Sekelumit Kisah, Seluas Hikmah


Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu dan kuharap dapat menjadi hikmah bagi pembacanya. Untuk menjaga nama para tokoh, saya akan menyamarkan nama mereka.

Ini tentang perempuan, ini tentang kemanusiaan, ini tentang keyakinan    kepadaNya…

Pekan yang penuh dengan ujian. Namun, aku yakin bahwa Allah takkan menyia-nyiakan para peyakin sejati…

fa inna ma’al usri yusraa inna ma’al usri yusraa fa idzaa faraghta fanshab wa ilaa rabbika farghab

“ini kereta ekonomi biasa kan ya bu?” tanyaku pada seorang ibu beserta seorang putrinya yang berdiri di sampingku saat menunggu KRL ekonomi di peron stasiun Citayam siang itu, sembari berharap bahwa kereta ini tidak penuh sesak karena bawaanku hari itu cukup berat. “iya mbak, mau kemana?” “”ke UI bu, kalau ibu?” “ke Lenteng Agung” Kereta pun tiba, alhamduliLlah tidak begitu penuh… Aku pun mencari posisi berdiri yang nyaman. ibu yang berpapasan di peron tadi berdiri di samping putrinya yang mendapat tempat duduk. kereta melaju kembali ke stasiun berikutnya. alhamduliLlah ada bangku yang kosong sehingga aku bisa duduk. setibanya di stasiun Depok Baru, ada seorang ibu yang tengah hamil besar membawa plastik kresek cukup besar naik dari pintu yang berlawanan dengan arahku. seorang ibu yang menggendong anaknya berdiri dan mempersilahkan ibu ini duduk. kesal aku, kenapa banyak laki-laki di sana yang tidak tanggap. aku memperhatikan ibu ini nampak lelah dan meringis kesakitan. ibu yang tadi berpapasan denganku di peron Citayam (selanjutnya dipanggil Bu Yana*) mengajaknya ngobrol. orang-orang di sekitarnya pun memperhatikan. dari gerakan mulut yang terbaca, sepertinya ibu ini mengalami masalah. aku pun kontan menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi. ternyata ibu hamil ini baru saja diusir dari rumah mertuanya dan hendak mencari suaminya yang bekerja di Bekasi sebagai tukang ojek. beliau pun berpindah-pindah tempat meneduh dari mushola ke mushola dan yang paling mengejutkan ternyata air ketubannya sudah pecah selama 3 hari. aku berpikir bagaimana cara menolong ibu ini sementara orang-orang yang berada di sana hanya menunjukkan simpati sekadarnya. kereta sudah berangkat dari stasiun Pondok Cina maka, BismiLlahirrahmaanirrahiim, “Bu, nanti kita turun di Stasiun UI saja ya, nanti saya coba minta bantuan Pusat Kesehatan Mahasiswa UI.” awalnya ibu hamil ini (selanjutnya dipanggil Bu Hesti* ) menolak karena hendak mencari suaminya saja tetapi aku dan Bu Yana setengah memaksanya untuk turun karena khawatir dengan kondisinya yang hampir melahirkan itu. Bu Yana meminta seorang bapak yang sejak tad juga terlibat pembicaraan untuk turut membantu tetapi beliau tidak bisa karena hendak rapat. alhamduliLlah Bu Yana bisa turun juga untuk membantu. kami pun memapah Bu Hesti turun dari kereta di Stasiun UI.

Setibanya di sana, aku berusaha menghubungi (di saat seperti itu ternyata pulsaku habis dan aku harus mengisinya dulu sementara Bu Hesti terlihat semakin lemas) PKM UI dan  beberapa teman dari FSI FISIP untuk meminjam kendaraan yang dapat membawa ibu Hesti. pas sekali Allah mempertemukanku dengan 2 orang teman dari Kessos. mereka membantu menghubungi teman yang memiliki kendaraan dan meminta bantuan petugas stasiun. PKM sulit sekali dihubungi, aku minta tolong temanku di FSI untuk mencarikan taksi dan ternyata juga tidak dapat. di samping itu, ada beberapa orang yang datang “menonton” dan menunjukkan simpati (kenapa sih orang Indonesia hobinya nonton orang yang kesulitan, bukannya bantuin? tapi oke lah, kita memang tengah hidup di belantara sosial yang tidak ramah produk penjajahan adab). aku bertanya kepada seorang ibu penjaga toko soal bidan terdekat. “ada tapi nyebrang dulu di dekat kober”, sayangnya ibu itu juga menambahkan nasihat yang menurutku kurang tepat di saat seperti itu “masalahnya siapa yang mau tanggung jawab nantinya kalo ada apa-apa?”, dengan nada agak kesal kujawab “ya, tapi ini kan orang butuh bantuan bu”. kemudian, seorang petugas stasiun dan satpam UI menghampiri, aku menjelaskan bahwa ada seorang ibu yang hendak melahirkan dan butuh kendaraan segera. kedua orang ini pun nampak tidak mengerti akan apa yang harus diperbuat, beberapa orang mengatakan “antar saja ke bidan”, “tapi kita butuh tandu” dsb… akhirnya ibu Helmia dipapah oleh pejaga stasiun dan satpam, akan tetapi baru beberapa langkah, ia terlihat semakin lemas dan hendak pingsan. akhirnya beliau dibaringkan di sebuah toko DVD yang mempunyai sebuah dipan bambu. aku pun kembali menghubungi siapa pun yang dapat membawakan kendaraan dan hampir melupakan kalau siang itu ada bimbingan skripsi. Ya Rabb, ridhoilah hamba.

Sejurus kemudian, ada seorang pemuda yang menanyakan apakah aku memiliki rekening BCA, aku jawab tidak ada, maka ia meminta nomor HPku dan berkata hendak mengabari lagi nanti karena sekarang beliau ada urusan, beliau pun langsung naik kereta menuju Jakarta. AlhamduliLlah tidak berapa lama sms masuk dari pemuda -yang bernama Indra*- tadi yang meminta rekening dan hendak memberikan donasi. SubhanaLlah… sungguh pertolonganMu begitu dekat ya Rabb.. Akhirnya tak berapa lama, ambulans dari PKM tiba dengan personel yang siap membawa tandu. Aku melihat dua orang muslimah turut berlari bersama pembawa tandu tersebut. aku bertanya kepada salah satunya apakah beliau dokter dan ternyata bukan. Bu Hesti langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat yakni Bunda Margonda. Aku bersama seorang kawan dari FSI FISIP -sebut saja Meyti*- menyusul dengan angkot karena ambulans sudah penuh. Setibanya di RS Bunda, kami membicarakan tentang pendanaan. Aku memberi tahu perihal Indra yang hendak memberikan donasi. oh ya sebelumnya, ada tambahan dari personel penyelamat yang entah dari mana nantinya menamai diri “Tim Sukses Melahirkan” ^_^ ialah Mba Anindya* dan Tiara* kembar bersaudara yang cerdas dan semangat. Mereka yang kupikir datang dari PKM tadi, ternyata apoteker UI dan orang kesehatan (almuni PKM) UI. Setelah ditangani oleh bidan yang berjaga, diketahui bahwa proses lahiran Bu Hesti baru tahap pembukaan dua dan bisa dibilang memang masih cukup lama. Lantas kami berpikir bagaimana merujuk beliau ke tempat lain yang lebih memungkinkan. Setelah melalui diskusi panjang, kami memutuskan untuk membawa beliau ke RSUD Depok di samping pilihan lainnya yakni RS Pasar Rebo.

Satu soal selesai, bersambung ke soal berikutnya. Dengan apakah nanti kami membawa Bu Hesti ke RSUD Depok? lantas kami langsung sibuk menghubungi pihak-pihak yang sekiranya bisa meminjamkan mobil. mulai dari PKM UI yang ternyata tidak bisa meminjamkan ambulansnya jika sudah di wilayah UI, anak-anak FSI yang biasanya bawa mobil ternyata lagi nggak bawa mobilnya, and the last hope adalah…

bersambung…

*bukan nama sebenarnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s