka, kita tanyai soal hal yg udah jadi makanan sehari2 mereka. gimana kalo ditanya soal perda sampah ya? ngakak sampe guling2 kali mereka..” tapi kuhapuskan segala prasangka itu. gimana kita mau maju kalau mahasiswanya sekali pun masih beerpikir seperti itu? harus ada yang berani mendobrak realita. realita memang fakta tetapi apakah lantas dibiarkan begitu saja jika akan merusak masa depan bangsa? apalagi kita adalah muslim (kalau tidak ingin disebut da’i) yg seharusnya mau (kalau mampu rasanya terlalu memaksa) menjawab permasalahan ummat, biar semuskil apa pun.

Semoga kita menjadi muslim yg senantiasa yakin akan rahmat dan pertolongan Allah dalam setiap kebaikan yang kita usahakan. proses yang baik. pasti Allah akan Memberikan hasil yang terbaik.

Jadi, selanjutnya langkah konkret apa yg bisa kita lakukan untuk menjawab permasalahan tsb?

Jawabannya harus kita cari bersama… (jamaah gitu loh… =))

Hidup mahasiswa!!

Allahu Akbar!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s