Mengapa Kita Perlu Fiqh Prioritas?

Setiap perkara mesti diletakkan di tempatnya dengan seimbang dan lurus, tidak lebih dan tidak kurang. Dasarnya adalah bahwa sesungguhnya nilai, hukum, pelaksanaan, dan pemberian beban kewajiban menururt pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Seperti dalam firman Allah,

“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah.? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum muslimin yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (at-Taubah: 19-20)

Mengapa akhirnya umat kita sekarang butuh fiqih prioritas? 

Berbagai fenomena telah membuka mata kita bagaimana timbangan prioritas tidak lagi seimbang. Penyimpangan terhadap prioritas tersebut tidak lain karena minimnya pengetahuan akan kaidah fiqih yang benar. Contoh dari penyimpangan prioritas ialah mendahulukan melakukan ibadah haji yang kedua, ketiga kalinya atau seterusnya ketimbang mengeluarkan sedekah untuk menumpas kemiskinan di lingkungan sekitar. Yang lainnya, membangun mesjid (di tempat yang sudah banyak mesjidnya) ketimbangan menyumbangkan uang tersebut untuk mengembangkan dakwah Islam, membasmi kekufuran, kemusyrikan, dan sekularisme atau mendukung kegiatan Islam padahal kita sebagai muslim, selain membangun masjid juga diperintahkan untuk memakmurkan masjid – mewarnai masjid dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat seperti belajar mengajar, tilawah dan tadabur Qur’an, diskusi ilmu pengetahuan, dsb. Ini menyangkut kewajiban yang perlu dilakukan dengan segera harus didahulukan atas kewajiban yang bisa ditangguhkan.

Contoh fenomena lain ditunjukkan oleh sebagian kaum muslimin yang masih bertengkar untuk mempertahankan diri dalam masalah-masalah juz’iyah (parsial) atau masalah-masalah khilafiyah/ furu (cabang) dan sisi lain melalaikan perjuangan Islam yang lebih besar, seperti meributkan perbedaan gerakan-gerakan shalat, hukum musik dan masalah lainnya yang menyita waktu serta lebih cenderung memecah persatuan umat dan menciptakan jurang pemisah padahal permasalahan umat yang lebih besar dan genting ada di depan mata seperti pegaulan bebas para remaja, pornografi dan pornoaksi, aliran-aliran sesat yang menjamur, fitnah yang kejam terhadap gerakan Islam, TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Churafat) dan SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Berikut ini berbagai penyimpangan prioritas yang terjadi pada masa-masa kemunduran ummat:

  1. Tidak mengindahkan fardhu-fardhu kifayah, seperti peningkatan kualitas ilmu pengetahuan, perindustrian, kepiawaian dalam perang yang bisa membuat umat lebih mandiri alias tidak tergantung pada sistem kehidupan buatan manusia seperti komunisme, kapitalisme, liberalism dsb.
  2. Mengabaikan fardhu ‘ain atau melaksanakannya tapi itidak sempurna. Seperti melaksanakan shalat dan zakat akan tetapi tidak beramar ma’ruf nahi munkar padahal ini sama-sama perintah Allah kepada lelaki dan perempuan yang beriman yang difirmankan pada ayat yang sama. (QS At-Taubah: 71)
  3. Tertumpu pada sebagian rukun Islam. Contoh, ada yang memperhatikan puasa lebih banyak daripada shalat, ada pula yang tertumpu pada shalat tapi lalai dalam zakat. Ibnu Mas’ud berkata dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, “Kita diperintahkan untuk mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Dan barang siapa yang tidak mengeluarkan zakat, maka tidak ada gunanya shalat baginya.” Isnad hadits ini shahih.
  4. Memperhatikan ibadah sunah secara lebih dibandingkan ibadah yang wajib dan fardhu seperti memperbanyak tasbih, dzikir, dan wirid tetapi meninggalkan ibadah fardhu yang bersifat sosial seperti memperlakukan kedua orang tua dengan baik, bertetangga dengan baik, mengasihi yang lemah, memelihara anak-anak yatim dan orang miskin, menyingkirkan kemungkaran dan kezaliman di bidang sosial, politik.
  5. Kecenderungan yang lebih besar pada ibadah-ibadah individual seperti shalat dan dzikir dibandingkan ibadah-ibadah sosial seperti memperbaiki jalinan silaturahim di antara manusia, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, menganjurkan kepada keadilan dan musyawarah dsb.
  6. Lebih mempedulikan masalah-masalah furu’iyah dan mengabaikan masalah pokok seperti keimanan (tauhid/aqidah), keikhlasan dalam membela diinuLlah.
  7.  Lebih sibuk memerangi masalah yang makruh dan syubhat daripada yang telah jelas hukum haramnya. Termasuk di dalamnya adalah yang lebih memperhatikan dosa-dosa kecil dan melalaikan dosa-dosa besar (peramalan, sihir, dsb)

Penyimpangan-penyimpangan tersebut berakibat pada masyarakat yang menganggap kecil hal-hal yang besar, membesar-besarkan hal kecil, mementingkan hal remeh dan meremehkan hal penting, mendahulukan perkara yang seharusnya diakhirkan dan menunda perkara yang seharusnya didahulukan, memperhatikan yang sunah tetapi mengabaikan yang fardhu, mempedulikan dosa-dosa kecil serta mengabaikan dosa-dosa besar, berjuang mati-matian untuk masalah-masalah khilafiyah tetapi tidak mengambil tindakan pada persoalan yang telah disepakati.

Semua ini membuat umat pada saat ini sangat perlu – bahkan sudah sampai pada batas darurat – terhadap pemahaman fiqh prioritas. Sudah seharusnya topik ini banyak dimunculkan dalam perbincangan, diskusi, kajian sehingga bisa diterima oleh pemikiran dan hati umat Islam agar memiliki pandangan yang jelas dan wawasan yang luas untuk melakukan perbuatan yang paling baik menurut Allah SWT dan Rasulullah saw.

Sumber :

Fiqh Prioritas oleh Dr. Yusuf Al Qardhawy

Antara Nasihat dan Fadhihah (Membuka Aib)

Oleh: Muhammad bin Ali Al-Su’wi

Sesungguhnya memberikan nasihat kepada kaum muslimin; baik berupa bimbingan kepada kebenaran yang nyata atau pun peringatan dari kebatilan dan para pelakunya, terhitung bagian dari agama.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Rasulullah saw. bersabda: “Agama adalah nasihat”, para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Rasulullah saw. bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum”. (Bukhari, Muslim dan ahli hadits lainnya)

Al-Khaththabi berkata: “Nasihat adalah sebuah kosa kata yang bersifat merangkum dan menghimpun banyak arti, maknanya adalah: mendatangkan kebaikan kepada pihak yang dinasihati”.

Tidak diragukan lagi bahwa manusia berpotensi salah dan cenderung menyimpang dari al-haq dan kebenaran. Tersebut dalam hadits:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ

“Semua anak keturunan manusia bersifat salah, dan sebaik-baik mereka yang salah adalah yang paling banyak bertaubat”. (Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Baca lebih lanjut

Mari Berdiskusi dengan Sehat! (^____^)

Kata-kata memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Entah untuk sekedar mengungkapkan gagasan atau rasa, ataupun tujuan lain yang beraneka rupa. Kata adalah milik semua, termasuk seorang muslim. Ia dapat menggunakannya pun untuk berbagai tujuan. Salah satunya adalah menyerukan kebenaran dan kebaikan menurut Al-Qur’an dan hadits. Tentunya ada bermacam cara yang dapat ditempuh untuk melakukannya, dari hal sesederhana salam hingga pidato kenegaraan. Salah satu yang berada di antaranya adalah aktivitas dua arah yang kita kenal dengan diskusi. Saya hendak memaparkan tentang “Etika Diskusi” yang merupakan terjemahan danri “Fi Ushulil Hiwaar” karya World Assembly of Moslem Youth (WAMY). Seperti judulnya, buku ini berisi hal-hal seputar diskusi, dari prinsip-prinsipnya dengan landasan syar’i yang berasal dari Al-Qur’an juga aplikasinya yang mengambil teladan dari sirah dan hadits Rasulullah saw.

Baca lebih lanjut