Skizofrenia


Resume by dr hj Liza 140 366 660

Menurut www.schizofrenia .com, bahwa gangguan skizofrenia adalah “This is a major psychiatric disorder where the patient experiences a multitude of strange symptoms such as loss of contact with reality, false beliefs, false perceptions of sounds and images, abnormal thinking, reduced motivation and flattened affect.”

Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa yang ditandai dengan berbagai gejala seperti hilangnya kontak dengan realitas, penyimpangan kepercayaan, penyimpangan isi pikiran, persepsi pendengaran maupun penglihatan, berkurangnya motivasi dan emosi yang tumpul.

Angka prevalensi di dunia menunjukan 1 % dari seluruh penduduk dunia, laki = wanita, pada laki-laki mulai umur 18-25 tahun sedang wanita biasanya mulai umur 26-45 tahun, dan jarang muncul pada masa anak-anak, bila muncul pada masa anak-anak biasanya mengenai 4-10 anak diantara 10.000 anak.

Genetik berperan pada faktor pembawa skizofrenia, walaupun penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi ditemukan ganggual neulogi. Stressor lingkungan yang paling besar adalah broken home, atau broken marriage (www.schizofrenia.com)

  
“The worldwide prevalence is 1%. Both men and women are equally affected with schizophrenia, however it starts earlier in men(peak is from age 18 to 25 years) than in women (peak is between 26 and 45 years of age). It is rare in childhood or early adolescence, but does occur in 4 to 10 children out of 10,000. First degree relatives of schizophrenic patients have a 10-fold higher incidence of schizophrenia than the general population.
‘Adoption and twin studies have shown that the major factor is the genetic component, but there is a significant environmental component, which is also effective.”

Dari beberapa studi penelitian pada otak pasien skizofrenia ditemukan perubahan struktur otak seperti pembesaran system ventricular system, (ada cairan yang mengisi ruang sentral otak). Bagian lain dari otak seperti hippocampus dan temporal lobes lebih kecil namun basal ganglia melebar, hal ini ditemukan dalam MRI. Kortek cerebral pada pasien skizofrenia juga terlihat lebih kecil dari orang normal, dengan PET scan, menunjukan fungsi otak secara visual dengan fungsi glukosa menunjukan abnormal frefrontal menunjukan tidak dalam normal kontrol

What are the causes for schizophrenia ?
The exact cause is not known, but there is a biological basis. The popular model at present is a vulnerability model, where there is an underlying minimal neurological vulnerability. On top of this come environmental stressors such as a broken marriage, leaving home to go to the army, moving to another town to find work, the loss of a loved one etc. , which then causes the brain metabolism to derail. Often the disease itself can feed into this negative cycle by causing loss of work or relationships and leading to homelessness and poverty. This will then tend to make schizophrenia chronic and very difficult to treat.

Pada umumnya penyakit jiwa terbagi dalam 2 kategori, yaitu psikosa dan neurosa, bila pada neurosa pasien masih dapat membedakan mana yang realitas dan mana yang bukan realitas tapi pada psikosa pasien sudah menunjukan tanda-tanda kehilangan realitas. Orang awam bilang ”gila”. Maka skizofrenia termasuk gangguan psikosa.

Menurut PPDGJ III, Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit tidak bersifat kronis atau deteriorating”) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umunya ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi , serta oleh efek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear conciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.

Gejala penderita skizofrenia antara lain: 1.Delusi ,2.Halusinasi ,3.Cara bicara/berpikir yang tidak teratur , 4.Perilaku negatif, misalkan: kasar, kurang termotivasi, muram, perhatian menurun

BEBERAPA TIPE SKIZOFRENIA
1. Skizofrenia Paranoid ditandai dengan gejala : deluasi (waham) dan halusinasi dengan tema curiga, diancam, atau waham kebesaran
2. Disorganized Skizofrenia ditandai dengan bicara, dan perilaku ‘tidak nyambung’, emosi datar atau tidak tepat
3. Skizofrenia Katatonik ditandai dengan gejala pasien hampir tidak mempunyai respon terhadap lingkungan, gangguan pada aspek motorik dan verbal
4. UNDIFFERENTIATED Skizofrenia, pasien tidak masuk dalam kategori manapun.
5. Skizofrenia Residual didapat adanya riwayat minimal 1 episode gejala positif yang akut tetapi saat ini tidak menampakkan gejala positif.

BAB II
PEDOMAN DIAGNOSTIK BERDASARKAN PPDGJ III
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. – Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, atau
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya.

b. – Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.

c. Halusional Auditorik ;
– Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien .
– Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (di antara berbagai suara yang berbicara atau
– Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.

f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.

h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

* adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
* Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial.

Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima karakter berikut:

F20.X0 Berkelanjutan,

F20.X1 Episodik dengan kemunduran progresif,

F20 X2 episodik dengan kemunduran stabil,

F20.X3 Episode berulang ,

F20. X4 remisi tak sempurna,

F20.X5 remisi sempurna,

F20.X8. lainnya,

F20.X9. Periode pengamatan kurang dari satu tahun.

F.20 Skizofrenia Paranoid
Pedoman diagnostik
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
– Sebagai tambahan :
* Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
(c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

Diagnosa Banding :
– Epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
– Keadaan paranoid involusional (F22.8)
– Paranoid (F22.0)

F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik
– Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
– Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
– Kepribadian premorbid menunjukan yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan

 

 

Diposkan oleh dr. Hj. Liza 4121969 di 20:01

5 thoughts on “Skizofrenia

  1. Terima kasih Mas atas infonya,
    saya sendiri bukan orang medis, hanya seseorang yg punya kepedulian akan skizofren dan punya pengalaman dengan keluarga yg mengidapnya juga.
    Sekedar sharing, alangkah baik jika Mas senantiasa aktif mengisi waktu, misalnya dengan menyalurkan hobi Mas secara positif. Peran keluarga sebagai supporting system juga lah yang menjadi faktor penting menunjang kestabilan pengidap skizofren. selain itu, carilah komunitas / peer group yang dapat menyalurkan energi positif untuk Mas

    Tetap semangat menjalani hidup & berprestasilah!
    syukuri pemberianNya dengan memanfaatkan potensi diri Mas semaksimal mungkin dan pasrahkan setiap nafas dan langkah kepadaNya
    Semoga Allah Memberkahi hidup Mas ^__________^

  2. terimakasih atas pertanyaannya,
    sebelumnya maaf, pertanyaan Anda bisa saya terjemahkan sebagai berikut:
    1. Angka prevalensi penderita skizofrenia menurun atau tidak?
    jawab : berdasarkan pengalaman saya berpraktikum di Panti Laras Ceger, Cipayung yang berada di bawah Dinas Sosial DKI Jakarta. menurut petugas panti, setiap tahunnya, jumlah penyandang psikotik terlantar yang dirawat di panti semakin meningkat. bahkan menurut teman saya yang perawat, di setiap RT di Jakarta, pasti ada 2-3 orang yang mengidap gangguan jiwa.

    2. Menurun secara genetikkah?
    maaf, pengetahuan saya di sini masih belum mendalam, mengutip tulisan di atas
    “Genetik berperan pada faktor pembawa skizofrenia, walaupun penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi ditemukan ganggual neulogi. Stressor lingkungan yang paling besar adalah broken home, atau broken marriage (www.schizofrenia.com)”
    tentunya hal ini juga dipicu oleh kondisi lingkungan sekitar, apakah sering memberikan tekanan yang menyebabkan stress atau tidak.
    Berdasarkan pengalaman dari keluarga yang mengidapnya, faktor penyebabnya antara lain, genetik (perbedaan perilaku dari orang pada umumnya sejak kecil), pola asuh ortu, lingkungan sekitar termasuk pergaulan, lemahnya mental krn kurang kuat pegangan terhadap agamanya, serta peristiwa2 yang mengguncang bertubi-tubi. ini langsung mendatangkan triger (pemicu) yang fatal bagi penderita.

    semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s