Cacing


Suatu hari, pada perjalanan kakiku menuju ke sekolah aku melihat seekor cacing tanah di pinggir jalan (sebelah kiri), sedang bergerak ke arah seberang jalan. Aku sempat tertegun memperhatikan dan bertanya-tanya apakah ia dapat menyeberangi jalanan itu (lebarnya sekitar 5 meter) dengan selamat dan apakah aku perlu membantu memindahkannya ke seberang tetapi kemudian aku (berujar dalam hati, ‘ah itu kan urusan dia’) ingat tujuanku ke sekolah dan kembali melangkahkan kakiku.

Pulang sekolah, di jalan yang sama (tapi kini aku berjalan di sisi seberang jalanan tadi pagi) aku melihat cacing itu, sudah sampai seberang! Mati. Mengering. Iya, cacing itu (memang kau pikir berapa cacing yang ingin menyeberang jalan setiap hari?). Aku benar-benar terkesan dengan pemandangan itu dan seketika jiwa ini dibanjiri oleh hikmah. Hikmah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang mau membaca ayat kauniyahNya dan mendayakan mata hatinya. Memang cacing itu tidak berakal (bertulang pun tidak?) tetapi kita sebagai manusia (jika di posisi sang cacing) apakah mampu menantang dunia (dengan segala persoalan yang ditawarkannya) seperti cacing itu? Besar risikonya –mengancam jiwa– ketika seekor makhluk-kecil-lunak-melata menyeberang jalan yang (bukan) hanya 5 meter itu di pagi hari ketika banyak manusia dengan berbagai kendaraannya berlalu lalang, belum lagi ayam tetangga yang kelaparan atau tikus-tikus yang keliaran (tikus makan cacing? #eh) ditambah aspal yang pastinya akan bertambah panas kian siang. Belum ditambah lelahnya otot perut melata sejauh itu. Kenapa ia repot-repot menyusahkan dirinya? Hematku, karena keyakinannya bahwa Sang Pencipta tak kan menyia-nyiakannya hingga ia menundukkan egonya untuk beribadah kepada Sang Rabb (dan dilihat oleh makhluk lain yang ditakdirkan melewati dan memperhatikannya serta mengambil pelajaran darinya. Bentley Blower pun layak kau miliki Cing).

Baginya, pengharapan dan ketakutan karena Yang Tercinta mengalahkan segala kengerian yang bahkan dapat merenggut hidupnya, tetapi sekali lagi ia yakin, bahwa perjuangannya yang tulus akan berbuah kemuliaan abadi. Ia tak kan menyalahkan makhluk lain (aku misalnya, yang hanya menatapnya sekilas dan bukannya membantu menyeberangkannya) atas pengabaian atau malah bisa saja aku tak sengaja menginjaknya, menambah beban hidupnya.

Piciklah, ketika manusia hanya mau menilai sesuatu dari hasilnya semata tanpa menengok pada proses (ingat statusku tentang membersihkan kamar mandi dan sikatnya) dengan segala hikmah yang dapat didulang darinya. Maka, aku mengamini kebijaksanaan “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Makasih ya Cing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s