Nurani


Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan

Gairah dan hasrat membuatnya terasa dekat

Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau buram

Itu karena mata yang kita pakai untuk melihatnya terletak dalam hati

Apakah kau mendengar suaranya saat memohon untuk tak dikotori?

 

Bertanya Pada Hati

Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kau berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

-M. Anis Matta-

 

Apa yang membuat seorang lelaki diambil menantu hingga dua kali oleh ayah paling mulia sepanjang masa? Ruqayyah nama puteri cahaya itu. Lalu ketika Ruqayyah meninggal, Ummu Kultsum, adikanya menggantikan bersinar di rumahtangganya. Alangkah berbahagia sang pemilik dua cahaya itu, ‘Utsman ibn ‘Affan, Radhiyallaahu ‘Anhu. Ya. Tapi apa yang membuat Sang Nabi menjadikan ‘Utsman menantunya hingga dua kali?

Tentu Halaman-halaman ini tak cukup untuk memaparkan jawabnya. Juga tak pantas rasanya jika harus bertanya mengapa pada seorang ayah sekaligus mertua yang pemalu dan penuh cinta. Maka biarlah secuplik gambaran tentang ‘Utsman datang dari pembantu rumah tangga Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Namanya Anas ibn Malik. “Aku datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan”, kata Anas, “Waktu di jalan aku bertemu dengan seorang wanita. Aku meliriknya dan memperhatikan kecantikannya.”

Begitu Anas ibn Malik sampai di hadapannya, ‘Utsman menegur, “Telah masuk salah seorang di antara kalian sedang di matanya ada bekas zina. Tidakkah engkau tahu bahwa zinanya mata adalah pandangan? Hendaknya engkau bertaubat, kalau tidak, akan aku kenakan hukum ta’ziir kepadamu!”

Alangkah terperangah Anas. Bagaimana ‘Utsman bisa tahu? “Subhanallah!”, serunya, “Apakah masih turun wahyu sesudah Rasulullah wafat?”

“Tidak. Ini hanya firasat seorang mukmin..”

Maka hari itu, di tengah majelis ‘Utsman yang syahdu, Anas terngiang-ngiang sabda Sang Nabi. “Takutlah akan firasat seorang mukmin”, kata beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Sesungguhnya hatinya melihat dengan cahaya Allah”.

Suara Nurani dan Jeruji Dosa

Allah Subhanahu wa Ta’aalaa mengutus Rasul dan menurunkan KitabNya untuk membimbing manusia agar meniti jalan yang dikehendakiNya; jalan cinta para pejuang. Dengan bimbingan wahyu yang mengejawantah itu, sejarah kemanusiaan kita diwarnai gelombang kebaikan dan badai kebajikan. Mungkin pemahaman masing-masing manusia terhadap wahyu berbeda. Mungkin perkenalan tiap-tiap manusia dengan RasulNya juga tak merata. Tetapi masih ada satu perangkat lagi yang ditanam Allah dalam diri manusia untuk mengenali kebaikan dan memilihnya. Itulah nurani.

          Jadi, seterbatas apapun perkenalan manusia dengan bimbingan Ilahiah melalui Rasul dan wahyu, ia masih punya kesempatan untuk bertanya pada hati dan mendengarkan suara nuraninya. Sungguh, tiap kali berhadapan dengan suatu keadaan, ada seberkas bisikan dari dalam nurani agar kita melakukan hal yang benar dan yang lurus. Allah memberi kita bekalan fithrah untuk mengenali kebaikan dan keburukan, lalu memberi kita kuasa untuk memilihnya.

Tak ada yang lebih jernih dari suara hati,

ketika ia menegur kita tanpa suara.

Teguran yang begitu halus,

begitu bening,

begitu dalam

Tak ada yang lebih jujur dari nurani,

Saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata.

Nasehatnya begitu hening,

Dan kita tak kuasa menyangkal.

Tak ada yang lebih tajam dari mata hati,

Ketika ia menghendak kita dari beraga, kesalahan dan alpa.

Begitu tipis,

Begitu mengiris.

Berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu.”

(H.r. Muslim)

 

          Hati bicara tanpa kata, menjawab tanpa suara, dan sering menyengat tanpa terlihat. Tapi ia terasa. Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita mengambil kiblatnya. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita menapakkan pijakannya berupa niat dan tekad. Maka Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah raja. Jika ia erdenyut baik, maka baik pula seluruh raga yang berdetak dalam iramanya. Jika ia rusak, maka rusak pula semuanya.

          Setiap kita punya hati, dan di dalamnya nurani kita terus bergeletar menyuarakan pesan Ilahi. Permasalahannya kemudian adalah bisa tidaknya pesan nurani itu bergerak keluar menembus dinding hati lalu terdengar bergerincing. Seringkali ia hanya berbisik. Tak jelas. Atau bahkan terbungkam. Itu karena karat-karat dosa menjerujinya. Kemudian, setiap suara hati hanya mampu menggetarkan jeruji-jeruji itu. Hingga seringkali kita mengira suatu bisikan sebagai suara hati, padahal itu adalah geretak jeruji dosa dan palang-palang nafsu. Nurani yang berbisik, menyakiti hawa nafsu yang mengungkungnya. Lalu hawa nafsu itu berteriak nyaring. Dan dialah yang kita dengar.

          Setiap kemaksiatan yang kita lakukan menjadi noktak dosa yang menghitamkan hati. Awalnya, nurani kita akan selalu mengirimkan tanda bahwa ia tersakiti. Tapi ketika hawa diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang dan diulang, noktah-noktah dosa telah menjadi jeruji, membelenggu nurani hingga suaranya semakin lirih. Padahal satu noktah dosa selalu mengundang teman-temannya. Hingga suatu ketika, hati mati rasa. “Hukuman terberat atas suatu dosa”. Ya. Karena merasa tak berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati.

          Mengotori hati dengan dosa, sama artinya dengan meredupkan cahayanya dan memadamkan nyalanya. Bermaksiat adalah kerja untuk mengruhkan kejernihan hati dan menumpulkan ketajamannya. “Sesungguhnya dosa-dosa itu”, kata Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apabila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. Dan bila hati telah tertutup, akan datang kunci dan cap dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa. Bila sudah demikian, tak ada lagi baginya jalan; tak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya.”

Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati

Dengan kemunkaran dan dosa

Jika suatu kedurhakaan berulangkali dikerjakan

Maka jiwa menjadi akrab dengannya

Hingga ia tak lagi peka, mati rasa…

~Hasan Az Zayyat, Rahimahullah~

 

Kadang, kita memerlukan saat-saat sepi untuk bertanya pada hati. Dalam tafakkur di malam yang sunyi misalnya, mudah-mudahan bisikan nurani itu terdengar lebih jelas. Atau satu waktu kita coba mengambil jeda dari rutinitas, mengisinya dengan aktivitas ruhani. Mudah-mudahan saat itu kita bisa mengenali suara hati dari bising-bising nafsu. “Jika seseorang kerap merenungi kebesaran Allah di saat menyendiri”, kata ‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain, “Maka Allah akan mengenalkannya pada segala silap dan dosanya, hingga ia sibuk dengan dirinya.”

Lebih jauh lagi, kita harus mengakrabkan hati dengan wahyu. Karena mereka bersaudara. Karena mereka membawa pesan cinta yang sama. Untuk kita. Maka alangkah syahdunya hari-hari yang ditingkahi tilawah suci. Lalu kita mentadabburinya. Lalu kita kaji tafsirnya. Maka hati akan tersenyum bahagia menjadikan Al Quran kawan bergandengantangan. Membimbing kita. Maka nurani akan berbisik lebih mesra. Hingga kita bahagia mendengar bisikannya yang menyemangati kita berbuat taqwa.

Saudaraku, inilah dua orang di jalan cinta para pejuang yang senantiasa menyucikan hatinya. Lalu mereka bertanya padanya dan menyimak nuraninya.

Nurani Menyelamatkan Iman

Andai tahu bahwa hukuman pengucilan itu akan berlangsung selama limapuluh hari, tentulah Ka’b ibn Malik lebi ringan melaluinya. Dia bisa menghitung hari, berharap-harap akan segera bertemu dengan fajar hari kelimapuluh satu. Tetapi dia tidak tahu. Dan tak seorang pun tahu. Dia harus cemas bahwa mungkin saja sisa umurnya tak cukup untuk menanti diterimanya pertaubatan. Yang dia tahu bahwa hari berganti hari sementara salamnya tak dijawab, sapaannya dicemberuti, senyumnya berbalas pemalingan muka. Dan hari demi hari dilaluinya seolah bumi menyempit dan hatinya naik menyesak ke kerongkongan.

“Saya tak punya alasan Ya Rasulullah”, begitu akunya ketika menghadap Sang Nabi sepulang beliau dari Perang Tabuk. Sebelum dia, berbaris-baris orang yang tak ikut serta dalam perang itu menghadap Sang Nabi, menyampaikan alasannya, berdalih, berargumen dan memohon pengertian. “Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami Ya Rasulullah, sementara rumah kami tak terjaga.”  Begitu di antara alasan yang terdengar. Para munafiq mengangkat sumpah untuk memperkuat alasan mereka yang dibuat-buat. Maka sesuai zhahirnya, Rasulullah menerima alasan-alasan itu dan memohonkan ampunan bagi mereka.

Semula Ka’b ibn Malik pun punya alasan. Dia telah menyusunnya cermat sedemikian rupa. “Demi Allah”, katanya kelak mengenang, “Aku adalah salah seorang yang paling fasih lisannya dan paling pandai berdiplomasi. Jika aku kemukakan satu alasan, takkan ada yang bisa menyangkalnya. Rasulullah pun pasti akan memahaminya.”

Tetapi Ka’b bertanya pada hatinya. Ia mencoba mendengarkan suara nurani. Hatinya berkata ia tak hanya sedang berurusan dengan manusia. Hatinya berkata ada Allah di sana yang tahu setiap kata dan huruf yang mengandung dusta. Nuraninya berfatwa bahwa dusta hanya akan membuat masalah menjadi bagian dari masa depan. Sedang kejujuran akan membuat masalah menjadi bagian dari masa lalu. Ia pun pasrah. “Saya tidak punya alasan Ya Rasulullah!”, begitu katanya terbata-bata. Dan Sang Nabi sambil berpaling muka menyuruhnya menunggu keputusan Allah. Taubatnya, juga dua orang temannya; Murarah ibn Rabi’ dan Hilal ibn ‘Umayyah, ditangguhkan.

Sejak hari itu, dimlailah hari-hari paling berat dalam hidup mereka, dalam hidup Ka’b. Ia diganjar pengucilan total. Tak ada yang boleh berbicara dan menyambung rasa dengannya. Salamnya tak berbalas, sapaannya menerpa ruang kosong, dan kehadirannya tak dianggap. Di masjid tiap usai shalat, Ka’b mencari-cari wajah Sang Nabi, mencoba mengucap salam dan tersenyum ketika bersitatap. Tapi wajah mulia itu berpaling, menghindar, dan menjauh. Bumi terasa sempit. Tubuhnya lemas dimakan emosi. “Rasanya aku tidak kenal lagi dengan dunia ini. Dan inikah dunia yang kukenal?”, katanya.

Ia mencoba mengadu pada saudara sepupunya yang penuh kasih, Abu Qatadah. Mereka teman sepermainan sejak kecil, tumbuh menjadi sepasang pemuda yang saling menjaga, dan masuk Islam bersama dalam bai’at Aqabah. Mereka sehati, satu rasa, satu cita. Tapi hari itu ketika Ka’b datang beruluk salam, Abu Qatadah tak menjawab. Maka Ka’b bertanya, “Demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?” Abu Qatadah diam. Maka diulangnya sumpah dan tanya itu. Abu Qatadah menunduk. Diulangnya lagi. Hingga akhirnya Abu Qatadah melangkah menjauh dan berseru, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu!” Bumi terasa sempit. Tubuhnya lemas menyangga gemuruh dalam dada.

Di hari yang keempatpuluh, datanglah utusan Rasulullah kepada Ka’b. “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu!”, begitu katanya. “Maksudnya aku harus menceraikannya atau bagaimana?”, tanya Ka’b. “Tidak, tetapi jauhilah istrimu dan janganlah engkau mendekat padanya.” Maka Ka’b berkata pada istrinya, “Pergilah engkau ke rumah orang tuamu. Tinggalllah di sana sampai Allah memutuskan perkara ini.” Bumi semakin sempit. Persendiannya serasa berlolosan. Hidup begitu sunyi.

Ka’b lalu membuat kemah di Gunung Sala’ dan tinggal sendiri di sana. Dalam deraan badai sepi dan keterasingan itulah suatu hari seorang utusan Raja Ghassan dari Syam menemuinya di pasar. Sebuah surat. Sebuah surat ditulis di atas selembar kain sutera dengan stempel pribadi Raja Ghassan, raja bawahan Romawi yang paling berkuasa. “Kami telah mendengar”, begitu tulisan itu berbunyi, “Bahwa Muhammad shahabat Anda itu tak lagi berlaku ramah kepada Anda. Kami tidak akan membiarkan seorang seperti Anda berada di negeri yang menghinakan. Datanglah kepada kami, sesungguhnya kami memiliki kedudukan di sisi Kaisar.”

Alangkah menarik tawaran itu. Ka’b memang dikenal fasih lisannya dan cerdas berdiplomasi. Tetapi apakah popularitasnya sedahsyat itu? Ia sendiri kaget. Tersirat dengan jelas, Raja Ghassan ingin merekomendasikannya menjadi duta besar Kekaisaran Romawi Timur. Dan saat ini, Madinah, kota kelahirannya sedang sangat tidak ramah padanya. Madinah menolaknya, mengucilkannya, menyakitinya. Sejak kecil, menjadi seorang duta dari sebuah negara besar hingga bisa berkeliling dunia adalah impiannya. Tawaran itu sangat menarik. Sangat menarik.

Tapi Ka’b kembali bertanya pada hatinya. Dicobanya mendengarkan suara nurani. “Inilah musibah yang sesungguhnya!”, begitu hatinya berbisik. “Jika sampai kau penuhi panggilan seorang musyrik untuk meninggalkan Allah dan RasulNya, kau takkan beruntung selama-lamanya!”. Maka ia pun pulang, menyalakan tungku, dan membakar surat itu menjadi abu.

Suatu pagi, ia duduk merenung dalam kemahnya di Gunung Sala’. Entah ini pagi yang ke berapa dalam hitungannya. Baginya waktu berjalan sangat lambat dan menyakitkan. Tapi ini adalah pagi yang kelimapuluh dalam hitungan teman-temannya. Dan seorang penyeru berteriak dari puncak bukit dengan suara sekeras yang dia bisa. “Ka’b ibn Malik!! Bergembiralah!!!” Ka’b tahu, semuanya sudah usai. Ia bersujud. Lama sekali. Ia menangis. Ia bersyukur telah mendengarkan suara nuraninya di hari-hari tersulit dalam hidupnya. Pagi itu, telah turun ayat tentang penerimaan taubatnya…

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

(QS At Taubah [9] : 118)

 

Dilepasnya pakaiannya, lalu diberikannya kepada pembawa kabar pertama yang sampai. Ia lupa bahwa ituah pakaian terakhirnya. Maka dipinjamnya serangkai baju dari tetangganya. Bergegas-gegas dia menghadap Sang Nabi di majelis beliau. Berduyun orang menyalami dan memeluknya sejak dari pelataran masjid hingga ke hadapan Rasulullah. Semuanya berucap, “Selamat.. Bergembiralah saudaraku.. Allah telah menerima taubatmu!” Lalu Ka’b pun menuju Rasulullah dan mengucap salam kepada beliau. “Saat menjawab salamku wajah Sang Nabi berbinar”, kata Ka’b kelak bercerita, “Bercahaya bagaikan purnama.”

“Bergembiralah dengan hati yang terindah yang pernah engkau lalui sejak dilahirkan ibumu!”

“Apakah berita ini dari Allah, ataukah darimu Ya Rasulullah?”

“Dari Allah…”

Nurani Menyelamatkan Ummat

Bagaimana rasanya menjadi orang paling bisa mengerti sahabat tercinta? Tentu indah. Kita menjadi yang pertama-tama menangkap kilasan cahaya gembiranya, lalu menjadikan hati kita lenca konkaf untuk menebarkannya. Atau kita juga segera menangkap tebaran masalah yang menggayuti benaknya, lalu menjadi lensa konveks untuk memberinya fokus dan orientasi. Dan di sebalik lensa itu, kita juga yang pertama-tama akan menangkap bayangan nyata dari kesemuan-kesemuan tentangnya. Seringkali itu membuat kita menangis terlebih dahulu. Bahkan menangis sendirian. Abu Bakr Ash Shiddiq pernah merasakannya.

Ketika itu, Sang Nabi menerima wahyu. Wahyu yang sangat menggembirakan semua shahabat. Beliau membacakannya dari atas mimbar.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Semua shahabat tersenyum, lega, bahagia, dan penuh syukur. Tapi dari depan mimbar, Abu Bakar tiba-tiba berteriak dengan gemuruh isak, “Ya Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku! Demi Allah kutebus engkau dengan ayah dan ibuku!” Dan ia terus menangis. Para shahabat belum pernah heran akan Abu Bakr sedahsyat hari itu. Mereka menatap tajam ke arahnya dengan mulut yang tanpa disadari setengah terbuka. Tapi Rasulullah tersenyum padanya.

“Seorang hamba diminta untuk memilih”, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan sabda, “Antara perhiasan dunia menurut kehendaknya, atau apa yang ada di sisi Allah. Dan dia memilih apa yang ada di sisi Allah.” Tangis Abu Bakr semakin keras, terdengar menggigil bagai burung dalam badai, menyesakkan. “Demi Allah Ya Rasulullah, ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu!”, ia kembali berteriak. Hingga kata perawi hadits ini, orang-orang bergumam dalam hati, “Lihatlah orang tua ini! Rasulullah mengabarkan tentang kemenangan dan seorang hamba yang diberi pilihan, tapi dia berteriak-teriak tak karuan!”

Entah mengapa, hari itu keheningan hanya menjadi milik Abu Bakr seorang. Ketika para shahabat bergembira mendengar sabda-sabda Sang Nabi, ia menangkap Surat An Nashr dan segala yang beliau katakan sebagai satu isyarat pasti. Ajal Sang Nabi telah sangat dekat! Maka ia menangis. Maka ia berteriak. Hanya dia. Hanya dia yang mengerti.

Rasulullah masih tersenyum. “Sesungguhnya orang yang paling banyak membela dan melindungiku dengan pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakr”, kata beliau. “Andaikan aku boleh mengambil kekasih selain Rabbku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakr sebagai Khaliil-ku. Tetapi ini adalah persaudaraan Islam dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju ke masjid harus ditutup kecuali pintunya Abu Bakr.”

***

 

Abu Bakr adalah orang dengan nurani yang begitu jernih, begitu suci. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun, di saat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi, Abu Bakr menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling menenteramkan. Di jalan cinta para pejuang, Abu Bakr menyelamatkan kaum muslim dari ketergoncangan massal yang bisa berakibat fatal.

“Tiada hari yang lebih bercahaya di Madinah”, kata Anas ibn Malik “Daripada hari ketika Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam datang kepada kami. Dan tidak ada hari yang lebih gelap dan muram daripada saat beliau wafat.” Hari itu isak dan sedu menyatu. Tangis dan ratap berbaur. Air mata bergabung dengan keringat dan cairan hidung. Dan seorang lelaki berteriak-teriak, membuat suasana semakin kalut.

“Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah meninggal dunia!”, kata sosok tinggi besar itu. Banyak orang berhimpun di sekelilingnya hingga yang di belakang harus berjinjit untuk mengenali bahwa si gaduh itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab. “Sesungguhnya beliau tidak wafat!”, ia terus berteriak dengan mata merah berkaca-kaca dan berjalan hilir mudik ke sini-ke sana. “Sesungguhnya beliau tidak mati! Beliau hanya pergi menemui Rabb-nya seperti Musa yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi pada mereka setelah dikira mati! Demi Allah, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan kembali! Maka tangan dan kaki siapapun yang mengatakan beliau telah meninggal harus dipotong!”

‘Umar masih terus berteriak-teriak bahkan menghunus pedang ketika Abu Bakr datang dan masuk ke bilik ‘Aisyah, tempat di mana jasad Sang Nabi terbaring. Disibakkannya kain berwarna hitam yang menyelubungi tubuh suci itu, dipeluknya Sang Nabi dengan tangis. “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu..”, bisiknya. “Allah tidak akan menghimpun dua kematian bagimu. Kalau ini sudah ditetapkan, engkau memang telah meninggal.” Abu Bakr mencium kening Sang Nabi. “Alangkah wanginya engkau di kala hidup, alangkah wangi pula engkau di saat wafat.”

‘Umar masih mengayun-ayunkan pedang ketika dia keluar. “.. Kaki dan tangannya harus dipotong! Dipotong!”, teriak ‘Umar.

“Duduklah hai ‘Umar!”, seru Abu Bakr. Tapi ‘Umar yang bagai kesurupan tak juga duduk. Orang-orang, dengan kesadaran penuh mulai mendekati Abu Bakr dan meninggalkan ‘Umar. “Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat”, katanya berwibawa, “Tapi barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup kekal!” Abu Bakr lalu membaca ayat yang dibaca Mush’ab ibn ‘Umair menjelang syahidnya, saat tubuhnnya yang menghela panji Uhud dibelah-belah dan tersiar kabaar bahwa Rasulullah terbunuh.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

(QS Ali Imran [3] : 144)

‘Umar jatuh terduduk mendengar ayat ini. pedangnya lepas berdentang dari genggaman. Dengan gumaman diselingi isak, disimak dan dilafalkannya ayat yang dibaca Abu Bakr. Demikian juga yang lain. Mereka semua membaca ayat itu. Seolah-olah ayat itu baru saja turun. Seolah-olah mereka tak pernah mendengar ayat itu sebelum Abu Bakr membacakannya. Entah mengapa, sekali lagi, kebeningan hanya menjadi milik Abu Bakr seorang pada hari itu.

          Maka inilah Abu Bakr. Seorang yang mata batinnya begitu jernih. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun, di saat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi, Abu Bakr menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling menenteramkan. Di jalan cinta para pejuang, Abu Bakr menyelamatkan kaum muslim dari ketergoncangan massal yang bisa berakibat fatal.

          Jalan cinta para pejuang, adalah jalan di mana kita mendengarkan suara nurani. Bukan untuk mendayu-dayu atau melankolik. Tetapi untuk bersikap tepat pada suatu saat, sepenuh jiwa, sepenuh raga. Seperti ‘Utsman ibn ‘Affan. Seperti Ka’b ibn Malik. Seperti Abu Bakr. Mereka mendengarkan nuraninya. Maka dari mereka kita belajar bahwa di dunia kita ini, dusta membuat masalah menjadi bagian dari masa depan. Dan kejujuran membuat masalah menjadi bagian dari masa lalu.

Kepekaan untuk mendapatkan kebenaran itu tak kita peroleh dengan serta merta. Tapi dari perjuangan menjaga kesucian hati. Dari perlawanan yang gigih terhadap nafsu dan kemaksiatan. Juga dari dialog yang terus-menerus dengan nurani, meski dalam tanya-jawab yang sunyi. Hingga ia mengenali dengan jelas asal dan arah berbagai bisikan. Hingga ia tak tertipu oleh bahaya-bahaya yang bertopeng kebaikan.

Maka kadangkala berkawan dengan nurani sama artinya dengan terasing dari keramaian manusia. Seperti Abu Bakr mendengar Surat An Nashr. Atau sebagaimana ‘Umar yang justru menangis ketika Syam dan Mesir ditaklukan, ketika Persia ditumbangkan, dan madinah dibanjiri perbendaharaan yang memakmurkan. Ia bertanya pada hatinya. “Jika ini adalah kebaikan, mengapa ia tak terjadi di masa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakr? Mengapa ia terjadi pada masaku? Apakah Allah hendak memisahkanku dengan kedua kekasihku?”

Di jalan cinta pejuang, selalu sucikan hati,

lalu bertanyalah padanya.

Di jalan cinta para pejuang,

berkawanlah dengan nurani meski kau tersunyi,

meski kau sendiri…

 

~—~

 

Referensi : Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah (hal.214-228)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s