Ialah Bu Titi


Siang itu, tak seperti biasanya aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sudah jenuh untuk lebih lama di kampus. Setelah ngumpul dengan kelompok Analisis Masalah Sosial (AMS) dan memastikan beberapa hal beres, aku pun  segera membawa diri ke halte bikun FISIP. Setibanya, aku bertemu dengan seorang kawan seangkatan yang selama ini tak begitu dekat. Mampirlah aku sejenak ke kost-anya. Di tengah obrolan, iseng aku bertanya apakah ia mau mentoring, ternyata ia mau melanjutkannya (semasa SMA ia pernah mentoring). Astaghfirullah,, lalai benar aku ini, ke mana saja selama ini sampai tidak sadar bahwa di sekitarku banyak kawan-kawan yang sebenarnya ingin mengenal Islam lebih dekat hanya perlu ajakan yang tulus dari kawannya.

Tak lama kemudian, aku pamit dan kembali ke tujuan semula, ke sebuah tempat yang membuatku rindu akannya, rumah Bu RT 01  Kukusan Kelurahan. Tempat dulu kelompok PKMM PIMNAS-ku melakukan pemberdayaan, pengabdian terhadap masyarakat. Pas sekali saat tiba di gang rumahnya, ia baru saja turun dari motor bersama dengan putra bungsunya. Kuhampiri ia seraya mencium tangannya dengan takzim. Rindu sekali dengan sosoknya yang ceplas-ceplos, optimis dan berprinsip sekali pun ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah orang bodoh yang tidak tamat Sekolah Dasar. Namun, bagiku ia adalah sosok wanita yang tangguh dan berkarakter. Ia membesarkan lima orang putra-putri yang hingga kini empat dari kelimanya (karena si bungsu baru kelas 2 SD) telah menjadi ikhwah. Subhanallah…

Siang itu bertamu memang hanya berniat bersilaturahim dan sedikit menyampaikan info soal sekolah alam yang hendak diselenggarakan oleh Pengmas HMIKS. Jadilah kami ngobrol panjang tentang apa yang terjadi selama bebrapa bulan terakhir kami tidak jumpa. Saat lebaran, beliau keliling ke rumah saudara dengan tak lupa membawakan buah tangan.

“Saya emang ngebiasain nabung di bulan Ramadhan supaya pas lebaran bisa bawa oleh-oleh untuk saudara, syukur-syukur pas ada rezeki bisa bawain masakan danging tapi kalo lagi nggak ada ya.. sekedar jeruk masa iya nggak bisa bawa”*.

Beliau lebih memilih untuk berbagi rezeki kepada saudara-saudaranya ketimbang membeli pakaian baru untuk keluarganya padahal secara kasat mata keluarga beliau bukan termasuk yang berekonomi berlebih. Ia pun menanamkan hal ini kepada putra-putrinya, meskipun sekali waktu ingin membelikan pakaian baru untuk buah hatinya,

“Ya kasian aja namanya anak-anak kan kita pingin ya nyenengin mereka, pakai baju baru kayak temen-temennya tapi ternyata anaknya nggak mau dibeliin”, “Nggak usah bu, yang lama juga masih ada”*.

Subhanallah…

Ibu RT bercerita bahwa adik perempuannya baru terkena musibah, beliau terkena stroke hingga lumpuh dan tak bisa melakukan apa-apa lagi tanpa bantuan orang lain, padahal beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit dengan biaya yang pastinya tidak murah.  Beliau sempat putus asa dan ingin hidupnya segera berakhir. Beliau merasa tak lagi berguna dan hanya merepotkan orang di sekitarnya. Bu RT diminta saudara-saudaranya yang lain untuk menasihati adiknya karena beliau dinilai “tegaan” untuk menyampaikan sesuatu yang mereka sendir nggak enak untuk menyampaikannya. Ngomel lah beliau kepada sang adik,

“Allah tuh nggak bakal nguji hambaNya lebih berat dari yang sanggup ia tanggung. Elu mestinye bersyukur masih punya suami, anak, saudara yang masih peduli sama lu. Masih ada rezeki untuk nanggung segala biaya lu. Ini ujian dateng bukan cuma buat lu, ini juga tegoran buat kita (saudara-saudara yang lain), masih banyak orang yang jauh lebih menderita darilu, kena bencana alam, nggak punya rumah, ditinggal orang yang disayangi dsb. Gue ngomong gini juga belom tentu tahan kalo diuji kayak lo tapi gue yakin kalo Allah nguji lu kayak gini, lu pasti bisa melaluinya.”*

“Saya sebenarnya nggak enak ngomong kayak gitu soalnya saya juga belom pernah dikasih ujian yang berat, alhamdulillah selama ini hidup baik-baik aja.”

Aku tersenyum, mengangguk-angguk dan sesekali bertasbih mendengarkan ceritanya. Aku jadi membagi sedikit ceritaku tentang teguran Allah melalui surat At-Takatsur dalam shalatku. Kemudian Bu RT menanggapinya,

 “Emang kalo mikirin dunia tuh nggak akan ada abisnya, selalu aja kurang, nggak ada puasnya. Saya selalu nyempetin ngaji biar kata kerjaan rumah belom kelar, kalo udah waktunya ya saya tinggal dulu.”*

Mendengar ceritanya, sungguh merupakan pelajaran bagiku yang masih sering dilalaikan oleh dunia, masih belum mensyukuri segala nikmat pemeberianNya. Meskipun berlabel da’wah, tak selalu niat yang lurus dan hati yang jernih menjadi sandaran. Terkadang, muncul keraguan, kejenuhan akan rutinitas, event yang selama ini mengisi hari-hariku. Mungkin aku lupa memperhatikan ruhiyahku sehingga amalan-amalanku kosong. Hampa.

Sungguh Engkau selalu ada bersamaku. Kau pertemukanku dengan jawaban kala aku butuh pencerahan. BimbinganMu tuk melangkah ke sana sedikit mengobati rasaku saat itu.

Terima kasih banyak yaa Rabb, Kau kenalkan aku dengan wanita hebat ini. Ialah Bu Titi.🙂

*Redaksional mungkin kurang tepat, seingatku aja =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s