sampai kapan aku harus sanggup


bertubi-tubi

bertubi-tubi

lukisan dari hidup yang amat berwarna

sampai menjadi coklat keruh

pekat

lantas aku apa?

aku terlalu kecil untuk memahami rencana besarMu!

apa ini wujud rasa sayangMu?!

ataukah azab…

bagaimana aku menebusnya??!!

jawab ya Rabb!!

aku tak ingin mengiba, sungguh

matikan saja ia ya Rabb…

ambil ia

kami . . . kami . . .

tak kuat menyaksikannya

seperti mayat yang selalu hidup dalam kotak pandora

karma

karma

biar ia pulang tenang di pangkuanMu

tak mungkin kan dengan tanganku?

atau memang selama ini aku telah perlahan membunuhnya?

juga ia, ia yang menopangmu selama ini

ia yang meskipun tak paham akanmu

tapi ia tahu ada luka padamu

dan ia berusaha mendukungmu

dalam lelahnya

yang tak ia lukiskan

apa yang telah kau berikan kepadanya?

lantas apa lagi?

oh iya, kamu kan bertanggung jawab atas ini itu ini itu

semua menuntutmu prima

jadi tak kan sempat memperhatikan mereka

bahkan apa yang menjadi kewajibanmu

kau harus dapat balasan!

biarlah, masa satu dua verbal attack  saja merobohkanmu

kan kamu sadar apa yang kamu lakukan?

eh, sadar nggak?

yakin?

apa lagi? apa lagi?

ia!

iya ia

ia iya

iya..

ia..

biarkan saja pergi

biarkan ia temukan hidupnya

kau tak kan sampai hati kan menyeretnya dalam kubanganmu?

kau seret dalam ketidakmengertian yang tak kau mengerti

terlalu rumit, pelik, pekat

apa yang kau harap?

aku tak tahu

sesuatu

bukan tentangnya

tapi kedatangannya, kejadiannya

bak kotak harta karun yang menyimpan kunci emas

tuk membuka pintu takdir

ataukah takdir itu memang tak kan pernah tiba

mungkin memang terlalu muluk bagimu

memangnya kau siapa?

punya apa selain kubanganmu??

merasa pantas?

kemudian

segala menjelma sebongkah batu besar yang menghantam keimananmu

meninggalkan borok besar

yang tak kau mengerti rasa-wangi-warna-tekstur-nadanya

munculkan dahaga nurani dan akal

akan hidup

kehakikian

yang selamai ini kau pikir telah kau pahami

tapi itu tak cukup

idealisme semu

hampa

bak bola kaca yang selalu membuatmu terkungkung

lantas?

nanti apa lagi?

sampai kapan aku harus sanggup

aku ingin pulang ya Rabb

kembali padaMu

Iklan

4 thoughts on “sampai kapan aku harus sanggup

  1. syahrazadhumeira berkata:

    haaaaaaaaaa??????????????? ini maksudnya mau meninggal yak??? kakak sakit yak???

    ya Allah,,, saya jadi pengen ngikut… (maap soalnya ga ngerti mau komen apa..)

    pokoknya ntar kalo ketemu di sorga kita tetep camen-camenan ya kak..janji loh!!

  2. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.. (2: 216)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s