Peran Muslimah dalam Tradisi Keilmuan Islam (revisi)


Suatu malam mengikuti diskusi Lentera 20 di PPSDMS yang mendatangkan narasumber Dr. Adian Husaini. meskipun saat itu topiknya mengenai Gerakan Islam, saya menangkap hal menarik tentang peran muslimah di sana pun ditambah dengan perenungan akan kodrat wanita sebagai istri dan ibu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, baik muslim maupun muslimah tidak dibeda-bedakan karena sala satu kewajiban muslim adalah menuntut ilmu. ilmu yang bagaimana? ada 2 kategori ilmu dalam Islam yakni yang fardhu ‘ain (setiap orang harus pelajari) seperti tauhid, ushul fiqh, nahwu-sharf, dsb juga fardhu kifayah (sejumlah orang hingga mencukupi untuk menebarkan kebaikannya) seperti sains, kesehatan, dan sosial humaniora.

Seringkali terdapat pemikiran destruktif bahwa kaum muslimah tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi apalagi yang sudah menikah dan hanya mengambil tugas di ranah domestik padahal anggapan ini salah. Pertama, karena ada penyempitan makna dari pendidikan atau ilmu sendiri padahal sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat dan sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain sesuai hadits nabi. Maka dari itu, ketika memutuskan membina sebuah keluarga, sebenarnya peran seorang muslimah kian bertambah dan ini membutuhkan ketinggian ilmu agar dapat memberikan manfaat besar bagi sekitarnya maupun dirinya sendiri (kompetensi dan kapasitasnya).

Seorang ibu adalah koki, ahli gizi, dokter, psikolog, guru dan ulama sekaligus — selain sebagai manajer keuangan, Pengembangan SDM, humas, ahli kecantikan, event organizer saat ia memutuskan untuk menyempurnakan setengah agamanya. Hal ini tentu sebagai upaya untuk menyejahterakan keluarganya baik kebutuhan bilologis maupun psikologisnya.

Pertama, sebagai koki dan ahli gizi, ibu menjamin gizi keluarganya dengan menyediakan makanan dan minuman yang halal dan baik untuk dikonsumsi serta keterampilan menyajikan santapan yang mengundang selera. Ini pun sangat terkait dengan peran ulama yang paham tentang rizki yang halal dan pengaruhnya bagi keluarga. Sebagai dokter dan psikolog, ibu memahami tumbuh kembang anak, cara menangani ‘luka’ yang dialami oleh anggota keluarga baik secara fisik maupun psikis sehingga penanganannya pas serta tidak berlebihan maupun terkesan mengabaikan.

Sebagai guru dan ulama, ibu memiliki peran sebagai Al-Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Peran ini membutuhkan kapasitas ilmu yang memadai seperti yang Pak Munif Chatib tuturkan dalam buku Orangtuanya Manusia yakni mengokohkan alasan mengapa anak harus belajar (niat atau motivasinya karena Alloh SWT). Bagaimana proses belajar yang efektif dan menyenangkan. Ini terkait dengan gaya belajar anak, kecerdasan majemuknya (multiple intelligences). Juga hasil dari proses belajar anak yakni perubahan perilaku, pola pikir juga membangun konsep baru dari aktivitas belajarnya. Selain itu, yang paling penting adalah menjadi pintu pertama bagi anak dalam mengenal Penciptanya.

Akan tetapi, kendala muslimah biasanya terkait dengan kodratnya sendiri untuk melahirkan, menyusui, dsb sehingga waktu untuk menuntut ilmu tidaklah seluang para kaum adam. Maka dari itu, sebagai muslim (baca: suami & ayah) yang bijak, harus menjadi corong ilmu dan saling berbagi ilmu dengan istrinya semisal sering melakukan diskusi keilmuan di sela waktu keluarga. Selain itu, terinspirasi dari http://keluargahanif.blogspot.com/2011/03/emang-gampang-jadi-suami.html), seorang istri tidaklah wajib dibebankan seluruh tugas mengurus rumah tangga dari pagi hingga pagi lagi karena tugas utama istri adalah melayani suami dan mendidik anak sehingga ia memiliki waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu terkait serta memberikan manfaat bagi masyarakatnya sebagai ikhtiar membangun peradaban terbaik bagi anak-cucunya kelak.

waLlahua’lam bish shawab

Dunia butuh sosiolog muslimah

Dunia butuh dokter-dokter muslimah

Dunia butuh pakar fiqh  muslimah

Dunia butuh para al ummu madrasah yang melahirkan para mujahid Islam

Dunia butuh kita wahai para muslimah!

Bangkitlah! dan tunjukkan bahwa dengan hijab yang Allah muliakan dirimu dengannya, engkau dapat menyuburkan bumi Allah ini.

ALLAHU AKBAR!

inspired by here

-SketsaKita-

One thought on “Peran Muslimah dalam Tradisi Keilmuan Islam (revisi)

  1. Ping-balik: Inilah Tiga Keutamaan Ibu yang Tak Terbalaskan | Bani Madrowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s