Konseling Islami

Sudah lamaaaaaaaa banget ingin memposting tulisan ini sejak menyelesaikan praktikum 2 di PPSDMS NF Regional 1 berhubung keyword yang sering merujuk ke blog saya adalah “psikologi islam”. Tanpa berpanjang kata, silahkan nikmati sajian intelektual ini… semoga bermanfaat… 🙂

—Problem Masyarakat Modern (Sulthon, 2009)
1.Berkembangnya budaya massa karena pengaruh kemajuan media massa yang tidak lagi bersifat lokal tetapi nasional bahkan global.
2.Tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak manusia menuju perubahan masa depan.
3.Sebagian besar kehidupan manusia semakin diatur oleh aturan-aturan rasional.
4.Tumbuhnya sikap hidup yang materialistik.
5.Meningkatnya laju urbanisasi.
Perbedaan Konseling Islam dengan Konseling Barat
1.Makna konseling
2.Beberapa pendekatan dan teknik konseling
3.Proses konseling, tujuan, dan peran konselor
4.Hasil konseling yang diharapkan.
Makna Konseling
Konseling Barat Konseling Islam
Definisi Aktivitas dalam mengubah sikap dan perilaku individu (klien) oleh seseorang yang profesional (konselor). Amanah dari Allah untuk membina dan membentuk manusia ideal yang menuju jalan terbaik (Islam).
Urgensi
Tujuan Mengatasi masalah yang dihadapi. Ketenangan, kebahagiaan, keridhaan.
Pendekatan/ Model Konseling Barat menurut Gerald Corey (Erhamwilda, 2009)

1. Pendekatan Psikodinamika berlandaskan pada pemahaman, motivasi tak sadar, rekonstruki kepribadian. Kategori terapi psikoanalitik.

2. Pendekatan Humanistik berorientasi pengalaman dan relasi, meliputi terapi eksistensial, client centered, gestalt.

3. Pendekatan Rasional-Kognitif dan Tindakan berorientasi pada perilaku, meliputi analisis transaksional, terapi tingkah laku, rasional emotif, dan realitas.

Masing-masing pendekatan berangkat berdasarkan temuan tentang:

1.Struktur kepribadian
2.Sifat manusia
3.Perkembangan kepribadian
4.Tujuan terapi
5.Peran konselor dan perubahan yang diharapkan terjadi pada klien
6.Teknik-teknik teraputik / terapi

Sedangkan pendekatan Konseling Islami yakni konsep pendekatan dan teknik konseling yang utamanya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, serta pemikiran para tokoh Islam yang berkaitan dengan :

1.Hakikat manusia
2.Individu bermasalah dan masalah-masalah individu
3.Perkembangan kepribadian individu.
4.Membantu individu bermasalah.
Konseling dalam kehidupan muslim sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan nabi-nabi setelahnya, mereka mendapat amanah dari Allah sebagai salah satu dari berbagai tugas manusia adalah membina dan membentuk manusia yang ideal sesuai dengan fitrahnya, mengarah kepada sesuatu yang bermanfaat dan melarang dari sesuatu yang membahayakan mereka sesuai tuntutan Allah SWT.(QS Al-Fath: 8-9)Ruang Lingkup Konseling Islami mencakup:

—1. Pendidikan akademis yakni mengakui adanya perbedaan IQ tiap individu dan mengarahkan sesuai potensi yang dimiliki. Misal : hafalan, analisis & telaah, diskusi & orasi. Memulai pengajaran dari masalah-masalah baru definisi.
—2. Pekerjaan yakni mengakui adanya perbedaan IQ tiap individu dan mengarahkan kepada tugasnya masing-masing sesuai minat dan bakat. Selain itu perhatian kepada interaksi dalam pekerjaan, hak dan kewajiban yang harus dipenuhi juga profesionalisme.
3. —Agama dan perilaku yakni apa yang digambarkan dalam pemikiran Islam telah menunjukkan hakikat fitrah manusia itu sendiri.

—4. Keluarga dan pernikahan meliputi kewajiban dan hak anggota keluarga, konsep pencegahan masalah serta terapi jika terjadi maslah di dalam keluarga.
Hakikat Manusia dalam Islam
1.Manusia diciptakan dengan tujuan yang mulia yakni beribadah kepadaNya
(QS Adz-Dzaariyaat: 56).
2.Sifat dasar manusia adalah baik.
3.Manusia makhluk ciptaan Allah yang mulia dan terbaik (QS Al-Israa’: 70).
4.Manusia penuh dengan kesadaran dan tanggung jawab serta bisa membedakan yang baik dan buruk.
5.Manusia memiliki titik lemah dalam dirinya yakni hawa nafsu.

6. Memiliki motivasi kuat dan potensi besar mampu mengendalikan perilaku.

7. Jiwa manusia terbagi dalam 3 keadaan yakni :

a. Jiwa yang cenderung kepada keburukan karena dikuasai oleh hawa nafsu akan duniawi (QS Yusuf: 53).

b.  Jiwa yang  menyesali diri yakni menyesali kesalahan yang diperbuat tetapi masih mudah tergoda dunia (QS Al-Qiyaamah: 1-2).

c. Jiwa yang tenang yang mencapai kematangan, syukur & sabar , serasi dunia-akhirat (QS Al-Fajr : 27-30).

8. Setiap waktu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.

Aspek-aspek Konseling dalam Islam

1. Aspek Preventif

Penjagaan individu dari guncangan jiwa dan membentengi dari penyimpangan. (QS Al-Bayyinah: 5, An-Nuur: 30)

2. Aspek Perkembangan

Pembentukan kepribadian muslim yang optimis, mengenli potensi serta produktif. (QS An-Nisaa: 58)

3. Aspek Terapi

Pembebasan individu dari kegelisahannya dan membantu memecahkan masalahnya.

Metode Konseling dalam Islam

1. Metode Keteladanan

Yakni meneladani Rasulullah SAW. (QS Al-Ahzab: 21; Al-Maidah: 31)

2. Metode Penyadaran

Menggunakan ungkapan nasihat, janji & ancaman. (Al-Hajj: 1-2)

3. Metode Penalaran Logis

Dialog dengan akal dan perasaan individu. (Al-Hujuraat : 12)

4. Metode Kisah

Kisah nabi, rasul dan orang-orang shalih yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

Proses Konseling

1.Membangun hubungan yang kuat dan baik didasari sikap saling menghargai, membuka diri dan saling percaya antara konselor dan klien.
2.Konselor membantu klien dalam mengenali permasalahan yang sedang dihadapi klien dan menelaah pemikiran klien dala menyikapi masalahnya, hingga klien menyadari hal tersebut.
3.Menawarkan taubat.
4.Mengingatkan akan eksistensi, tujuan  hidup di dunia hingga kembali kepada Islam.
Cara Berbicara dengan Klien
—Berdasarkan contoh Rasulullah SAW :
1.Sitstematis agar pendengar fokus pada topik pembicaraan.
2.Hati-hati agar pendengar dapat memahami isi dan jalan pikiran pembicara secara berkesinambungan dan mengurangi lupa.
3.Mudah dipahami oleh pendengar (dari berbagai kalangan).
4.Mengulanginya 3 kali agar membekas dalam hati dan pikiran.
Sumber

Az-Zahrani, Musfir bin Said. (2005). Konseling Terapi. Penerjemah, Sari Nurulita, Lc. Dan Miftahul Jannah, Lc. ; penyunting, Harlis Kurniawan – Cet.1. Jakarta : Gema Insani Press.

Erhamwilda. (2009). Konseling Islami. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Konseling Religi. Volume 1, Nomor 02, Juli-Desember 2009. Jurusan Dakhwah Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam . Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.

Mimpi dalam Islam: Sebuah Refleksi Bagi Kekuatan Tauhid

Apakah anda tadi malam bermimpi dalam keheningan tidur nyenyak? Mungkin iya. mungkin tidak. Atau apakah anda pernah bermimpi? Kalau yang ini jawabanya pasti iya. Mimpi memang menjadi objek yang menarik. Karena biasanya mimpi bisa menceritakan tentang kehidupan kita, menceritakan kisah orangtua kita, yang bisa jadi itu menyenangkan ataupun tidak.

Ia bisa membuat kita meretas senyum, menstimulir cucuran keringat, atau tanpa kita sadari mimpi lah yang membangunkan kita di kehampaan malam jauh sebelum jam weker mengusik lelap kita. Bedanya ada yang bangun sambil berteriak, jantung berdegup, atau kita tak dapat mengelak untuk membiarkan jiwa menyulut istighfar.

Dalam psikologi modern, ada beberapa psikolog yang cukup fokus untuk mengkaji mimpi, salah satunya, Sigmund Freud dari mazhab psikodinamika. Menurut Sigmund Freud, stimulus dan sumber dari kemunculan sebuah mimpi ada 4, yaitu:

  1. External Sensory Stimuli
  2. Internal (subjective) Sensory Excitations
  3. Internal Organic Somatic Stimuli
  4. Psychical Source of Stimulation

Jadi kalau boleh kita sederhanakan, stimulus dan sumber tersebut bisa muncul dari dalam diri individu seperti dorongan tertentu, harapan dan keinginan-keinginan atau yang bersifat eksternal yang biasanya berasal dari pengalaman obyektif atau bisa juga karena rangsangan organ badan maupun kondisi fisik.

Namun kalau kita mengkaji lagi, hal itu diucapkan Freud bukanlah tanpa system, system psikologi seksualitas tentunya. Karena timbulnya mimpi, mayoritas sebagai pengendapan unsur libido dan id yang tak bisa terealisasi di dunia nyata, dan pada ujungnya harapan itu mengendap pada alam bawah sadar dan muncul secara “tidak fair” via mimpi.

Setelah itu, tak dapat dipungkiri manusia, bahwa mimpi adalah sebuah fenomena yang terkadang merupakan sebuah penjelasan akan terjadinya suatu hal di masa mendatang (futuristik). Problemnya kemudian, lebih daripada itu, mimpi juga ternyata bisa berubah untuk melambangkan suatu infromasi yang jauh dari tangkapan logika manusia, semisal sketsa alam ghaib yang sulit dicerna, samar-samar, absurd, dan sulit untuk dipahami. Hal ini coba dianalisa oleh berbagai pakar, khusunya ulama atau para pengkaji mimpi dengan basis agamis.

Kenapa? Pertama, mimpi yang bersifat ghaib masih intens sebelum kiamat mendera. Kedua, ini problem, karena ruang ini belum bisa difasilitasi oleh studi psikologi modern seperti psikodinamika atau behaviorisme, sebab ini berkaitan pada konteks filosofis ilmu atau epsitemologi psikologi. Hal-hal yang berbau ghaib, sulit diendus indera, jauh dari bayangan logika, pada hakikatnya akan dijauhkan dari psikologi, atau sesekali hendak dibunuh. Ini tak lain dikarenakan tajuk “klenik” memang tidak dapat dicerna oleh sensoris (pancaindera) yang melulu menjadi pegangan ilmu modern.

Alhasil jarang para psikolog modern berkutat dalam arus yang menantang ini, menjabarkan, menganalisa hingga samapai terkonversi menjadi hipotesa pasti. Dan pada akhirnya hal yang vital ini terbuang begitu saja atau paling tidak dipendam dalam alam bawah sadar manusia tanpa kita pernah memikirnya. “Hallah…Cuma mimpi ini” mungkin begitu lah sebagian kita bergumam.

Pertanyaannya, betulkah hal-hal seperti itu tak perlu dijelaskan, atau kalau mau disebut ilmiah, hal ini sebagai cerita yang tidak bisa dikaitkan dengan nalar? Lho bukannya ilmu diturunkan untuk menjawab persoalan apapun itu? Lantas apakah hal semacam ini bisa dijadikan studi, kajian ilmiah, bahkan objek penelitian? Mungkin diantara anda, yang terbiasa dengan konstruk rasionalitas dalam berpikir, akan bersifat skeptik. Tapi bagaimana dengan Islam? Ini yang menarik.

Islam, mengutip apa yang dijabarkan Muhammad Ustman Najati dalam kitabnya tentang Psikologi dalam Tinjauan hadis nabi ternyata membahas mimpi dengan mendalam. Mimpi dalam risalah hadis salah satunya disebut dengan sebutan hulm. Menurut Ahmad Mubarok, term ahlam disebut Al-Qur’an sebanyak lima kali , dua kali term al hulum (dari halama yahlumu) dalam arti mimpi “pertama” (والّذين لم يبلغوا الحلم), 131 satu kali ahlam (dari haluma yahlumu hilm) disebut dalam arti fikiran-fikiran (أم تأمرهم أحلامهم بهذا)132 dan dua kali disebut adghas ahlam, dalam arti mimpi-mimpi kalut, yakni pada surat Yusuf/12:44 dan Q/21:5.

Lompat dari hal diatas, ternyata Islam tidak berhenti menyertakan term mimpi dalam riwayat definisi, tapi Islam sampai pada melakukaan distingsi/membedakan klasifikasi mimpi yang jauh dari tangkapan psikologi modern (baca: Psikoanalisis dan Goddert ) yang hanya mengutak-atik mimpi dalam area sensoris saja. Karena jika kita susuri lebih jauh, ternyata makna dan penyebab timbulnya mimpi ditarik oleh Islam kepada sudut yang lebih paripurna dan pasti bermakna, karena ia tidak hanya terjebak pada matematika inderawi, tapi kemudian diseret kepada transfer nilai tauhidi, yang itu tidak bisa dijelaskan oleh Psikologi modern, atau neo modern sekalipun.

Menurut ulama-ulama Islam kontemporer, seperti Muhammad Usman Najati dan Azzahrani, Al Qur’an menyebut mimpi dalam dua tema, yaitu ru’ya dan adghatsu ahlam (mimpi yang sulit ditakwil). Terkadang ru’ya merupakan mimpi yang bisa menyingkap misteri alam ghaib atau kejadian yang bersifat futuristik. Ru’ya juga muncul dalam manifestasi berupa perintah yang harus diemban oleh orang yang bermimpi tersebut. Sedangkan adghatsu ahlam merupakan mimpi yang sulit ditafsirkan. Hal yang terakhir inilah yang kemudian banyak digarap psikologi modern, karena mimpi ini terklasifikasi sebagai tammpilan yang berupa symbol-simbol, lambang, sandi-sandi, yang itu semua mesti dijabarkan dalam analisa mendalam.

Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru’ya, yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan dan (3) mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya. Dan biasanya yang ketiga ini masih standard an jarang dikaji ulama, karena bersifat keduniawian semata, walaupun Ulama seperti Azzahrani menguraikannya dengan lebar.

Al Qur’an, sebagai kitab paripurna, mengisahkan banyak sekali ru’ya yang menimpa para nabi. Misalnya tentang ru’ya nabi Ibrahim AS, yang akhirnya sebab ru’ya itulah tiap tahun kita bersama-sama merayakan idul adha. Hal ini tertera dalam surah Ash-Shafat ayat 102-105 yang artinya:

“Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. ‘Dia (Isma’il) menjawab,’Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. ‘Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma’il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik.”

Al Quran juga dengan jelas merekam Ru’ya yang tersandar pada kisah Nabi Yusuf AS. Ru’ya ini beda dengan apa yang dialami Nabiyullah Ibrahim AS, karena ru’ya yang dialami nabi Yusuf merupakan ru’ya tanda-tanda turunnya kenabian kepada beliau.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Surat Yusuf ayat 4

Ada kisah lain juga yang tentunya menarik. Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani.

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu ru’ya hanya menimpa Nabi-nabi Allah? Dan mustahil orang muslim biasa, terlebih kafir akan merasakannya? Setidaknya dalam surah yusuf ayat 36-41, Al Qur’an menjelaskan ru’ya membantah itu, ini sesuai dengan yang dialami dua orang pemuda yang bersama-sama Nabi Yusuf AS ketika berdoa di dalam penjara. Al Qur’an masih dalam surah yang sama juga mengisahkan tentang Ru’ya seorang Fir’aun Raja Mesir itu yang menyaksikan dalam mimpinya tujuh ekor sapi kurus memakan tujuh ekor sapi gemuk, serta melihat butiran gandum yang hijau dan tujuh butir gandum yang sudah kering. Tak lama kemudian bak interpreter mimpi, ru’ya itu kemudian dita’wil oleh Yusuf seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 47-49 sebagai isyarat akan datangnya musim paceklik dan cara-cara mengantisipasinya.

Kita tentu masih penasaran sampai pada satu titik kenapa ru’ya ini bisa menimpa nabi dan orang pada biasanya? Inilah sebuah penjelasan yang belum bisa ditangkap oleh psikologi modern, studi ilmiah, kajian mimpi berbasis analisa data, atau semacamnyam, bahwa pada dasarnya Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Zat yang Utama, mempunyai berbagai cara untuk menurunkan hikmah kepada setiap hambaNya.

Ini dapat kita tangkap melalui suatu hadis dari Abu Qatadah ra. yang mendengar Rasulullah saw. bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim 4195.

Setelah sampai sini anda membaca. Mungkin beberapa anda dengan heran menangkap kesan terjadi dualisme term mimpi yakni, ru’ya dan ahlam sebelumhya. Apakah ada perbedaan antara Ru`ya dan Ahlam. Syaikh al-Munajjid menangkap kesan ini dan menjelaskan dalam satu sitiran satu hadis tapi vital. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ru`ya Shadiqah (mimpi baik) berasal dari Allah dan ‘Hulm’ (jamaknya Ahlam) berasal dari setan.” Ru`ya yang dinisbatkan kepada Allah subhanahu wata’ala tidak dikatakan Hulm dan yang dinisbatkan kepada setan tidak dikatakan Ru`ya. Perbedaan ini telah ditunjukkan oleh syari’at. Ru`ya adalah hal baik yang dilihat manusia dalam mimpinya sedangkan Hulm adalah apa yang diimpikan dan dilihat dalam mimpi. Keduanya masih sinonim.” Sedangkan al-Alusi dalam tafsirnya menyebutkan, Ru`ya dan Ahlam adalah apa dilihat seorang yang tidur secara mutlak, hanya saja penggunaan Ru`ya lebih dominan untuk hal yang baik sedangkan Ahlam sebaliknya.

Klasifikasi Mimpi

Seperti yang disebut kan Syaikh Khalid al-‘Anbari, mimpi ada tiga jenis: Pertama, Ru`ya Shalihah yang merupakan kabar gembira dari Allah subhanahu wata’ala dan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Kedua, Mimpi buruk dan dibenci, yaitu hal-hal menakutkan yang berasal dari syetan untuk membuat manusia bersedih dan mempermainkannya di dalam mimpi. Ketiga, Mimpi yang diakibatkan kondisi psikologis seseorang dalam keadaan jaga, lalu terbawa ke dalam mimpinya, termasuk juga hal yang biasa dilihatnya waktu jaga seperti orang yang biasanya makan pada waktu tertentu lalu tidur ketika itu, maka ia melihat dirinya makan dalam mimpi, atau merasa muak dengan makanan atau minuman, lalu bermimpi sedang muntah.

Sedangkan Menurut Usman Najati atas beberapa hadis yang disebutkan oleh Rasululllah SAW, beliau menyimpulkan pada dasarnya ada dua jenis mimpi, yakni mimpi baik yang menyebabkan manusia bahagia mimpi ini berasala dari Allah SWT. Sedangkan mimpi jenis lainnya adalah mimpi yang bisa menimbulkan rasa tidak senang yang berasal dari syaiton. Hal ini didasarkan oleh sebuah hadis.

Riwayat Bukhari ra., ia berkata: Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memmohon perlindungan (ta`wwudz kepada Allah) dari keburukaannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat)”.

Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud juga mengkuatkan hal lain bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Mimpi itu datangnya dari Allah, sedangkan mimpi lamunan itu datang dan setan.” (H.r. Bukhari).

Karenanya, Islam kemudian tidak membiarkan manusia bermimpi tanpa arti dan tanpa tidak lanjut. Islam juga tidak melenakan manusia untuk mendefenisikan mimpi sekdar matematika hampa. Karena dengan sebuah mimpi baik, Allah ingin mengajarkan kita bahwa sudah seharusnya kita bersyukur dan menafakuri kehidupan dengan jernih sebelum ajal tiba, Ia juga mendelegasikan bahwa ada hikmah dlam tiap rekam jejak kita dalam mimpi walau hanya sehelai rambut.

Selain itu juga, mimpi dalam Islam, mengajarkan kejujuran sebagai fondasi suatu amanah. Mimpi bukan pena putih yang tak bisa berwarna saat ditulis di kertas putih. Ia tidak berarti berelasi apa-apa seperti yang tertera dalam kitab psikologi modern, yang menuangkan mimpi hanya pada kanvas sensorik, elbih-lebih itu problem seksual dan nafsu ala interpretation of Dreams Sigmund Freud. Karena sebuah mimpi bisa jadi alamat petunjuk atas sebuah kisah yang penuh ibroh bagi rekosntruksi Iman. Karena itu, Nabi pernah bersabda. “Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian.

Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama.”

Salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah juga menampilkan terapan praktis bagaimana sikap seorang muslim ketika mendapati dalam tidurnya mimpi baik dan mimpi yang membuat jiwa kalut.

”Ru’ya itu datangnya dari Allah dan al hulm itu datangnya dari syaitan. Maka bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi kalut yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (HR Muslim)”

Refleksi Menuju Kekuatan Tauhid

Bayangkan dari sebuah hal yang kecil saja, seperti mimpi, Islam mempunyai cara bagaimana, menjelaskan, mendefinisikan, mengklasifikasikan sampai pada tiba pada sebuah penyadaran. Subhanallah. Begitu paripurnanya Islam mengatur manusia pada sudut-sudut sempit yang sama sekali tak tergambar oleh kita.

Psiklologi mimpi dalam Islam punya relasi yang luas dan komperhensif namun sarat ilmu, iman, dan amal. Bagaimana hanya dari sebuah tayangan ketika kita tidur itu, Islam kemudian menariknya menjadi landasan tauhid. Mimpi tidak terjadi dengan sendirinya, mimpi juga bukanlah semata-mata aktivtas inderawi, pengendapan cita-cita, logika sederhana, yang dijelaskan Goddert dan Freud, karena sekalipun mimpi itu hasil jebakan syetan, tak satupun detik yang bergulir terjadi tanpa izin Allah.

Karena itu, sudah sepatutnya manusia mengingat bahwa hidup itu sebentar dan setiap kaki yang melangkah amat dekat sekali dengan kematian. Dari sini, kita juga patut menjabarkan bahwa mimpi memiliki kedua sayap dari satu tubuh yang sama, saling kontras tapi berdekatan, yakni kehidupan dan kematian. Karena bermula dari sebuah mimpi laki-laki mukmin dinyatakan baligh untuk menghirup relung-relung insani sebagai hamba yang lengkap dengan tugas-tugas imaninya di depan.

Dan dibalik itu dari sebuah mimpi dan aktivitas tidur, ternyata manusia dekat sekali dengan kematian. Karena banyak pula saudara kita yang dari tidurnya justru menjadi jalan untuk kembali ke Sang Pencipta. Alangkah meruginya jika rasio kita tidak bisa menangkap hal Ini bahwa pikiran dan ruh kita betul-betul tergenggam olehNya, terlebih dalam tidur.

Dan kita sebagai yang mengaku mukmin, kadang tidak menyadari bahwa dunia adalah media jebakan semata dan momentum ujian keimanan dari Allahu Ta’ala. Tidak ada yang “gratis” dalam hidup ini semuanya ada bayaran menjadi iman atau kufur, termasuk lewat mimpi. Terserah kita memilih yang mana. Wallahua’lam bishshawab.

 

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim

Sumber

Jumat, 01/10/2010 08:49 WIB

PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifatullah di muka bumi dan juga abdi Allah untuk beribadah kepada-Nya.

 

Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan diembannya dapat terwujud. H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.

 

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum. Dalam hal pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki potensi luhur, yaitu fitrah dan ruh yang tidak terjamah dalam psikologi umum (Barat).

 

Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini  dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat. Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.

  Baca lebih lanjut

WAHAM

 

Posted on April 14, 2008 by harnawatiaj
  1. Pengertian  

Menurut Gail W. Stuart, Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial.Waham adalah Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan.

  1. Penyebab 
  1. Faktor predisposisi 
  • Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif. 
  • Neurobiologis; Adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks limbic 
  • Neurotransmitter ; abnormalitas pada dopamine, serotonin dan glutamat. 
  • Virus paparan virus influensa pada trimester III  

  • Psikologis; ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.  

  1. Faktor Presipitasi 
  • Proses pengolahan informasi yang berlebihan  

  • Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.  

  • Adanya gejala pemicu Mekanisme Koping 

  1.   

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi :  

  • Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi ansietas  

  • Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi  

  • Menarik diri  

  • Pada keluarga ; mengingkari  

  1. Prilaku  
  • Waham agama : keyakinan seseorang bahwa ia dipilih oleh Yang Maha Kuasa atau menjadi utusan Yang Maha Kuasa.  
  • Waham somatik : keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya sakit atau terganggu.  

  • Waham kebesaran : keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kekuatan yang istimewa.  

  • Waham paranoid : kecurigaan seseorang yang berlebihan atau tidak rasional dan tidak mempercayai orang lain, ditandai dengan waham yang sistematis bahwa orang lain “ingin menangkap “ atau memata-matainya.  

  • Siar pikir ; waham tentang pikiran yang disiarkan ke dunia luar.  

  • Sisip pikir ; waham tentang pikiran yang ditempatkan ke dalam benak orang lain atau pengaruh luar.  

  1. Rentang respon perilaku adaptif-maladaptif  

Respon adaptif – respon maladaptif  

  1. Tanda dan gejala  

Pasien ini tidak memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang perpasif yang ditemukan pada kondisi psikotik lain, tidak ada afek datar atau afek tidak serasi, halusinasi yang menonjol, atau waham aneh yang nyata pasien memilki satu atau beberapa waham, sering berupa waham kejar, dan ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham kebesaran, somatik, atau eretomania yang :  

  • Biasanya spesial (misal, melibatkan orang, kelompok, tempat, atau waktu tertentu, atau aktivitas tertentu).  

  • Biasanya terorganisasi dengan baik(misal, “orang jahat ini” mengumpulkan alasan-alasan tentang sesuatu yang sedang dikerjakannya yang dapat dijelaskan secara rinci).  

  • Biasanya waham kebesaran (misalnya, sekelompok yang berkuasa tertarik hanya kepadanya).  

  • Wahamnya tidak cukup aneh untuk mengesankan skizofrenia.  

Pasien-pasien ini (cenderung berusia 40-an) mungkin tidak dapat dikenali sampai sistem waham mereka dikenali oleh keluarga dan teman-temannya. Ia cenderung mengalami isolasi sosial baik karena keinginan mereka sendirian atau akibat ketidakramahan mereka (misalnya, pasangan mengabaikan mereka). Apabila terdapat disfungsi pekerjaan dan sosial, biasanya hal ini merupakan respon langsung terhadap waham mereka.  

Kondisi ini sering tampak membentuk kesinambungan klinis dengan kondisi seperti kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid, penggambaran mengenai bats-batas setiap sindrom menunggu penelitian lebih lanjut. Singkirkan gangguan afektif, ide-ide paranoid dan cemburu sering terdapat pada depresi, paranoid sering terdapat pada orang tua dan pada orang yang menyalahgunakan zat stimulan, reaksi paranoid akut sering ditemui pada pasien dengan delirium ringan dan pasien yang harus berada di temapat tidur karena sakit.  

  1. Penanganan  
  • Psikofarmakologi  
  • Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial  

  • penarikan diri high potensial  
  • ECT tipe katatonik  
  • Psikoterapi  

Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif  

  1. Asuhan Keperawatan  
  1. Pengkajian  

  • Aktivitas dan istirahat  

Gangguan tidur, bangun lebih awal, insomnia, dan hiperaktivitas.  

  • Higiene  

Kebersihan personal kurang, terlihat kusut/ tidak terpelihara.  

  • Integritas ego  

Dapat timbul dengan ansietas berat, ketidakmampuan untuk rileks, kesulitan yang dibesar-besarkan, mudah agitasi.  

Mengekspresikan persaaan tidak adekuat, perasaan tidak berharga, kurang diterima, dan kurang percaya pada orang lain. Menunjukkan kesulitan koping terhadap stres, menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai.  

  • Neurosensori  

Mengalami emosi dan prilaku kongruen dengan sistem keyakinan/ketakutan bahwa diri ataupun orang terdekat berada dalam bahaya karena diracuni atau diinfeksi, mempunyai penyakit, merasa tertipu oleh pasangan individu, dicurangi oleh orang lain, dicintai atau mencintai dari jarak jauh.  

  • Keamanan  

Dapat menimbulkan prilaku berbahaya/menyerang  

  • Interaksi sosial  

Kerusakan bermakna dalam fungsi sosial/perkawinan  

Umumnya bermasalah dengan hukum.  

  

POHON MASALAH  

Efek                                          Gangguan Komunikasi verbal
  

Core Problem                            Perubahan proses pikir / waham  

Etiologi                                    Gangguan konsep diri  

Masalah utama : pasien mengalami waham  

Penyebab : gangguan konsep diri  

Efek : gangguan komunikasi verbal  

  1. Intervensi  

Diagnosa keperawatan : Perubahan proses pikir / waham  

Tujuan Umum : Klien dapat mengontrol wahamnya.

Perencanaan   Intervensi  
Tujuan Khusus   Kriteria Evaluasi  
Klien dapat membina hubungan saling percaya.   Klien mampu berkomunikasi dengan baik dengan perawat.  
    1. Bina hubungan saling percaya dengan klien : beri salam terapeutik (panggil nama klien), sebutkan nama perawat, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik yang akan dibicarakan, waktu dan tempat).  
    2. Jangan membantah dan mendukung waham klien :  
  • Katakan perawat menerima keyakinan klien : “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima.  
  • Katakan perawat tidak mendukung : “sukar bagi saya untuk mempercayainya” disertai ekspresi ragu tapi empati.  
  • Tidak membicarakan isi waham klien.  
    1. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung :  
  • Anda berada di tempat aman, kami akan menemani anda.  
  • Gunakan keterbukaan dan kejujuran.  
  • Jangan tinggalkan klien sendirian.  
    1. Observasi apakah waham klien menganggu aktifitas sehari-hari dan perawatan diri.  
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.   Klien mampu menyebutkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialaminya.  

  

    1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.  
    2. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis (hati-hati terlibat diskusi tentang waham).  
    3. Tanyakan apa yang biasa dilakukan (kaitkan dengan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri) kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini.  
    4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perawat perlu memperlihatkan bahwa klien penting.  
Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi    klien mampu menyebutkan semua kebutuhannya sehari-hari.  
    1. Observasi kebutuhan klien sehari-hari  
    2. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa takut, ansietas, marah).  
    3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.  
    4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (aktivitas dapat dipilih bersama klien, jika mungkin buat jadual).  
    5. Atur situasi agar klien mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.  
Klien dapat berhubungan dengan realistis    Klien dapat menyebutkan cita – cita dan harapan yang sesuai dengan kemampuannya
    1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (realitas diri, realitas orang lain, realitas tempat dan realitas waktu).  
    2. Sertakan klien dalam terapi aktifitas kelompok : orientasi realitas.  
    3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.  
Klien dapat dukungan keluarga Keluarga dapat menyebutkan cara – cara merawat klien waham.  
    1. Diskusikan dengan keluarga tentang :  
  • Gejala waham  
  • Cara merawatnya  
  • Lingkungan keluarga  
  • Follow-up dan obat  
    1. Anjurkan keluarga melaksanakan 5.1. dengan bantuan perawat.  
Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

Klien dapat minum obat sesuai dengan resep dokter dan tepat waktu.  

    1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping, akibat penghentian.  
    2. Diskusikan perasaan klien setelah makan obat.  
    3. Berikan obat dengan prinsip 5 (lima) benar.  

  1. TAK  

Tujuan :  

  1. Klien dapat memahami pentingnya melakukan kegiatan untuk mencegah munculnya waham.  

  2. Klien dapat menyusun jadwal kegiatan untuk mencegah terjadinya waham  

Setting :  

  1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran  

  2. Ruangan nyaman dan tenang.  

Metode :  

  1. Diskusi dan tanya jawab.  

  2. Bermain peran/ stimulus dan latihan.  
  1. SP (Strategi Pendahuluan)  
  1. Tempatkan waham dalam kerangka waktu dan identifikasi pemicu  

  • Identifikasi semua komponen waham dengan menempatkannya dalam waktu dan urutan  

  • Identifikasi pemicu yang mungkin berhubungan dengan stres dan ansietas  

  • Apabila waham terkait ansietas ajarkan keterampilan mengatasi ansietas  

  • Buat suatu program penatalaksanaan gejala  

  1. Kaji instensitas, frekuensi dan lama waham  

  • Bantu pasien untuk menghilangkan waham yang berlalu dengan cepat dalam keranmgka waktu yang singkat.  

  • Pertimbangkan untuk menghindari waham yang menetap atau yang telah dialami dalam waktu lama sementara waktu guna mencegah terhambatnya hubungan perawat-klien.  
  • Dengarkan secara seksama sampai tidak diperlukan lagi pembicaraan mengenai waham.  

  1. Identifikasi komponen emosional sosial waham  

  • Berespon terhadap perasaan pasien yang mendasar, bukan pada sifat waham yang tidak logis.  

  • Dorong pembicaraan mengenai ketakutan, kecemasan, dan kemarahan klien pasien tanpa menilai waham yang diceritakan pasien benar atau salah.  

  1. Amati adanya bukti pemikiran konkret  
  • Tentukan apakah pasien benar-benar menagjak anda berbicara atau tidak.  

  • Tentukan apakah pasien dan anda menggunakan bahasa yang sama.  

  1. Amati pembicaraan yang menunjukkan gejala gangguan pemikiran  
  • Tentukan apakah klien menunjukkan gangguan pemikiran( mis, bicara berputar-putar, menyimpang, mudah mengubah topik pembicaraan, tidak dapat merespon terhadap upaya anda untuk mengarahkan kembali pembicaraan).  
  • Sadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan ketidaksesuaian antara kenyataan dan waham.  

  1. Amati kemampuan klien untuk menggunakan pertimbangan sebab akibat secara akurat  

  • Tentukan apakah klien dapat membuat prediksi yang logis(indukltif atau deduktif ) berdasarkan pengalaman masa lalu.  

  • Tentukan apakah klien dapat mengonseptualisasi waktu.  

  • Tentukan apakah klien dapat mengakses dan menggunakan memori yang bermakna saat ini dan jangka panjang.  

  1. Bedakan antara gambaran pengalaman dan kenyataan dari situasi tertentu  

  • Identifikasi keyakinan yang salah mengenai situasi yang nyata.  

  • Tingkatkan kemampuan pasien untuk menguji realitas.  

  • Tentukan apakah pasien berhalusinasi, karena ini akan memperkuat waham  

  1. Secara cermat, tanyakan pasien tentang kenyataan yang terjadi dan arti dari kenyataan tersebut.  

  • Bicarakan mengenai waham untuk mencoba membantu pasien melihat bahwa waham itu tidak benar.  

  • Harap diingat, jika langkah ini dilakukan sebelum langkah sebelumnya selesai, hal ini dapat memperkuat waham.  

  1. Diskusikan tentang waham dan konsekuensinya  
  • Jika intensitas waham berkurang, diskusikan waham ketika pasien siap untuk mendiskusikannya.  
  • Diskusikan konsekuensi waham.  

  • Berikan kesempatan kepada klien untuk mengambil tanggungjawab dalam prilaku, aktivitas sehari-har, dan pengambilan keputusan.  

  • Dorong tanggungjawab personal pasien dan partisipasinya dalam kesehatan dan penyembuhan.  

  1. Tingkatkan distraksi sebagai cara untuk menghentikan fokus pasien pada waham  

    • Tingkatkan aktivitas yang membutuhkan perhatian pada keterampilan fisik dan dapat membantu klien menggunakan waktu secara konstruktif.  

    • Kenali dan dorong aspek yang positik dari kepribadian klien.  

 

SUMBER

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/14/waham/#comment-1643

 

Mendidik Dengan Cinta

Mendidik Dengan Cinta Edisi Plus

Cinta

Satu kata berjuta makna

 Satu makna yang dapat membangkitkan energi luar biasa

Satu energi yang menghasilkan apa saja atas kehendakNya

Irawati Istadi. Seorang Manager Rumah Tangga dengan lima orang anak yang tertarik menekuni psikologi anak Islami. Lewat karyanya yang berjudul “Mendidik dengan Cinta” terbitan Pustaka Inti, Juni 2005, beliau membuka mata orang tua tentang pentingnya pendidikan anak dengan cara yang Islami, yaitu dengan cinta, yang telah Allah fitrahkan kepada setiap manusia, yang dibumikan melalui Rasulullah Saw sehingga cinta yang ada pada diri manusia tetap terjaga kesuciannya bak kelembutan kasih ibu saat menyusui anaknya. Diharapkan, orang tua dapat mencurahkan kasih sayangnya dengan kreatif dan aktual sesuai dengan tuntunan Allah dan rasulNya sehingga lahirlah generasi masa depan yang beriman, sehat, cerdas, berakhlak mulia dan bermartabat. Insya Allah. Aamiin…  

Dengan niat berbagi ilmu, berikut ini saya resume bab pertama buku ini, “Mendidik dengan Cinta”, dalam format Power Point.

Silahkan diunduh. Semoga bermanfaat! (-^___^-)

Psikologi Islam

cover psikologi islam

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sudah lama saya tertarik dengan studi ilmu kejiwaan dan membeli sebuah buku berjudul Panduan Lengkap & Praktis Psikologi Islam terbitan Gema Insani, yakni terjemahan dari At-Ta’shil al-Islami lil Dirasat an-Nafsiyah yang merupakan disertasi ilmiah doktoral dengan yudisium summa cum laude karya cendikiawan muslim kontemporer Muhammad Izzuddin Taufiq dari Faklutas Sastra Unversitas Maroko.

Salah satu ilmu yang tengah berkembang pesat pada dekade ini adalah psikologi. Ilmu yang menitikberatkan pada massalah kejiwaan ini kian dibutuhkan karena semakin banyak orang yang mengalami ganngguan baik stress ringan maupun berat. Penulis mengemukakan sudut yang paling murni dari psikologi yaitu Islam. Beliau juga mengupas konsep-konsep utama psikologi Barat. Adakah pertentangan antara psikologi Islam dan Barat?

Selanjutnya, saya akan memaparkan intisari dari setiap subbab dalam buku ini yang mencakup tiga bab besar yaitu Bab ke-1 Psikologi dan Definisinya Menurut Ilmu Syariah (Rekonstruksi Syar’i), bab ke-2 Pemahaman dan Sistem dalam Psikologi (Rekonstruksi Ilmu), dan bab ke-3 Studi Kejiwaan Klasik dan Proyek-proyek Yang Lain (Rekonstruksi Sejarah). Semoga dapat memperkaya pengetahuan kita tentang Psikologi Islam.

Wallahu a’lam bish showab.