Apa Kabar Da’wah?


Dunia ini tak selamanya hitam dan putih
Kenyataannya, banyak hal yang butuh sejuta kearifan untuk bisa kita pahami.
Bahwa kebaikan akan tetap disebut kebaikan meski apa pun bungkusnya…

Tahukah kamu?
Adaseorang noni (non Islam) yang menyisihkan uang setiap harinya untuk membeli koran dari anak kecil yang menjual koran di FISIP tetapi bukan karena ingin membaca koran.

Tahukah kamu?
Adaseorang “anak kantin” yang mengajari mengaji anak-anak jalanan.

Tahukah kamu?
Adaseorang saudari yang berniat mengunjungi rumah teman-teman jurusannya satu persatu karena ingin benar-benar mengenal mereka. Tanpa perlu bertanya apa-apa tentang teman-temannya tsb, ia mampu mendapatkan kepercayaan dari mereka cukup dengan keberadaannya menginap semalam di rumah
mereka.

Tahukah kamu?
Ada seorang saudari yang rela nongkrong di lingkungan yang bahkan Tuhan pun tak mereka shalati, hingga suatu saat salah satu temannya itu mulai shalat kembali dan minta diajari mengaji olehnya, dan ia memberikan hadiah mukenah kepada temannya itu supaya temannya semakin semangat beribadah shalat padahal saya yakin ia harus menabung dulu sebelum membelinya. Ia tak pernah memiliki maksud apa2 kepada teman2nya tsb, apalagi berda’wah. Ia merasa belum pantas karena ilmunya sendiri masih dangkal.

Tahukah kamu?
Ada seorang kawan Pecinta Alam yang suka mengkaji Al-Qur’an, bukan sekedar membacanya, bahkan membaca huruf Arab pun ia masih terbata-bata. Saat itu, bacaan saya sendiri masih sebatas komik atau novel.

Tahukah kamu?
Ada seorang saudari yang membuat rekan kerjanya ingin hijrah ke Islam karena melihat indahnya Islam dari dirinya padahal ia masih belum berjilbab (bukannya karena tidak mau).. Ia sendiri bekerja untuk menghidupi keluarganya dan memutuskan untuk tidak kuliah. Namun di saat sudah tepat baginya untuk kuliah, ia berkorban untuk tetap bekerja karena belum mau meninggalkan temannya yang sedang ingin mempelajari Islam tsb.

Atau pernahkah kamu mendengar alasan seseorang jadian karena ingin memperbaiki pacarnya dan kenyataannya, pacarnya tersebut berubah dari anak hedon menjadi muslimah berjilbab.

Mungkin di antara kalian ada yang tertawa mendengarnya.
Sungguh mereka ada, mereka nyata. Mungkin di antara kalian juga ada yang mengenal orang-orang seperti mereka. Mereka tidak tarbiyah, bahkan tidak mengenal definisi da’wah & da’wah fardhiyah. Da’wah bagi mereka adalah definisi yang terlalu mewah, mereka merasa tidak pantas berda’wah. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar berharga. Mereka tidak sadar bahwa Allah tidak pandang perantara ketika memberikan hidayahNya. Mereka melakukannya atas dasar kemanusiaan.

Memang, dalam da’wah dan beramal, kesesuaian niat dan caranya harus benar. Harus dengan ilmu. Akan tetapi sayangnya, masih banyak orang yang terlena dengan hidupnya, merasa telah menyumbangkan yang terbaik bagi da’wah tanpa benar-benar menyadari realita kemaksiatan di sekitarnya. Akibatnya, saudara-saudara kita yang berniat lurus tetapi ilmunya belum cukuplah yang “bergerak”. Bermaksud berbuat baik tetapi tidak bangga dengan identitas muslim-nya.

Sungguh, saya bukannya tidak senang berada di antara saudara/i yang sholih. Namun, terkadang saya iri dengan mereka yang dapat menyampaikan ajaran Islam dengan leluasa di mana saja. Saya sedih ketika menyadari da’wah yang selama ini saya lakukan adalah dari, untuk, dan oleh kami. Masih sebatas menyelesaikan proker dan syuro. Memang, itu adalah bagian dari profesionalisme organisasi. Namun, ingin hati ini bisa berda’wah di medan yang “sebenarnya”.

Lingkungan kampus itu masih ideal jika dibandingkan dengan realita di luar sana. Jangan sampai di tengah suasana kampus yang “nyaman” ini, kita sudah merasa lelah dengan beban da’wah. Atau mungkin kita merasa jemu karena da’wah yang monoton selama ini sehingga kita tidak merasakan esensinya, nikmatnya, barakahNya. Kita akan cepat kecewa atau futuur. Laju da’wah memang cepat, kita harus senantiasa memacu diri
kita untuk lebih baik, akselarasi dan akselarasi. Jika kita lengah sedikit, kita akan tergilas olehnya dan bisa jadi orang yang “berguguran” di jalan da’wah (naudzubillah…)
Perlu kita sadari dan sadarkan, da’wah ini bukan hanya milik kita, bukan hanya milik sekelompok jama’ah, dakwah ini milik ummat. Mari bersama-sama kita bumikan da’wah, memberikan pemahaman akan da’wah kepada ummat…

Sungguh, saya menulis ini bukan ingin menyindir kalian atau ingin membuat kalian merasa inferior. Hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg. Lebih baik lagi jika bisa dijadikan motivasi. Kita sebagai orang yang telah tertarbiyah semestinya bisa berbuat jauh lebih baik daripada orang yang beramal tanpa ilmu.
Allahu a’lam bishawab

 

 

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah,
tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri[324] .
Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak
serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras
siksaan(Nya) .”
QS An Nisaa’ : 84

Sel, 23/12/08 22:51

(Tulisanku awal-awal di sebuah millist)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s