Cinta Bersujud Di Mihrab Taat


“SUATU KETIKA”, demikian ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkisah, “Seorang wanita shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dia seorang wanita yang sangat cantik, secantik-cantik wanita. “Demi Allah”, kata Ibnu ‘Abbas bersaksi, “Aku belum pernah melihat wanita secantik dia.” Wanita itu langganan menempati shaff terdepan di barisan para wanita.

Keberadaan sang wanita membelah sikap para shahabat dalam berjama’ah. Sebagian berupaya keras datang lebih awal dan mengambil tempat di shaff terdepan agar jangan sampai melihatnya. Agar tak sempat tergoda. Tetapi ada juga sebagian lainnya yang melambatkan kehadirannya. Mengakhirkan diri agar mendapatkan shaff terbelakang di barisan lelaki, agar curi-curi pandang bisa leluasa dilakukan. Ketika ruku’ mereka merenggangkan kedua tangan, menyeksamai kecantikannya melalui celah ketiak mereka.

Ah, ini berkait dengan perasaan. Hukum tetaplah hukum. Tetapi bagaimana ia tersampaikan hingga hati-hati tak terluka. Hingga dada lapang mengikuti jalan lempang. Alangkah agungnya Allah. Dzat Yang Maha Santun. Ketika itu, Ia Menurunkan firmanNya dalam kalimat yang begitu halus, tipis, dan manis :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang mengakhirkan diri.”

(QS Al Hijr : 24)

Kisah ini diriwayatkan oleh para Imam pemilik Kitab Sunan yakni Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah. Imam Al-Hakim menshahihkannya menurut syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dan Imam Adz Dzahabi menyepakati penilaian ini.

Inilah shahabat Rasulullah. Inilahh shahabat Rasulullah! Inilah generasi terbaik. Di antara mereka juga terdapat ekspresi ketertarikan, keterpesonaan dan rasa yang meremaja. Bahkan ekspresi itu berupa kelaukan ‘curi-curi pandang’ yang rasanya unik, lucu, dan menggelikan karena justru dilakukan dalam shalat jama’ah bersama Rasulullah.

Adalah salah besar membayangkan mereka melulu seperti rahib apalagi sperti malaikat. Mereka tetap manusia. Ya, mereka adalah manusia dengan segala kecenderungan fithri yang tak bisa ditipu dan dikelabui. Tetapi kecenderungan itu menjuraikan kemuliaan, karena mereka ridha pada Allah yang mengaturnya. Subhanallah, sekali lagi, mereka adalah manusia.

Dan Maha Suci Allah, Yang Maha Mengerti kecenderungan ini, lalu Ia tidak menghardik mereka dengan kasar, tidak menegur mereka dengan kalimat bernada murka, dan tidak memutus tali rahmat dari sisiNya. Cukup Ia sindir mereka dengan kalimat yang sangat santun, mengena, dan memasuki relung di mana berbagai ketertarikan fithri itu besamayam :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang mengakhirkan diri.”

(QS Al Hijr : 24)

Kalimat itu menghunjam masuk, menukik tajam, dan membangkitkan kembali rasa malu, pengendalian diri, dan taqwa. Ya, agar rasa-rasa itu setia mendampingi cinta. Dan para shahabat Rasulullah itu menjadi guru-guru kita dalam menyadari bahwa cinta harus bersujud di mihrab taat.

Di jalan cinta para pejuang, kita lalu menjaga pandangan.

Karena yang sebagian adalah hak kita, dan yang lain adalah milik syaithan.

Di jalan cinta para pejuang, kita lalu menjaga pendengaran.

Karena apa yang masuk ke telinga seringkali membentuk bayang-bayang di celah otak.

Di jalan cinta para pejuang, kita lalu menjaga indera pembau.

Karena syahwat datang melaluinya seringkali tanpa mengetuk pintu.

Di jalan cinta para pejuang, kita lalu menjaga kulit dari persentuhan-persentuhan yang tak diperkenankan.

Karenanya kenangannya sulit dilupakan.

“Karena kepala yang ditusuk dengan jarum besi menyala”

begitu Sang Nabi bersabda dalam redaksi Imam Ath Ahabrani dan Al Baihaqi, jauh lebih baik daripada menyentuh kulit yang tak halal bagi kita.

Di jalan cinta para pejuang kita lalu menjaga diri atas hubungan-hubungan antara manusia. Bahwa berbicaranya wanita dan lelaki memiliki adab-adab tersendiri. Bahwa di antara kata-kata, ada yang berubah menjadi sihir berbahaya. Ketika kata-kata bernada menjadi pembicaraan khusus, maka ia berdenting, meresonansi dawai-dawai syahwat dalam hati. Di jalan cinta para pejuang, kita lalu tahu bahwa dekatnya fisik dan panjangnya interaksi tak dianjurkan ketika kita berkomitmen menjaga kesucian diri.

 

Selingan Cinta dari Khazanah Lama

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pecinta dan pemendam rindu.  Raudhatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegiti cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harum semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Di aseorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dan pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.

Dan ia mendapat jawaban, “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di suatu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak sebanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.

“Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

“Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis ikut menunduk. “Tapi tahkah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

“Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ‘ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

“Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?

“Kesalahan itu”, kata Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”

Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ‘surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah “Da’wah dusta!” Da’wah dusta. Da’wah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

***

Suatu malam, sebuah kapal perang berlayar menembus kabut, begitu Henry Cloud berkisah dalam bukunya, Intergrity. Beberapa saat kemudian sebuah cahaya pucat muncul tepat di arah yang ditujunya. Ketika kapal itu terus maju, cahaya menjadi lebih terang dan kapten kapal melangkah ke arah kemudi untuk memeriksa situasi. Saat itulah radio berbunyi, “Perhatian, memanggil kapal dengan 18 knot di arah 220 derajat, segeralah ubah arah Anda.”

“Negatif, Kapten. Anda yang ubah arah!”

“Saya Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat”, sahut sang kapten mulai marah, “Siapa Anda?!”

“Saya letnan muda di penjaga pantai Amerika Serikat, Pak..”

“Kalau begitu saya perintahkan Anda untuk mengubah arah!”

“Tidak pak. Saya sarankan Anda yang ubah arah.”

“Kami adalah kapal perang dalm tugas”, sang Laksamana naik pitam, “Saya perinahkan Anda ubah arah sekarang juga!”

“Kami mercusuar Pak!”, kata sang letnan muda.

Begitulah, Syari’at Allah tertegak agung bagai mercusuar bagi kita dalam melayari kehidupan. Kita tak bisa memintanya mengubah arah ketika kita dilanda gejala menabraknya. Kitalah yang harus mengubah arah kita. Kitalah yang harus cerdas mengelola kemudi diri. Hingga cinta pun bersujud di mihrab taat. Inilah jalan cinta para pejuang.

(Jalan Cinta Para Pejuang ~ Salim A. Fillah hal. 286-293)

One thought on “Cinta Bersujud Di Mihrab Taat

  1. jalan cinta para pejuang.. ah,, mas salim itu tambah lama tambah bagus tulisannya.. hehehe…

    btw,,btw,, nanti baca tulisan bukuku ya kak,, hohohohoho….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s