Modal Spiritual vs Kemiskinan Kultural


 

 Di dunia ini, sudah sunatullahnya terdapat hal-hal yang bertolak belakang. Siang dan malam, kebaikan dan keburukan, keberhasilan dan kegagalan, juga kaya dan miskin. Kemiskinan itu sendiri merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dinilai sebagai suatu hal yang harus diberantas hingga hilang dari permukaan bumi. Namun, permasalahan timbul akibat jurang yang lebar antara kaya dan miskin sehingga lahirlah permasalahan sosial lainnya yang lebih kompleks seperti kriminalitas, prostitusi, kekerasan terhadap perempuan dan anak, masalah kesehatan dan pendidikan dsb. Karena itu, untuk menangani permasalahan tersebut, dibutuhkan analisis yang tajam serta penangangan secara komprehensif dan berkesinambungan oleh seluruh pihak yang terkait dengan hal ini. Berdasarkan hasil survei BPS Maret 2009, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia pada Bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta (14,15 persen). ( http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul09.pdf)

Di Indonesia, fenomena kemiskinan muncul tidak hanya pada dimensi ekonomi atau material saja. Ia juga menyentuh dimensi lain yaitu sosial budaya sehingga muncullah istilah cultural poverty yang dikemukakan oleh Oscar Lewis dalam teorinya. Hal ini muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin seperti malas, mudah menyerah pada nasib, dan kurang memiliki etos kerja (Edi Suharto dalam Sriharini, 2007, hal.114). Karena penyebab kemiskinan ini muncul dari dalam diri manusia itu sendiri, maka upaya menanggulanginya juga harus dari dalam diri manusia tersebut. Dalam aset komunitas, terdapat beberapa modal dalam suatu masyarakat. Salah satunya adalah modal spiritual.

Menurut Canda dan Furman (1999 dalam Adi 2008, hal.316),

Spiritualitas adalah jiwa dari upaya pemberian bantuan. Ia adalah sumber dari empati dan perhatian, denyut dari kasih sayang dan unsur utama dari kebijakan praktis, serta dorongan utama pada kegiatan pelayanan. Pekerja sosial mengetahui bahwa peran, teori, dan keterampilan profesional yang kita miliki menjadi tidak bermakna, kosong, melelahkan, dan tidak hidup tanpa adanya spiritualitas.  

 

Dorongan dalam diri seseorang yang bersumber dari kekuatan transedental manusia dengan kekuatan lain yang tak kasat mata serta lebih berkuasa darinya, di luar diri manusia, yang membawa orientasi manusia tidak semata-mata mengarah ke tujuan duniawi, tetapi lebih jauh lagi ke kehidupan yang lebih hakiki. Modal spiritual tersebut memiliki peran dalam proses pembangunan sosial, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat meliputi beberapa fungsi seperti, meningkatkan etos kerja dan memberikan daya dorong atau semangat yang positif dalam melakukan pembangunan; memberikan jiwa dalam upaya pemberian bantuan; memberikan arah dalam pembangunan, dan menjadi pelndung terhadap penyimpangan (Adi, 2008, hal. 317).

Spiritualitas erat kaitannya dengan pemahaman agama. Islam sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia dan memiliki umat terbanyak atau mayoritas di negeri kita ini dapat menjadi aset bermodal spiritual yang kuat manakala benar-benar memahami sumber ajarannya yaitu Al-Qur’an dan al-hadits serta mengimplementasikan secara komprehensif dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba mengambil intisari dari Al – Qur’an surat Ar Raa’d ayat 11,

“…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.…”

 

Menurut Misbahul Ulum (2007) terdapat refleksi sosiologis dari ayat tersebut yaitu 1) Konsep perubahan masyarakat (taghyir), yang menurut M. Quraisy Syihab ditafsirkan sebagai proses perubahan yang memosisikan manusia menjadi pelaku perubahan baik secara individu maupun bagian dari komunitas atau masyarakat. Berdasarkan pembentukan katanya, subjek pada ayat tersebut adalah Qaum yakni sekelompok manusia yang berkumpul dan terdiri dari berbagai jenis golongan, suku, bahasa, yang disatukan oleh ikatan tertentu dan mempunyai tujuan yang sama. Inilah yang mendasari terbentuknya faham kebangsaan Dengan kata lain, perubahan ini mengarah pada gerakan sosial yang mampu menggerakkan masyarakat (massa) menuju sebuah tata nilai ideal. 2) Konsep potensi diri. Berdasarkan tafsir Asy-Sya’rawi, Nafs (potensi diri manusia) sebagai penggerak tingkah laku manusia. Dalam nafs terdapat dua dimensi yaitu kebaikan dan keburukan. Maka dari itu kualitasnya dapat meningkat atau menurun. Nafs dalam diri manusia menjadi wadah dari berbagai potensi, menjadi penentu posisi dan peran manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik, keilmuan dsb. Kualitas nafs berimplikasi pada kualitas SDM. Atas dasar itulah, salah satu aspek dalam masyarakat yang menjadi fokus utama pengembangan adalah nafs.

Selain ayat tersebut, terdapat beberapa hadits yang menerangkan tentang kemiskinan dari persprektif Islam. Menurut riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

“Sekiranya salah seorang di antara kamu pergi mencari kayu bakar lalu dipikul di atas punggungnya (untuk dijual), hal ini lebih baik daripada pergi meminta-minta kepada orang lain baik ia diberi maupun ditolak.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

 

 “Orang yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhannya, dan kondisinya tidak diketahui sehingga diberi shadaqah. Maka ia diberi zakat dan dia tidak meminta-minta” (HR. al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu).

 

Begitulah ajaran Islam menghargai usaha dan proses seorang manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia. Terkait erat dengan hal tersebut, modal spiritual juga mengorientasikan daya yang kita punya kita bukan hanya untuk kehidupan di dunia saja, melainkan juga untuk mencapai kebahagiaan hakiki dari kehidupan akhirat kelak sehingga dalam menjalani usaha atau prosesnya, kita senantiasa diiringi rasa syukur atas segala rezeki yang dianugerahkan kepada kita dan bersabar atas kekurangan yang ada pada kita sambil terus-menerus berusaha memperbaikinya. Dengan begitu, niscaya jiwa pun akan merasa tentram. (Musbikin, 2008, hal.203-207)  

Dari uraian di atas, jelas bahwa pemahaman yang utuh tentang ajaran Islam sebagai salah satu substansi dari modal spiritual, seharusnya dapat meningkatkan produktivitas seseorang untuk memperbaiki kondisinya sehingga idealnya, tak ada lagi orang yang secara “sukarela” menjadi miskin.

 —

Sumber

Adi, Isbandi Rukminto. 2008. Intervensi Komunitas : Pengembangan Masyarakat Sebagi Upaya Pemberdayaan Masyarakat Bab 7 Aset Komunitas Dalam Pengembangan Masyarakat. Jakarta : Rajawali Pers.

Misbahul Ulum. 2007. Model-model Kesejahteraan Sosial Islam : Persprektif Normatif Filosofis dan Praktis hal. 1-26 Konsep Tagyir dan Pengembangan Potensi Diri Masyarakat. Yogyakarta : Fakultas Dakwah Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IISEP-CIDA.

Musbikin, Imam. 2008. Mengapa Allah Membuatku Miskin? Terapi Hati Menyelamatkan Iman dan Jiwa dari Kemelut Kemiskinan Bab 5 Keluar Dari Kemelut Kemiskinan. Yogyakarta : DIVA Press.

                         Sriharini. 2007. Model-model Kesejahteraan Sosial Islam : Persprektif Normatif Filosofis dan Praktis hal. 109-127 Strategi Pemberdayaan Masyarakat Miskin. Yogyakarta : Fakultas Dakwah Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IISEP-CIDA.

http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul09.pdf

One thought on “Modal Spiritual vs Kemiskinan Kultural

  1. Berbicara tentang cultural poverty, budaya-budaya seperti malas, tidak konsisten, ingin mendapatkan hasil yang cepat, dan lain-lain adalah budaya yang berkaitan dengan orang yang bersangkutan: ada dalam dirinya sendiri! Namun, tentu setiap manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam kasus ini, culture poverty yang dimiliki seseorang juga merupakan hasil pengaruh dari lingkungannya. Jadi kalo mau sok-sok bikin rumus:

    CP=IF+OF
    (cultural poverty = inside factor + outside factor)
    haha! Tapi bagaiamana hubungannya antara IF dengan OF? timbal balik? lurus? atau berkebalikan? haha!

    Tapi, jujur, saya sudah muak membicarakan tentang masalah kemiskinan, dampaknya dan menganalisis dengan teori-teorinya.. sudah banyak orang yang melakukan itu.. tapi mengapa belum juga kita bergerak keluar dari lingkaran setan ini?

    Jika saya mengkomparasikan antara tulisan Ney dengan tulisan Saudara Hudzaifah Hanum (kunjungi http://www.hanumisme.wordpress.com, tentang kemiskinan dalam bahasa Inggris), maka sebenarnya yang ditunggu adalah “What is the solution?”. Nah, berhubung kita adalah muslim, maka pertanyaannya dipersempit menjadi “What’s the contribution do we have to do, as a muslim and as a person who believe that Islam is the only solution, to solve this problem?”

    Berat yah? tentu! Karena kalo berbicara tentang solusi dari kemiskinan ini berarti kita juga berbicara tentang aspek-aspek lain, khususnya aspek pendidikan karena dengan pendidikan seseorang yang bodoh bisa menjadi tahu, termasuk dalam hal norma, nilai, agama, skill, pengetahuan umum, wawasan, dan lain-lain. Berbicara tentang solusi kemiskinan juga berbicara dalam lingkupnya luas.. Jadi memang tidak mudah! Dengan kata lain, jika ingin serius mengatasi masalah ini, setidaknya kita (sebagai muslim) harus punya dua aspek: ILMU dan NYALI (satu aspek hilang, maka percuma!).

    Tapi jangan kecil hati lho! Karena kita, sebagai wanita, adalah calon pranata pendidikan pertama bagi anak-anak kita nanti. Memang masih sangat jauh, tapi setidaknya anak-anak yang kita didik dengan benar nanti bisa menjadi generasi Rabbani buat negara kita, buat Islam seluruh dunia!

    Wanna try? hee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s