Membaca “Totto-chan, Gadis Cilik Di Jendela”


Kepolosan dan keceriaan Totto-chan tidak menjadikannya putus asa manakala ia dikeluarkan dari sekolahnya, sebuah Sekolah Dasar konvensional yang kurang cocok dengan anak-anak luar biasa sepertinya. Totto-chan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan jiwa sosial yang besar pula, makanya ia suka berinteraksi dengan orang meskipun tidak dikenalnya seperti penjaga karcis di stasiun kereta, pemusik jalanan, dan bahkan dengan anjingnya, Rocky. Kali lain, ketika ia diam-diam hendak mengundang Yasuaki-chan — temannya yang menderita polio – untuk memanjat pohon yang dianggap sebagai miliknya. Semua itu ia lakukan dengan semangat dan ketulusan seorang gadis cilik yang dididik dengan baik oleh sang Mama dan Papa yang hebat.

Ya, pada umumnya, tempat anak bersosialisasi pertama kali adalah di rumah, dengan keluarganya, yakni ayah dan ibu atau yang biasa dipanggil “Mama” dan “Papa” oleh Totto-chan. Mama dan papa adalah orang tua yang berjiwa besar. Mereka mendidik anak mereka dengan kebebasan dalam arti mengizinkan sang anak mengeksplor berbagai hal untuk memenuhi rasa ingin tahuannya selama itu tidak membahayakan dirinya atau orang lain di sekitarnya. Artinya, hal-hal yang sudah sewajarnya seorang anak lakukan, seperti ketika Totto-chan sering “membuat” celana dalamnya robek dengan bermain menerobos semak-semak atau saat telinganya “tidak sengaja digigit” oleh Rocky. Mama mendengarkan cerita Totto-chan dengan perhatian juga bijaksana dalam menanggapi apa yang dialami putri istimewanya tersebut. Tidak seperti orang tua pada umumnya yang mudah panik atau mencela perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan standar dirinya yang adalah orang dewasa (betapa orang dewasa sering bersikap tidak adil terhadap anak-anak).

Ada pun tokoh yang begitu penting dalam kehidupan Totto-chan yakni kepala sekolah, Pak Susaku Kobayashi. Pertemuan pertamanya dengan Totto-chan begitu membekas di hati gadis cilik itu, ketika sang kepala sekolah tulus memberikan perhatian terhadap ceritanya selama empat jam tanpa terlihat bosan di mata Totto-chan. Itulah awal fase pendidikan Totto-chan di sekolah Tomoe Gakuen. Kepala sekolah selalu menanamkan nilai positif dan meyakinkan Totto-chan bahwa ia benar-benar(dengan penekanan) anak yang baik, dalam arti meyakini dan meyakinkan Totto-chan bahwa betapa pun ajaibnya perilaku gadis cilik itu, dan sebagian orang mungkin menilainya nakal, ia adalah anak yang baik dan pantas untuk mendapat pendidikan terbaik.

Punya mata tapi tak melihat keindahan. Punya telinga tapi tak mendengar musik. Punya pikiran tapi tak memahmi kebenaran, puny hati tapi tak pernah tergerak, itu hal yang harus dtakuti.
(Sosaku kobayashi)

Kepala sekolah adalah sosok yang hangat, berwibawa sekaligus cerdas. Beliau berani menembus sistem dan tradisi umum di masyarakat dengan menggunakan metode mendidik yang tidak lazim namun memberikan kesan dan pelajaran mendalam bagi anak muridnya. Misalnya, ruang kelas yang umumnya berdinding beton diganti dengan bekas gerbong kereta yang membuat anak-anak di dalamnya merasa seperti sedang melakukan perjalanan yang menyenangkan. Selain itu melakukan perjalanan ke luar sekolah sambil belajar seperti perjalanan ke Kuil Kuhonbutsu, mengundang petani sebagai pakar di bidangnya untuk memberikan pelajaran bertani, mengadakan tes keberanian, menggambar di lantai aula, juga berenang tanpa busana di kolam renang sekolah. Setiap aktivitas tersebut melibatkan daya pikir, emosi juga psikomotorik anak yang membuat mereka secara tidak langsung belajar tentang sains, biologi dan sejarah, mengaplikasikan ilmu di bawah bimbingan seorang ahli, mengenali rasa takut dan menaklukannya, bertanggung jawab atas perbuatan, serta makna menghargai perbedaan. Yang terpenting dari semua itu adalah anak-anak menikmati proses belajar itu sendiri. Belajar itu menyenangkan. Di samping itu, kepala sekolah juga pandai dalam mengistimewakan setiap anak dengan memberikan waktu belajar bebas di awal hari di mana sang anak melakukan apa yang menjadi minat dan bakatnya. Hal ini akan mengembangkan potensi sang anak tak terkecuali bagi anak yang memiliki kekurangan fisik seperti Takahashi yang bertubuh kecil. Kepala sekolah berhasil “membesarkannya” di hari olahraga juga memotivasinya dengan mantra ajaib “Kau bisa melakukannya!” seperti Totto-chan

Beberapa peristiwa yang dialami oleh Totto-chan pun memberikan kesan dan hikmah tersendiri bagi perkembangan psikologisnya. Sebagai contoh, saat Totto-chan mengenakan pita baru dan Miyo-chan, putri ketiga kepala sekolah merengek ingin memiliki pita yang sama tetapi tidak ada yang menjual serupa, maka Totto-chan mau mengalah untuk tidak mengenakannya ke sekolah, ia belajar tentang tenggang rasa. Pada masa-masa sulit akibat perang dan papa tidak mau memainkan biolanya, Totto-chan belajar menghargai keteguhan dan pilihan orang lain. Saat anak ayamnya mati, meninggalnya Yasuaki-chan juga kepergian Rocky, memberikan makna mendalam bagi Totto-chan tentang menghadapi rasa kehilangan dan mengikhlaskannya.

Salah satu bagian paling menarik adalah ketika Totto-chan benar-benar memikirkan tentang cita-citanya di masa mendatang berkat inspirasi dari Tai-chan yang disukainya. Ia menemui kepala sekolah dan menyatakan secara dewasa bahwa kelak ia akan menjadi guru di Tomoe. Cita yang menjadi janji namun hangus terbakar kobaran perang. Namum begitu, impiannya untuk terjun dalam dunia pendidikan tidak pudar sedikit pun hingga akhirnya buku ini bisa terbit bahkan di luar negara asalnya.

Bagian akhir dari buku ini menggambarkan perjalanan kepala sekolah yang tidak pantang menyerah dalam bidang yang dicintainya yakni pendidikan dan musik hingga akhir hayatnya. Dedikasinya menjadikan beliau sebagai tokoh pendidikan yang dihormati. Selain itu, apa yang terjadi pada murid-murid Tomoe — teman sekelas Totto-chan – setelah dewasa, menjadi bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan di Tomoe. Semua menjadi apa yang mereka impikan semasa bersekolah di Tomoe Gakuen tercinta.

Membaca Totto-chan membuat saya belajar banyak tentang filosofi pendidikan, metodologi belajar, tumbuh kembang anak yang semua itu menghasilkan harmoni yang indah bagi pembangunan kemanusiaan.

Karya Tetsuko Kuroyanagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s