Belajar Dari RAJA Kecil


Membaca Orang Tuanya Manusia karya Pak Munif Chatib (meski belum selesai. thanks to my best pal, who give it ^_^), aku tertarik dengan hikmah yang Pak Munif dapat dari sosok “anak usia dini” (begitu beiau membahasakannya). RAJA adalah salah satu fase anak ketika dididik, yakni pada tujuh tahun pertama kehidupannya. Ia menjadi Raja yang memiliki kerajaan bermain. Kita sebagai orang dewasa semestinya tidak merusak fitrah ini dan justru turut mengambil pelajaran dari tingkah laku mereka serta mengajarkan hikmah itu kembali pada sang pemberi hikmah, cermin kemurnian.

Pak Munif berpandangan, “Ada makna yang dalam, penyebab anak kecil bebas dari dosa (ma’sum). Ternyata, fitrah ilahiah-nya belum terkotori. Orang tua harus belajar darinya. Suka menangis, simbol dari kelembutan hati. Suka bermain tanah, mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Suka berkelahi namun tanpa dendam, simbol pemaaf. Tidak pernah menyimpan untuk besok, simbol tawakal kepada Sanag Maha Pemberi. Dan suka membangun lalu merobohkan, simbol untuk tidak cinta dunia.”  
 
1. Anak kecil suka menangis
Anak usia dini suka menangis, apa lagi kalau ia merasa telah berbuat salah, dengan cepat pasti ia segera menangis. Menangis adalah tanda kelembutan hati sehingga bisa dikatakan bahwa anak usia dini adalah manusia yang paling lembut hatinya. Sebaliknya, orang dewasa malah jarang sekali menangis. Jadi, ketika anak menangis dengan berbagai alasan, sungguh tepat bagi orangtua untuk mengintrospeksi diri tentang makna tangisan mereka.
 
2. Anak kecil suka bermain tanah
Pada umumnya, anak berusia dini suka bermain tanah dalam berbagai bentuk. Hakikat dari permainan itu memberikan indikator bahwa anak kecil sebenanya mengetahui dari mana dia berasal dan kemana akan kembali, jawabnya adalah tanah. Sebaliknya, orang dewasa kebanyakan melupakan asal ia dibuat dan tempat kembalinya yakni tanah. Karenanya, jika anak Anda bermain tanah, jangan buru-buru melarang atau memarahinya. Jadikanlah momen saat anak bermain sebagai alat untuk intropeksi diri pun hal ini dapat menjadi pengetahuan bagi sang buah hati.
 
3. Anak kecil tidak punya rasa dendam
Perhatikanlah anak-anak berusia dini. Jika ia menginginkan sesuatu dari teman sebayanya dan keinginannya tidak terpenuhi, mereka bisa sampai berkelahi. Namun beberapa saat kemudian, setelah mereka puas maka dengan mudahnya mereka akur kembali dan berteman kembali sambil tertawa dan bergandengan tangan, sepertinya mereka telah lupa dengan perkelahian tadi karena mereka tidak ada rasa dendam.
Berbeda dengan orang dewasa yang “betah” berlama-lama bermusuhan dan tak saling menyapa. Jika di dunia ini hanya berisi anak berusia dini (yang pemaaf), pasi tidak akan ada PERANG🙂 .
 
4. Anak kecil tidak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari
Jika anak-anak berusia dini memiliki sesuatu, misalkan makanan, maka dengan segera mereka ingin menghabiskannya dengan berbagai cara : dimakan sendiri, atau berbagi dengan temannya. Karena mereka tidak mempunyai perencanaan untuk menyimpan harta atau barang yang dimilikinya untuk esok hari, akibatnya mereka tidak pelit. Sepertinya, mereka punya keyakinan bahwa rezeki sudah dijamin oleh Allah SWT. Sehingga, mereka memahami betul konsep tawakal dalam kehidupan ini. 
 
5. Anak kecil cepat membuat dan cepat merusak
Anak usia dini paling suka melakukan kegiatan seperti membangun atau membuat sesuatu. Mereka bisa betah berlama-lama membentuk suatu bangunan dari balok misalnya. Ketika bangunan dari susunan balok tersebut sudah berdiri kokoh, si kecil akan memandangi karyanya hingga puas. Selanjutnya, tanpa alasan yang jelas, dirusaklah susunan balok tersebut. Kalau saya renungkan, bukankah kondisi ini mencerminkan anak usia dini tidak pernah diperbudak oleh materi? Sepertinya, anak usia dini mengajarkan kepada orang dewasa bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal kecuali Allah SWT.
 
Hingga saya kian meyakini bahwa,
 
Anak-anak itu lebih peka dan cerdas dari yang kita kira
 
Sumber : Orangtuanya Manusia: Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak. Karya Munif Chatib. Penerbit Kaifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s