Bayi mungil itu menyusu dengan lahap pada bundanya…

pemandangan yang amat menggetarkan dada

betapa kita sebagai anak tak dapat menggantikan tiap tetes asi, peluh dan air  mata sang malaikat yang Allah anugerahkan kepada kita. ibu.

ah… jadi melow gini

padahal sebenarnya senang setelah menjenguk Ri Chan yang baru melahirkan

Maryam. untuk ukuran perempuan, ia termasuk banyak minum

tubuh mungilnya yang merah terus bergerak aktif secara refleks mencari kenyamanan dari sang bunda di tengah cuaca yang memang panas itu dengan kondisi rumah sedang dalam pembangunan

dengan tak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu, ia tetap berusaha menaruh perhatian padaku

menggendong-menyusui-menepuk-nepuknya-menidurkan-lalu kembali menggendong karena sang bidadari terbangun dan menangis-menggendong-menyusui-menepuk-nepuknya-kemudian sang bidadari membuang hajatnya-membersihkan pakaiannya dengan sabar dan tak sedikit pun keluh keluar dari mulutnya, sambil menenangkan buah hati yang menangis

betapa siklus itu harus ia alami setiap harinya di samping pekerjaan rumah lainnya

terharu. betapa mulianya, ah apalah kata yang mampu melukiskannya…

apalagi dengan sifat Ri yang enerjik dan periang, rasanya manis sekali menatap pemandangan itu

hingga terbersit di hati “kapankah giliranku ya Rabb?”

kemudian kembali muncul apa yang sudah lama terpikirkan, mungkin memang Allah tak memberikannya sekarang karena aku belum siap.

belum siap untuk lebih mencintaiNya, rasulNya dan jihad di jalanNya ketimbang keluargaku jika mereka hadir sekarang

 . . .

. .

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s