Cukup 3 huruf : WOW!


Dua hari ini aku menjalani Pembekalan Praktikum karena semester depan insya Allah akan mengambil mata kuliah spesial Praktikum I.  Setelah mengisi form yang berisi keterangan bidang dan setting yang diminati, pengalaman bekerja, karakter diri positif dan negatif yang terkait praktikum, serta kemampuan komunikasi lisan dan tulisan, akhirnya hari ini penentuan lembaga di mana aku akan berjibaku 1 semester ke depan. Dengan memilih bidang 1. anak/remaja (pengembangan potensi) 2. kesehatan jiwa 3. pemberdayaan perempuan dan mengambil setting individu/keluarga/organisasi, maka….

PANTI LARAS — Cipayung, Ceger, JakTim — Setting : Kesehatan Jiwa — Nurul Hikmah, Herina Chorni Utami, Nesya Eka Putri

Ok, apakah Panti Laras itu?

Menurut beberapa sumber, itu adalah kompleks panti yang terdiri dari panti jompo, panti anak, panti jiwa, dan mungkin panti-panti lainnya. Di panti jiwa, ada 2 unit yaitu Unit 02 untuk pasien dengan gangguan jiwa berat (dari namanya udah serem) dan Unit 03 untuk pasien yang sudah mulai pulih dan bisa diberdayakan. Kabar baiknya (atau horornya?) Panti Laras ini merupakan mitra baru Departemen Kessos alias belum pernah ada mahasiswa Kessos praktikum di situ! Walhasil kamilah pioneer yang dengan nekat menyetujui pilihan departemen tsb. So, kami akan mendapat kuliah khusus dan juga mendatangkan seorang psikiater komunitas dari FK yang akan membekali kami dengan ilmu dan keterampilan menghadapi para pasien di sana. huff… 

Tak berhenti sampai di situ, aku pun kembali mencari info tentang panti tsb ke temanku anak psiko, ternyata beliau pernah ke sana tapi bagian panti jomponya dan di sana beliau diceritain sama penghuni panti, “Mbak, di sebelah itu kan tempatnya orang gila. Dulu pernah ada yang kabur ke sini, kami sampai takut. Mereka suka teriak-teriak apalagi akhir bulan…” masya Allah…

Lalu aku mengsms konselorku, “Mbak, aku dapet tempat praktikum di Panti Laras Cipayung, Ceger bagian kesehatan jiwa. any comment?”, beliau menjawab, “Comment ckp 3 hrf: WOW ! hehe” 

Setibanya di BKM aku menanyakan ke beliau tentang panti tsb dan ternyata beliau pernah praktik di sana pada tahun 2003. Panti tsb berada di bawah Dinas Sosial. Kondisinya sangat miris dengan fasilitas dan jumlah petugas yang minim. Pasien-pasiennya dijaring dari jalanan dan ditempatkan dalam 1 sel berdesak-desakan. Mereka makan, (maaf) BAB, tidur di situ, mandi dengan disemprot pake selang dari luar sel, nggak berpakaian, berteriak2 dan baunya itu katanya luar biasa. Pokoknya menyedihkan dan nggak manusiawi. Nggak tahu lah kalau sekarang, semoga lebih beradab secara mereka berani membuka praktik untuk mahasiswa. 

“Ini juga akan membuatmu banyak-banyak bersyukur tentang kondisimu Nes..” aamiin…

Sampai di rumah pun mencoba mencari info di Pakde Gugel. Info yang didapat ternyata nggak kalah serem.

Menengok Panti Laras (Penampungan Orang Gila) Cipayung Gubernur Heran, Orang Gila Fasih Bahasa Inggris
PENDERITA sakit jiwa atau yang biasa disebut orang gila kerap ditakutkan masyarakat bahkan diasingkan. Ketakutan itu boleh jadi mereka yang terganggu kejiwaannya ini kerap lepas kontrol dan menyerang orang di sekitarnya termasuk orang dekat sekali pun hingga mencederakan dan menghilangkan nyawa.
Seorang laki-laki tanpa busana sehelai pun duduk termenung di halaman Panti Laras Cipayung Ceger Jakarta Timur. Kedua kakinya dirantai dengan besi yang berat dan tidak memungkinkan dirinya berlari. “Dia dari Kosambih. Dia dititipkan di sini setelah menyembelih bapaknya,” kata Kepala Panti Laras Cipayung Budiman Taufik.
Budiman mengatakan lelaki itu terpaksa dipisahkan dengan teman-temannya karena kondisinya sudah sangat parah. Berbagai obat penenang sudah tidak mempan lagi suntikkan dalam tubuhnya. “Dia sudah kebal obat, jadi terpaksa kita rantai agar tidak menyerang yang lain,” papar Budiman.
Sebagai pengelola panti, Budiman setidaknya mengasuh lebih dari 300 penderita sakit jiwa dari yang taraf ringan hingga stres berat. Penderita sakit jiwa yang dikategorikan berat itu, menurut Budiman, tergolong cukup berbahaya.
Uniknya, mereka yang tergolong stres berat ini tidak bersedia menggunakan pakaian. “Mereka lebih suka telanjang. Kalau kita paksa pakaikan baju pasti langsung dibuka atau disobek-sobek, bahkan dimakan,” tutur Budiman.


Pamerkan bahasa Inggris dan Perancis
Akan tetapi tidak semua penderita sakit jiwa menakutkan seperti yang dijelaskan Budiman tadi. Ada seorang penghuni Panti Laras Cipayung yang berhasil mencuri perhatian Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat meninjau Panti Laras Cipayung, Jum’at (03/10).
Saat rombongan melintas, tiba-tiba seorang perempuan menyeruak dan petugas panti laras memberi tahu perempuan berusia 28 tahun itu bernama Defina menguasai bahasa Perancis dan Inggris. Semula pandangan meragukan tertuju kepada Defina, tapi begitu gubernur memintanya memamerkan kemampuannya semuanya pun terbelalak.
Dengan fasih Defina memperkenalkan dirinya dalam bahasa Perancis. Begitu pun ketika gubernur meminta Defina untuk memamerkan kemampuannya berbahasa Inggris. “I have student in IKIP Rawamangun. I’m from Karawang (saya mahasiswi IKIP Rawamangun. Saya berasal dari Karawang–Red),” ujar Defina.
Gubernur dan Defina pun terlibat percakapan dalam bahasa Inggris.”Why you stay here (kenapa kamu di sini–Red),” tanya gubernur kepada Defina. Dengan lancar Defina menjawab, “I can’t get a work to eating. My mother only give me Rp5.000 one day (saya tidak dapat pekerjaan. Ibu saya hanya memberi saya Rp5.000 sehari–Red).”
Dalam bahasa Inggris Defina dengan lancar menjelaskan dirinya telah enam bulan berada di panti. Ketika gubernur berseloroh, “I want to study French with you (saya ingin belajar bahasa Perancis dari kamu–Red).” Defina langsung menolaknya. “Ohh, I don’t have time (saya tidak punya waktu–red),” seloroh Defina.
Ungkapan dari kebon binatang
Jawaban polos Defina langsung mengundang tawa rombongan di antaranya Walikota Jakarta Timur Koesnan Halim, dan pejabat Dinas Bintal dan Kesos DKI Jakarta di antaranya Kepala Dinas Bintal Kesos Syarifudin Mahfud dan Kabag TU Sasmita.
Menurut Budiman, Defina merupakan pasien RSCM yang dititipkan ke panti karena orang tuanya tidak sanggup lagi mengurusnya. Defina ditinggalkan keluarganya yang tidak mampu lagi mengeluarkan biaya untuk mengobati Defina yang tidak kunjung sembuh.
Dalam kesehariannya, Defina adalah salah satu penghuni panti yang tidak berbahaya. “Jika kumat, paling dia hanya mencaci maki orang. Ungkapan dari Kebon Binatang keluar semua,” papar Budiman.
Sayangnya, kata Budiman, tidak ada riwayat hidup tentang Defina dari RSCM sehingga tidak diketahui penyebab gangguan jiwa pada Defina. Keterampilan berbahasa Inggris dan Perancis diperoleh Defina saat menimba ilmu di IKIP Rawamangun jurusan sastra Perancis.
Sama dengan penghuni panti laras lainnya, perkembangan Defina pun sangat lamban. Tidak seperti panti sosial lainnya yang memiliki paramater yang pasti, panti laras sulit untuk mengindentifikasi kesembuhan penderita sakit jiwa. “Mungkin hanya secara medis yang bisa, tapi penderita sakit jiwa ini suka kambuh lagi ketika sudah dinyatakan sembuh,” tuturnya.
Untuk menanganinya, dibutuhkan kesabaran ekstra. Khususnya dari petugas panti laras. 32 orang pegawai panti laras bekerja 24 jam yang dibagi dalam dua shift. Suhemi, yang telah 12 tahun mengabdi sebagai pegawai panti laras mengaku telah mengenyam asam garam berhubungan dengan penderita sakit jiwa.
Digigit orang gila
Pengalaman buruk seperti diserang, digigit, atau dipukul sudah menjadi hal biasa buatnya. “Pernah saya mau nyuntik pasien yang ngamuk, suntiknya malah diambil dan disuntikan ke saya. Saya mau mandiin pake selang malah selangnya diambil terus diguyur ke saya, ini sudah biasa buat saya,” tutur Suhemi.
Menurutnya, untuk menghadapi penderita sakit jiwa yang menyerang dia tidak boleh melawan karena pasti akan kalah. Jika hanya dipukul Suhemi akan diam saja dan pergi tapi jika sudah mengamuk dia akan langsung minta bantuan rekan-rekannya untuk memberikan obat penenang.
Setiap harinya, Suhemi bekerja mulai pukul 05.30 WIB hingga sore hari. Tugasnya adalah memandikan penderita sakit jiwa, yang bisa mandi sendiri hanya diawasi sementara yang tidak akan dimandikan massal dengan cara dibariskan ke samping kemudian disemprot dengan selang.

Begitu pun waktu makan, mereka yang bisa makan sendiri hanya diawasi sementara yang tidak terpaksa disuapi dengan telaten. Para penderita sakit jiwa ini tergolong menolak untuk makan terutama mereka yang stres berat harus dibujuk dengan sabar. Jika tidak, makanan yang diberikan akan dilemparkannya ke lantai atau ke teman sendiri maupun petugas.

Tidak terbayangkan kesabaran yang harus dimiliki petugas panti untuk menangani para penderita sakit jiwa. Tak banyak yang rela mengabdikan diri untuk merawat orang yang tersisihkan dari masyarakat. Sebagai Dinas Sosial, unit ini adalah unit yang paling mulia. Mereka tulang punggung orang-orang terlantar di Jakarta. Semoga pengabdian mereka bisa menjadi cermin agar masyarakat mau ikut berpartisipasi.(elly anisyah)

 Sumber :  http://www.hupelita.com/baca.php?id=18624

Semoga jadi pengalaman berharga yang lebih mendewasakanku kelak dan tentunya menghasilkan manfaat bagi mereka yang diciptakan olehNya dengan kebutuhan khusus juga masyarakat sekitar.

I WILL SURVIVE!!! YEAH!! PANTI LARAS, I’M COMING!!!

Laa hawla wa laa quwwata ilaa billaah…

SEMBANGGATZ!!!!!! (-^______________^-) /

3 thoughts on “Cukup 3 huruf : WOW!

  1. Heeee…. bahkan udah nggak tahu lagi harus berekspresi seperti apa saat baca postingan ini. Insya Allah yang terbaik kalau Allah memberikan sesuatu ke hamba-Nya. Semangat! Jangan lupa bagi-bagi ceritanya yahhhhh… ^^

  2. sipirili kakaku!!!
    aamiin…
    kaka juga yah! =)
    ngga tau??
    bukannya kayang sambil lompat? hehe… ^^’v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s