“Istirahatnya di surga aja ya…”


Seringkali kita mendengar kalimat tersebut. Seperti yang banyak dimengerti oleh mereka yang sudah mengenal Islam secara lebih dekat, bahwa kita hidup di dunia ini bagaikan seorang musafir yang hanya berhenti sesaat-sesaat untuk singgah, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang jauh dan ujungnya belum nampak tetapi dengan keyakinan bahwa “ini adalah rel yang benar” atau pengertian bahwa kenikmatan surga itu hanyalah setetes air yang menempel di ujung jari dibandingkan akhirat yang bagaikan lautan tak bertepi, begitu Rasulullah bersabda. Ya benar, istirahatnya di surga aja ya…

Allah pun berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yunuus: 24

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683 Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya. ], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684  Maksudnya: dapat memetik hasilnya.], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.”

Kian hari tentunya pemahaman kita akannya kian bertambah. Walaupun ujian yang menghampiri juga semakin memberatkan pundak. Surga itu kian dirindukan tetapi ah… masih terasa jauh… jauh dari jangkauan pun berat diri tuk menjangkaunya. Tetapi, hey, bahkan syaikhul Ibnu Taimiyah berkata “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.” Lantas, di mana kita dapat menemukannya? Ah… aku sungguh akan membayar berapa pun untuk dapat memasukinya. Sungguhkah kau ingin tahu di mana surga dunia itu?

Ialah rumah yang dibangun berlandaskan cinta kepadaNya, ialah saudara-saudari yang yang saling mencinta karenaNya, ialah anak-anak shalih-shalihah yang berdoa dengan kemurnian jiwanya, ialah harta yang ikhlas dikeluarkan untuk berjihad di jalanNya, ialah ilmu yang mengalir di tempat orang-orang yang rindu paham akan hakikatnya, ialah sujud-sujud panjang berderai bercinta denganNya pada malam-malamNya, ialah masyarakat yang berhias akhlak Islami di dalamnya, ialah pemimpin-pemimpin yang ikhlas menegakkan diinNya, ialah semesta yang di dalamnya asma Allah diyakini, dilafazkan dan dijadikan titik tolak setiap amal lakunya, ialah rasa takut beserta harap kepadaNya, ialah kepasrahan terhadapNya, ialah ketenangan hati, ialah jiwa yang diridhoiNya dan ikhlas karenaNya.

“Empat hal yang apabila dianugerahkan pada seseorang berarti dia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat; hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, tubuh yang sabar menerima musibah, dan istri yang bisa menjaga diri dan harta suami”
(HR Ath-Thabrani)

Ya Rabbi… kami sungguh merindunya… cukupkanlah ia di dunia hingga kami layak menapaki jannah abadiMu.

Ya, itu adalah janjiNya, dan tak ada setitik pun janji yang tak kan Ia tepati. Lantas, apakah kita akan mengingkarinya? Apakah kita tetap akan menutup mata darinya? Berpura-pura bahwa kita tak merindunya? Berpura-pura bahwa kita sudah nyaman dengan surga yang diciptakan oleh manusia yang fana? Berpura-pura nyaman mengingkari fitrah kita. Apakah kita sudah puas dengan hanya melihat perjuangan orang-orang di sekitar kita tuk mewujudkannya? Atau kita sudah putus asa hingga tak lagi yakin dapat memasukinya? Atau bahkan sudah tak terjangkaunya hati ini yang merasa kita pasti memasukinya? Na’udzubillahi min dzalik…

Saudara-saudariku, sungguh, aku ingin memasuki surga Allah nanti bersamamu. Maka dari itu, mari kita berpadu tuk membangun surga itu di sini, mendirikan tempat yang nyaman tuk kita singgahi, selagi jalan itu masih terbuka untukmu, untukku.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

(QS. An Nahl: 97)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s