Konseling Islami

Sudah lamaaaaaaaa banget ingin memposting tulisan ini sejak menyelesaikan praktikum 2 di PPSDMS NF Regional 1 berhubung keyword yang sering merujuk ke blog saya adalah “psikologi islam”. Tanpa berpanjang kata, silahkan nikmati sajian intelektual ini… semoga bermanfaat… 🙂

—Problem Masyarakat Modern (Sulthon, 2009)
1.Berkembangnya budaya massa karena pengaruh kemajuan media massa yang tidak lagi bersifat lokal tetapi nasional bahkan global.
2.Tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak manusia menuju perubahan masa depan.
3.Sebagian besar kehidupan manusia semakin diatur oleh aturan-aturan rasional.
4.Tumbuhnya sikap hidup yang materialistik.
5.Meningkatnya laju urbanisasi.
Perbedaan Konseling Islam dengan Konseling Barat
1.Makna konseling
2.Beberapa pendekatan dan teknik konseling
3.Proses konseling, tujuan, dan peran konselor
4.Hasil konseling yang diharapkan.
Makna Konseling
Konseling Barat Konseling Islam
Definisi Aktivitas dalam mengubah sikap dan perilaku individu (klien) oleh seseorang yang profesional (konselor). Amanah dari Allah untuk membina dan membentuk manusia ideal yang menuju jalan terbaik (Islam).
Urgensi
Tujuan Mengatasi masalah yang dihadapi. Ketenangan, kebahagiaan, keridhaan.
Pendekatan/ Model Konseling Barat menurut Gerald Corey (Erhamwilda, 2009)

1. Pendekatan Psikodinamika berlandaskan pada pemahaman, motivasi tak sadar, rekonstruki kepribadian. Kategori terapi psikoanalitik.

2. Pendekatan Humanistik berorientasi pengalaman dan relasi, meliputi terapi eksistensial, client centered, gestalt.

3. Pendekatan Rasional-Kognitif dan Tindakan berorientasi pada perilaku, meliputi analisis transaksional, terapi tingkah laku, rasional emotif, dan realitas.

Masing-masing pendekatan berangkat berdasarkan temuan tentang:

1.Struktur kepribadian
2.Sifat manusia
3.Perkembangan kepribadian
4.Tujuan terapi
5.Peran konselor dan perubahan yang diharapkan terjadi pada klien
6.Teknik-teknik teraputik / terapi

Sedangkan pendekatan Konseling Islami yakni konsep pendekatan dan teknik konseling yang utamanya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, serta pemikiran para tokoh Islam yang berkaitan dengan :

1.Hakikat manusia
2.Individu bermasalah dan masalah-masalah individu
3.Perkembangan kepribadian individu.
4.Membantu individu bermasalah.
Konseling dalam kehidupan muslim sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan nabi-nabi setelahnya, mereka mendapat amanah dari Allah sebagai salah satu dari berbagai tugas manusia adalah membina dan membentuk manusia yang ideal sesuai dengan fitrahnya, mengarah kepada sesuatu yang bermanfaat dan melarang dari sesuatu yang membahayakan mereka sesuai tuntutan Allah SWT.(QS Al-Fath: 8-9)Ruang Lingkup Konseling Islami mencakup:

—1. Pendidikan akademis yakni mengakui adanya perbedaan IQ tiap individu dan mengarahkan sesuai potensi yang dimiliki. Misal : hafalan, analisis & telaah, diskusi & orasi. Memulai pengajaran dari masalah-masalah baru definisi.
—2. Pekerjaan yakni mengakui adanya perbedaan IQ tiap individu dan mengarahkan kepada tugasnya masing-masing sesuai minat dan bakat. Selain itu perhatian kepada interaksi dalam pekerjaan, hak dan kewajiban yang harus dipenuhi juga profesionalisme.
3. —Agama dan perilaku yakni apa yang digambarkan dalam pemikiran Islam telah menunjukkan hakikat fitrah manusia itu sendiri.

—4. Keluarga dan pernikahan meliputi kewajiban dan hak anggota keluarga, konsep pencegahan masalah serta terapi jika terjadi maslah di dalam keluarga.
Hakikat Manusia dalam Islam
1.Manusia diciptakan dengan tujuan yang mulia yakni beribadah kepadaNya
(QS Adz-Dzaariyaat: 56).
2.Sifat dasar manusia adalah baik.
3.Manusia makhluk ciptaan Allah yang mulia dan terbaik (QS Al-Israa’: 70).
4.Manusia penuh dengan kesadaran dan tanggung jawab serta bisa membedakan yang baik dan buruk.
5.Manusia memiliki titik lemah dalam dirinya yakni hawa nafsu.

6. Memiliki motivasi kuat dan potensi besar mampu mengendalikan perilaku.

7. Jiwa manusia terbagi dalam 3 keadaan yakni :

a. Jiwa yang cenderung kepada keburukan karena dikuasai oleh hawa nafsu akan duniawi (QS Yusuf: 53).

b.  Jiwa yang  menyesali diri yakni menyesali kesalahan yang diperbuat tetapi masih mudah tergoda dunia (QS Al-Qiyaamah: 1-2).

c. Jiwa yang tenang yang mencapai kematangan, syukur & sabar , serasi dunia-akhirat (QS Al-Fajr : 27-30).

8. Setiap waktu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.

Aspek-aspek Konseling dalam Islam

1. Aspek Preventif

Penjagaan individu dari guncangan jiwa dan membentengi dari penyimpangan. (QS Al-Bayyinah: 5, An-Nuur: 30)

2. Aspek Perkembangan

Pembentukan kepribadian muslim yang optimis, mengenli potensi serta produktif. (QS An-Nisaa: 58)

3. Aspek Terapi

Pembebasan individu dari kegelisahannya dan membantu memecahkan masalahnya.

Metode Konseling dalam Islam

1. Metode Keteladanan

Yakni meneladani Rasulullah SAW. (QS Al-Ahzab: 21; Al-Maidah: 31)

2. Metode Penyadaran

Menggunakan ungkapan nasihat, janji & ancaman. (Al-Hajj: 1-2)

3. Metode Penalaran Logis

Dialog dengan akal dan perasaan individu. (Al-Hujuraat : 12)

4. Metode Kisah

Kisah nabi, rasul dan orang-orang shalih yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

Proses Konseling

1.Membangun hubungan yang kuat dan baik didasari sikap saling menghargai, membuka diri dan saling percaya antara konselor dan klien.
2.Konselor membantu klien dalam mengenali permasalahan yang sedang dihadapi klien dan menelaah pemikiran klien dala menyikapi masalahnya, hingga klien menyadari hal tersebut.
3.Menawarkan taubat.
4.Mengingatkan akan eksistensi, tujuan  hidup di dunia hingga kembali kepada Islam.
Cara Berbicara dengan Klien
—Berdasarkan contoh Rasulullah SAW :
1.Sitstematis agar pendengar fokus pada topik pembicaraan.
2.Hati-hati agar pendengar dapat memahami isi dan jalan pikiran pembicara secara berkesinambungan dan mengurangi lupa.
3.Mudah dipahami oleh pendengar (dari berbagai kalangan).
4.Mengulanginya 3 kali agar membekas dalam hati dan pikiran.
Sumber

Az-Zahrani, Musfir bin Said. (2005). Konseling Terapi. Penerjemah, Sari Nurulita, Lc. Dan Miftahul Jannah, Lc. ; penyunting, Harlis Kurniawan – Cet.1. Jakarta : Gema Insani Press.

Erhamwilda. (2009). Konseling Islami. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Konseling Religi. Volume 1, Nomor 02, Juli-Desember 2009. Jurusan Dakhwah Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam . Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.

Hubungan Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan Ilmu Lainnya

 

1.  Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi.

Sosiologi merupakan salah satu ilmu sosial yang banyak mempengaruhi perkembangan disiplin pekerjaan sosial secara lebih khusus, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial secara lebih umum. Perspektif-perspektif sosiologi makro dan mikro mempunyai pengaruh dalam perkembangan kerangka berpikir tentang pemahaman dinamika masyarakat dan perubahan sosial.

Salah satu sumbangan dari disiplin sosiologi pada Ilmu Kesejahteraan Sosial antara lain dalam kaitan dengan pemahaman keteraturan sosial dan norma sosial. Dalam suatu masyarakat terdapat norma sosial yang membuat keteraturan sosial di masyarakat tersebut. Akan tetapi bentu norma sosial dan keteraturan sosial pada setiap daerah atau komunitas belum tentu sama. Sehingga seorang agen perubah harus memahami norma sosial dan keteraturan sosial pada suatu daerah.

Selain bahasan tentang norma sosial dan keteraturan sosial, bahasan sosiologi lainnya seperti, stratifikasi sosial, kelas sosial, gejala sosial, fakta sosial, dan peran sosial, merupakan pengayaan kerangka berpikir ilmuwan dan praktisi kesejahteraan sosial, terutama untuk memahami dan menghadapi kondisi yang tedapat di masyarakat.

Disamping itu, sumbangan Sosiologi yang lain adalah dalam aspek metodologi, khususnya dalam penelitian. Baik pendekatan kuantitatif, maupun pendekatan kualitatif.yang merupakan pengaruh Antropologi  terhadap Sosiologi yang bermanfaat untuk memahami suatu fenomena di dalam masyarakat.

2.  Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Antropologi.

Perbedaan budaya adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi praktisi kesejahteraan sosial. Karena itu praktisi kesejahteraan sosial harus memperhatikan aspek budaya agar tidak terjadi benturan budaya yang bisa menghambat relasi antara agen perubah dengan komunitas sasaran.

Setiap agen perubah biasanya akan bertemu dengan berbagai macam budaya yang ad di mayarakat. Disinilah pemahaman tentang kepekaan budaya (cultural sensitivity) akan memainkan peranan penting dalam suatu perubahan sosial terencana. Konsep tentang kepekaan budaya nini dirasakan sangat penting, terutama bila interaksi yang terjadi melibatkan beberapa budaya yang berbeda. Dalam hal ini, disiplin Antropologi memberikan sumbangan yang berarti bagi para praktisi kesejahteraan sosial.

Salah satu sumbangan disiplin Antropologi adalah dalam metode intervensi. Sumbangan tersebut adalah dalam melakukan assessment kondisi masyarakat melalui pendekatan participatory rural appraisal (PRA). PRA merupakan salah satu pendekatan untuk melakukan pengkajian dan perencanaan secara partisipatoris, sangat banyak dipengaruhi oleh pendekatan naturalistik – humanistik. Pada dasarnya PRA menggali informasi dan mengembangkan program dari, bersama dan unuk masyarakat. Dalam kaitan dengan PRA, disiplin Antropologi tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh disiplin Sosiologi.

3.  Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Hukum.

Ilmu Hukum merupakan salah satu ilmu yang membahas bagaimana membentuk suatu kebiasaan masyarakatmenjadi suatu hukum tertulis. Dalam masyarakat yang semakin kompleks, hukum tertulis memainkan peranan pentingdalam menjaga keadilan an keteraturan sosial.Hukum tertulis diperlukan antara lain bagi agen perubah, terutama dalam kaitan dengan upaya pencarian keadilan ataupun upaya mengatasi konflik yang terjadi di dalam masyarakat.

Juga dengan kasus jaminan sosial bagi masyarakat, praktisi diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan sistem jaminan sosial, tetapi juga memahami proses pembuatan undang-undangdan aturan hukum yang berlaku. Sehingga jaminan sosial dapat berjalan dengan sebaok mungkin dengan adanya aturan tentan jaminan sosial.

4. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Politik.

Keterkaitan Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Politik pada umumnya dapat terlihat pada bahasan Ilmu Kesejahteraan Sosial di level makro, seperti dalam kaitan kebijakan sosial dan model negara kesejahteraan ataupun sistem kesejahteraan yang akan digunakan.

Diskusi tentang peran negara dalam menciptakan kesejahteraan tentu tidak dapat dilepaskan dari aspek politik. Masukan dari disiplin Ilmu Politik, bersama bidang ilmu lainnya akan dapat memperluas wawasan agen perubah yang terjun dalam bidang ini. Seorang praktisi yang kesejahteraan sosial yang ingin bergelut di bidang politik diharapkan mampu memahami dinamika sosio-politik dan ekonomi politik dari isu yang sedana ataupun akan mereka bahas.

Pembahasan tetang negara kesejahteraan sosial merupakan bagian dari peran Ilmu Politik terhadap Ilmu kesejahteraan Sosial, dan bagaimana Ilmu Kesejahteraan Sosial mengadopsi pemikiran yang ada dan mengadaptasikannya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

5. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Ekonomi dan Manajemen.

Disiplin Ekonomi dan Manajemen pada umumnya mempengaruhi perkembangan Ilmu Kesejahteraan Sosial di level makro dan mezzo. Pada level makro, pengaruh Ilmu Ekonomi terkait dengan pengembangan kebijakan sosial dan aspek ekonomi dari kebijakan tersebut, termasuk kebijakan penataan dan pengembangan usaha kecil menengah. Pada level mezzo, aspek praktis manajerial usaha ekonomi kecil dan menengah serta bagaimana memperkuat usaha ekonomi kecil dan menengah di level komunitas.

Dalam pengentasan kemiskinan, penguatan usaha informal menjadi salah satu fokus usaha. Sumbangan Ilmu ekonomi dan Manajemen dalam hal ini adalah kerangka berpikir pengembangan usaha kecil dan informal, yang sangat membantu praktisi kesejahteraan sosial dalam melakukan kegiatan pemberdayaan ekonomi.

6. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Psikologi.

Disiplin Psikologi merupakan disiplin yang paling awal mempunyai ketrkaitan dengan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Sumbangan Psikologi tidak hanya pada askpek kerangka berpikir, tetapi juga pada aspek metodologi. Beberapa sumbangan Psikologi antara lain:

  1. Memberikan dasar keterampilan untuk menjalin hubungan dengan kelompok sasaran, baik pada level individu, keluarga maupun kelompok.
  2. Memberikan pemahaman tentang keterkaitan antara aspek dan dinamika kejiwaan dengan perilaku seseorang.
  3. Memberikan pemahaman tentang tugas-tugas perkembangan indicidu, keluarga dan kelompok yang nantinya dapat dimanfaatkan baik untuk intervensi mikro maupun makro.
  4. Memberikan dasar pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan intervensi di level mikro (individu, keluarga dan kelompok), terutama dalam melakukan engagement, assessment, dan melakukan terapi.

Sebagai contoh Psikologi memberikan sumbangannya bagi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Richmond (1917), dan Roberts dan Nee (1970) memanfaatkan teori-teori psikologi dalam kaitan dengan model intervensisocial casework. Pengaruh psikoanalis (psikodinamis) dan psikososial sangat tersa pada metode social casework, yang melakukan intervensi lebih kepada individu dan keluarga.

Payne melihat bahwa dua gagasan dasar yang diserap dari perspektif psikoanalis dan psikodinamis yaitu

  1. Deteminisme kejiwaan prinsip bahwa tindakan ataupun perilaku seseorang biasanya muncul karena pikiran seseorang dan bukan muncul begitu saja tanpa ada alasan tertentu (just happening).
  2. Alam bawah sadar gagasan tentang berbagai macam pemikiran dan aktivitas kejiwaan berada pada tempat yang tersembunyi dari pengetahuan kita.

 

Sumber :

Pekerja Sosial Indonesia, kemana arah perjuanganmu…??!

 Saat ini Indonesia sedang membutuhkan uluran tangan setiap komponen bangsa untuk turut berkontribusi, membenahi berbagai persoalan dan mengembalikan tujuan pembangunan yang sesungguhnya untuk kesejahteraan rakyat. Mungkin dalam setiap benak kita ada keraguan, mana mungkin PEKERJA SOSIAL turut berkontribusi, sementara dirinya masih disibukan oleh urusan “eksistensi” dan sibuk dengan persoalan sendiri yang belum selesai.

Benar!! mari kita akui saja bahwa PEKERJA SOSIAL memang memiliki sejumlah persoalan mendasar untuk membangun PROFESI ini sejajar dengan profesi lain di Indonesia. Namun satu hal yang harus kita yakini, kita menginginkan sekali agar profesi ini MAJU. Dan PERUBAHAN itu hanya mungkin terjadi bila kita ambil bagian SEKARANG juga!

Sementara kita masih merenung, sebentar lagi PERMENSOS No.107 dan 108 UU Kesejahteraan Sosial No.11 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Profesi Pekerjaan Sosial akan segera dilaksanakan. Tidak banyak waktu lagi, kita harus ambil bagian segera, atau MASA DEPAN PEKERJA SOSIAL ditentukan oleh orang lain.

Bagaimana kita ambil bagian untuk menentukan MASA DEPAN kita sendiri? KONGRES IKATAN PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL INDONESIA (IPSPI) 2010 adalah pintu gerbang bagi kawan-kawan semua untuk menyuarakan aspirasi, membagi gagasan, dan ambil bagian dalam PERUBAHAN.

Setiap anda yang pernah menempuh Pendidikan Pekerjaan Sosial memiliki HAK dan kesempatan yang sama untuk membentuk Asosiasi Profesi Pekerjaan Sosial. Jadi tunggu apa lagi. Ikut Kongres dan MENENTUKAN masa depan sendiri atau menonton dan Masa Depan anda ditentukan orang lain.

WAKTU dan TEMPAT KONGRES: ===================

Waktu : 19 – 20 FEBRUARI 2010 T

empat : Hotel Atlet Century Park Jakarta, Jl. Pintu Satu Senayan Jakarta Selatan

SIAPA PESERTA KONGRES: ================

a. Semua lulusan Perguruan Tinggi Jurusan Kesejahteraan Sosial atau Pekerjaan Sosial (D4, S1, S2, S3)

b. Setiap peserta memiliki hak untuk dipilih dan memilih pengurus

c. Mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial dapat mendaftarkan diri mengikuti kongres hanya sebagai peninjau

AKOMODASI: ========

a. Selama Kongres konsumsi panitia akan ditanggung oleh panitia

b. Bagi peserta dari luar Jabodetabek akan disediakan penginapan

c. Transportasi ditanggung oleh peserta

BAGAIMANA CARA MENDAFTAR: ====================

Anda dapat mendaftarkan diri untuk berpartisipasi dalam kongres melalui

EMAIL: 1. awisben@yahoo.com

2. nmelati@socialworkers.or.id

3. nurul_eh@yahoo.com

atau melalui TELP ke (021-5480212)

atau melalui SMS ke nomor 0812-8635574 atau 0815-11688697 atau 0857-14838373

Salam, Panitia Kongres IPSPI 2010

———————————————-

Sumber

http://www.facebook.com/group.php?gid=97059793079&v=info#/topic.php?uid=97059793079&topic=14888

Post #1Apple Melati wroteon January 28, 2010 at 12:27am 

Silahkan join group Pusat Praktek Pekerjaan Sosial di Facebook

Modal Spiritual vs Kemiskinan Kultural

 

 Di dunia ini, sudah sunatullahnya terdapat hal-hal yang bertolak belakang. Siang dan malam, kebaikan dan keburukan, keberhasilan dan kegagalan, juga kaya dan miskin. Kemiskinan itu sendiri merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dinilai sebagai suatu hal yang harus diberantas hingga hilang dari permukaan bumi. Namun, permasalahan timbul akibat jurang yang lebar antara kaya dan miskin sehingga lahirlah permasalahan sosial lainnya yang lebih kompleks seperti kriminalitas, prostitusi, kekerasan terhadap perempuan dan anak, masalah kesehatan dan pendidikan dsb. Karena itu, untuk menangani permasalahan tersebut, dibutuhkan analisis yang tajam serta penangangan secara komprehensif dan berkesinambungan oleh seluruh pihak yang terkait dengan hal ini. Berdasarkan hasil survei BPS Maret 2009, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia pada Bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta (14,15 persen). ( http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul09.pdf)

Baca lebih lanjut

Sekilas Pekerja sosial …

Oleh: mohammadafandi | Maret 18, 2009

Pengetahuan pekerjaan sosial.

Kerangka pengetahuan (body of knowledge) pekerjaan sosial yaitu suatu kerangka pengetahuan yang berisi, berasal dari atau diramu dari konsep konsep ilmu perilaku dan ilmu-ilmu sosial. Materi materi pengetahuan yang diramu tersebut dibentuk atau dikonstelasikan secara elektik dan dikembangkan melalui penelitian dan praktek sehingga benar benar memiliki keunikan. Oleh sebab itu pengetahuan ilmiah pekerjaan sosial meiliki ciri ciri, pluralistik-eclectic dan applied. (Suradi, Epi S. Dan Bambang.2005.)

Berbagai macam pengelompokan pengetahuan ilmiah pekerjaan sosial banyak dikemukakan para ahli, salah satunya menurut pendapat Charles Zastrow dalam Standar Kompetensi pekerjaan sosial mengemukakan sebagai berikut:

1. Pengetahuan pekerjaan sosial yang umum (General social work knowledge) yang mencakup:

a. Pelayanan sosial dan kebijakan sosial (social policy dan services)

b. Tingkah laku manusia dan lingkungan sosialnya (human behavior and the social environment)

c. Metoda praktek pekerjaan sosial (methods of social work practice)

2. Pengetahuan tentang bidang praktek tertentu (knowledge about a specific practice field)

3. Pengetahuan tentang badan-badan sosial tertentu (knowledge about a specific agency)

4. Pengetahuan tentang klien (Knowledge about each client).

  Baca lebih lanjut

Kesejahteraan Sosial, Sebuah Refleksi

 Help People to Help Themelves by Head, Hands and Heart… 

Sebaris kalimat yang bukan hanya slogan belaka, melainkan atas dasar keyakinan dan kemauan yang kuat menolong sesama. Semakin lama mempelajari ilmu Kessos, semakin merasa tepat berada di sini dan mengerti akan urgensi seorang muslim mempelajari, menguasai, dan terjun di bidang ini. Ilmu tentang empowering, ilmu dunia-akhirat kata seorang teman (amiin). Profesi Pekerja Sosial Profesional atau biasa disebut Pekerja Sosial (PS) memang belum lazim di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Namun, melihat kondisi rakyat (baca: ummat) yang sedemikian memprihatinkan, memang dibutuhkan para prakstisi yang mampu mengayomi dan terjun langsung ke masyarakat (tataran akar-rumput) dengan memegang nilai-nilai yang benar (kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran hakiki, bukan kebenaran relatif).

Memang, mahasiswa S1 Kessos belum dididik menjadi ahli dalam suatu bidang. Kami diarahkan untuk menjadi Generalist Practitioner yang menguasai berbagai bidang serta mampu membumikan (menerapkan) ilmu yang kami dapat secara konkret hingga kami dapat menentukan fokus yang kami minati nanti. Hal ini bukan mendangkalkan perspektif ilmu Kessos itu sendiri, melainkan menanamkan bahwa masalah sosial itu hendaknya dilihat secara utuh dari berbagai aspek (mikro, mezzo, makro) karena untuk mengatasinya, diperlukan keterlibatan kerjasama dari segenap elemen di dalam lingkup tersebut.  Di samping itu, kami memang lebih berpegang pada paradigma bottom up ketimbang top down seperti yang saya sebutkan di awal mengenai empowering (pemberdayaan) yang melepaskan seseorang dari keadaan disfungsi menjadi berfungsi kembali.

Baca lebih lanjut

Pengembangan TKSM Sebagai Pilar Pembangunan Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial adalah tujuan, bidang, sekaligus arena di mana TKSM (Tenaga kesejahteraan Sosial Masyarakat) berkiprah. Karenanya, usaha pertama untuk mengembangkan TKSM sebagai pilar Pembangunan Kesejahteraan Sosial (PKS) adalah memperkokoh pemahaman mengenai konsep kesejahteraan sosial. Pengembangan TKSM harus mengacu pada makna sejati kesejahteraan sosial — termasuk di dalamnya pekerjaan sosial, sesuai dengan khitah, prinsip, dan landasan konseptualnya. Setelah membahas secara ringkas wacana kesejahteraan sosial, makalah ini mendiskusikan ruang lingkup PKS dan karakteristik TKSM. Naskah ini kemudian membahas tantangan dalam pelatihan TKM dan diakhiri dengan rekomendasi mengenai roadmap (peta-jalan) dan model pengembangan TKSM yang bisa diterapkan di Indonesia.

 

<Disampaikan oleh Edi Suharto, PhD pada Seminar Sehari Pengembangan Diklat TKSM, BBPPKS Yogyakarta, 5 Desember 2006.>

 

versi lengkap . . .