Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan


Bismillahirrahmaanirrahiim

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu.”

(HR Bukhari)

Saya yakin, pembahasan mengenai pengobatan tradisional tentunya bukan barang baru bagi pembaca blog sekalian. Dari isu konspirasi pengobatan modern hingga pengalaman pribadi masyarakat yang kurang mampu secara finansial yang membuktikan bahwa pengobatan herbal memiliki hasil penyembuhan yang ampuh dan juga minim – jika tidak bisa dikatakan bebas- efek samping. Di samping itu, umat Islam sekarang ini sedang bersemangat mewarisi ilmu nabinya yang dikaruniai Allah berbagai mukjizat dalam menjalankan peran-peran terbaik manusia termasuk sebagai seorang dokter yang mendapatkan didikan langsung dari Yang Memiliki Ilmu.

Akan tetapi, semangat ini kadang tidak diimbangi dengan telaah mendalam mengenai pengobatan a la nabi yang mengakibatkan penyempitan makna ilmu pengobatan Islam itu sendiri. Mereka mengira pengobatan nabi hanya sebatas jinten hitam, madu dan bekam lantas menolak mentah-mentah penggunaan obat maupun teknologi modern konvensional untuk menyembuhkan penyakit pada diri maupun keluarganya. Mirisnya, pengetahuan yang terbatas ini disebarkan kepada orang lain yang sama tidak tahunya dengan label “pengobatan Islami” sehingga buruklah citra Islam dalam dunia medis modern dan bahkan diragukan oleh umat muslim sendiri.

Saya pribadi memang lebih memilih mengonsumsi herbal ketimbang kimia dalam hal suplemen makanan maupun obat namun tidak menutup mata dari pengobatan modern konvensional jika dinilai tidak bertentangan dengan syariat Islam dan menjadi cara yang paling efektif dalam menyembuhkan penyakit karena semua itu dikembalikan lagi pada keyakinan kita terhadap Rabb yang memberikan penyakit pun kesembuhan padanya.

Kembali merebaknya isu-isu seputar dunia kesehatan khususnya yang menyangkut kebutuhan buah hati tercinta seperti boleh tidaknya penggunaan susu formula dan vaksinasi, membuat saya tertarik untuk menyelami lebih dalam mengenai pengobatan a la nabi. Saat jalan-jalan ke toko buku dan melirik ke buku-buku Islam bagian kesehatan, akhirnya saya menambatkan hati pada sebuah buku yang berjudul “Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan” sebagaimana judul di atas yang ditulis oleh Abu Umar Basyier yakni seorang penulis buku-buku Islam best seller seperti Sutra Ungu dan Sandiwara Langit. Pemaparan yang cerdas mengenai ilmu pengobatan modern konvensional dipadukan dengan telaah yang objektif atas hadits-hadits nabi juga pengutipan yang baik dari ulama yang memiliki kafaah baik dalam hal kedokteran Islam seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, disertai dengan ilustrasi realitas di sekitar kita menjadikan buku ini sangat layak untuk dibaca setiap muslim agar tidak lagi berpikiran sempit mengenai pengobatan Islami bahkan -meminjam istilah seseorang- membonsai ilmu pengetahuan Islam itu sendiri.

Buku ini ditulis oleh sang penulis dengan tujuan utama:

Pertama, untuk membuktikan kembali keunggulan kedokteran Islam atau kedokteran a la Nabi saw, dibandingkan segala bentuk ilmu kedokteran manusia yang hanya bersandar pada penemuan dan penelitian ilmiah semata.

Kedua, menyingkap kembali sebagian intisari pembahasan yang mengagumkan dari Ibnul Qayyim dalam Ath-Thibbun Nabawi, dengan tambahan berbagai penjelasan dan pendalaman sesuai dengan disiplin ilmiah ilmu kedokteran dan pengetahuan medis saat ini. Tentu, saya (penulis) hanya bisa menguliti kerangka pembahasan Ibnul Qayyim dan pokok-pokok pemikirannya secara umum saja, karena beberapa alasan di antaranya, beliau banyak melakukan pembahasan tambahan yang tidak terkait dengan ilmu kedokteran sehingga tidak disertakan dalam buku ini, ada beberapa hadits yang digunakan terbukti tidak shahih dan tidak bisa dijadikan rujukan, istilah medis yang digunakan tidak lagi dikenal saat ini karena mengalami kuntaminasi bahasa maupun perkembangan penelitian ilmiah, dan berbagai alasan lain yang intinya perlu pengkajian lebih atas tulisan ulama ini dengan penelitian-penelitian ilmiah terkini. Meskipun begitu, karya Ibnul Qayyim ini sungguh mengagumkan dan tidak tergantikan dalam banyak sisinya.

Ketiga, terdapat beberapa buku terjemahan bahasa Arab dan juga tulisan berbahasa Indonesia seputar kedokteran Nabi saw, yang ternyata hanya jiplakan mentah-mentah dari Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qayyim bahkan tanpa menyandarkan kepada kitab aslinya dan parahnya, nyaris tidak mengubah sistematikanya secara lebih apik dan mudah dipahami pun penyajian-penyajian lain yang tidak kalah menyedihkan mengenai buku tersebut.

Buku ini sendiri ditulis oleh penulis (Abu Umar Basyier) sebagai prolog dari pengobatan Nabi saw. Buku-buku berikutnya akan menyusul dan masing-masing akan difokuskan pada sub-sub bahasan tertentu dari disiplin kedokteran Nabi saw yang sangat luas. Meskipun buku ini tidak banyak memuat hal-hal praktis, tetapi insya Allah jejak-jejak kedokteran Nabi saw akan coba dikuak selebar-lebarnya.

Penulis sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan medis tetapi dengan keyakinan bahwa segala ilmu itu dapat dipelajari walaupun disadari bahwa hasil yang dicapai mungkin kurang optimal. Selanjutnya, semoga buku ini dapat mendorong penelitian ilmiah di bidang kedokteran dan ilmu-ilmu Islam yang lebih mendalam tentang pengobatan a la nabi. Tentunya saran dan kritik yang membangun amat diperlukan untuk perbaikan karya ini juga karya-karya penulis selanjutnya.

Isi buku ini terdiri dari pasal-pasal sebagai berikut:

^ Islam dan Ilmu Pengobatan

^ Pengobatan Klasik dan Modern

^ Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan a la Rasulullah saw) dalam Telaah yang mencakup sub bab pengobatan Nabi saw bukanlah ‘madu’ dan ‘jinten hitam’, kedokteran Nabi saw tidak anti terhadap terapi dan obat-obatan modern, pengakuan kedokteran Nabi saw terhadap medis (tradisional) dan modern, kekeliruan anggapan tentang superioritas ‘bekam’ sebagai ‘kedokteran nabi’ terbaik, kedokteran Nabi saw tak terbatas pada penggunaan obat-obat yang pernah digunakan Nabi saw saja, obat-obatan kimiawi tidak selamanya ‘dilarang’ dalam konsep At-Thibbun Nabawi.

^ Dasar-dasar dan Kaidah Ath-Thibbun Nabawi (Kedokteran Nabi saw) yakni 1)dasar kedokteran Nabi saw adalah wahyu, 2) tiga formula medis dalam kedokteran Nabi saw adalah menjaga kesehatan, menjaga tubuh dari unsur berbahaya, mengeluarkan unsur berbahaya dari dalam tubuh, kemudian 3) dua model terapi: preventif dan kuratif (penyembuhan), konsep dasar pencegahan penyakit: diet, pencegahan penyaklit melalui kebersihan, 4) dua jenis terapi kenabian: penyembuhan substansi penyakit dan pembuangan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh, 5) dua jenis terapi: terapi Ilahiyyah (bermuatan ajaran wahyu murni) dan terapi obat-obbatan, 6) syarat-syarat tenaga medis yang layak berpraktik dalam dunia pengobatan, hal-hal yang harus diperhatikan seorang tenaga medis dalam terapi, dilema malpraktik, 7) penyebab umum terjadinya penyakit menurut Ibnul Qayyim, 8 ) dua jenis penyakit: akibat penyumbatan dan ketidaksempurnaan metabolisme, 9) metode karantina bagi orang-orang sakit.

^ Kedokteran Nabi, Antara Terapi Modern dan Pengobatan Tradisional

^ Contoh-contoh Praktis Pengobatan yang Pernah Dilakukan Nabi saw

^ Pengobatan dengan Air Putih

^ Terapi dengan Makanan Sehat

^ Kedokteran Nabi saw terhadap Penyakit Kejiwaan

^ Jenis-jenis Penyakit Jiwa dan Terapinya Menurut Al-Qur’an dan Hadits

^ Proses Terapi dan Penyembuhan Penyakit Kejiwaan

^ Beberapa Jenis Herbal yang Disebut dalam Al-Qur’an atau Al-Hadits dan Fungsinya menurut Ath-Thibbun Nabawi

^ Berobat dengan Tidur

^ Berobat dengan Puasa

^ Beberapa Contoh Pengobatan Alternatif dan Relevansinya dengan Ath-Thibbun Nabawi yang mencakup jenis pengobatan alternatif seperti terapi pikiran dan spiritual, terapi fisik, dan terapi energi

Terakhir dilampirkan pula doa saat mengobati seseorang atau saat sebelum minum obat. Buku ini mungkin memang belum bisa menjawab pertanyaan spesifik mengenai teknologi pengobatan modern tetapi kembali kepada tujuan penulis yakni membuka selebar-lebarnya jalan untuk memahami jejak-jejak kedokteran Nabi saw.

Untuk menghindari kejemuan jika saya memperpanjang tulisan ini. Maka dari itu, saya cukupkan tulisan ini. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan semakin tertarik untuk mendalami topik ini.

Terakhir, sebagai seorang muslim yang berilmu tentunya kita ingin menjadi sosok yang semakin rendah hati, sungguh-sungguh, dan peka terhadap sekitar kan?

Wallahua’lam bish shawab.

Buku Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan dapat diperoleh salah satunya pada link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s