Mimpi dalam Islam: Sebuah Refleksi Bagi Kekuatan Tauhid


Apakah anda tadi malam bermimpi dalam keheningan tidur nyenyak? Mungkin iya. mungkin tidak. Atau apakah anda pernah bermimpi? Kalau yang ini jawabanya pasti iya. Mimpi memang menjadi objek yang menarik. Karena biasanya mimpi bisa menceritakan tentang kehidupan kita, menceritakan kisah orangtua kita, yang bisa jadi itu menyenangkan ataupun tidak.

Ia bisa membuat kita meretas senyum, menstimulir cucuran keringat, atau tanpa kita sadari mimpi lah yang membangunkan kita di kehampaan malam jauh sebelum jam weker mengusik lelap kita. Bedanya ada yang bangun sambil berteriak, jantung berdegup, atau kita tak dapat mengelak untuk membiarkan jiwa menyulut istighfar.

Dalam psikologi modern, ada beberapa psikolog yang cukup fokus untuk mengkaji mimpi, salah satunya, Sigmund Freud dari mazhab psikodinamika. Menurut Sigmund Freud, stimulus dan sumber dari kemunculan sebuah mimpi ada 4, yaitu:

  1. External Sensory Stimuli
  2. Internal (subjective) Sensory Excitations
  3. Internal Organic Somatic Stimuli
  4. Psychical Source of Stimulation

Jadi kalau boleh kita sederhanakan, stimulus dan sumber tersebut bisa muncul dari dalam diri individu seperti dorongan tertentu, harapan dan keinginan-keinginan atau yang bersifat eksternal yang biasanya berasal dari pengalaman obyektif atau bisa juga karena rangsangan organ badan maupun kondisi fisik.

Namun kalau kita mengkaji lagi, hal itu diucapkan Freud bukanlah tanpa system, system psikologi seksualitas tentunya. Karena timbulnya mimpi, mayoritas sebagai pengendapan unsur libido dan id yang tak bisa terealisasi di dunia nyata, dan pada ujungnya harapan itu mengendap pada alam bawah sadar dan muncul secara “tidak fair” via mimpi.

Setelah itu, tak dapat dipungkiri manusia, bahwa mimpi adalah sebuah fenomena yang terkadang merupakan sebuah penjelasan akan terjadinya suatu hal di masa mendatang (futuristik). Problemnya kemudian, lebih daripada itu, mimpi juga ternyata bisa berubah untuk melambangkan suatu infromasi yang jauh dari tangkapan logika manusia, semisal sketsa alam ghaib yang sulit dicerna, samar-samar, absurd, dan sulit untuk dipahami. Hal ini coba dianalisa oleh berbagai pakar, khusunya ulama atau para pengkaji mimpi dengan basis agamis.

Kenapa? Pertama, mimpi yang bersifat ghaib masih intens sebelum kiamat mendera. Kedua, ini problem, karena ruang ini belum bisa difasilitasi oleh studi psikologi modern seperti psikodinamika atau behaviorisme, sebab ini berkaitan pada konteks filosofis ilmu atau epsitemologi psikologi. Hal-hal yang berbau ghaib, sulit diendus indera, jauh dari bayangan logika, pada hakikatnya akan dijauhkan dari psikologi, atau sesekali hendak dibunuh. Ini tak lain dikarenakan tajuk “klenik” memang tidak dapat dicerna oleh sensoris (pancaindera) yang melulu menjadi pegangan ilmu modern.

Alhasil jarang para psikolog modern berkutat dalam arus yang menantang ini, menjabarkan, menganalisa hingga samapai terkonversi menjadi hipotesa pasti. Dan pada akhirnya hal yang vital ini terbuang begitu saja atau paling tidak dipendam dalam alam bawah sadar manusia tanpa kita pernah memikirnya. “Hallah…Cuma mimpi ini” mungkin begitu lah sebagian kita bergumam.

Pertanyaannya, betulkah hal-hal seperti itu tak perlu dijelaskan, atau kalau mau disebut ilmiah, hal ini sebagai cerita yang tidak bisa dikaitkan dengan nalar? Lho bukannya ilmu diturunkan untuk menjawab persoalan apapun itu? Lantas apakah hal semacam ini bisa dijadikan studi, kajian ilmiah, bahkan objek penelitian? Mungkin diantara anda, yang terbiasa dengan konstruk rasionalitas dalam berpikir, akan bersifat skeptik. Tapi bagaimana dengan Islam? Ini yang menarik.

Islam, mengutip apa yang dijabarkan Muhammad Ustman Najati dalam kitabnya tentang Psikologi dalam Tinjauan hadis nabi ternyata membahas mimpi dengan mendalam. Mimpi dalam risalah hadis salah satunya disebut dengan sebutan hulm. Menurut Ahmad Mubarok, term ahlam disebut Al-Qur’an sebanyak lima kali , dua kali term al hulum (dari halama yahlumu) dalam arti mimpi “pertama” (والّذين لم يبلغوا الحلم), 131 satu kali ahlam (dari haluma yahlumu hilm) disebut dalam arti fikiran-fikiran (أم تأمرهم أحلامهم بهذا)132 dan dua kali disebut adghas ahlam, dalam arti mimpi-mimpi kalut, yakni pada surat Yusuf/12:44 dan Q/21:5.

Lompat dari hal diatas, ternyata Islam tidak berhenti menyertakan term mimpi dalam riwayat definisi, tapi Islam sampai pada melakukaan distingsi/membedakan klasifikasi mimpi yang jauh dari tangkapan psikologi modern (baca: Psikoanalisis dan Goddert ) yang hanya mengutak-atik mimpi dalam area sensoris saja. Karena jika kita susuri lebih jauh, ternyata makna dan penyebab timbulnya mimpi ditarik oleh Islam kepada sudut yang lebih paripurna dan pasti bermakna, karena ia tidak hanya terjebak pada matematika inderawi, tapi kemudian diseret kepada transfer nilai tauhidi, yang itu tidak bisa dijelaskan oleh Psikologi modern, atau neo modern sekalipun.

Menurut ulama-ulama Islam kontemporer, seperti Muhammad Usman Najati dan Azzahrani, Al Qur’an menyebut mimpi dalam dua tema, yaitu ru’ya dan adghatsu ahlam (mimpi yang sulit ditakwil). Terkadang ru’ya merupakan mimpi yang bisa menyingkap misteri alam ghaib atau kejadian yang bersifat futuristik. Ru’ya juga muncul dalam manifestasi berupa perintah yang harus diemban oleh orang yang bermimpi tersebut. Sedangkan adghatsu ahlam merupakan mimpi yang sulit ditafsirkan. Hal yang terakhir inilah yang kemudian banyak digarap psikologi modern, karena mimpi ini terklasifikasi sebagai tammpilan yang berupa symbol-simbol, lambang, sandi-sandi, yang itu semua mesti dijabarkan dalam analisa mendalam.

Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru’ya, yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan dan (3) mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya. Dan biasanya yang ketiga ini masih standard an jarang dikaji ulama, karena bersifat keduniawian semata, walaupun Ulama seperti Azzahrani menguraikannya dengan lebar.

Al Qur’an, sebagai kitab paripurna, mengisahkan banyak sekali ru’ya yang menimpa para nabi. Misalnya tentang ru’ya nabi Ibrahim AS, yang akhirnya sebab ru’ya itulah tiap tahun kita bersama-sama merayakan idul adha. Hal ini tertera dalam surah Ash-Shafat ayat 102-105 yang artinya:

“Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. ‘Dia (Isma’il) menjawab,’Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. ‘Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma’il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik.”

Al Quran juga dengan jelas merekam Ru’ya yang tersandar pada kisah Nabi Yusuf AS. Ru’ya ini beda dengan apa yang dialami Nabiyullah Ibrahim AS, karena ru’ya yang dialami nabi Yusuf merupakan ru’ya tanda-tanda turunnya kenabian kepada beliau.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Surat Yusuf ayat 4

Ada kisah lain juga yang tentunya menarik. Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani.

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu ru’ya hanya menimpa Nabi-nabi Allah? Dan mustahil orang muslim biasa, terlebih kafir akan merasakannya? Setidaknya dalam surah yusuf ayat 36-41, Al Qur’an menjelaskan ru’ya membantah itu, ini sesuai dengan yang dialami dua orang pemuda yang bersama-sama Nabi Yusuf AS ketika berdoa di dalam penjara. Al Qur’an masih dalam surah yang sama juga mengisahkan tentang Ru’ya seorang Fir’aun Raja Mesir itu yang menyaksikan dalam mimpinya tujuh ekor sapi kurus memakan tujuh ekor sapi gemuk, serta melihat butiran gandum yang hijau dan tujuh butir gandum yang sudah kering. Tak lama kemudian bak interpreter mimpi, ru’ya itu kemudian dita’wil oleh Yusuf seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 47-49 sebagai isyarat akan datangnya musim paceklik dan cara-cara mengantisipasinya.

Kita tentu masih penasaran sampai pada satu titik kenapa ru’ya ini bisa menimpa nabi dan orang pada biasanya? Inilah sebuah penjelasan yang belum bisa ditangkap oleh psikologi modern, studi ilmiah, kajian mimpi berbasis analisa data, atau semacamnyam, bahwa pada dasarnya Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Zat yang Utama, mempunyai berbagai cara untuk menurunkan hikmah kepada setiap hambaNya.

Ini dapat kita tangkap melalui suatu hadis dari Abu Qatadah ra. yang mendengar Rasulullah saw. bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim 4195.

Setelah sampai sini anda membaca. Mungkin beberapa anda dengan heran menangkap kesan terjadi dualisme term mimpi yakni, ru’ya dan ahlam sebelumhya. Apakah ada perbedaan antara Ru`ya dan Ahlam. Syaikh al-Munajjid menangkap kesan ini dan menjelaskan dalam satu sitiran satu hadis tapi vital. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ru`ya Shadiqah (mimpi baik) berasal dari Allah dan ‘Hulm’ (jamaknya Ahlam) berasal dari setan.” Ru`ya yang dinisbatkan kepada Allah subhanahu wata’ala tidak dikatakan Hulm dan yang dinisbatkan kepada setan tidak dikatakan Ru`ya. Perbedaan ini telah ditunjukkan oleh syari’at. Ru`ya adalah hal baik yang dilihat manusia dalam mimpinya sedangkan Hulm adalah apa yang diimpikan dan dilihat dalam mimpi. Keduanya masih sinonim.” Sedangkan al-Alusi dalam tafsirnya menyebutkan, Ru`ya dan Ahlam adalah apa dilihat seorang yang tidur secara mutlak, hanya saja penggunaan Ru`ya lebih dominan untuk hal yang baik sedangkan Ahlam sebaliknya.

Klasifikasi Mimpi

Seperti yang disebut kan Syaikh Khalid al-‘Anbari, mimpi ada tiga jenis: Pertama, Ru`ya Shalihah yang merupakan kabar gembira dari Allah subhanahu wata’ala dan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Kedua, Mimpi buruk dan dibenci, yaitu hal-hal menakutkan yang berasal dari syetan untuk membuat manusia bersedih dan mempermainkannya di dalam mimpi. Ketiga, Mimpi yang diakibatkan kondisi psikologis seseorang dalam keadaan jaga, lalu terbawa ke dalam mimpinya, termasuk juga hal yang biasa dilihatnya waktu jaga seperti orang yang biasanya makan pada waktu tertentu lalu tidur ketika itu, maka ia melihat dirinya makan dalam mimpi, atau merasa muak dengan makanan atau minuman, lalu bermimpi sedang muntah.

Sedangkan Menurut Usman Najati atas beberapa hadis yang disebutkan oleh Rasululllah SAW, beliau menyimpulkan pada dasarnya ada dua jenis mimpi, yakni mimpi baik yang menyebabkan manusia bahagia mimpi ini berasala dari Allah SWT. Sedangkan mimpi jenis lainnya adalah mimpi yang bisa menimbulkan rasa tidak senang yang berasal dari syaiton. Hal ini didasarkan oleh sebuah hadis.

Riwayat Bukhari ra., ia berkata: Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memmohon perlindungan (ta`wwudz kepada Allah) dari keburukaannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat)”.

Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud juga mengkuatkan hal lain bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Mimpi itu datangnya dari Allah, sedangkan mimpi lamunan itu datang dan setan.” (H.r. Bukhari).

Karenanya, Islam kemudian tidak membiarkan manusia bermimpi tanpa arti dan tanpa tidak lanjut. Islam juga tidak melenakan manusia untuk mendefenisikan mimpi sekdar matematika hampa. Karena dengan sebuah mimpi baik, Allah ingin mengajarkan kita bahwa sudah seharusnya kita bersyukur dan menafakuri kehidupan dengan jernih sebelum ajal tiba, Ia juga mendelegasikan bahwa ada hikmah dlam tiap rekam jejak kita dalam mimpi walau hanya sehelai rambut.

Selain itu juga, mimpi dalam Islam, mengajarkan kejujuran sebagai fondasi suatu amanah. Mimpi bukan pena putih yang tak bisa berwarna saat ditulis di kertas putih. Ia tidak berarti berelasi apa-apa seperti yang tertera dalam kitab psikologi modern, yang menuangkan mimpi hanya pada kanvas sensorik, elbih-lebih itu problem seksual dan nafsu ala interpretation of Dreams Sigmund Freud. Karena sebuah mimpi bisa jadi alamat petunjuk atas sebuah kisah yang penuh ibroh bagi rekosntruksi Iman. Karena itu, Nabi pernah bersabda. “Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian.

Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama.”

Salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah juga menampilkan terapan praktis bagaimana sikap seorang muslim ketika mendapati dalam tidurnya mimpi baik dan mimpi yang membuat jiwa kalut.

”Ru’ya itu datangnya dari Allah dan al hulm itu datangnya dari syaitan. Maka bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi kalut yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (HR Muslim)”

Refleksi Menuju Kekuatan Tauhid

Bayangkan dari sebuah hal yang kecil saja, seperti mimpi, Islam mempunyai cara bagaimana, menjelaskan, mendefinisikan, mengklasifikasikan sampai pada tiba pada sebuah penyadaran. Subhanallah. Begitu paripurnanya Islam mengatur manusia pada sudut-sudut sempit yang sama sekali tak tergambar oleh kita.

Psiklologi mimpi dalam Islam punya relasi yang luas dan komperhensif namun sarat ilmu, iman, dan amal. Bagaimana hanya dari sebuah tayangan ketika kita tidur itu, Islam kemudian menariknya menjadi landasan tauhid. Mimpi tidak terjadi dengan sendirinya, mimpi juga bukanlah semata-mata aktivtas inderawi, pengendapan cita-cita, logika sederhana, yang dijelaskan Goddert dan Freud, karena sekalipun mimpi itu hasil jebakan syetan, tak satupun detik yang bergulir terjadi tanpa izin Allah.

Karena itu, sudah sepatutnya manusia mengingat bahwa hidup itu sebentar dan setiap kaki yang melangkah amat dekat sekali dengan kematian. Dari sini, kita juga patut menjabarkan bahwa mimpi memiliki kedua sayap dari satu tubuh yang sama, saling kontras tapi berdekatan, yakni kehidupan dan kematian. Karena bermula dari sebuah mimpi laki-laki mukmin dinyatakan baligh untuk menghirup relung-relung insani sebagai hamba yang lengkap dengan tugas-tugas imaninya di depan.

Dan dibalik itu dari sebuah mimpi dan aktivitas tidur, ternyata manusia dekat sekali dengan kematian. Karena banyak pula saudara kita yang dari tidurnya justru menjadi jalan untuk kembali ke Sang Pencipta. Alangkah meruginya jika rasio kita tidak bisa menangkap hal Ini bahwa pikiran dan ruh kita betul-betul tergenggam olehNya, terlebih dalam tidur.

Dan kita sebagai yang mengaku mukmin, kadang tidak menyadari bahwa dunia adalah media jebakan semata dan momentum ujian keimanan dari Allahu Ta’ala. Tidak ada yang “gratis” dalam hidup ini semuanya ada bayaran menjadi iman atau kufur, termasuk lewat mimpi. Terserah kita memilih yang mana. Wallahua’lam bishshawab.

 

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim

Sumber

Jumat, 01/10/2010 08:49 WIB

2 thoughts on “Mimpi dalam Islam: Sebuah Refleksi Bagi Kekuatan Tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s