Teruntuk saudariku, ukhti sholihah yang sedang berjuang


Bismillahirrahmanirrahiim

Itulah hati..
Yang bersitannya tak mampu diarahkan..
Yang kecondongannya tak mampu diatur
Yang inginnya tak mampu ditekan

Itulah hati, yang debarnya tak mampu dikendali
Yang buncahan bahagianya tak mampu ditutupi
Yang jeritannya tak mampu diredam

Itulah hati..
Dia mengenali lakunya sendiri..
Kendati ribuan tali kekang kupasangkan
Tetap saja sulit kuarahkan
Maka kan kudapat diriku dalam lelah yang berkepanjangan
Karenamu duhai hati

Diriku begitu paham akan langkah yang mulai mengalahi
Begitu tahu akan terjalnya jalan yang kupilih
Tapi bersitannya duhai hati, begitu kuat..
Seakan ribuan medan magnet menarik kearahnya
Ada apa denganmu duhai segumpal daging di dada?

Sungguhkah diri ini telah mengendali dengan baik?
Tepatkah tali kekang telah kupasang dengan benar?
Ataukah memang kusengaja melemahkan kendaliku?
Ataukah tali kekang itu sengaja kukendurkan?

Duhai beningnya qalbu…
Adakah syahwat mulai bermain di dalamnya?
Apakah putihmu telah ternoda bercak?
Aku bingung, aku lelah…

Beribu macam tanya hadir dalam benakku
Bermain di relung terdalam

Ku coba..
Kutahu mata adalah jendela hati
Maka kucoba tundukkan pandanganku
Agar tak dapat menatapmu
Namun tahukah?
Dibawah kudapati jejak kakimu
Dan kembali ku melangkah bermain menapak jejakmu
Berlari mencari tepinya dengan harap menemukanmu
Lalu apa gunanya ku tundukkan pandanganku?

Tapi tetap kucoba…

Ku mulai menghapus bayangmu
Kukurung diriku dalam ruang gulita tak berpendar
agar lenyap semua bayangan tentangmu
Tapi tahukah?
Semakin kuliputi diriku dalam gelap, semakin jelas cahayamu nanar
dalam tiap pejamku
Lalu untuk apa gulita jika selalu kutemukan cahayamu dalam tiap pejamku?

Dan akan tetap kucoba…

Kucoba menanam ribuan duri tentangmu di hati
Ku semai racun agar kau tak tumbuh
Merekah di dalam
Kupasang tembok pembatas antara hatiku dan hatimu
Tapi tahukah?
Tiap duri yang kusemai tumbuh merangkai namamu
Tiap racun yang ku tabur menjadi obat penawar luka
Tiap tembok yang kupasang merambat hijau lumut melukismu

Lalu apa lagi yang harus kuperbuat?
Sungguh aku dalam lelah tak bertepi
Dalam luka yang menganga
Dalam jerit tak berucap

Maka ku coba…

Kuhapus air mataku bukan dengan sapu tangan
Karena ku tahu tak akan mampu menyembunyikan sembabnya
Maka kuhapus tiap tetesnya dengan wudhu yang menyejukkan
Berharap tiap bercak noda dihatiku ikut luluh dan tersaput

Kupasang tembok pembatas denganmu bukan dengan duri, racun, ataupun tembok karena kutahu itu pun tak berguna
Tapi dengan hamparan hijab syariat
Dengan ilmu penawar hati
Dengan lingkaran majelis dzikir

Takkan kucoba hapuskan bayangmu
Tapi kan kucoba menatapmu dengan biasa,
Mencintaimu dengan ikhlas
Tanpa sedikitpun ingin memilikimu,
Tanpa sebersit pun ingin menggapaimu
Dan ku mulai meninggalkan jejakmu
Ku kan membuat jejak sendiri di tiap langkah
Ku menapak, menuju cinta yang jauh lebih abadi..

Ketahuilah, tak kan kucoba menghapus cintamu,
Tapi kan kututupi dengan cinta yang jauh lebih agung
Cinta yang jauh lebih indah dan membumbung
Yang kuyakin Dia yang menentukan akhir dari tiap jejak kita

Kuharap suatu hari nanti
Kau pun melangkah ke arah yang sama
denganku menuju Cinta-Nya
Agar kelak jejak kita dapat bertemu
Di ujung Iradah-Nya.

Sumber :

Sketsairoh

 

Membaca tulisan ini saya terenyuh dengan sebuah monolog ungkapan hati seorang aktivis da’wah yang tengah mengubah perasaannya mencinta seorang insan menjadi sebuah cinta yang abadi. Judul ini sendiri ada karena dalam sumber yang sebenarnya, tulisan ini dikirim oleh seorang akhwat kepada sahabatnya yang tengah jatuh cinta. Inilah bentuk ketulusan ukhuwah untuk saling mengingatkan dengan cinta dalam kebenaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s