Manusia

human life

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Warna nada wangi rasa teksturnya

Hiasan penuntun akal dan hati temu iman

Sabar

syukur

Reda segala keangkuhan

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Berjalan berlari melompat tersungkur merangkak

Memilih

Bangkit?

Tenggelam?

Benar?

Salah?

Jika tak

Hilang segala cerita, lagu, drama

Lenyap asa

Bukan pula manusia

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Kan temui apa yang kau cari

Lihat-dengar apa yang kau ingin

Tuhan bersama sangkanya

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Karna ada aku, kamu, dia, kita, mereka

Belajar bersama

Yang Hilang…

Wahai jiwa..

betapa mudahnya engkau terbolak balik

hanya karena beberapa kata atau tindak yang mungkin

tak disengaja

——————————————————————————————————

M. Lili Nur Aulia

(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)

“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh

“Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis

dengan lirik yang indah atau semangat.

Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul

dari hati orang yang kuat meyakini apa yang

dikatakannya.

Dan seseorang mustahil memiliki

keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya

kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan

dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi

nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam

karya monumental Fii Zilaalil Qur’an

Saudaraku,

menjadi penerjemah apa yang dikatakan,

menjadi bukti nyata apa yang diucapkan.

Betapa sulitnya.

Tapi ini bukan sekadar anjuran.

Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot

pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata

menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti

yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi.

Lebih dari itu semua, merupakan perintah Alla SWT.

Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada

pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,

“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan

kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian

sendiri dan kalian membaca Al Kitab.

Apakah kalian tidak berakal?”

Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu,

akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri

kita.

Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan

pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan

mempraktikkan ilmu yang sedikit itu.

Kita dahulu, yang barangkali belum banyak membaca dan

mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW,

tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak

amal shalih yang dikerjakan.

Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat,

diskusi, arahan para guru dalam menjalankan agama,

tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan

apa yang kita ketahui itu.

Meskipun sedikit.

Saudaraku,

banyak yang hilang dari diri kita..

Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan

bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah.

Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang

mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah

ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman.

Sahabat lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini

dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila

kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah

ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang

tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini

lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…

Saudaraku,

Berhentilah sejenak disini

Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita

bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih

lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang

benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat

bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang

bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif.

akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak

hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar,

teterjemah dalam gerak di alam realitas.

Saudaraku,

Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri

kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat

apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita

selama ini.

Imam Ghazali mengatakn, “Jalan untuk membersihkan jiwa

adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari

jiwa yang bersih dan sempurna.”

Saudaraku,

Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..

—————————————————————————————————————————————-

awal sedikit sedikit

lama lama mengapa jadi menipis

akhirnya malah habis

Dahulu tiga juz

tereduksi menjadi

dua juz, satu juz, setengah juz

akhirnya hanya ingat jus..

jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..

Dahulu shaum Daud..

mengendur menjadi shaum senin kamis..

lalu mulai lupa ayyamul bidh..

tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..

Dahulu tahajud full version..

lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..

tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga

lalu kuliah

lalu praktikum

lalu capek

lalu

lalu

akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”

Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh

perlahan naik hingga ke siku..

lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata

pamungkas “yang penting masih syar’i”

perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?

Dahulu rok menjadi pakaian wajib

singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh

perlahan berubah model agar lebih gaya

kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas

kemana-mana??

Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjagahafalan

ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki

lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu

akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu

Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia

lalu mulai tergoda untuk cinta bola

buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama

dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa

Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender

lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi

bergulir menjadi hubungan antara dua hati

pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji

keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,

dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya

mendapatkan informasi ini itu

berita disana sini

membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar

“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”

Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas

pada diri sendiri

tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..

Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’

di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah

karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu

tingkat di bawahnya.

Sumber

http://evans86.abatasa.com/post/detail/13265/yang-hilang%E2%80%A6

Kematian Hati…

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

oleh KH. Rahmat Abdullah


sumber:

http://afzoks.wordpress.com/2009/02/03/karena-kita-bergerak-dengan-nurani/#more-102

Janganlah Hatimu Menciptakan Jarak

Seorang murid bertanya pada Ustadz yang bijak “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, biasanya berbicara dengan suara keras bahkan berteriak? “

Ustadz itu tersenyum ” Adakah yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian ini ” Sang Guru menguji kebijakan murid-muridnya.

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;”Karena ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia berteriak.”

” Hmm, Padahal lawan bicaranya justru berada dekat disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?” Pancing Sang Ustadz

Semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang Ustadz lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas.”

“Mengapa demikian?” Sang Ustadz bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka terdiam, tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang Ustadz menutup dengan sebuah nasehat :
“Ketika kalian sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Apalagi mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Kalian.”

oOo

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

[Ali ‘Imran:159]

 

Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”

( HR Buhkori )

 

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.

(HR. Ahmad)

 

Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu balas mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui tentang dirinya.Karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia.

(HR. Ad-Dailami)

 

“Rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan”.

( Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin )

Memang Seperti Itulah Dakwah…

oleh : Ustadz Rahmat Abdullah

 

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.. 

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.

Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.

Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.

Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar.

Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan.

Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.

Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. 

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.

Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.

Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “ 

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Hari-hari Mendatang Anak Kita..

  

Kalau hari ini kita masih ingat agama, dan merelakan keringat kita di jalan-Nya, maka itu boleh jadi bukan keberhasilan kita. Kalau hari ini kita ingat tentang tanggung jawab sesudah mati, sangat mungkin bukan karena kebaikan yang sepenuhnya lahir dari kesadaran kita. Boleh jadi itu semua bukan merupakan prestasi kita sendiri, melainkan justru terutama orangtua kita. Mereka menanam benih-benihnya, lalu tumbuh mengakar di dada kita. Atau para guru kita yang tulus menyemainya, lalu Allah kokohkan dalam hati kita.

Historia vitae magistra , begitu kata pepatah.

Sejarah atau pengalaman adalah guru terbaik kehidupan.

Orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka yang telah mendahului kita, Insya Allah akan tahu bagaimana memaknai tugas hidup sebagai orangtua. Dari perjalanan saya ke timur dan ke barat, saya melihat betapa tak bergunanya kebanggaan terhadap kreativitas dan kecerdasan anak, ketika mereka tidak tahu jalan hidup yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama yang tinggi pun akan sia-sia kalau mereka tidak mempunyai harga diri yang bersih serta tujuan hidup yang pasti. Betapa banyak anak-anak yang memiliki keluasan ilmu agama, tetapi karena kita salah menanamkan tujuan, mereka justru menjadi pembawa kesesatan dengan ilmu yang ada pada dirinya.

Baca lebih lanjut

Sebuah Perjalanan

 

 

Saat engkau tertidur,
Kupandangi wajahmu…
Masih ingin ku mendekapmu,
Masih ingin ku menciummu…

Tak pernah kusadari,
Waktu cepat berlari…
Kini engkau menjadi besar…
Kini engkaulah harapanku…

Tumbuh..
Tumbuhlah anakku…
Raihlah cita-citamu…

Jangan pernah engkau ragu, sayang..
Doaku selalu bersamamu
Membuat aman di hidupmu..
Selamanya….

 

Anakku By Vina Panduwinata

http://www.youtube.com/watch?v=wFZLA4-N6_s

 

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

(QS al-Mu’minuun: 12-14)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

(QS al-Ahqaf: 15)