Belajar Arti Kejujuran


Peristiwa dalam hidupku belakangan ini membuatku merekonstruksi banyak hal, banyak makna. Salah satunya ialah kata paling bersahaja, kejujuran. Aku tak bermaksud membuat rumit makna kejujuran itu sendiri. Hanya ingin membagi sedikit buah perenungan dari pengalaman.

Selama ini aku belajar bahwa menjadi jujur itu berarti berani mengungkapkan apa yang kita rasa-pikirkan terhadap orang lain, begitu pun sebaliknya. Dari sifat introvert yang terbiasa memendam perasaan dan emosi sendiri hingga suatu saat benteng ini dapat didobrak. Aku pun menikmati euforia keberanian tuk jujur. Jujur dengan perasaanku sendiri. Hingga baru menyadari daya seretnya yang selama ini melenakanku, menerobos batas, menabrak mercusuar syariat. Ternyata, jujur tak sesederhana itu. Ia dapat menjadi bumerang kala kita tidak bijak memperlakukannya. Kala kita lupa bahwa kejujuran hendaknya senantiasa beriringan dengan kebenaran dan bukannya pembenaran meskipun itu realita. Bahwa jujur bukan berarti senantiasa memberitahukan segala yang kita tahu dan mengungkapkan segala yang kita rasa. Kejujuran tak lepas dari ketaatan pada Allah sehingga kejujuran itu kan jujur kepada nurani, tak kan menyakitinya, membungkamnya pun mengabaikannya. Jangan sampai kejujuran itu disalahgunakan untuk mengungkapkan apa yang tidak pantas diungkapkan menurut syariat seperti mengungkapkan rasa yang belum halal kepada orang lain atau pun untuk memuaskan nafsu keingintahuan akan hajat orang lain yang tak dapat kita pertanggung jawabkan. Karena semakin banyak kita mengetahui sesuatu tanpa menghiraukan kebenaran, mashlahat, dan mudrharatnya justru akan menambah noktah-noktah yang menutupi hati kita hingga bashiroh pun mengabur, buta,  menjerumuskan kita dalam fatamorgana “kejujuran” padahal adanya kita sedang membohongi fitrah kita sendiri.

Jujur juga mempedulikan hati-hati yang lain, menjaga kebersihannya, menjauhkannya dari prasangka kepada Allah SWT pun kepada manusia. Bahwa sekedar niat untuk jujur belum cukup, ia harus berbalut cara yang ahsan. Tak pantas bila ia dijadikan topeng untuk menggibah atau dijadikan bahan percakapan yang sia-sia. Kejujuran semestinya tak hanya membawa kebenaran, ia juga membawa kebaikan dan manfaat.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam…”

(HR Bukhari Muslim)

Sejatinya, jujur pun butuh prasangka baik kepada Sang Pembolak-balik hati. Ia bersandar pada keimanan akan Nya, bergantung, berpasrah, yakin. cukup Ia, karena manusia terlalu rapuh tuk jadi pegangan. Hanya barakah dan ridhoNya yang kudamba. 

hingga ketenangan hadir…

“yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

(QS Ar-Ra’d : 28)

 Semoga kita dikaruniai nurani yang jujur,

Lillaahi ta’ala…

Manusia berkehendak

Namun Ia Maha Berkehendak

Wallaahua’lam bish showab

baca juga

Antara Nasihat dan Fadhihah (Membuka Aib)

5 thoughts on “Belajar Arti Kejujuran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s