Menepi

Semakin ke sini, kian kusadari ketakberdayaan diri. Segala daya hanya titipan. Bahkan, tentang kesadaranmu saat menggendong sang buah hati. Siapa sangka ia yang begitu kau cinta, lepas dari gendonganmu saat kau sedang bermain dengannya, menggendongnya. Ia begitu saja meluncur jatuh membentur lantai yang dingin. 

Esok, bisa jadi nyawa yang tercerabut kala diri belum sempat mengenalkan tuhannya.

Ya Rabb lemahnya hamba. Tiada daya melainkan padaMu…
Semakin ke sini, kian kusadari segala sesuatu begitu semu. Tak ada yang benar-benar kudamba di dunia. Semakin memenjara. Asing. Namun, tak kurasa layak meminta surga. Begitu besar dosa. Waktu yang dilalaikan. Pun, masih saja kulakukan saat ku t’lah menyadarinya. 

Padahal makin jelas tanda masa mendekati akhirnya. Padahal bisa jadi esok maut “membangunkan”. Padahal tak ada jaminan ke mana nanti ku kan “pulang kampung”.
Orangtua kian renta bahkan tiada.

Anak beranjak lepas dari pangkuan.

Sahabat kian jauh. Saudara kian tak saling mengenal. Tak saling melihat ke dalam sepatu orang lain. Semua ditafsirkan seselera ego. Nasihat dianggap racun. Semua berlantang, “ini aku” di panggungnya masing-masing. Entah masihkah doa saling terlantun dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang. Atau semua benar-benar sudah tergantikan dengan belantara dalam kotak kecil yang menyedot semua perhatian. Aku merinding. Sungguh.
Aku berusaha mengingatkan tapi apalah daya. Aku hanyalah si lemah yang masih juga melakukan kesalahan yang sama berulang. Aku pun memakai topeng agar dapat diterima. Tapi kini aku sadar. Tak merasa perlu lagi berpura. Inilah aku. Jika hati dapat bertaut, segala puji bagiNya. Jika tidak, perkara hati adalah kuasaNya. 
Aku tak hendak lagi memaksa diri bersolek sesuai kacamata mereka. Aku hanya ingin mencuri pandangNya. Mohon ampunNya. Mengharap petunjuk dan ridhoNya. Bersama tunas yang baru saja tumbuh. Semoga dapat kujaga fitrahnya.
Aku merindu. Amat merindu. Manisnya tawa kebersamaan. Pelukan hangat menenangkan. Keceriaan sapa dan salam. Seruan penyemangat. Air mata seorang saudara yang meletakkan rasanya karena percaya. Atau nasihat, perhatian yang tulus meski pahit. Saat sesuatu ditangkap sebagaimana adanya. Sentuhan kemanusiaan. Yang kini semakin pudar hadir dan maknanya.
Hingga, suatu saat terlintas, “siapa yang nanti akan tetap mendoakan saat dunia t’lah kutinggalkan?” Dan aku tak sanggup melanjutkan tanya, “apakah saat ini ada yang mendoakanku?”. Di saat keedanan zaman semakin menghimpit. Manusia semakin berpikir tentang diri dan keluarga. Apakah di antara ribuan lebih pengikut di jagat maya ada yang benar-benar mendoakan dengan khusyuk demi kebaikan?
Kuputuskan menepi. Menata hati. Menata diri. Mengikis segala kesombongan, bangga diri. Menyambung persaudaraan yang hakiki.

Aku hanyalah insan yang aibnya sedang ditutupi. Aku hanyalah insan yang sedang dicicipi secuil kemuliaan di mata manusia. Yang amat sangat mudah Ia cabut dalam sekejap hingga ke luar rumah pun tak kan ada nyali. Lantas dengan dasar apa berani melantangkan diri?
Saudaraku, mohon keikhlasannya memaafkan. Jika ada hal yang belum tertunaikan, mohon sekali diingatkan.

Aku hanya ingin saat waktuku habis, tuntas semua soalan. Tak ada yang kan menuntut kelak di “pengadilan”.

Jika di surga nanti kita tak bersua. Sudikah diri ini kau cari?
Atas peraduan,

21 & 25 September 2017

Iklan

​Setulus Cinta

Andai aku t’lah dewasa

Ingin aku persembahkan

Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu

Kau s’lalu kucinta

Sebait lagu dari seorang penyanyi cilik tempo dulu yang umumnya kan membuat hati berderai, melayangkan kenangan ke masa terindah bersama mereka yang tercinta, orangtua. Namun, ada sebagian kita yang justru bagai membuka kotak pandora saat mengeja kata itu. Yang lain bisa jadi hanya menemukan ruangan kosong di hatinya. Datar, hampa.

Bagi saya sendiri, relasi antara orangtua dan anak bukanlah perkara yang sederhana. Ada kasih dan sedih. Ada harap dan tanggung jawab. Ada rindu dan takut. Ada hormat dan iba. Ada marah, kecewa, sesal, cinta. Berbaur saling tindih, berkontradiksi dalam waktu yang bersamaan.

Di samping, ada juga keberanian. Ada keikhlasan. Ada kewarasan. Keyakinan.

Keberanian tuk mengingatkan alfanya.

Keikhlasan tuk memaafkan dan menerima segala keterbatasannya sebagai manusia.

Kewarasan tuk memutus rantai pengasuhan yang salah.

Keyakinan bahwa takdirNya tak pernah menzalimi kita.

Semakin ke sini kian kusyukuri ke-islama-anku yang t’lah menanamkan akhlak kepada orangtua. Bagaimana pun pedihnya rasa yang dihadirkan mereka kepada kita. Betapa pun abainya tanggung jawab mereka atas kita. Wajib kita berbuat baik kepada mereka. Bahkan, ketika keyakinan kita dan mereka berlainan tentang Tuhan. Beda dengan humanisme yang melandaskannya pada timbal balik kebaikan semata. Jika pada orangtua tak ada kasih dan tanggung jawab, lantas bagaimana laku kita kepada mereka?

Amat menyentuh doa yang Allah sendiri ajarkan kepada hambaNya dalam Al Qur’an surat Al israa’: 24 yang artinya, 

“Ya Rabb, ampuni aku dan kedua orangtuaku. Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, mendidikku di waktu aku masih kecil.” 

Kita dituntun memohon ampun bagi diri sendiri yang begitu lemah dan lalai menjalani berbagai peran dalam hidup. Kita pun diajarkan tuk memohonkan maaf bagi orangtua kita yang ada kalanya alfa, seraya memohon kasih sayangNya kepada mereka. Saat kecil adalah di mana kasih sayang orangtua paling membuncah pada sang buah hati. Saat di mana segalanya demi sang buah hati. Maka sungguh-sungguh indah Allah mengajarkan kita tuk meminta cinta yang paling, bagi mereka yang menjadi sebab adanya kita di dunia.

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan: 74.

Sebagai orangtua, tidakkah wajah ananda yang tengah terlelap membuat kita bercermin dan bertanya, bagaimanakah kita mengisi kantung cinta ananda semasa kanak mereka? Apakah dengan ketulusan perhatian dan penerimaan ataukah dengan duka dan luka? Apakah kita t’lah lebih dulu “mencontohkan” durhaka, yang menjadi cetak biru bagi mereka tuk memperlakukan kita kelak? Hingga menjadi pinta mereka kepadaNya agar kita mendapatkan balasan yang sama sebagaimana adab kita kepada mereka di waktu kecil. Pinta yang lahir dari relung terdalam, jauh di bawah lapis kesadaran. Ingat, bahwa ananda tak pernah minta dilahirkan. Tak bisa memilih siapa yang kan menjadi orangtuanya. Lantas, sudahkah kita pantas mengharap mereka menjadi pemimpin peradaban kelak?

Pun sebagai anak, bagaimana selama ini kita mewarnai kehidupan sosok manusia yang kian dimakan usia ini? Apakah dengan tawa bahagia, haru, atau dengan tangis sesal, takut, dan murka mereka? Atau bahkan kesepian yang tak terperi.

Apa yang telah dengan segenap daya kita berikan? Apakah waktu dan perhatian kita yang paling berharga ataukah materi semata (sekali pun jika hanya itu yang mereka berikan kepada kita di waktu kecil) atau jangan-jangan hanya sisa dari itu semua. Yang sudah kita habiskan dengan keluarga kita sendiri, di tempat kerja, lingkungan sekitar, tempat nongkrong, atau bahkan dibandingkan gawai yang selalu menyertai di mana kita. Hingga kita tak pernah tahu apa yang menjadi sebab tangis dalam doa mereka.

Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu

Kutahu kau berjaga dalam langkahku

Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu

Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Ah, ya Rabb, mampukanlah hamba sebagai anak dan orangtua, berbakti kepada yang hamba kasihi semasa hidup mereka dan setelah tiadanya.

Manusia

human life

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Warna nada wangi rasa teksturnya

Hiasan penuntun akal dan hati temu iman

Sabar

syukur

Reda segala keangkuhan

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Berjalan berlari melompat tersungkur merangkak

Memilih

Bangkit?

Tenggelam?

Benar?

Salah?

Jika tak

Hilang segala cerita, lagu, drama

Lenyap asa

Bukan pula manusia

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Kan temui apa yang kau cari

Lihat-dengar apa yang kau ingin

Tuhan bersama sangkanya

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Karna ada aku, kamu, dia, kita, mereka

Belajar bersama

Yang Hilang…

Wahai jiwa..

betapa mudahnya engkau terbolak balik

hanya karena beberapa kata atau tindak yang mungkin

tak disengaja

——————————————————————————————————

M. Lili Nur Aulia

(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)

“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh

“Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis

dengan lirik yang indah atau semangat.

Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul

dari hati orang yang kuat meyakini apa yang

dikatakannya.

Dan seseorang mustahil memiliki

keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya

kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan

dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi

nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam

karya monumental Fii Zilaalil Qur’an

Saudaraku,

menjadi penerjemah apa yang dikatakan,

menjadi bukti nyata apa yang diucapkan.

Betapa sulitnya.

Tapi ini bukan sekadar anjuran.

Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot

pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata

menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti

yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi.

Lebih dari itu semua, merupakan perintah Alla SWT.

Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada

pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,

“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan

kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian

sendiri dan kalian membaca Al Kitab.

Apakah kalian tidak berakal?”

Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu,

akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri

kita.

Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan

pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan

mempraktikkan ilmu yang sedikit itu.

Kita dahulu, yang barangkali belum banyak membaca dan

mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW,

tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak

amal shalih yang dikerjakan.

Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat,

diskusi, arahan para guru dalam menjalankan agama,

tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan

apa yang kita ketahui itu.

Meskipun sedikit.

Saudaraku,

banyak yang hilang dari diri kita..

Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan

bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah.

Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang

mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah

ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman.

Sahabat lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini

dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila

kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah

ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang

tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini

lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…

Saudaraku,

Berhentilah sejenak disini

Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita

bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih

lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang

benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat

bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang

bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif.

akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak

hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar,

teterjemah dalam gerak di alam realitas.

Saudaraku,

Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri

kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat

apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita

selama ini.

Imam Ghazali mengatakn, “Jalan untuk membersihkan jiwa

adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari

jiwa yang bersih dan sempurna.”

Saudaraku,

Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..

—————————————————————————————————————————————-

awal sedikit sedikit

lama lama mengapa jadi menipis

akhirnya malah habis

Dahulu tiga juz

tereduksi menjadi

dua juz, satu juz, setengah juz

akhirnya hanya ingat jus..

jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..

Dahulu shaum Daud..

mengendur menjadi shaum senin kamis..

lalu mulai lupa ayyamul bidh..

tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..

Dahulu tahajud full version..

lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..

tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga

lalu kuliah

lalu praktikum

lalu capek

lalu

lalu

akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”

Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh

perlahan naik hingga ke siku..

lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata

pamungkas “yang penting masih syar’i”

perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?

Dahulu rok menjadi pakaian wajib

singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh

perlahan berubah model agar lebih gaya

kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas

kemana-mana??

Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjagahafalan

ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki

lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu

akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu

Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia

lalu mulai tergoda untuk cinta bola

buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama

dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa

Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender

lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi

bergulir menjadi hubungan antara dua hati

pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji

keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,

dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya

mendapatkan informasi ini itu

berita disana sini

membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar

“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”

Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas

pada diri sendiri

tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..

Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’

di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah

karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu

tingkat di bawahnya.

Sumber

http://evans86.abatasa.com/post/detail/13265/yang-hilang%E2%80%A6

Kematian Hati…

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

oleh KH. Rahmat Abdullah


sumber:

http://afzoks.wordpress.com/2009/02/03/karena-kita-bergerak-dengan-nurani/#more-102

Janganlah Hatimu Menciptakan Jarak

Seorang murid bertanya pada Ustadz yang bijak “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, biasanya berbicara dengan suara keras bahkan berteriak? “

Ustadz itu tersenyum ” Adakah yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian ini ” Sang Guru menguji kebijakan murid-muridnya.

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;”Karena ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia berteriak.”

” Hmm, Padahal lawan bicaranya justru berada dekat disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?” Pancing Sang Ustadz

Semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang Ustadz lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas.”

“Mengapa demikian?” Sang Ustadz bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka terdiam, tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang Ustadz menutup dengan sebuah nasehat :
“Ketika kalian sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Apalagi mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Kalian.”

oOo

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

[Ali ‘Imran:159]

 

Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”

( HR Buhkori )

 

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.

(HR. Ahmad)

 

Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu balas mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui tentang dirinya.Karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia.

(HR. Ad-Dailami)

 

“Rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan”.

( Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin )

Memang Seperti Itulah Dakwah…

oleh : Ustadz Rahmat Abdullah

 

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.. 

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.

Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.

Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.

Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar.

Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan.

Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.

Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. 

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.

Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.

Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “ 

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”