Maaf, Aku Bukan Seorang Pluralis


Sebuah tulisan yang menggugah, semoga memperkaya paradigma dan rasa kita 🙂

 

Suatu ketika saya diajak kawan untuk mendiskusikan ihwal pluralisme. Kawan saya yang seorang penganut pluralisme itu dengan penuh semangat dan berapi-api berusaha menyakinkan saya bahwa:

Pertama, konsep pluralisme adalah pemikiran mutlak.

Kedua, apa pun pendapat yang tidak setuju dengan pluralisme untuk tidak sungkan-sungkan diklaimnya sebagai sesat dan tidak benar.

Saya hanya mendiam menyimak. Tapi, tidak sabar dengan penjelasan yang bertele-tele, saya memutus pembicaraannya, lalu bertanya, “Apa sebenarnya yang kamu maksud dengan pluralisme?”.

Jawabnya, “Pluralisme adalah konsep yang mengakomodasi semua keyakinan, termasuk keyakinan beragama. Menurut paham pluralisme, semua keyakinan adalah benar, tidak boleh ada klaim kebenaran dari siapa pun, dan akhirnya tidak boleh ada klaim bahwa semua keyakinan di luar dirinya adalah salah dan sesat. Ini persis seperti beberapa orang buta yang berbeda persepsi tentang gajah, di mana yang memegang buntutnya berpendapat gajah itu seperti ular, yang memegang perut, gajah itu besar, yang memegang belalai, gajah itu panjang. Mereka semua tidak ada yang salah, semuanya benar.”

Dia menambahkan, “Klaim kebenaran dari suatu golongan tertentu hanya mengantarkan mereka pada perpecahan, permusuhan, lalu boleh jadi peperangan juga.”

Kemudian dia menarik kesimpulan, “Jadi, hanya dengan semangat pluralisme toleransi antar golongan keyakinan dapat diciptakan.”

“Hmmm,” gumam saya.

“Baik, sekarang giliran saya berbicara,” pinta saya.

“Begini kawan, klaim kamu bahwa paham pluralisme adalah paham yang mutlak benar dan apa pun paham yang bertentangan dengannya adalah salah perlu diwaspadai dan disadari dengan baik bahwa klaim ini dengan sendirinya akan menjadi senjata makan tuan. Dengan klaim kebenaran hanya milik paham pluralisme, paham ini justru sudah terjebak pada klaim kebenaran yang sebenarnya dianggap tabu oleh para penganut paham pluralisme. Para penganut paham pluralisme sudah mengklaim kebenaran hanya milik dirinya saja, dan semua paham yang berada di luar lingkaran dirinya adalah sesat dan salah: tentu ini sesuatu yang paradoks. Kalau klaim kebenaran bagi diri sendiri dan klaim kesesatan bagi orang lain dikeluarkan juga oleh para penganut paham pluralisme, justru kenapa dua klaim yang sama ini tidak boleh dikeluarkan oleh para penganut, misalnya, keyakinan beragama. Ini tidak adil. Saya sebagai penganut keyakinan beragama tertentu sangat yakin bahwa apa yang saya anut adalah benar. Kalau salah, buat apa saya anut. Dan kalau keyakinan yang berseberangan dengan keyakinan saya juga saya anggap benar, maka saya akan dinilai oleh para ahli logika sebagai orang gila dan tidak berpikiran logis dan waras karena bagaimana mungkin dua keyakinan yang saling berseberangan dan bertentangan (kontradiksi) bisa diyakini keduanya pada saat dan sisi yang sama sebagai sama-sama benar. Kalau saya yakin bahwa sekarang ini hujan, tidak mungkin di saat yang sama saya juga harus menerima keyakinan orang lain bahwa sekarang ini tidak hujan. Intinya adalah saya benar dan dia salah, atau saya salah dan dia benar. Tidak mungkin kami berdua sama-sama benar atau salah. Tentang analogi gajah dan orang-orang buta, saya mau tegaskan bahwa bisa jadi dua orang buta yang sama-sama memegang perut gajah justru mereka berselisih pendapat. Yang pertama yakin gajah itu besar, yang satu yakin gajah itu kecil. Tentu, tidak mungkin pendapat kedua orang buta itu sama-sama benar. Pasti salah satu dari mereka salah. Seperti inilah perbedaan pemikiran dalam sejarah panjang umat manusia. Dalam satu hal yang sama, ya dalam satu hal yang sama, ada yang menyakininya benar, sementara yang lain menganggapnya salah.”

“Maaf kawan, saya tidak mau menjadi seorang pluralis yang seperti itu. Saya bukan seorang munafik. Kalau saya yakin bahwa apa yang saya yakini adalah benar, maka konsekuensi logisnya saya juga harus yakin bahwa apa saja yang berlawanan dengan keyakinan saya harus saya anggap sebagai salah. Ini logis dan begini yang diajarkan logika kepada saya. Jadi, saya bukan seorang munafik, saya bukan seorang yang suka mengakui bahwa keyakinan yang berseberangan dengan keyakinanku sebagai benar, padahal jelas dalam akal pikiran da hatiku keyakinan itu adalah salah. Saya sama persisnya dengan para penganut paham pluralisme yang tidak pernah sungkan dan tidak pernah munafik untuk mengklaim bahwa paham di luar lingkaran dirinya adalah salah.”

“Dan terakhir kawan, tentang hidup saling toleransi antar penganut paham yang berbeda tidak perlu dengan mengorbankan kebenaran kita sendiri, dengan membagi kebenaran dengan keyakinan orang lain meski tidak logis, dengan mengangkat apa pun yang salah sebagai benar. Toleransi yang didasarkan pada pluralisme semacam ini adalah toleransi yang munafik, toleransi yang mengkebiri akal kritis manusia, terakhir toleransi tidak mau menghargai segala jerih payah penelitian akal, dan toleransi yang hanya akan mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.”

“Kawan, saya katakan kepada Anda bahwa saya adalah orang yang toleran terhadap tetangga kanan, kiri, depan dan belakang saya yang berbeda keyakinan dengan saya. Saya menghormati, menyapa, bersilaturahmi dengan meraka, dan tidak ada apa-apa di antara kami. Sejauh ini kami hidup penuh kedamaian dan kekeluargaan, kami sering bertukar makanan. Tapi, ini perlu dicatat, tidak satu pun dari kami yang menilai bahwa keyakinan di luar dirinya masing-masing adalah benar. Saya menurut dia adalah salah, dan dia menurut saya adalah salah. Inilah yang saya sebut dengan keyakinan yang berjiwa besar, meski benar tidak mau arogan terhadap lawannya. Ini berbeda dengan keyakinan pluralis yang banci karena tidak mau menganggap lawannya sebagai salah. Keyakinan pluralis tidak mendidik, karena tidak kritis terhadap keyakinan yang salah. Yang salah malah didiamkan, bahkan dianggap benar saja sehingga para penganutnya dibiarkan tersesat. Toleransi yang dikembangkan oleh paham pluralisme tidak humanis karena dia merusak tatanan akal manusia dan membiarkan orang lain tidak mau menyadari bahwa keyakinannya harus selalu terbuka untuk kritik kalau mau semakin kuat. Toleransi yang kuat adalah yang berasal dari jiwa kebersamaan yang kuat, bukan dari jiwa kebersamaan yang lemah sehingga mau saja menganggap segala kesalahan sebagai kebenaran juga.”

“Kawan, kalau bangsa ini mau maju pemikirannya, kita harus mempunyai keyakinan yang terbuka untuk kritik dan diskusi sehingga kita bisa berjalan ke arah yang lebih kuat secara dialektis. Dialektis dalam arti bahwa pada setiap keyakinan yang kita anut, melalui diskusi kita harus merelakan untuk membuang sisi yang salah, mempertahankan sisi yang benar, dan selalu menambahkan kebenaran baru pada khazanah keyakinan kita.”

Sebagai pengagum dan penyembah paham pluralisme, sang kawan tetap tidak mau menerima penejelasan sekaligus kritik saya untuk paham pluralisme. Dia tetap menganggap bahwa cara berpikir saya salah.

Karena jalan diskusi yang berubah menjadi debat kusir, akhirnya saya katakan saja kepadanya, “Kawan, kamu tidak paham apa yang saya maksud.”

Akhirnya, saya memeluknya dengan penuh keakraban dan toleransi sambil berbisik tepat di telinganya, “Maaf kawan, aku bukan seorang pluralis, tapi aku tetap seorang yang sangat toleran terhadap segala perbedaan, seberapa pun bedanya.”

 

http://filsafat.kompasiana.com/2010/06/05/maaf-aku-bukan-seorang-pluralis/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s