Hai

Pernahkah merasakan terjebak dalam kefanaan? Hampa dengan apa yang dijalani meski secara kasat mata biasa bahkan bahagia. 

Pernahkah​ merasa bahwa apa yang di hadapan Kita benar2 sulit dikendalikan? Benar2 di luar kuasa Kita. Bergerak pasti menuju kehancuran. Mudah saja orang melakukannya tanpa pertimbangan matang padahal mengerikan. Tanpa peduli konsekuensinya bagi diri apalagi orang lain. Kini apalagi di akhir nanti. Sudah coba mengingatkan? Sudah, berkali2. Hingga lelah jenuh kecewa menghantui. Hingga terkadang ingin (tanpa peduli) terseret saja dalam pusaran itu. Berkubang dalam kesenangan semu. Tapi tak bisa. Kesadaranmu sudah terlanjur bangun.
Pernahkah​ merasa dunia ini begitu memenjara? Penuh dengan kepalsuan, artifisial, yang dipaksa jejalkan dalam pikiran, laku, perasaan hingga seolah Kita membutuhkan sesuatu itu, nampak indah memikat padahal tidak! Namun, hidupmu sudah terlanjur dipenuhi olehnya. Sekitarmu memujanya, hingga sulit terlepas darinya. Upayamu mengingatkan tak dihirau. Kau mulai lelah dan muak. Bahkan terjerembab tak berdaya. Penuh gemuruh tapi tak ada yg peduli karena mereka terlena. Tergoda kemasannya. Atau mereka rasakan yang sama? Hanya sama tak berdayanya. Tak tahu harus bagaimana… Tinggal kau tergugu di sudut yang tak terjamah oleh sesiapa. Merasa aneh, anomali, asing.
Pelipurmu hanyalah keyakinan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang asing, kelak. Rehatmu bukan di sini.

Maka tegarlah. Sungguh, bersabar itu hanya sebentar hingga Ia memanggilmu. Tetaplah mengakar meski terkapar. Menapak meski terinjak. Mohon petunjuk, penguatanNya untuk tetap menyeru, mengajak, merangkul, terutama mereka yang kau ingin bahagianya kekal bersamamu. Cukupkanlah denganNya yang tak kan ingkar janji.

​Berbahagialah Bu


“Menjadi seorang ibu itu lompatannya besar. Jauh lebih dari saat menikah. Dunia serasa berubah. Itu yang kurasa.” Ujarku kepada seorang kawan.

Tak pernah kubayangkan ada sensasi sedemikian ketika ada sesosok manusia tumbuh di dalam diriku. Yang menyatu, bergantung padaku dengan izinNya. Jantungnya berdetak seiring jantungku. Rasaku adalah rasanya. Hidupku adalah hidupnya. Hingga kami bertemu saat ia keluar dari tubuhku. Menangis keras menyongsong dunia. Lamat-lamat kulantunkan adzan pada pertemuan pertama kami yang amat singkat itu. Saat itu, hatiku kian tertambat padanya. Nuun Khairana Khatulistiwa.
Menjadi seorang ibu. Tidak hanya sekedar mengubah status dan rutinitas. Jelas berkurang waktu tidurku. Tapi bukan itu. Ada yang berubah tentang dunia. Padahal jutaan wanita mengalaminya. 

Ada khawatir yang lebih dari biasanya. 

Ada rindu yang lebih dari biasanya.

Ada syukur yang lebih dari biasanya.

Ada cinta.

Ada banyak lagi yang tak terlukis kata.

Rasanya ingin berkata pada dunia, “Hei, aku jadi seorang ibu!”
Menjadi seorang ibu membuatku semakin haus ilmu. Bagaimana tidak? Apa-apa tentang manusia baru yang tadinya hanya menjadi perhatian sekilas, kini menjadi prioritas. Setiap perubahan selalu menuntunku belajar. Ini lebih dari sekedar beradaptasi dengan luka bekas operasi, batuk-batuk, puting lecet, payudara bengkak, badan nyeri pegal lelah, baju selalu basah di pekan-pekan pertama. Kini ada seorang manusia yang hidupnya bersandar kepadaku dengan izinNya. Yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, kebijaksanaan, kebanggaan, ketulusan, penerimaanku sebagai seorang ibu. Yang masa depannya menjadi tanggung jawabku. Yang akhiratku diperjuangkan melalui hidupnya.
Menjadi seorang ibu membuatku semakin sering merenung. Tentang berbagai peran amanahku, baik di ranah publik maupun domestik. Tentang pertanggung jawabannya kelak di hadapNya. Tentang hisab. Tentang kematian. Aku semakin memperhitungkan tiap amanah publik yang kan kuambil. Bagaimana niatku? Apakah murni untuk menjadi manusia bermanfaat atau masih tergoda dengan kosmetik fana berupa harta, tahta dan pandangan mata? Dalam sujud kupanjatkan doa, memohon petunjuk dan penguatan akan tiap pilihan. Bukan tak pernah aku merasa lelah, jenuh, malas, minder, lemah, diabaikan, tak berdaya. Terjebak media sosial yang hanya menunjukkan hal-hal ideal. Jadi baper, lupa bersyukur. Padahal jika sedikit lebih arif, dengan iman di dada, aku masih jauh lebih beruntung dari banyak insan di luar sana. Ada kalanya ingin keluar, menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Tapi untuk apa? Apakah yang kudapat sebanding dengan apa yang kutinggal? Sedangkan Rabbku telah menitipkan sebuah amanah besar yang adalah bagian dari diriku sendiri. Yang hidupnya berasal dari hidupku.
Lantas, sebuah tulisan menyentuhku. Tulisan yang kurang lebih sama dengan tulisan-tulisan lain tentang peran ibu tetapi ada rasa berbeda yang Ia hadirkan. “Pulanglah ke rumah wahai Ibu”, begitu kira-kira intinya. Tentang pentingnya rasa bangga menjadi seorang ibu. Yang lahir dari paradigma tentang makna seorang ibu bagi buah hatinya, bagi peradaban. Yang meskipun hampir tak kurasa ketika meraba masa lalu. Yang semakin kumaknai seiring waktu. Aku bertekad hendak menjadi ibu sejati. Itulah sebab kelak aku ingin dipanggil “ibu” oleh buah hatiku.
Pun, aku teringat cerita salah seorang ibu. Beliau seorang konsultan pendidikan. Yang baru menikah dan langsung dikaruniai beberapa orang anak dari pernikahan suaminya dengan mendiang istri sebelumnya. Dengan jam terbang tinggi dalam dunia pendidikan, dirasanya masih tak sebanding dengan mengasuh anak. Begitu besarnya pengorbanan ibu rumah tangga. Bahkan lebih dari ibu bekerja. Ibu rumah tangga belum tentu mendapatkan apresiasi layaknya ibu bekerja. Selain itu risiko ibu bekerja adalah interaksinya dengan pria yang bisa jadi bencana. Begitu hemat beliau. 
Aku sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pilihan yang diambil para ibu yang memutuskan keluar rumah dengan menyadari berbagai konsekuensinya. Apalagi jika “kondisi”mengharuskan ia untuk mengorbankan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dengan berbagai tantangan zaman yang sayangnya semakin tak ramah bagi makhluk bernama wanita. Bagi eksistensi sebuah keluarga yang sesuai dengan fitrah. Begitu pula para wanita yang sudah menemukan jalannya tuk berkontribusi bagi dunia karenaNya. Sekali lagi, bagiku niat itu amat penting.

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan bagi para ibu di mana pun yang tengah memperjuangkan makna ibu itu sendiri.
Hanya soal waktu hingga kamu bisa berdaya kembali bagi ummat. Yang penting terus bergerak. Lakukan yang bisa dilakukan meski kecil. Karena peradaban dibangun oleh jiwa-jiwa yang besar bentukan wanita (ibu dan istri) yang bervisi besar lagi berkorban besar. 

“Bukan dari ibu yang “nguplek di dapur aja”, maka untuk saat ini nikmatilah masa-masa bersama anakmu.” Begitu kira-kira nasihat seorang saudari ketika aku curhat. Ya, kita berhak bahagia dengan apa pun kondisi kita dan buah hati kita pun berhak dirawat oleh ibu yang bahagia 🙂
Nak, terimakasih telah hadir dan mewarnai hidup ibu. Mengajarkan ibu banyak hal. Ibu menyayangimu karenaNya.

Dan untukmu para ibu, berbahagialah, bersyukurlah, karena Sang Maha memuliakanmu dengan memperkenankan surga di bawah telapak kakimu.
Sumber gambar

Selamat datang

Selamat datang di dunia nyata, di mana sakit itu terasa sakit tanpa ada yang bisa menggantikannya. Bahkan, tak jarang kau harus mengesampingkan perasaan pribadimu untuk sesuatu yang lebih besar hingga menanggung tulah dari kerusakan yang diperbuat orang lain. Ditambah, Ia memberi amanah, peran, di mana kitalah yang harus memperbaiki dampak dari kerusakan itu. Ialah kenyataan bagi siapa yang mau berjuang untuk idealisme yang dicitakan. Untuk mimpi, cinta karenaNya…

Terkadang kita merasa ujian yang menghampiri begitu berat sampai pada titik kita merasa tak sanggup lagi karena perihnya begitu terasa, pun kondisinya membuat kita harus tetap “saya baik-baik saja, hidup ini indah apa pun yang terjadi”. Saat itu barulah kesadaran datang bahwa Allah-lah satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan. Yang takkan pernah mengecewakan. Yang memberikan semua kegetiran itu agar kita tetap tunduk merendah, menengadah kepadaNya. Menjauhi keangkuhan dan kawan-kawannya. Karena apalah kita jika Allah tak berkenan lagi menutup aib kita…

Apa pun yang terjadi. Betapa pun membuat muak, jijik, kecewa. Janganlah pernah lepas dari rahmat Allah. Bertahanlah dalam kendaraan besar ini. Sebobrok apa pun di dalamnya. Karena kesendirian akan menyeretmu dalam kebebasan yang semu. Karena kalau mereka yang tulus pergi dan meninggalkan mereka yang haus kepentingan, senangkah kau menunggu saat kehancurannya? Dan kabar buruknya, kau akan berjumpa lagi dengan ujian yang persis, situasi yang mirip. Tak ada tempat tuk menghindar. Hadapi atau lari. Lantas jika ujian itu berlaku di mana pun, kau hendak meninggalkan dunia karena kecewa? Selamat, kau baru saja mendaftar ke tempat berakhir paling buruk dan akan dicemooh, tertawakan oleh musuh besarmu, setan keparat.

Maka takkan pernah bersanding serasi yang namanya kebenaran dengan keburukan. Amatlah berbeda pembenaran dari kebenaran. Kita hanyalah pemain dalam maha karya hidup. Tugas kita hanya berperan sebaik-baiknya sebagaimana kehendakNya. Hidup mati ada di tanganNya. Bahkan hati, tak sepetak pun kita kuasai.

Wahai Yang Maha Penyayang, maafkan, ampunilah kami atas ketidak tahuan kami yang sering menyakiti diri kami sendiri, mengharap karena nafsu terhadap apa yang sebenarnya buruk bagi kami, lalai dari memohon kebaikan kepadaMu, kufur terhadap nikmatMu, mengulang kesalahan yang sama berulang kali, mengabaikan penjagaanMu pada aib kami. Tuntunlah kami kepada keberkahan dan ketenangan karenaMu. Ajarkan kami syukur dan sabar demi ridhoMu. Kuatkan kami mengikuti kebenaran dan menjauhi keburukan. Teguhkan kami di atas jalan juang hingga raih kemuliaan hidup atau mati. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Epilog Ramadhan

Kalau ukuran kita akan kebenaran pandangan orang lain itu tergantung pada seberapa baik ia kepada kita. Ingatlah, manusia itu makhluk yang subyektif karena perbedaan pola asuh, kondisi sosial, ekonomi, pendidikannya meskipun fitrahnya tetap satu. Makanya kita butuh Tuhan dan teladan yang dapat dipercaya untuk menjalani hidup.

Jadi, tolong dengarkanlah jika ada seorang yang hendak memberi kita nasihat, Janganlah sobat, kita berdalih bahwa ia menggunakan cara yang tidak baik, hanya karena gengsi melihat usia dan status sosialnya. Karena tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan orang lain itu tanda kesombongan. Pun, bukankah Ia mengatakan bahwa untuk menyeru manusia kepada jalan Tuhanmu, lakukanlah dengn hikmah, yakni perkataan yang tegas dan benar sehingga jelas mana hitam dan putih. Dan bukankah pula, makhluk-makhluk yang Ia muliakan karena ketinggian ilmunya dan kerendahan hatinya memberikan contoh bahwa persaudaraan sejati karenaNya tak akan membiarkan yang dikasihi berselubung kealfaan akan kekurangan dirinya sendiri, hanya karena kita tidak mau menyakiti perasaannya atau sebenarnya perasaan kita sendirilah yang lebih kita pedulikan?

Lagipula, (maaf jika kau bosan tapi begitulah adanya) tiada manusia yang sempurna kan? Yang ada ialah ketulusan niat dan semangat untuk terus belajar menjadi lebih baik. Maka jadilah diri yang positif dan tebarkanlah energi positif itu kepada sekitar, mudah-mudahan menjadikan kita lebih berdamai dengan hidup.

Tentang Ramadhan, biarlah menjadi urusan antara hati ini dengan Pemiliknya. Hanya saja, diri yang kadang alfa ini hendak meminta maaf kepada siapa pun yang pernah terluka. Semoga Sang Pembolak-balik hati menggerakkan raga dan mengikhlaskan kita untuk benar-benar saling memaafkan hingga tak ada lagi yang saling menuntut saudaranya di hari akhir kelak. Semoga kita menjadi insan yang menang.
Terima kasih telah menjadi bagian dari mozaik hidupku yang membuatku terus belajar… =)

dandelion_field_sunset

sumber gambar: http://wallpaperan.com/dandelion-field-sunset.html

Cacing

Suatu hari, pada perjalanan kakiku menuju ke sekolah aku melihat seekor cacing tanah di pinggir jalan (sebelah kiri), sedang bergerak ke arah seberang jalan. Aku sempat tertegun memperhatikan dan bertanya-tanya apakah ia dapat menyeberangi jalanan itu (lebarnya sekitar 5 meter) dengan selamat dan apakah aku perlu membantu memindahkannya ke seberang tetapi kemudian aku (berujar dalam hati, ‘ah itu kan urusan dia’) ingat tujuanku ke sekolah dan kembali melangkahkan kakiku.

Pulang sekolah, di jalan yang sama (tapi kini aku berjalan di sisi seberang jalanan tadi pagi) aku melihat cacing itu, sudah sampai seberang! Mati. Mengering. Iya, cacing itu (memang kau pikir berapa cacing yang ingin menyeberang jalan setiap hari?). Aku benar-benar terkesan dengan pemandangan itu dan seketika jiwa ini dibanjiri oleh hikmah. Hikmah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang mau membaca ayat kauniyahNya dan mendayakan mata hatinya. Memang cacing itu tidak berakal (bertulang pun tidak?) tetapi kita sebagai manusia (jika di posisi sang cacing) apakah mampu menantang dunia (dengan segala persoalan yang ditawarkannya) seperti cacing itu? Besar risikonya –mengancam jiwa– ketika seekor makhluk-kecil-lunak-melata menyeberang jalan yang (bukan) hanya 5 meter itu di pagi hari ketika banyak manusia dengan berbagai kendaraannya berlalu lalang, belum lagi ayam tetangga yang kelaparan atau tikus-tikus yang keliaran (tikus makan cacing? #eh) ditambah aspal yang pastinya akan bertambah panas kian siang. Belum ditambah lelahnya otot perut melata sejauh itu. Kenapa ia repot-repot menyusahkan dirinya? Hematku, karena keyakinannya bahwa Sang Pencipta tak kan menyia-nyiakannya hingga ia menundukkan egonya untuk beribadah kepada Sang Rabb (dan dilihat oleh makhluk lain yang ditakdirkan melewati dan memperhatikannya serta mengambil pelajaran darinya. Bentley Blower pun layak kau miliki Cing).

Baginya, pengharapan dan ketakutan karena Yang Tercinta mengalahkan segala kengerian yang bahkan dapat merenggut hidupnya, tetapi sekali lagi ia yakin, bahwa perjuangannya yang tulus akan berbuah kemuliaan abadi. Ia tak kan menyalahkan makhluk lain (aku misalnya, yang hanya menatapnya sekilas dan bukannya membantu menyeberangkannya) atas pengabaian atau malah bisa saja aku tak sengaja menginjaknya, menambah beban hidupnya.

Piciklah, ketika manusia hanya mau menilai sesuatu dari hasilnya semata tanpa menengok pada proses (ingat statusku tentang membersihkan kamar mandi dan sikatnya) dengan segala hikmah yang dapat didulang darinya. Maka, aku mengamini kebijaksanaan “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Makasih ya Cing.

Harga Sebuah Kontribusi

Teringat sebuah inspirasi yang dinukil dari bab Memintal Seutas Benang dalam buku berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah tentang sebuah “kontribusi”.

Kontribusi. Dinamis, produktif, perbaikan, bangsa, ummat, peradaban

Kontribusi. Tenaga, materi, waktu, pikiran, perasaan

Kontribusi. Kesadaran, kepedulian, ketulusan, senyuman, tepukan di pundak, pelukan hangat, bara semangat

Kontribusi. Ada ketika menengok ke atas, ternyata ada sarang laba-laba yang perlu dibersihkan pun langit cerah membentang, bujuk kita tuk dilukiskan dalam syukur; ke bawah, ada paku berkarat yang khawatir jika terinjak orang atau sampah kecil yang luput dari pandangan; tengkok ke kiri, ada saudara yang belum kita berikan senyuman dan tanyakan kabar; tengok ke kanan, ibu – ayah menua dalam upaya dan doa terbaik bagi kita; tatap ke depan, anak-anak memancarkan sejuta impian, di sekolah, di jalan-jalan, di pasar, di stasiun, terminal, di ranjang-ranjang Rumah Sakit, di panti-panti; tengok ke belakang, ada seorang pemulung kokoh bertelanjang kaki, memanggul karung besar dengan senyum merekah, seorang bapak tua memikul pepaya dan pisang hasil kebunnya di terik siang tanpa keluh kesah di matanya. Tengok ke dalam, ikuti jiwa berani merdeka yang selalu rindu akan Rabbnya, dengarkan nurani berbisik lantang tentang kebenaran.

Hargailah sebuah kontribusi sesederhana apa pun bentuknya karena apresiasi adalah kontribusi termurni yang kita miliki…

Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu.

-HR Bukhari-

Langkah Baru

“Aku ingin jadi guru TK”

Sebuah cita yang pernah singgah dalam angan seorang bocah di kala duduk di bangku Sekolah Dasar hingga hidup mengambil perhatiannya dan perlahan cita itu terlupakan, tergantikan.

Singkat cerita, cinta memanggil cita itu menyeruak ke alam sadar mewujud dalam laku saat ia memutuskan mengirim biodata plus lamaran ke suatu tempat yang ia yakini mampu membawa mimpinya jauh melampaui usianya membangun sebuah peradaban paripurna yang membawa rahmat bagi semesta alam dipimpin oleh para khalifah yang hendak memakmurkan bumi, mengembalikannya kepada fitrah sebagai hamba Alloh sebelum tutup usia.

Kini, bersama 18 pejuang dengan impiannya masing-masing, seorang bocah yang bertransformasi menjadi muslimah itu, menjalani rangkaian pembelajaran untuk menjadi seorang guru kehidupan, gurunya manusia, melalui sebuah sarana bervisi sekolah kehidupan.

Perjalanan itu belum mencapai akhir, bahkan baru dimulai, tetapi muslimah ini mendapatkan banyak sekali, tidak hanya ilmu dan pengalaman baru tetapi juga harapan dan energi positif yang meluap, memenuhi relung jiwanya.

Guru pembelajar, penggerak kebaikan, pencetak para pemimpin peradaban.

Dengan ketulusan karenaNya, gelora asa, harmoni ilmu, kemantapan langkah serta dukungan aura positif di sekitarnya.

Ia berjanji untuk menjadi lebih baik, semakin baik dari waktu ke waktu hingga menjadi inspirasi.

Melangkahlah ia bersama senandung cinta…