Merawat Akal


Ada yang masih ingat tulisan “Epilog Ramadhan”? Di awal saya sedikit membahas tentang subyektivitas kemanusiaan, tentang sudut pandang. Betapa kepedulian akan sudut pandang ini semakin lama semakin terasa penting. Di mana gesekan-gesekan (sebagai ujian peningkatan kapasitas dari-Nya) tidak mungkin dapat terelakkan dan saya selalu senang dengan kata “belajar” dan “hikmah”.


Mari kita ambil contoh sederhana. Adalah seorang perempuan desa yang demi membantu perekonomian keluarganya, bekerja sebagai pengasuh pada sebuah keluarga berada dan berpengaruh di kota. Ia diajak langsung dari kampungnya oleh sang majikan. Sepasang majikannya adalah orang-orang berjadwal kerja padat 14-20 jam per hari. Tentunya, sang pengasuh mendapatkan gaji yang lumayan besar. Namun konsekuensinya, ia harus selalu menemani anak-anak majikannya selama jam sadarnya. Katakanlah sang anak bangun pukul 6 lalu tidur pukul 9 malam, maka selama itu pula pengasuh harus meladeni tuan kecilnya itu. Pun, ternyata sang majikan menginginkan pengasuh yang sangat rajin, yang mau menjaga putranya 7 hari dalam sepekan termasuk dalam me time-nya. Alhasil sebenarnya tidak ada istilah libur dalam pekerjaannya meskipun gajinya besar. Apalagi ternyata anak-anak sang majikan adalah tipe yang berlebihan energi dan didukung oleh fasilitas dan mainan terbaik. Tidak jarang sang pengasuh mendapat perlakuan “istimewa” dari mereka. Belum lagi sang majikan selalu membenarkan perbuatan anak-anaknya dan meminta sang pengasuh lebih sabar. Hingga suatu hari, sang pengasuh memukul anak sang majikan hingga berbekas ketika sang anak berulah dan emosi kian tak tertahankan. Taka da saksi. Sang majikan mengetahui kejadian ini dari sang anak dengan cepat dan memberhentikan sang pengasuh secara tidak hormat. Kemudian menyiarkan kabar bahwa anak-anaknya yang malang di-bully oleh pengasuh mereka bahkan hendak menyeret sang pengasuh ke ranah hukum.

Jika kita diposisikan sebagai orang terdekat dari sang majikan, apakah kita mau repot-repot mengecek kasus tersebut secara menyeluruh? Memperhatikan dari sudut pandang sang pengasuh? Adalah fakta bahwa sang pengasuh melakukan kekerasan terhadap putra majikannya. Namun, dengan logika sederhana plus itikad untuk mencari kebenaran dan solusi yang terbaik bagi keduanya, seharusnya dapat dilakukan mediasi oleh pihak ketiga yang adil dan obyektif. Pasalnya, sebagai orang berpendidikan rendah yang mempekerjakan dirinya sendiri, siapakah yang dapat menjadi mediator yang adil dalam kasus tersebut?

Sekali lagi, ini tentang sudut pandang. Ketika kita melihat suatu persoalan (saya tidak suka menyebutnya “masalah” karena akan terkesan berat dan negatif), apakah kita masih sering menyimpulkannya berdasarkan perasaan kita semata dari satu sisi saja? Ketika kita menjadi keluarga dari sang majikan, pasti ada rasa marah, sedih, simpati atas kasus tersebut. Itu wajar sebagai manusia. Akan tetapi bukankah manusia diciptakan dengan akal untuk mendayakannya sehingga dapat berpikir? Dan kita juga diciptakan dengan hati untuk memahami perasaan semua orang (bukan hanya orang tertentu yang kita sukai). Jika yang dimenangkan hanya perasaan sang majikan dan akhirnya sang pengasuh sampai dihukum, bagaimana dengan perasaan sang pengasuh dan keluarganya? Apakah persediaan perasaan kita terhadap mereka masih ada? Lantas, standar apa yang digunakan untuk memandang persoalan ini dengan adil?

Sebagai orang yang mensyukuri nikmat akal, saya berpegangan pada apa yang Ia tetapkan. Ketika datang suatu kabar dari orang yang sering berbuat keburukan, maka periksalah kebenarannya dengan teliti agar tidak mencelakai orang lain karena kecerobohan yang akan mengakibatkan penyesalan (49:6). Selanjutnya, jika ada perselisihan antara orang-orang yang beriman, maka peringatkanlah yang berlaku buruk untuk kembali kepada kebaikan dan damaikan mereka dengan cara yang adil dan bertakwa (menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya) agar mendapat rahmat. Pun, janganlah memperolok, mencela, memanggil dengan panggilan buruk terhadap orang lain karena bisa jadi orang yang diperolok itu lebih baik dari orang yang memperoloknya (49:9-11).  Lalu bagaimana cara agar berpikir adil?

Salah satunya dengan petunjukNya kembali, yakni perintah untuk menjauhi prasangka buruk dan sifat mencari-cari kesalahan orang lain serta membicarakan keburukannya (bergunjing). Setiap manusia pasti punya kesalahan dan pernah alfa sehingga jika dicari-cari pasti ada celanya. Maka, sang utusanNya yang terpercaya pun memberikan tuntunan untuk meninggalkan masalah yang tidak ada sangkut paut dengan kita, dengan kata lain, tidak ikut campur urusan orang lain. Meskipun manusiawi merasa penasaran dengan persoalan orang lain di sekitar kita, jika tidak dilibatkan di dalamnya, alangkah bijak jika kita menahan telinga dan lidah kita untuk tidak mencuri dengar, mengorek-ngorek, dan berkomentar atas sesuatu yang kita belum pahami seutuhnya meskipun dengan niat ingin membantu. Kita belum tentu dapat memahaminya dengan utuh dan obyektif serta memberikan solusi yang adil bagi orang yang sedang bermasalah. Apalagi, jika sudah ada prasangka negatif atau ketidaksukaan pada salah satu pihak. Jika bukan dilandasi dengan niat yang lurus dan pikiran jernih maka kemungkinan bisa memperkeruh masalah.

Tanpa rasa bosan, saya hanya menjalankan apa yang saya yakini tentang Ia dan utusanNya juga sebagai manifestasi merawat akal saya. Bahwa jika sulit untuk berpikir positif terhadap seseorang, maka konfirmasilah padanya. Bukan memperturutkan asumsi kita (yang belum tentu benar) apalagi menyebarkannya kepada orang lain yang kita rasa selalu dapat menyenangkan kita, membenarkan kita, meski nurani kita berbisik bahwa itu salah. Karena sungguh, tidak ada kebaikan pada diri sendiri maupun orang lain jika demikian. Pun, seringkali asumsi itu didukung dengan ke-merasabisa-an membaca bahasa tubuh seseorang padahal itu baru dugaan. Ia berfirman bahwa dugaan itu tidak sedikit pun berguna melawan kebenaran (10:35-36). Dalam penerapan psikologi yakni konseling, pemahaman akan bahasa nonverbal digunakan untuk memperlakukan orang lain dengan nyaman sehingga orang tersebut dapat mengungkapkan apa yang dirasa dan dipikirkan olehnya. Jadi bukan untuk menghakimi tentang yang orang lain rasakan.

Tulisan ini adalah refleksi saya terhadap rasa dan pikir manusia terhadap persoalan. Benar- salahnya dikembalikan kepada pembaca. Apakah kita ingin merawat titipanNya berupa akal sehat. Apakah kita ingin sama-sama jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Apakah kita yakin dengan kuasaNya pada hati manusia. Apakah kita ingin menjadi pribadi yang belajar untuk selalu positif memandang hidup. Apakah kita mau mempercayai orang-orang yang berusaha menyampaikan kebenaran. Karena apabila kepercayaan itu sudah tidak ada, seorang anak pun bisa mempertanyakan apakah orang tuanya adalah benar orang tua kandungnya.

Wallahua’lam bish shawab

CMIIW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s