Seperti yang pernah kukatakan


bahwa kejujuran itu bukan berarti keterbukaan

ketika ia menjauh dari fitrah kebenaran

ketika hendak jujur kepada hati

cukuplah menanti dengan sabar dan iman

bahwa Allah memang belum membuka tabir jawab

tak perlu kau paksa kata meraba

apalagi dengannya yang sama tak berKuasa

biarlah ia mengalir berlandas iman

hingga temu muara jawab

hakiki sejatinya

tak ada jalan pintas tuk memahaminya

sedikit saja celah

dunia menyeruak

tak terhitung berapa kompi syaitan minta bagian

tawarkan angan yang melenakan

atau jawaban semu

seakan kau sudah mengerti dengan mendefinisikannya

padahal itu cerminan ketaksabaran

harus jelas sekarang!

iya, jelas, pergi

pergi meninggalkan kebenaran

masuk dalam kubang kepalsuan

lantas,

rasakan sendiri akibatnya

tinggallah hati merintih perih

menjerit sejadi-jadinya minta ampun

sesaknya bukan main

nan besi berkarat yang mencekik jantungmu hingga bernanah

tak usah dibayangkan

kembali saja

taubat

Ia tak butuh taubat sambal

bodoh jika keledai jatuh pada lubang yang sama

jika engkau?

aku angkat tangan

taubat bukan mainan

yang bisa dibeli dengan murah

lantas dengan mudah kau langgar perintahNya

kau kunyah laranganNya

“kan Ia Maha Pengampun, penerima taubat”

kau telan sendiri besi berkarat nanah itu

lantas menangis

tak guna pula

kebas

hilang asa

aku angkat tangan

siapa yang peduli?

percayalah

sebesar dunia kau berkhianat

hingga dunia tak mau lagi menerimamu

hanya Ia

hanya Ia

hanya Ia yang layak kau tangisi

sudah?

selesaikah perkataanmu?

kini berdiri

tengadahkan tanganmu

tumpahkan air matamu

menangislah!

menangislah sejadi-jadinya!

pintalah dengan ikhlas…

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimiin….

cukuplah Ia

(Ilustrasi monolog seorang hamba yang menyusuri kembali masa lalunya yang memilukan.

ia menyesal atas perbuatannya “mendahului takdir” dan menyimpang dari ketaatannya sebagai seorang hamba. Mengolok-olok kuasaNya

ia ingin lepas dari kebodohan yang dilakukannya namun tak bisa karena berada dalam dirinya sendiri.

maka ia hanya hendak berserah kepada Rabb yang menguasai jiwanya untuk menyelamatkannya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s