Sungguh, Kau Tak Jatuh Sendirian Wahai Saudaraku


Pagi hari membuka surat elektroik dan mendapati sebuah mutiara hikmah yang indah, ditulis oleh seorang ukh dan diposting oleh beberapa kawan di situs jejaring sosial. Tulisan itu sendiri diambil dari sebuah situs media Islam ternama.

Yang membuatku tertarik dengan tulisan tersebut ialah penulis yang begitu empati dan tulus terhadap saudara yang mengalami kondisi degradasi keimanan atau futuur, istilah yang familiar di telinga para aktivis dakwah. Lantas pertanyaannya, bagaimana kita memosisikan diri setelah membaca tulisan ini? Apakah kita berpikir “take” atau “give”? take dalam arti berpikir bahwa ‘Jika saya futuur semestinya saudara-saudara saya dapat mengingatkan dan menuntun saya’ atau give dengan berpikir bahwa ‘Saya hendaknya menyelamatkan saudara saya yang sedang futuur’.

Sebenarnya hikmah yang pertama maupun kedua sama-sama baik dan alangkah lebih baik jika kita lebih suka menggunakan sudut pandang give karena seorang dai sejatinya selalu ingin memberi, membagi keindahan Islam dengan saudara-saudarinya, bukan senantiasa berfokus terhadap dirinya sendiri seolah dirinya yang paling berat menahan beban perjuangan atau “terjatuh” sendirian dan merasa bahwa setiap mata memicing kepadanya, padahal mungkin di sekitarnya terdapat saudara-saudarinya yang juga berada dalam kondisi yang sama atau bahkan jauh lebih membutuhkan perhatian. Hanya saja, ia tetap bertahan dalam senyumnya karena ia yakin bahwa senyum itu lebih baik. Ia yakin bahwa Yang Rahiim akan memberikan ganjaran yang besar manakala ia sabar dalam ujian dan ketaatan kepadaNya. Ia ingin menuntaskan urusannya sendiri dengan hanya bergantung kepada Yang Maha Kuasa, lantas ia tegak berdiri dan berkata ‘Siapa lagi saudara-saudariku yang membutuhkan bantuan?’ ‘Dengan siapa lagi aku dapat berbagi keindahan Islam hari ini?’

Di sisi lain, saat kita berharap ada saudara kita yang sudi menoleh pada kondisi kita, hendaklah permudah diri kita untuk dipahami olehnya. Ingat, saudara kita bukan cenayang yang dapat membaca hati. Ia yang ingin menolong pun mungkin sungkan mendekat ketika ada dinding tak terlihat yang sudah lebih dulu kita pasang di sekeliling diri atau sikap angkuh seolah tidak membutuhkan bantuan. Pun sebaliknya, tidaklah bersikap manja seolah yang paling menderita di muka dunia. Tidak mudah ya? Sekali lagi itu tak mudah bagi kita, tapi ingat saudaraku, ada Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati. Ia pasti dapat menyanggupkan kita untuk berdiri, baik itu melalui saudara-saudari kita maupun di atas kaki kita sendiri karena Allah begitu dekat, lebih dari urat leher kita sendiri (QS Qaaf: 16).

Aku pun senantiasa camkan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl: 125 tentang cara dalam menyampaikan kebenaran,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 (QS An-Nahl: 125)

Serulah dengan hikmah. Hikmah yang berarti perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Terkadang ketika kita mendapati saudara kita sedang futuur, muncul rasa tidak enak kita untuk menasihatinya padahal dalam firmanNya, Allah jelas mengatakan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ini bukan berarti kita lantas menghakimi saudara kita, menyindirnya dengan sinis, apalagi membuka aibnya di depan orang lain dengan maksud merendahkannya, na’udzubillah… Pun, tidak berarti kita memberikan pembenaran atas kekeliruannya. Bersikaplah tegas dan bijak dengan menegakkan bahwa hak adalah hak dan bathil adalah bathil.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS Al-Ahzab: 70-71)

Ada pun aku menuliskan ini karena kepedulianku pada kalian saudara-saudariku, juga pengingatan bagi diriku sendiri.

Semoga kita dikaruniai seni berbicara terbaik dalam Islam.

Semoga Allah menjaga keimanan dalam hati agar senantiasa istiqamah dalam Islam, iman, ukhuwah serta jamaah yang menegakkan keagungan dinul Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s