Aku Ingin

Ceritanya, pada hari itu, kelas SD 1 River membuat Pohon Harapan yang akan digantungkan keinginan anak-anak yang bisa dicapai di akhir kelas 1 ini. Mereka menuliskannya di sepotong kertas yang akan digantung pada ranting Pohon Harapan agar dapat melihatnya setiap hari dan turut menyemangati mimpi kawan-kawannya.

Masya Allah, keinginan mereka sungguh luar biasa! Ada yang ingin dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, ingin pintar belajar Qur’an, ingin selesai menghafal juz 30 (sekarang alhamdulillaah sudah sampai Al-Insyiqaq), ingin mengenal Nabi Muhammad lebih dekat karena kerinduannya yang begitu besar akan sosok manusia mulia ini hingga pernah suatu hari ia menitikkan air mata karenanya. Bahkan ia menceritakan dengan begitu semangat tentang mimpinya bertemu baginda nabi shalallaho ‘alayhi wasalam =’).

Impian lainnya yang tak kalah semangatnya ialah menjadi tentara Islam yang hafal Qur’an juga. Ia ingin belajar menembak dan memanah. Ada lagi yang ingin jago Bahasa Arab, jago berenang, jago karate, jago main bola. Ada pula yang ingin agar kelas kami menjadi kompak juga ada yang ingin kelasnya bagus dan rapi (idealis sekali! ^^). Ada keinginan yang paling unik di antara semua. Ia ingin bisa membuat sepatu sendiri! “Aku harus membuat polanya dulu” ujarnya. Out of the box dan kreatif! ;9

Ternyata, menuliskan mimpi tidak begitu mudah untuk beberapa anak. Ketika teman-temannya sudah beranjak ke aktivitas berikutnya, mereka masih belum menuliskan apa-apa. Aku coba menggali apa yang mereka inginkan. Apa yang ingin mereka bisa lakukan atau keinginan mereka untuk kelas ini atau harapan mereka untuk orang tua mereka, guru, atau pun teman-teman mereka. Mereka tetap tak bergeming.

Aku berpikir, kira-kira bagaimana ya agar mereka terinspirasi untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Aku mulai bercerita kepada seluruh kelas.

“Teman-teman, ada yang tahu kalau bayi itu belajar apa saja ya?” aku memulai.

“Belajar ngomong!”

“Belajar berdiri!”

“Belajar jalan!”

“Belajar pegang benda!”

“Iya benar! Kalian dulu juga begitu tidak?”

“Iya Bu! tapi saya nggak ingat!” anak-anak tertawa.

“Hehe, tapi ibu tahu lho ceritanya sewaktu kalian masih bayi. Coba, kalau kalian yang punya adik atau pernah memperhatikan bayi. Bayi kalau belajar berdiri kira-kira sekali langsung bisa berdiri apa jatuh-jatuh dulu?”

“Jatuh dulu!” mereka serempak.

“Kalau jatuh mereka nangis terus nggak mau berdiri lagi apa tetap belajar berdiri lagi ya?”

”Nangis tapi belajar berdiri lagi!”

”Kalau belajar jalan, kira-kira langsung bisa berjalan seperti kalian apa begini dulu ya?” aku memperagakan cara bayi berjalan, anak-anak tertawa.

”Kalau belajar bicara mereka langsung bisa bicara atau ngomong ’ma.. ma..’ dulu ya?” mereka tertawa lagi.

”Aku waktu umur 3 bulan sudah bisa bicara ’Ummi aku mau susu!’” ujar seorang anak.

”Oh ya? Hebat! Subhanallaah… Nah… kalian sewaktu bayi hebat nggak tuh?”

”Hebaaat!” sahut mereka.

”Kira-kira kalian akan bisa berjalan, bicara dan berlari nggak kalau kalian tidak punya keinginan dalam diri kalian ’aku ingin berlari’ begitu di dalam hati kalian?”

”Nggaaak…”

”Kalau mau makan, bisa nggak tiba-tiba makanannya datang sendiri?”

 

“Nggaaak”
“Berarti setiap manusia punya keinginan untuk belajar kan?”
“Punya Bu!”
“Punya mimpi untuk diwujudkan?”
“Punya!”
“Kalau begitu ayo kalian tuliskan pada kertas, mimpi-mimpi kalian itu untuk digantungkan pada Pohon Harapan. Yang sudah menulis dan ingin menambahkan lagi dipersilahkan.”
Alhamdulillah, beberapa anak yang tadi belum menuliskan mimpinya, dengan semangat segera menulis. Tangan-tangan kecil itu menyerahkan kertas-kertas bertuliskan mimpi-mimpi mereka yang siap digantung. Aku tersenyum dan berterima kasih kepada mereka. Anak-anak hebat yang masih diselimuti fitrah.
Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kalian dan menguatkan akar keimanan kalian tuk mewujudkannya anak-anak sungaiku. Sungai yang senantiasa mengalirkan semangat hidup dan memberi manfaat bagi sekitarnya, SD 1 River. (-^___^-)

Cacing

Suatu hari, pada perjalanan kakiku menuju ke sekolah aku melihat seekor cacing tanah di pinggir jalan (sebelah kiri), sedang bergerak ke arah seberang jalan. Aku sempat tertegun memperhatikan dan bertanya-tanya apakah ia dapat menyeberangi jalanan itu (lebarnya sekitar 5 meter) dengan selamat dan apakah aku perlu membantu memindahkannya ke seberang tetapi kemudian aku (berujar dalam hati, ‘ah itu kan urusan dia’) ingat tujuanku ke sekolah dan kembali melangkahkan kakiku.

Pulang sekolah, di jalan yang sama (tapi kini aku berjalan di sisi seberang jalanan tadi pagi) aku melihat cacing itu, sudah sampai seberang! Mati. Mengering. Iya, cacing itu (memang kau pikir berapa cacing yang ingin menyeberang jalan setiap hari?). Aku benar-benar terkesan dengan pemandangan itu dan seketika jiwa ini dibanjiri oleh hikmah. Hikmah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang mau membaca ayat kauniyahNya dan mendayakan mata hatinya. Memang cacing itu tidak berakal (bertulang pun tidak?) tetapi kita sebagai manusia (jika di posisi sang cacing) apakah mampu menantang dunia (dengan segala persoalan yang ditawarkannya) seperti cacing itu? Besar risikonya –mengancam jiwa– ketika seekor makhluk-kecil-lunak-melata menyeberang jalan yang (bukan) hanya 5 meter itu di pagi hari ketika banyak manusia dengan berbagai kendaraannya berlalu lalang, belum lagi ayam tetangga yang kelaparan atau tikus-tikus yang keliaran (tikus makan cacing? #eh) ditambah aspal yang pastinya akan bertambah panas kian siang. Belum ditambah lelahnya otot perut melata sejauh itu. Kenapa ia repot-repot menyusahkan dirinya? Hematku, karena keyakinannya bahwa Sang Pencipta tak kan menyia-nyiakannya hingga ia menundukkan egonya untuk beribadah kepada Sang Rabb (dan dilihat oleh makhluk lain yang ditakdirkan melewati dan memperhatikannya serta mengambil pelajaran darinya. Bentley Blower pun layak kau miliki Cing).

Baginya, pengharapan dan ketakutan karena Yang Tercinta mengalahkan segala kengerian yang bahkan dapat merenggut hidupnya, tetapi sekali lagi ia yakin, bahwa perjuangannya yang tulus akan berbuah kemuliaan abadi. Ia tak kan menyalahkan makhluk lain (aku misalnya, yang hanya menatapnya sekilas dan bukannya membantu menyeberangkannya) atas pengabaian atau malah bisa saja aku tak sengaja menginjaknya, menambah beban hidupnya.

Piciklah, ketika manusia hanya mau menilai sesuatu dari hasilnya semata tanpa menengok pada proses (ingat statusku tentang membersihkan kamar mandi dan sikatnya) dengan segala hikmah yang dapat didulang darinya. Maka, aku mengamini kebijaksanaan “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Makasih ya Cing.

Pemuda Islam? Bergerak!

17 bulan kurang beberapa hari bahtera kami berlayar. Warna-rasa membaur dengan indah menghadir syukur di tiap dayungnya. Segala puji bagi Rabb semesta alam yang telah mengabulkan keinginanku untuk tetap aktif berdakwah selain di keluarga setelah menikah ini dan 1 hal lagi yang kuanggap sebagai kenikmatan barakah bagi pernikahan ini adalah dakwah yang kami semai bersama di lingkungan tempat tinggal kami. Sungguh, “Nikmat Rabb-mu yang manakah yang sanggup engkau dustakan?”.

Sebulan belakangan ini, Kak Huzu (panggilanku akhir-akhir ini terhadap sosok pemimpin dalam keluarga kecil kami ^^) dan aku merevitalisasi kembali Ikatan Remaja Masjid Baitul Ihsan (IRMBI) di komplek PLN P3B ini.

Ini diawali oleh suatu siang di mana kami shalat Dzuhur bersama di masjid. Hari itu – aku lupa tepatnya – adalah hari kerja sehingga kami bertemu dengan teman-teman dari SMP maupun SMK Utama yang dibangun beberapa tahun yang lalu atas kerjasama LAZIS PLN P3B dengan beberapa lembaga keislaman lain bagi anak-anak berprestasi yang membutuhkan dukungan finansial. Memang, peraturan sekolah mengharuskan siswi sekolah ini mengenakan kerudung saat sekolah. Aku senang sekali berada di antara para pemudi yang akan membangun bangsa ke depan ini. Seusai shalat, aku menyapa dan mengajak berkenalan tiga orang di antara mereka yang berseragam SMP dan SMK. Aku bertanya mengenai kegiatan keislaman di sekolah mereka. Subhanallah, ternyata di luar mata pelajaran agama Islam, para remaja ini diberikan waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Hanya saja mereka belum mengenal aktivitas mentoring. Maka dari itu, kami ingin menularkan semangat berislam kepada teman-teman di sana. Caranya? Dengan merevitalisasi kembali remaja masjid supaya mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan keislaman. Subhanallah, kami juga mendapat dukungan dari pasangan ikhwah muda yang adalah pegawai ayahku. Ayah juga suka memberikan advis atas aktivitas keislaman ini. Maka, Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga Allah ridho.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, seruan kami mendapat respon positif dari para remaja berpotensi ini. Memang, di awal butuh pendekatan ekstra dan ini justru dimulai dari generasi pertama komplek ini (kami adalah generasi kedua). Suamiku yang alhamdulillah menjadi anggota tetap shalat berjamaah, sering berdiskusi dengan para bapak tentang berbagai hal termasuk aktivitas remaja komplek ini, apalagi momennya pas untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai awalan diundanglah para remaja putra untuk perkenalan sekaligus mewacanakan revitalisasi ini ba’da Subuh. Beberapa ikhwan sebayaku menyambut usulan itu maka pertemuan dilanjutkan dengan mengundang semua remaja komplek yang mayoritas adalah muslim. Rapat pertama diawali di hari Ahad di mana masjid memang menjadi tempat pilihan kami karena kami ingin menghidupkan masjid sebagaimana di zaman Rasulullah yang merupakan pusat berbagai aktivitas bagi kaum muslim saat itu.

Dus, beberapa remaja putra dan putri hadir dalam rapat awal itu. Kami coba mengungkapkan lagi tujuan dan urgensi merevitalisasi remaja masjid ini di samping memotivasi mereka sebagai generasi pemuda-pemudi Islam yang siap membangun bangsa. Salah kata-kata “sakti” adalah motto dari seorang tokoh muslim nasional yang menginspirasi yakni,

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid. Bergerak atau mati!”

(HOS Tjokroaminoto)

Dalam rapat itu dan rapat-rapat selanjutnya, kami kembali membentuk struktur yang baru dimulai dari pemilihan sang ketua kemudian korput karena ketua yang lama sudah hengkang ke Bandung (kuliah di UNPAD gitu) dan korputnya sudah menikah (uhuk2! ^^). Di sini harus benar-benar ditekankan bahwa ketua itu bukan tumbal yang nantinya ditinggal sendirian mengerjakan semuanya. So, karena musyawarah tidak menghasilkan mufakat (sepertinya peserta rapat memang nggak terbiasa syuro karena bawaannya bercanda melulu ^^), maka diptuskanlah kita memilih dengan voting dan hasilnya kira-kira >90% mengerucut pada satu nama dan apa boleh buat sang terpilih mesem-mesem aja. suamiku juga sampai diwejangi oleh ayah sang ketua terpilih karena sekarang beliau sudah kelas 3 SMA sehingga harus fokus ke akademis. “siap Pak!”. Korput pun terpilih dari hasil voting para peserta putrid dan terpilihlah seorang mahasiswi semester 2 lulusan pesantren yang memang terlihat punya bakat public speaking dan kepemimpinan yang baik. Barakallah…

Selanjutnya, kami ber-20-an, membahas program kerja selama setahun ke depan. Rencananya, divisi yang akan bekerja hanya 2 yakni (Pengembangan Sumber Daya Manusia) PSDM dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas). PSDM bertugas mengembangkan potensi remaja masjid itu sendiri dengan mengadakan pelatihan kepemimpinan, public speaking, motivasi berprestasi, penulisan, hingga memperingati ulang tahun bersama dan yang terpenting adalah Kajian Keislaman (KK) “Kalau remaja masjid nggak mengkaji Islam sama aja boong” pungkas suamiku. Alhamdulillah mereka setuju dan pelaksanaannya akan dilakukan 2x per bulan. Insya Allah aku yang menjadi penanggung jawab akan KK ini sedangkan suamiku menjadi PJ dari Pengembangan Kompetensi dan Tulisan Kita. Divisi Pengmas yang memiliki koordinator sendiri menghadirkan proker seperti baksos, garage sale, kerja bakti, penyuluhan lingkungan, pengumpulan botol bekas dan sebagainya yang insya Allah bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Pemuda = kontributif kan? 😉

Alhamdulillah, sekarang ini sudah masuk pekan ke-4 berdirinya IRMBI kembali dan masing-masing divisi sedang membuat penjabaran atas proker masing-masing. So, doakan agar kami bisa komitmen dan mendapat ridho Allah SWT ya!

SEMANGat Karena Allah selalu!!! q(-^____________^-)p

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Thabrani dan Daruquthni dengan isnad shahih)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).”

(HR. Thabrani dengan isnad hasan)

Sumber hadits: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat.htm

Sungguh, Kau Tak Jatuh Sendirian Wahai Saudaraku

Pagi hari membuka surat elektroik dan mendapati sebuah mutiara hikmah yang indah, ditulis oleh seorang ukh dan diposting oleh beberapa kawan di situs jejaring sosial. Tulisan itu sendiri diambil dari sebuah situs media Islam ternama.

Yang membuatku tertarik dengan tulisan tersebut ialah penulis yang begitu empati dan tulus terhadap saudara yang mengalami kondisi degradasi keimanan atau futuur, istilah yang familiar di telinga para aktivis dakwah. Lantas pertanyaannya, bagaimana kita memosisikan diri setelah membaca tulisan ini? Apakah kita berpikir “take” atau “give”? take dalam arti berpikir bahwa ‘Jika saya futuur semestinya saudara-saudara saya dapat mengingatkan dan menuntun saya’ atau give dengan berpikir bahwa ‘Saya hendaknya menyelamatkan saudara saya yang sedang futuur’.

Sebenarnya hikmah yang pertama maupun kedua sama-sama baik dan alangkah lebih baik jika kita lebih suka menggunakan sudut pandang give karena seorang dai sejatinya selalu ingin memberi, membagi keindahan Islam dengan saudara-saudarinya, bukan senantiasa berfokus terhadap dirinya sendiri seolah dirinya yang paling berat menahan beban perjuangan atau “terjatuh” sendirian dan merasa bahwa setiap mata memicing kepadanya, padahal mungkin di sekitarnya terdapat saudara-saudarinya yang juga berada dalam kondisi yang sama atau bahkan jauh lebih membutuhkan perhatian. Hanya saja, ia tetap bertahan dalam senyumnya karena ia yakin bahwa senyum itu lebih baik. Ia yakin bahwa Yang Rahiim akan memberikan ganjaran yang besar manakala ia sabar dalam ujian dan ketaatan kepadaNya. Ia ingin menuntaskan urusannya sendiri dengan hanya bergantung kepada Yang Maha Kuasa, lantas ia tegak berdiri dan berkata ‘Siapa lagi saudara-saudariku yang membutuhkan bantuan?’ ‘Dengan siapa lagi aku dapat berbagi keindahan Islam hari ini?’

Di sisi lain, saat kita berharap ada saudara kita yang sudi menoleh pada kondisi kita, hendaklah permudah diri kita untuk dipahami olehnya. Ingat, saudara kita bukan cenayang yang dapat membaca hati. Ia yang ingin menolong pun mungkin sungkan mendekat ketika ada dinding tak terlihat yang sudah lebih dulu kita pasang di sekeliling diri atau sikap angkuh seolah tidak membutuhkan bantuan. Pun sebaliknya, tidaklah bersikap manja seolah yang paling menderita di muka dunia. Tidak mudah ya? Sekali lagi itu tak mudah bagi kita, tapi ingat saudaraku, ada Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati. Ia pasti dapat menyanggupkan kita untuk berdiri, baik itu melalui saudara-saudari kita maupun di atas kaki kita sendiri karena Allah begitu dekat, lebih dari urat leher kita sendiri (QS Qaaf: 16).

Aku pun senantiasa camkan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl: 125 tentang cara dalam menyampaikan kebenaran,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 (QS An-Nahl: 125)

Serulah dengan hikmah. Hikmah yang berarti perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Terkadang ketika kita mendapati saudara kita sedang futuur, muncul rasa tidak enak kita untuk menasihatinya padahal dalam firmanNya, Allah jelas mengatakan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ini bukan berarti kita lantas menghakimi saudara kita, menyindirnya dengan sinis, apalagi membuka aibnya di depan orang lain dengan maksud merendahkannya, na’udzubillah… Pun, tidak berarti kita memberikan pembenaran atas kekeliruannya. Bersikaplah tegas dan bijak dengan menegakkan bahwa hak adalah hak dan bathil adalah bathil.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS Al-Ahzab: 70-71)

Ada pun aku menuliskan ini karena kepedulianku pada kalian saudara-saudariku, juga pengingatan bagi diriku sendiri.

Semoga kita dikaruniai seni berbicara terbaik dalam Islam.

Semoga Allah menjaga keimanan dalam hati agar senantiasa istiqamah dalam Islam, iman, ukhuwah serta jamaah yang menegakkan keagungan dinul Islam.

Sekelumit Kisah, Seluas Hikmah

Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu dan kuharap dapat menjadi hikmah bagi pembacanya. Untuk menjaga nama para tokoh, saya akan menyamarkan nama mereka.

Ini tentang perempuan, ini tentang kemanusiaan, ini tentang keyakinan    kepadaNya…

Pekan yang penuh dengan ujian. Namun, aku yakin bahwa Allah takkan menyia-nyiakan para peyakin sejati…

fa inna ma’al usri yusraa inna ma’al usri yusraa fa idzaa faraghta fanshab wa ilaa rabbika farghab

“ini kereta ekonomi biasa kan ya bu?” tanyaku pada seorang ibu beserta seorang putrinya yang berdiri di sampingku saat menunggu KRL ekonomi di peron stasiun Citayam siang itu, sembari berharap bahwa kereta ini tidak penuh sesak karena bawaanku hari itu cukup berat. “iya mbak, mau kemana?” “”ke UI bu, kalau ibu?” “ke Lenteng Agung” Kereta pun tiba, alhamduliLlah tidak begitu penuh… Aku pun mencari posisi berdiri yang nyaman. ibu yang berpapasan di peron tadi berdiri di samping putrinya yang mendapat tempat duduk. kereta melaju kembali ke stasiun berikutnya. alhamduliLlah ada bangku yang kosong sehingga aku bisa duduk. setibanya di stasiun Depok Baru, ada seorang ibu yang tengah hamil besar membawa plastik kresek cukup besar naik dari pintu yang berlawanan dengan arahku. seorang ibu yang menggendong anaknya berdiri dan mempersilahkan ibu ini duduk. kesal aku, kenapa banyak laki-laki di sana yang tidak tanggap. aku memperhatikan ibu ini nampak lelah dan meringis kesakitan. ibu yang tadi berpapasan denganku di peron Citayam (selanjutnya dipanggil Bu Yana*) mengajaknya ngobrol. orang-orang di sekitarnya pun memperhatikan. dari gerakan mulut yang terbaca, sepertinya ibu ini mengalami masalah. aku pun kontan menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi. ternyata ibu hamil ini baru saja diusir dari rumah mertuanya dan hendak mencari suaminya yang bekerja di Bekasi sebagai tukang ojek. beliau pun berpindah-pindah tempat meneduh dari mushola ke mushola dan yang paling mengejutkan ternyata air ketubannya sudah pecah selama 3 hari. aku berpikir bagaimana cara menolong ibu ini sementara orang-orang yang berada di sana hanya menunjukkan simpati sekadarnya. kereta sudah berangkat dari stasiun Pondok Cina maka, BismiLlahirrahmaanirrahiim, “Bu, nanti kita turun di Stasiun UI saja ya, nanti saya coba minta bantuan Pusat Kesehatan Mahasiswa UI.” awalnya ibu hamil ini (selanjutnya dipanggil Bu Hesti* ) menolak karena hendak mencari suaminya saja tetapi aku dan Bu Yana setengah memaksanya untuk turun karena khawatir dengan kondisinya yang hampir melahirkan itu. Bu Yana meminta seorang bapak yang sejak tad juga terlibat pembicaraan untuk turut membantu tetapi beliau tidak bisa karena hendak rapat. alhamduliLlah Bu Yana bisa turun juga untuk membantu. kami pun memapah Bu Hesti turun dari kereta di Stasiun UI.

Setibanya di sana, aku berusaha menghubungi (di saat seperti itu ternyata pulsaku habis dan aku harus mengisinya dulu sementara Bu Hesti terlihat semakin lemas) PKM UI dan  beberapa teman dari FSI FISIP untuk meminjam kendaraan yang dapat membawa ibu Hesti. pas sekali Allah mempertemukanku dengan 2 orang teman dari Kessos. mereka membantu menghubungi teman yang memiliki kendaraan dan meminta bantuan petugas stasiun. PKM sulit sekali dihubungi, aku minta tolong temanku di FSI untuk mencarikan taksi dan ternyata juga tidak dapat. di samping itu, ada beberapa orang yang datang “menonton” dan menunjukkan simpati (kenapa sih orang Indonesia hobinya nonton orang yang kesulitan, bukannya bantuin? tapi oke lah, kita memang tengah hidup di belantara sosial yang tidak ramah produk penjajahan adab). aku bertanya kepada seorang ibu penjaga toko soal bidan terdekat. “ada tapi nyebrang dulu di dekat kober”, sayangnya ibu itu juga menambahkan nasihat yang menurutku kurang tepat di saat seperti itu “masalahnya siapa yang mau tanggung jawab nantinya kalo ada apa-apa?”, dengan nada agak kesal kujawab “ya, tapi ini kan orang butuh bantuan bu”. kemudian, seorang petugas stasiun dan satpam UI menghampiri, aku menjelaskan bahwa ada seorang ibu yang hendak melahirkan dan butuh kendaraan segera. kedua orang ini pun nampak tidak mengerti akan apa yang harus diperbuat, beberapa orang mengatakan “antar saja ke bidan”, “tapi kita butuh tandu” dsb… akhirnya ibu Helmia dipapah oleh pejaga stasiun dan satpam, akan tetapi baru beberapa langkah, ia terlihat semakin lemas dan hendak pingsan. akhirnya beliau dibaringkan di sebuah toko DVD yang mempunyai sebuah dipan bambu. aku pun kembali menghubungi siapa pun yang dapat membawakan kendaraan dan hampir melupakan kalau siang itu ada bimbingan skripsi. Ya Rabb, ridhoilah hamba.

Sejurus kemudian, ada seorang pemuda yang menanyakan apakah aku memiliki rekening BCA, aku jawab tidak ada, maka ia meminta nomor HPku dan berkata hendak mengabari lagi nanti karena sekarang beliau ada urusan, beliau pun langsung naik kereta menuju Jakarta. AlhamduliLlah tidak berapa lama sms masuk dari pemuda -yang bernama Indra*- tadi yang meminta rekening dan hendak memberikan donasi. SubhanaLlah… sungguh pertolonganMu begitu dekat ya Rabb.. Akhirnya tak berapa lama, ambulans dari PKM tiba dengan personel yang siap membawa tandu. Aku melihat dua orang muslimah turut berlari bersama pembawa tandu tersebut. aku bertanya kepada salah satunya apakah beliau dokter dan ternyata bukan. Bu Hesti langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat yakni Bunda Margonda. Aku bersama seorang kawan dari FSI FISIP -sebut saja Meyti*- menyusul dengan angkot karena ambulans sudah penuh. Setibanya di RS Bunda, kami membicarakan tentang pendanaan. Aku memberi tahu perihal Indra yang hendak memberikan donasi. oh ya sebelumnya, ada tambahan dari personel penyelamat yang entah dari mana nantinya menamai diri “Tim Sukses Melahirkan” ^_^ ialah Mba Anindya* dan Tiara* kembar bersaudara yang cerdas dan semangat. Mereka yang kupikir datang dari PKM tadi, ternyata apoteker UI dan orang kesehatan (almuni PKM) UI. Setelah ditangani oleh bidan yang berjaga, diketahui bahwa proses lahiran Bu Hesti baru tahap pembukaan dua dan bisa dibilang memang masih cukup lama. Lantas kami berpikir bagaimana merujuk beliau ke tempat lain yang lebih memungkinkan. Setelah melalui diskusi panjang, kami memutuskan untuk membawa beliau ke RSUD Depok di samping pilihan lainnya yakni RS Pasar Rebo.

Satu soal selesai, bersambung ke soal berikutnya. Dengan apakah nanti kami membawa Bu Hesti ke RSUD Depok? lantas kami langsung sibuk menghubungi pihak-pihak yang sekiranya bisa meminjamkan mobil. mulai dari PKM UI yang ternyata tidak bisa meminjamkan ambulansnya jika sudah di wilayah UI, anak-anak FSI yang biasanya bawa mobil ternyata lagi nggak bawa mobilnya, and the last hope adalah…

bersambung…

*bukan nama sebenarnya

Janganlah Hatimu Menciptakan Jarak

Seorang murid bertanya pada Ustadz yang bijak “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, biasanya berbicara dengan suara keras bahkan berteriak? “

Ustadz itu tersenyum ” Adakah yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian ini ” Sang Guru menguji kebijakan murid-muridnya.

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;”Karena ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia berteriak.”

” Hmm, Padahal lawan bicaranya justru berada dekat disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?” Pancing Sang Ustadz

Semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang Ustadz lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas.”

“Mengapa demikian?” Sang Ustadz bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka terdiam, tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang Ustadz menutup dengan sebuah nasehat :
“Ketika kalian sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Apalagi mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Kalian.”

oOo

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

[Ali ‘Imran:159]

 

Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”

( HR Buhkori )

 

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.

(HR. Ahmad)

 

Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu balas mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui tentang dirinya.Karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia.

(HR. Ad-Dailami)

 

“Rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan”.

( Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin )

Cinta Bersujud Di Mihrab Taat

“SUATU KETIKA”, demikian ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkisah, “Seorang wanita shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dia seorang wanita yang sangat cantik, secantik-cantik wanita. “Demi Allah”, kata Ibnu ‘Abbas bersaksi, “Aku belum pernah melihat wanita secantik dia.” Wanita itu langganan menempati shaff terdepan di barisan para wanita.

Keberadaan sang wanita membelah sikap para shahabat dalam berjama’ah. Sebagian berupaya keras datang lebih awal dan mengambil tempat di shaff terdepan agar jangan sampai melihatnya. Agar tak sempat tergoda. Tetapi ada juga sebagian lainnya yang melambatkan kehadirannya. Mengakhirkan diri agar mendapatkan shaff terbelakang di barisan lelaki, agar curi-curi pandang bisa leluasa dilakukan. Ketika ruku’ mereka merenggangkan kedua tangan, menyeksamai kecantikannya melalui celah ketiak mereka.

Baca lebih lanjut