Bangkitlah wahai muslimin!


Bismillahirrohmanirrohiim

Saat ini Islam mengalami kemunduran yang signifikan antara lain karena kurang mampu mengimplementasikan ajarannya dalam menjawab permasalahan sosial. Hal ini semakin kuat melekat di benakku ketika terlibat diskusi dengan tante, oom, bapak dan seorang ustadz sembari menunggu momen yang merubah kembali jalan hidupku.

Sang ustadz bercerita bagaimana di tengah permasalahan ummat sekarang ini, Islam (muslim) tidak dapat menunjukkan diri sebagai solusi yang tepat. Banyak orang yang mengalami permasalahan kesejahteraan sosial justru mendapatkan perhatian yang dibutuhkan dari para misionaris. Ya, para misio ini memiliki modal yang begitu besar dan tidak hanya berasal dari dalam negeri, meskipun tujuan mereka bukan pada perubahan keyakinan itu sendiri melainkan lebih kepada bisnis yang menguntungkan diri mereka manakala program yang mereka ajukan itu berhasil. Selain modal yang besar, mereka juga profesional dalam menangani permasalahan dan kebutuhan para penyandang masalah sosial. Misalnya, mereka mempunyai tim khusus untuk mensurvei dan mengases kebutuhan si penerima bantuan. Ditambah lagi, mereka pun cerdik dalam memilih sasaran seperti, penghuni Lembaga Pemasyarakatan dan panti asuhan yang memang membutuhkan perhatian khusus. Para misio ini rajin berkunjung untuk memberikan “percerahan”.

Sedangkan kita sebagai muslim? Di samping dana yang kurang untuk membiayai operasional da’wah kita sendiri, banyak pihak beruang, bahkan para investor dari Timur Tengah yang lebih senang menginvestasikan hartanya pada pendirian masjid-masjid ketimbang pesantren. Mereka terlalu terpaku pada wujud fisik dengan hanya melihat secara harfiah hadits tentang ganjaran bagi orang yang mendirikan masjid di dunia. Mereka seakan lupa untuk turut memakmurkan rumah ibadah tersebut. Paradigma seperti inilah yang harus dirubah demi melakukan perbaikan terhadap kondisi ummat sekarang.

Selain permasalahan dana dan paradigma, terdapat kelemahan lainnya yang juga krusial untuk menyelesaikan permasalahan ummat, yaitu sistem manajemen. Contohnya, pengelolaan suatu BAZ/LAZ atau lembaga sosial yang berbasiskan Islam dinilai belum profesional dalam menjalankan sistem manajerialnya (seperti yang dituturkan seorang rekan yang pernah magang di tempat tersebut). Dengan adanya Amil Zakat, semestinya angka mustahik semakin menurun setiap tahunnya, tetapi kenyataannya justru meningkat dari tahun ke tahun.  Padahal, bukankah jelas perkataan khalifah Ali bin Abi Thalib bahwa kebathilan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir? Apakah kondisi seperti ini memang sudah sunatullah?

Merinding jika membaca kutipan kalimat dari seorang misionaris legendaris Henry Martyn yang mengatakan “Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta.”  Pun menurut Eugene Stock, mantan sekretaris editor di “Church Missionary Society”, tidak ada figur yang lebih heroik dalam sejarah Kristen dibandingkan Raymond Lull. Lull, kata Stock, adalah “misionaris pertama bahkan terhebat bagi kaum Mohammedans”. Itulah resep Lull: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan “darah dan air mata”, tetapi dengan “cinta kasih” dan doa. (Adian Husaini, 2005). Ini menujukkan keseriusan mereka untuk mengganyang Islam yang terlanjur dicitrakan sebagai ajaran yang kaku, keras dsb. Fakta terjelas di sekitarku saat ini adalah semakin banyaknya jumlah “mereka” di dalam jurusanku sendiri, Ilmu Kesejahteraan Sosial (bahkan jumlah Mabanya hampir mencapai separuh angkatannya). Suatu pendekatan yang “manis” dalam mewujudkan “kedamaian” ala mereka. Kita perlu mewaspadai hal ini sembari terus meyakini bahwa da’wah ini senantiasa diridhoi oleh Allah dan kelak akan mencapai kejayaannya.

Oleh karena itu, penting bagi muslim untuk dapat menguasai dan ahli dalam suatu kompetensi sosial tertentu serta menempati pos-pos strategis di masyarakat dan negara agar bisa secara konkret membahasakan nilai-nilai Islam ke ranah sosial. Mungkin saat ini saya hanya bisa beropini tetapi insya Allah ini akan tumbuh menjadi ‘azzam yang kan terwujudkan suatu saat nanti demi perbaikan kondisi ummat dan menegakkan kalimatullah.

Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s