Baca yuk!

Ini hari kedua ibu dan ayah bacain buku cerita buat Nuun. Sebelumnya​, saat tilawah ibu suka buka mushafnya di sebelah Nuun, jadi bisa sama-sama ngelihat Qur’annya.
Bagaimana responnya? Masya Allah anak ini antusias! Tahunya gimana? Ada kali ya doi konsen ndengerin dan natap bukunya selama 5 menit, keseling lirak-lirik ke arah lain sejenak lalu balik lagi ke buku (yaiyalah secara bukunya gede membentang di depannya 😁). Ekspresinya benar-benar mendengarkan dengan seksama. Sesekali tersenyum atau mengernyitkan dahi kayak mikir gitu, lucu deh 😋. Begitu juga saat berinteraksi dengan al-Qur’an.
Alhamdulillah, buku bergambar setebal 33 halaman itu selesai dibacakan dalam 2 sesi. Yang pertama, sebelum tidur tadi malam lalu tadi siang setelah bangun tidur.
Emang doi ngerti gitu? Ya, ibu selalu percaya bahwa di usia berapa pun, anak-anak itu punya fitrah belajar. Membacakan cerita itu aktivitas yang bisa menyalurkan energi positif untuk yang mendengarkan maupun yang menceritakan lho. Intonasi, ekspresi, dan gestur yang dimainkan pasti bisa ditangkap oleh bayi, sekali pun ia belum mengerti kata. Selain itu, kita bisa sambil membelai atau mencium kepalanya, mencolek hidung atau pipinya. Menjadikan aktivitas ini penuh kasih sayang.
Saat membacakan cerita, tunjukkanlah semangat. Deskripsikan semua yang bisa diindera anak seperti gambar, warna, bentuk, tekstur dsb, berimprovisasilah. Hitung benda yang bisa dihitung. Ubah intonasi sesuai karakter tokoh, sesekali peragakan apa yang dilakukan oleh tokoh. Tanya pendapat anak tentang apa pun yang ia indera atau cerita yang mungkin terjadi selanjutnya. Kita bisa juga mengaitkan apa yang dilakukan tokoh dengan kebiasaan anak kita. Misalnya, di buku Berilah Senyumanmu ini, Tariq dan Zainab sedang belajar hadits senyum itu ibadah. Ibu bilang ke Nuun, “Wah, seperti Nuun ya, ramah, suka tersenyum.” Banyak yang bisa dieksplor. Pokoknya asyik deh aktivitas yang satu ini. Apalagi dilakukan bersama yang terkasih dengan perhatian penuh. Citra tentang membaca in syaa Allah terbangun dengan kebahagiaan.
Hasilnya? Ya belum kelihatan lah, wong baru 2 hari 😁. Setiap amal butuh proses jadi nikmatin aja sambil berdoa yang terbaik. Semoga aktivitas ini menjadi pembuka pintu ilmu dan manfaat seluas-luasnya bagi anak dan dunia kelak. Terutama tuk meraih ridhaNya.
Tentang manfaat membacakan cerita atau dongeng bisa dengan mudah kok kita cari di jagat maya. Pengalaman sendiri, membaca itu selain memperluas wawasan juga mendayakan akal dan rasa sehingga memunculkan ide-ide kreatif, memperkaya bahasa untuk bercakap maupun nulis, menajamkan logika sekaligus mengasah empati, melatih pemecahan masalah, juga (berdampingan dengan pengalaman) membentuk paradigma yang arif tentang kehidupan. Banyak lagi deh manfaat yang didapat jika kelak anak kita suka membaca. Hubungan kita dengan anak pun jadi semakin erat. Apalagi kalau bisa dan gemar membacanya karena kita. Duh itu sedapnya tabungan pahala nggak putus-putus deh in syaa Allah.
Oya, ingat juga wahyu pertama yang turun kan tentang membaca ya? Membaca karenaNya. Mempelajari dan merenungkan ayat ini pasti akan menghadirkan kebaikan tersendiri.

Jadi, yuk ah kita mulai berbagi cinta lewat membaca 😘
#membacakarenaNya

#storytelling

#tamankhatulistiwa

#bacaituasyik

#gemarbacasejakdini

#predatorbuku

#bayidemenbaca

#banyakajetagarnye😬

​Berbahagialah Bu


“Menjadi seorang ibu itu lompatannya besar. Jauh lebih dari saat menikah. Dunia serasa berubah. Itu yang kurasa.” Ujarku kepada seorang kawan.

Tak pernah kubayangkan ada sensasi sedemikian ketika ada sesosok manusia tumbuh di dalam diriku. Yang menyatu, bergantung padaku dengan izinNya. Jantungnya berdetak seiring jantungku. Rasaku adalah rasanya. Hidupku adalah hidupnya. Hingga kami bertemu saat ia keluar dari tubuhku. Menangis keras menyongsong dunia. Lamat-lamat kulantunkan adzan pada pertemuan pertama kami yang amat singkat itu. Saat itu, hatiku kian tertambat padanya. Nuun Khairana Khatulistiwa.
Menjadi seorang ibu. Tidak hanya sekedar mengubah status dan rutinitas. Jelas berkurang waktu tidurku. Tapi bukan itu. Ada yang berubah tentang dunia. Padahal jutaan wanita mengalaminya. 

Ada khawatir yang lebih dari biasanya. 

Ada rindu yang lebih dari biasanya.

Ada syukur yang lebih dari biasanya.

Ada cinta.

Ada banyak lagi yang tak terlukis kata.

Rasanya ingin berkata pada dunia, “Hei, aku jadi seorang ibu!”
Menjadi seorang ibu membuatku semakin haus ilmu. Bagaimana tidak? Apa-apa tentang manusia baru yang tadinya hanya menjadi perhatian sekilas, kini menjadi prioritas. Setiap perubahan selalu menuntunku belajar. Ini lebih dari sekedar beradaptasi dengan luka bekas operasi, batuk-batuk, puting lecet, payudara bengkak, badan nyeri pegal lelah, baju selalu basah di pekan-pekan pertama. Kini ada seorang manusia yang hidupnya bersandar kepadaku dengan izinNya. Yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, kebijaksanaan, kebanggaan, ketulusan, penerimaanku sebagai seorang ibu. Yang masa depannya menjadi tanggung jawabku. Yang akhiratku diperjuangkan melalui hidupnya.
Menjadi seorang ibu membuatku semakin sering merenung. Tentang berbagai peran amanahku, baik di ranah publik maupun domestik. Tentang pertanggung jawabannya kelak di hadapNya. Tentang hisab. Tentang kematian. Aku semakin memperhitungkan tiap amanah publik yang kan kuambil. Bagaimana niatku? Apakah murni untuk menjadi manusia bermanfaat atau masih tergoda dengan kosmetik fana berupa harta, tahta dan pandangan mata? Dalam sujud kupanjatkan doa, memohon petunjuk dan penguatan akan tiap pilihan. Bukan tak pernah aku merasa lelah, jenuh, malas, minder, lemah, diabaikan, tak berdaya. Terjebak media sosial yang hanya menunjukkan hal-hal ideal. Jadi baper, lupa bersyukur. Padahal jika sedikit lebih arif, dengan iman di dada, aku masih jauh lebih beruntung dari banyak insan di luar sana. Ada kalanya ingin keluar, menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Tapi untuk apa? Apakah yang kudapat sebanding dengan apa yang kutinggal? Sedangkan Rabbku telah menitipkan sebuah amanah besar yang adalah bagian dari diriku sendiri. Yang hidupnya berasal dari hidupku.
Lantas, sebuah tulisan menyentuhku. Tulisan yang kurang lebih sama dengan tulisan-tulisan lain tentang peran ibu tetapi ada rasa berbeda yang Ia hadirkan. “Pulanglah ke rumah wahai Ibu”, begitu kira-kira intinya. Tentang pentingnya rasa bangga menjadi seorang ibu. Yang lahir dari paradigma tentang makna seorang ibu bagi buah hatinya, bagi peradaban. Yang meskipun hampir tak kurasa ketika meraba masa lalu. Yang semakin kumaknai seiring waktu. Aku bertekad hendak menjadi ibu sejati. Itulah sebab kelak aku ingin dipanggil “ibu” oleh buah hatiku.
Pun, aku teringat cerita salah seorang ibu. Beliau seorang konsultan pendidikan. Yang baru menikah dan langsung dikaruniai beberapa orang anak dari pernikahan suaminya dengan mendiang istri sebelumnya. Dengan jam terbang tinggi dalam dunia pendidikan, dirasanya masih tak sebanding dengan mengasuh anak. Begitu besarnya pengorbanan ibu rumah tangga. Bahkan lebih dari ibu bekerja. Ibu rumah tangga belum tentu mendapatkan apresiasi layaknya ibu bekerja. Selain itu risiko ibu bekerja adalah interaksinya dengan pria yang bisa jadi bencana. Begitu hemat beliau. 
Aku sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pilihan yang diambil para ibu yang memutuskan keluar rumah dengan menyadari berbagai konsekuensinya. Apalagi jika “kondisi”mengharuskan ia untuk mengorbankan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dengan berbagai tantangan zaman yang sayangnya semakin tak ramah bagi makhluk bernama wanita. Bagi eksistensi sebuah keluarga yang sesuai dengan fitrah. Begitu pula para wanita yang sudah menemukan jalannya tuk berkontribusi bagi dunia karenaNya. Sekali lagi, bagiku niat itu amat penting.

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan bagi para ibu di mana pun yang tengah memperjuangkan makna ibu itu sendiri.
Hanya soal waktu hingga kamu bisa berdaya kembali bagi ummat. Yang penting terus bergerak. Lakukan yang bisa dilakukan meski kecil. Karena peradaban dibangun oleh jiwa-jiwa yang besar bentukan wanita (ibu dan istri) yang bervisi besar lagi berkorban besar. 

“Bukan dari ibu yang “nguplek di dapur aja”, maka untuk saat ini nikmatilah masa-masa bersama anakmu.” Begitu kira-kira nasihat seorang saudari ketika aku curhat. Ya, kita berhak bahagia dengan apa pun kondisi kita dan buah hati kita pun berhak dirawat oleh ibu yang bahagia 🙂
Nak, terimakasih telah hadir dan mewarnai hidup ibu. Mengajarkan ibu banyak hal. Ibu menyayangimu karenaNya.

Dan untukmu para ibu, berbahagialah, bersyukurlah, karena Sang Maha memuliakanmu dengan memperkenankan surga di bawah telapak kakimu.
Sumber gambar

Nuun Khairana Khatulistiwa


Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Oishii! =3

Oishii (Bahasa Jepang) = enak

Ngubek-ngubek file-file lama nemuin koleksi foto kuliner jaman dulu (jeile berasa lama amat gitu 😀 ), jadi termotivasi untuk membuat kreasi masakan lagi nih! (secara abis ngajar penginnya langsung bobo –“) sumangaika! (semangat karena Alloh logat minang :p)

aseli ya, ngeliat mode slide show itu amazed banget dirikuw! >_<

jadi makin semangat posting foto-foto!

http://sketsakita.wordpress.com/2012/05/30/oishii-3/

Peran Muslimah dalam Tradisi Keilmuan Islam (revisi)

Suatu malam mengikuti diskusi Lentera 20 di PPSDMS yang mendatangkan narasumber Dr. Adian Husaini. meskipun saat itu topiknya mengenai Gerakan Islam, saya menangkap hal menarik tentang peran muslimah di sana pun ditambah dengan perenungan akan kodrat wanita sebagai istri dan ibu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, baik muslim maupun muslimah tidak dibeda-bedakan karena sala satu kewajiban muslim adalah menuntut ilmu. ilmu yang bagaimana? ada 2 kategori ilmu dalam Islam yakni yang fardhu ‘ain (setiap orang harus pelajari) seperti tauhid, ushul fiqh, nahwu-sharf, dsb juga fardhu kifayah (sejumlah orang hingga mencukupi untuk menebarkan kebaikannya) seperti sains, kesehatan, dan sosial humaniora.

Seringkali terdapat pemikiran destruktif bahwa kaum muslimah tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi apalagi yang sudah menikah dan hanya mengambil tugas di ranah domestik padahal anggapan ini salah. Pertama, karena ada penyempitan makna dari pendidikan atau ilmu sendiri padahal sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat dan sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain sesuai hadits nabi. Maka dari itu, ketika memutuskan membina sebuah keluarga, sebenarnya peran seorang muslimah kian bertambah dan ini membutuhkan ketinggian ilmu agar dapat memberikan manfaat besar bagi sekitarnya maupun dirinya sendiri (kompetensi dan kapasitasnya).

Seorang ibu adalah koki, ahli gizi, dokter, psikolog, guru dan ulama sekaligus — selain sebagai manajer keuangan, Pengembangan SDM, humas, ahli kecantikan, event organizer saat ia memutuskan untuk menyempurnakan setengah agamanya. Hal ini tentu sebagai upaya untuk menyejahterakan keluarganya baik kebutuhan bilologis maupun psikologisnya.

Pertama, sebagai koki dan ahli gizi, ibu menjamin gizi keluarganya dengan menyediakan makanan dan minuman yang halal dan baik untuk dikonsumsi serta keterampilan menyajikan santapan yang mengundang selera. Ini pun sangat terkait dengan peran ulama yang paham tentang rizki yang halal dan pengaruhnya bagi keluarga. Sebagai dokter dan psikolog, ibu memahami tumbuh kembang anak, cara menangani ‘luka’ yang dialami oleh anggota keluarga baik secara fisik maupun psikis sehingga penanganannya pas serta tidak berlebihan maupun terkesan mengabaikan.

Sebagai guru dan ulama, ibu memiliki peran sebagai Al-Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Peran ini membutuhkan kapasitas ilmu yang memadai seperti yang Pak Munif Chatib tuturkan dalam buku Orangtuanya Manusia yakni mengokohkan alasan mengapa anak harus belajar (niat atau motivasinya karena Alloh SWT). Bagaimana proses belajar yang efektif dan menyenangkan. Ini terkait dengan gaya belajar anak, kecerdasan majemuknya (multiple intelligences). Juga hasil dari proses belajar anak yakni perubahan perilaku, pola pikir juga membangun konsep baru dari aktivitas belajarnya. Selain itu, yang paling penting adalah menjadi pintu pertama bagi anak dalam mengenal Penciptanya.

Akan tetapi, kendala muslimah biasanya terkait dengan kodratnya sendiri untuk melahirkan, menyusui, dsb sehingga waktu untuk menuntut ilmu tidaklah seluang para kaum adam. Maka dari itu, sebagai muslim (baca: suami & ayah) yang bijak, harus menjadi corong ilmu dan saling berbagi ilmu dengan istrinya semisal sering melakukan diskusi keilmuan di sela waktu keluarga. Selain itu, terinspirasi dari http://keluargahanif.blogspot.com/2011/03/emang-gampang-jadi-suami.html), seorang istri tidaklah wajib dibebankan seluruh tugas mengurus rumah tangga dari pagi hingga pagi lagi karena tugas utama istri adalah melayani suami dan mendidik anak sehingga ia memiliki waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu terkait serta memberikan manfaat bagi masyarakatnya sebagai ikhtiar membangun peradaban terbaik bagi anak-cucunya kelak.

waLlahua’lam bish shawab

Dunia butuh sosiolog muslimah

Dunia butuh dokter-dokter muslimah

Dunia butuh pakar fiqh  muslimah

Dunia butuh para al ummu madrasah yang melahirkan para mujahid Islam

Dunia butuh kita wahai para muslimah!

Bangkitlah! dan tunjukkan bahwa dengan hijab yang Allah muliakan dirimu dengannya, engkau dapat menyuburkan bumi Allah ini.

ALLAHU AKBAR!

inspired by here

-SketsaKita-

Singgang

Makanan apa tuh singgang? Tanpa bermaksud bercanda, singgang itu memang nama makanan. Mau coba rasanya? Yuk, ikut resep di bawah ini! (lagi2 made in mertua… ^^)

 

Untuk 4 orang

Bahan-bahannya :

– daging / ayam / ikan

– 6 siung bawang merah

– 3 siung bawang putih

– 4 buah cabai merah

– 1 ruas ibu jari lengkuas / laos

– 1 ruas ibu jari jahe

– 2 ruas ibu jari kunyit

– 3 lembar daun salam

– 1 batang sereh

– garam dan gula masing2 1/2 sdt

– asam jawa / belimbing wuluh 5 buah

– air 3 gelas

 

Cara Membuat

– daging/ ayam/ ikan dibersihkan

– bawang merah, bawang putih, cabai merah, lengkuas, jahe, kunyit, sereh disangrai kemudian dikeprek semua

– masak air 3 gelas sampai mendidih, masukan bumbu2 yang sudah dikeprek ke air mendidih, masukan daging/ ayam/ ikan, diamkan 10 menit, angkat. 

Hidangkan dengan cinta,,, biarkan ia meresap ke tiap pori makanan yang akan disantap keluarga Anda! hehe… ;9

 

 

* Makanan di dalam foto di atas, asli, bukan buatan saya!

tunggu tanggal mainnya hingga saya berhasil memasaknya 🙂