Secarik Kata Selepas Makna


Sungguh, Ialah  Rabb yang Maha Kuasa atas segalanya…

Tak, sungguh tak pantas jika segala yang kudapat hingga hari ini kuklaim sebagai buah dari upayaku sendiri. Sungguh tak, jika dunia akhirnya membuatku berpaling dari tujuan asal. Hari demi hari demi pekan demi bulan kulalui dengan warna-warni berbeda. Kadang begitu tertakjub-takjub dengan kehidupan… kadang merasakannya bagai aliran yang menggiring jiwa raga ini dari satu roda takdir ke roda takdir yang lain…

Kuliah. Sepertinya baru saja kemarin aku bernyanyi Gaudeamus Igitur untuk para sarjana di Balairung, merasakan duduk di bangku kuliah, mengecap gejolak aktifis pergerakan mahasiswa, mengerling rona-rona hidup. Sungguh pun aku tahu bahwa (jika Allah mengizinkan) jalan hidupku masih terbentang panjang di sana, aku merasakan masa kuliah ini sebagai fase yang panjang dengan alunan nada yang menukik tajam menjulang. Kini, aku kembali berada pada akhir tuk menyambut awal baru. Persimpangan baru, dengan kisah baru yang belum kuketahui naskahnya apalagi akhirnya.

Kian hari, aku merasa bahwa dunia ini begitu fana… hidup ini benar-benar hanya sekejap tuk dikecap. 22 tahun lewat tapi rasanya amal baru sejumput, ilmu masihlah dangkal, tapi semoga niat semakin tertata. Meneropong sekitar, banyak sekali orang-orang hebat, amalnya melangit, ilmunya mengakar, zuhudnya… ah… jauh sekali dariku. Melihat bahwa diri ini begitu kecil, sungguh tanpa daya jika Kau tak kehendak. Untuk menyembahMu pun aku meminjam daya dariMu. Aku kian sadar bahwa tak ada harta dan tahta kan temani kita di liang lahat. Popularitas? ah, buat apa jika hanya di kalangan penduduk bumi? Tetapi seringkali perhatian ini masih tersita dengan duniawi, hal-hal artifisial yang melalaikan. Belum segenap daya, pemikiran, waktu, harta, rasa ditujukan dalam rangka menyeru pada kebenaran dan kebaikan.

Sungguh, yang niscaya adalah ajal kian mendekat.

Sungguh, tak pantas asa berharap selain ridhoNya.

Teringat ucap seseorang yang ingin ketika ajal menjemput kelak, orang-orang akan mengenangnya bukan sebagai siapa dengan jabatan apa tetapi sebagai seseorang yang telah melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Seorang lain pun berucap bahwa dirinya ingin agar akhir hayatnya kelak kan menjadi pintu hidayah bagi banyak orang. Hingga, diri ini diingatkan oleh seorang dengan kepolosan jiwanya, “Kak, gimana ya kalau kita ingin sekali bertaubat tapi selalu mengulangi kesalahan yang sama? aku takut…” subhanallah… bahkan mendengarnya diri ini merasa begitu kecil…

akan datang hari

mulut dikunci

kata tak ada lagi

akan tiba masa

tak ada suara

dari mulut kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s