Memetik Hikmah Dari Mandalawangi dan Sukamantri


Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Usia perjalananku di SAI memang masih seumur jagung dan jejak langkahku belumlah seberapa dibanding guru-guru, bahkan para siswa SD yang sudah menjadi bagian dari SAI sejak mereka prasekolah. Namun, seorang pembelajar sejati adalah ia yang dapat memetik hikmah dari segala tanda-tanda kebesaranNya yang terhampar di tiap jengkal semestaNya bukan? Seperti yang banyak kupelajari dari Mandalawangi pada 2012 silam dan Sukamantri, beberapa hari yang lalu.

 

Aku mendapat tugas suci😀 sebagai Pembimbing Anak Kelompok (PAK) yang bertugas memfasilitasi pembelajaran sekaligus mengases siswa dalam hajat besar Sekolah Alam Indonesia yang melibatkan SDM terbanyak (depierkirakan tahun ini memberangkatkan kurang lebih 250an orang) yakni Out Trekking Fun Adventure (OTFA). Pada OTFA 2012 aku memegang kelompok kecil yakni siswa kelas 1 dan 2 SD, sedangkan pada OTFA 2013 yang bertema Glorious Camp, aku bertugas mendamping kelompok besar atau istilahnya batalyon madya yang beranggotakan kelas 3 sampai dengan 5 SD. Tentunya masing-masing tugas memiliki tantangan tersendiri yang secara langsung maupun tidak akan meng-upgrade kapasitas PAK sebagai fasilitator juga sebagai individu.

 

Saat memegang kelompok kecil, hal yang kurasa paling ter-upgrade adalah fisik, konsentrasi dan kesabaran dalam menghadapi sifat polos anak-anak. Secara fisik, PAK bertugas membantu AK yang fisiknya relatif lebih lemah dari kelompok besar dalam memobilisasi mereka dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal lainnya adalah ke-belum mahir-an mereka dalam memanaje barang-barangnya sendiri meskipun umumnya mereka sudah mandiri (jika dibandingkan anak lain seusianya) atau ketika mereka perlu ditemani ke kamar mandi kapan pun mereka ingin. Dalam hal konsentrasi, kelompok kecil memiliki rentang fokus yang lebih pendek misalnya masih suka bermain atau bercanda sehingga tidak begitu fokus mengikuti acara atau ingin jalan-jalan sendiri untuk mengeksplor alam sekitarnya. Pengawasan pada saat trekking malam pun harus lebih ekstra karena mereka belum begitu memahami prosedur keselamatan seperti hanya mengarahkan penerang ke arah depan atau jalan; berjalan pada satu jalur (tidak miring-miring) karena di kiri/kanan mereka ada jurang yang menganga sehingga perlu diingatkan berkali-kali untuk berjalan lurus. Namun, di sisi lain mereka lebih mudah diingatkan terhadap peraturan.

 

Berbeda dengan saat mendampingi kelompok besar, kekuatan mental (ruhiyah dan fikriyah) lah yang lebih diperlukan untuk lebih bersabar menghadapi tingkah siswa yang mulai beranjak remaja ini. Gejolak emosi yang mulai memberontak seperti bersikap ogah-ogahan atau meremehkan, perasaan terhadap lawan jenis yang dapat mempengaruhi mood saat acara berlangsung, atau gaya “mudah mengeluh” mereka yang terkadang mengundang kejengkelan padahal kalau kita mau berpikir lebih arif, pelaksanaan OTFA yang lebih lama yakni tiga hari dua malam – berbeda dengan kelompok kecil yang menjalaninya dua hari satu malam – pasti menguras energi mereka sehingga tentunya menjadi wajar jika secara fisik dan mental, mereka mengalami kelelahan dan sifat kekanak-kanakannya muncul. Sebenarnya, mendampingi kelompok besar bisa jadi lebih mudah dalam hal manajerial barang-barang karena mereka sudah terbiasa mengatur sendiri barang-barangnya juga lebih berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan aktivitas sehingga tidak perlu banyak dikomandokan.

 

Dalam mengahadapi kelompok besar, keramahan layaknya kawan, kepedulian dan kebijaksanaan layaknya orang tua, dan ketegasan layaknya pemimpin harus pandai-pandai ditempatkan sesuai kondisi. Pun yang terpenting dari semua itu adalah niat yang lurus, tulus dan sikap positif untuk membentuk mereka menjadi mukmin yang gagah, berani, cerdas, dan berakhlak mulia (kuat dan bertakwa) sebagaimana spirit yang dibawa oleh lagu dan mars OTFA.

Interaksi yang mendalam pun dijalani dengan sesama PAK dan panitia yang berragam karakter dan potensinya. Dalam hal ini, aku benar-benar belajar mengamati trik-trik yang digunakan PAK yang lebih senior dalam menyelesaikan suatu kegiatan agar lebih efektif dan efisien. Selain itu, aku juga belajar bagaimana bersikap luwes (lembut sekaligus tegas) dengan AK dan menjaga ritme dengan sesama PAK seperti pada saat masak bersama dan mempersiapkan pentas seni. Adanya perbedaan pendapat atau sedikit kritik tidak perlu mengotori hati dan menjadi perselisihan karena siswa pun belajar cara merespon keadaan dan memanaje masalah dari orang dewasa di sekitarnya sehingga cukuplah bagi para PAK untuk tetap solid dan memancarkan energi positifnya sekali pun ada hal yang dirasa kurang nyaman dengan sesama rekan, tidak perlu ditonjolkan sehingga masing-masing belajar mengendalikan emosinya dan menyelesaikan persoalan dengan efektif dan ahsan. Hal ini juga mencakup komunikasi baik dan tanggung jawab yang harus tetap dijaga dengan siswa yang ditinggalkan di sekolah, guru pengganti, juga orang tua siswa (curcol mode: on :p).

 

Secara pribadi pun, aku merasa ter-upgrade untuk menyelesaikan segala kebutuhanku dengan lebih baik dan cepat karena peran PAK begitu penting dalam memastikan nilai atau hikmah dari segala hal yang dirancang maupun kejadian di luar rencana, tertransfer dengan baik kepada siswa khususnya AK masing-masing sehingga urusan pribadinya pun berpengaruh terhadap AK-nya. Sebagai contoh dalam hal makan, meski rasanya tidak nafsu makan, kita harus tetap menghabiskan makan untuk menjaga stamina dan memberi contoh kepada AK. Aku juga belajar untuk lebih cepat waktu MCK. Biasanya, PAK minta AK untuk bersih-bersih dengan cepat maka sebaiknya PAK konsisten melakukan hal yang sama kecuali di luar waktu yang disediakan seperti pada malam hari sebelum tidur. Kapasitas fisik dan konsentrasi pun kurasakan ter-upgrade saat night adventure atau trekking malam yang mana energi sudah terkuras pada kegiatan hari sebelumnya ditambah medan dan cuaca yang aduhai untuk pemula sepertiku plus jujur saja, kemampuan spatialku tidak begitu baik (baca: nggak banget) untuk mengingat jalan. Alhasil, meski AK-ku sempat protes “Ibu kok salah melulu dari tadi”, aku mencoba tetap tenang, fokus pada situasi dan berdoa kepada Sang Pemberi petunjuk. Selain itu juga bagaimana mengendalikan diri agar tetap berpikir jernih, tenang, dan menenangkan meskipun situasinya genting seperti saat hujan deras mengguyur hingga tenda bocor juga saat ada kejadian-kejadian aneh (colek Bu Hayu, Bu Eha, Bu Ratu ;D).

 

“Di alam, kepribadian kita yang sebenarnya akan tampak. Mana yang benar-benar bersabar, mana yang hanya mementingkan dirinya sendiri”, begitu kurang lebih perkataan Pak Novi pada apel penutupan OTFA 2013 yang mengena bagiku. Aku kembali merenungkan niat, ucapan dan perilakuku saat menjalani OTFA. Banyak bersitighfar dan mengazzamkan tekad kembali untuk menjadi teladan yang lebih baik lagi bagi para calon pemimpin peradaban ini kelak. Semoga para siswa yang bersinggungan denganku terutama AK-ku juga rekan-rekan PAK, panitia, juga guru lain bersedia memaafkan segala kealpaanku selama OTFA.

Terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman berharga yang SAI berikan kepadaku untuk menjadi pembelajar sejati.

 

Depok, 25 Mei 2013 20:46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s