(lagi2… apa ya judulnya?)


Ngomong-ngomong soal buku,

hari ini mampir ke TM Bookstore bareng sama ukhti yang tau-tau jadi deket (klo jodo emang ga kemana ^^). berputar-putar keliling-keliling nyari kado untuk ukhti lain yang baru milad sambil lirak-lirik untuk nambah koleksi pribadi. entah kenapa yang biasanya antusias melihat berbagai novel, hari ini agak malas menghampirinya. buku-buku filsafat.. udah bosen, buku psikologi.. di rumah masih ada tebel belon slese, buku kewanitaan.. lagi males (jadi wanita! hehe…), buku nikahan.. bosen teori mulu! langsung praktek ajah! haghag radikal,,, tafsir kontemporer.. ditaro lagi, buku nasihat penenang hati.. ditaro lagi, buku tentang membangkitkan potensi alam bawah sadar versi Islam.. ditaro lagi, novel -yangbiasanyamemenangkannominasisampekekasir- ditaro lagi, buku anak-anak.. (cukup deh mborong di bookfair kemaren, mahal2 bangetz! T-T jadi makin pingin punya anak…), buku pergerakan.. aduh nunggu ada yang nyeritain aja deh ^^”

JADI NYARI APA???

apa ya??? pingin sesuatu yang beda, yang belum pernah dibaca, yang nambah pengetahuanku akan sesuatu yang belum pernah kutahu… apa dong???

hm,, sebenarnya aku sedang mencari itu. buku berlandaskan Islam, tentang bagaimana menjawab permasalahan sosial kontemporer ummat saat ini. tulisan ilmiah dan aplikatif yang mendukung kompetensiku di ranah sosial dalam menjawab permasalahan ummat, khususnya kemiskinan. ini gara-gara masih teringat akan diskusi dengan ustadz sepekan lalu ditambah diskusi ARC tentang Islamic Worldview kemarin, membuatku penasaran akan literatur Islam dalam menangani permasalahan sosial. akan tetapi buku yang terserak di hadapanku semua mengenai kebahagiaan yang abstrak. bagaimana menjadi sholih secara pribadi. memang, aku yakin bahwa kebahagiaan itu datangnya dari hati, tetapi bagaimana meyakinkan itu kepada mereka yang mengenal nasi sehari 3 x saja tidak? ataukah memang ada, tetapi akunya saja yang “buta” saat itu? entahlah.

kutelusuri satu persatu judul buku Islam yang terhampar. sempat merembahi buku-buku sosial konvensional tapi udah eneg duluan membayangkan baca-baca teori-tanpa-Tuhan dari tokoh-tokoh ga jelas (senga’ betz ya? yg udah kayak bisa ngelahirin teori apa ;9). sampai akhirnya…

ada satu judul yang cukup menarik minatku “Mengapa Allah Membuatku  Miskin?” karya Imam Musbikin

kita lihat saja apakah buku ini bisa menjawab permasalahan ummat tanpa menggurui?

kalau dipikir-pikir, buku ini ditujukan kepada siapa ya? dari harga yang cukup menguras kantong, rasanya nggak mungkin si miskin yang dimaksud akan masuk ke toko buku dan membeli buku tsb. pun jika ada orang kaya yang berbaik hati membelikan buku itu kepada si miskin, apakah tak lebih baik mereka bekerja banting tulang mengais rezeki daripada membaca buku (yang tebal pula) tentang kemiskinan mereka?

apakah aku terlalu sinis? apakah aku terlalu merendahkan orang miskin? apakah pemikiranku jadi sekuler? sempat dengan sotoynya aku berkata pada temanku, “kudu gw yang nulis kali ya?”

sebenarnya jadi teringat karya-karya Mas Bandi yang minimal selalu mencantumkan ayat Qur’an atau hadits di sela-sela lembaran ilmu yang beliau tulis tetapi ada sesuatu yang kurang. ada sentuhan yang belum kurasakan.

wallahu a’lam

 

Ya, aku ngin menulisnya.

Ya Rabb, jadikanlah ini ‘azzam yang kan terwujud

Allahumma amiin…

3 thoughts on “(lagi2… apa ya judulnya?)

  1. Hohoho… di buku novel yang aku rekomendasiin itu ney, ada bagian cerita di mana Tamika (sang calon mualaf) mengunjungi mesjid saat shalat jumat untuk tugas makalahnya. Di bagian itu, ada beberapa paragrafyang isinya pertanyaan (retoris) dari sang ustandz yang ceritanya lagi khutbah..

    Tentang bagaimana seharusnya (mutlak) seorang muslim itu harus seimbang antara dunia dan akhirat, antara titel yang dia punya dengan kepekaan sosial yang dia lakukan, antara kekayaan dengan keserhanaan (baca: kedermawanan), antara ilmu dengan ruhiyah, antara jabatan dan aqidah…

    Pertanyaan-pertanyaan yang menohok dan berakhir pada jawaban bahwa TAKWA adalah makna yang luas! Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagaimana kita bisa menjadi manfaat untuk orang lain.

    Ini sangat dasar, tapi merupakan pondasi kuat yang mengatakan bahwa muslim harus sukses dunia – akhirat (sukses dalam arti harus juga menyukseskan orang lain dunia – akhirat).

    Yang menarik dan menambah wawasan, adalah, novel ini bener-bener menggambarkan bagaimana sulitnya membangun peradaban Islam di tengah minorits mereka di Amerika sana, tapi juga memperlihatkan bagaimana tetap kuatnya mereka walau ditempa steriotipe negatif dari masyarakat sekitar.

    Memang tidak aplikatif, tapi setidaknya pertanyaan-pertanyaan si ustadz di cerita itu cukup menampar ang dan memaksa ang untuk membuat sebuah rencana hidup yang sifatnya bukan untuk diri sendiri..
    ^^

  2. iya… aku udah lama nggak dirayu orang (biasa merayu! halah! radikal amat sih gw!)
    SEMANGAT neneneneneneneneneneneney!!!
    love u always, lillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s