Pengorbanan ataukah Kelalaian Besar Kita?


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Kita adalah muslim dan muslimah yang mandiri, idealis dan berusaha menampilkannya tanpa ragu di kelas-kelas yang diikutinya di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa muslim, kita tak mau menyerah dengan ilmu-ilmu sekuler juga dosen-dosen dan teman-teman sekulernya. kita yakin benar kalau Islam lah satu-satunya ideologi yang benar mengalahkan segala ideologi kosong buatan manusia. Kita tak kan menyerah menyuarakan kebenaran. Pun di luar kelas. Kita adalah seorang aktivis da’wah di bidang keilmuan. Berusaha menyuarakan bahwa Islam itu cinta dengan ilmu. Islam itu serdas dan berilmu. Kita suarakan itu melalui kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat yang sering kita ikuti. Kita yakin benar bahwa apa yang kita lakukan akan mencapai ridho Allah SWT. Kita yakin benar dengan makna yang terkandung dalam QS Muhammad : 7, bahwa Allah akan Menolong hamba yang berjuang di jalanNya. Kita berjuang menegakkan risalahNya lewat kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat hingga terkadang kita lupa, bagaimana pun kita adalah mahasiswa di dalam suatu institusi sekuler yang punya legalitas atas keberadaannya di kampus, yang selama ini menjadi wujud nyata eksistensinya berjibaku dalam da’wah selama ini, sebagaimana kata yang secara resmi tersemat di belakang kata entitas da’wah itu sendiri, “kampus”, yakni tempat setiap orang menuntut ilmu untuk berbagai tujuan. Intinya yang menjadi penanda legalnya keberadaan da’wah itu sendiri. Institusi sekuler yang mengakui keberadaan da’wah itu sendiri, dan karenanya, kita disebut sebagai mahasiswa, aktivis da’wah kampus.

Lantas? Meskipun kita berprinsip nahdu du’at qobla kulli syai’i, sekali lagi kita tetaplah menumpang dalam sebuah institusi sekuler yang secara legal mengakui pergerakan kita sebagai da’i, maka mahal harga yang mengiringi status tersebut. Tidak hanya secara materi, tetapi juga peranan dan tanggung jawab kita secara legal dan utama dituntut sebagai mahasiswa dibandingkan aktivis yang bahkan sudah diberi tambahan label yang membuatnya resmi berjibaku dengan sasaran da’wahnya, “kampus”.

Peran dan tanggung jawab ini tidak begitu saja melekat pada diri sang da’i seperti tak mudahnya menjalankan peran dan tanggung jawab bagi seseorang yang menyandang predikat “muslim”. Ia harus mengikuti segala peraturan dan konsekuensi yang baik secara struktural maupun kultural tersemat pada predikat mahasiswa. Yang harus benar-benar dipahami adalah status mahasiswa dalam sebuah institusi sekuler bernama kampus itu lebih diakui dan dihargai ketimbang status sebagai aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label “kampus”). Karena itu, secara legal, porsi perhatian yang diberikan bagi kegiatan di dalamnya pun seharusnya lebih banyak bagi status “mahasiswa” ketimbang “aktivis da’wah”.

Tidakkah kita berpikir? Bukanlah hal yang mudah ketika kita tak ragu sedikit pun merasa ragu dengan ayat dan hadits mengenai da’wah di atas tetapi kita sedang berada dalam sebuah institusi sekuler yang punya wewenang resmi atas keberadaan kita di sana? Meskipun kita berdarah-darah dengan da’wah tetapi tak ada yang tahu, tak ada yang mengerti bahkan tak ada yang merasakannya. Na’udzubillah… Apalah arti kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat yang tadi kita persembahkan bagi da’wah jika bahkan untuk menjelaskannya manfaatnya di depan teman-teman kita pun , lidah kelu berkhianat. Untuk apa? Bahkan mereka tidak merasakan keberadaan kita di saat mereka berjibaku demi status mahasiswanya, sedangkan kita lebih memperjuangkan status aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus. Jika begitu, apakah masih pantas disebut da’i?

Ketika kita lebih memenangkan kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat, di atas tugas-tugas kelompok kita yang isinya diselingi gosip, ejekan, candaan, perbincangan yang tak berfaedah, yang mungkin intensitasnya lebih besar dari tugas itu sendiri bahkan keberadaan kita di sana tidak begitu signifikan dalam arti tugas itu tidak sedemikian rumitnya hingga perlu banyak orang untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, bagaimana pun ini legal karena toh sebagian besar orang tua kita pun membiayai kita untuk itu kan? Mahasiswa. Bukan untuk label aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus. Sungguh pelik. Ketika kita sudah muak dijejali teori-teori sekuler oleh dosen-dosen sekuler, ditambah lagi kita harus berjibaku mengerjakan tugas-tugas sekuler bersama teman-teman sekuler padahal misi mulia untuk umat menanti. Eits, tunggu. Misi mulia yang mana? Umat yang mana? Umat yang kita kecewakan karena kita lebih memilih kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat? Karena lebih memilih berjibaku dengan rencana-rencana da’wah hingga penutupan hari kita, yang memikirkan umat hingga ke peraduan sampai mata terpejam dibandingkan dengan tugas-tugas kelompok kita? Umat yang bahkan tak tahu apa yang sedang kita lakukan dan tidak merasakan sedikit pun dampak darinya? Umat yang menuntut pertanggungjawaban kita dari apa yang kita lalaikan sebagai mahasiswa. Umat yang tak sedikit pun menyinggung tentang status dan peran kita sebagai da’i. Yang mereka tahu kita adalah muslim-muslimah berjilbab panjang, bercelana bahan yang suka beraktivitas di mushola membuat acara-acara Islam yang bahkan meliriknya pun mereka enggan karena sedang sibuk dengan teori-teori sekuler, tugas-tugas sekuler yang diberikan oleh dosen-dosen sekuler. Jika begitu, lantas siapa kita? Da’ikah? Mahasiswakah?

Ya Rabb, hingga kini kami masih ingin meyakini kandungan dari QS Muhammad : 7, masih ingin memegang prinsip nahdu du’at qobla kulli syai’i. Hingga kini kami masih ingin memperjuangkan status kami sebagai seorang aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus yang bukan sekedar mengejar gelar sarjana, bukan sekedar punya ijazah untuk mendapatkan pekerjaan, harta, kuasa, dunia. Teguhkanlah keyakinan kami atas pilihan ini. Berikanlah kami pemahaman yang benar di dalamnya agar apa yang kami perjuangkan ini tidak menjadi sia-sia. Agar ridhoMulah yang benar-benar menjadi tujuan kami kemarin, kini, nanti, selamanya.

Wallahua’lam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s