Merawat Akal

Ada yang masih ingat tulisan “Epilog Ramadhan”? Di awal saya sedikit membahas tentang subyektivitas kemanusiaan, tentang sudut pandang. Betapa kepedulian akan sudut pandang ini semakin lama semakin terasa penting. Di mana gesekan-gesekan (sebagai ujian peningkatan kapasitas dari-Nya) tidak mungkin dapat terelakkan dan saya selalu senang dengan kata “belajar” dan “hikmah”.

Baca lebih lanjut

Sungguh, Kau Tak Jatuh Sendirian Wahai Saudaraku

Pagi hari membuka surat elektroik dan mendapati sebuah mutiara hikmah yang indah, ditulis oleh seorang ukh dan diposting oleh beberapa kawan di situs jejaring sosial. Tulisan itu sendiri diambil dari sebuah situs media Islam ternama.

Yang membuatku tertarik dengan tulisan tersebut ialah penulis yang begitu empati dan tulus terhadap saudara yang mengalami kondisi degradasi keimanan atau futuur, istilah yang familiar di telinga para aktivis dakwah. Lantas pertanyaannya, bagaimana kita memosisikan diri setelah membaca tulisan ini? Apakah kita berpikir “take” atau “give”? take dalam arti berpikir bahwa ‘Jika saya futuur semestinya saudara-saudara saya dapat mengingatkan dan menuntun saya’ atau give dengan berpikir bahwa ‘Saya hendaknya menyelamatkan saudara saya yang sedang futuur’.

Sebenarnya hikmah yang pertama maupun kedua sama-sama baik dan alangkah lebih baik jika kita lebih suka menggunakan sudut pandang give karena seorang dai sejatinya selalu ingin memberi, membagi keindahan Islam dengan saudara-saudarinya, bukan senantiasa berfokus terhadap dirinya sendiri seolah dirinya yang paling berat menahan beban perjuangan atau “terjatuh” sendirian dan merasa bahwa setiap mata memicing kepadanya, padahal mungkin di sekitarnya terdapat saudara-saudarinya yang juga berada dalam kondisi yang sama atau bahkan jauh lebih membutuhkan perhatian. Hanya saja, ia tetap bertahan dalam senyumnya karena ia yakin bahwa senyum itu lebih baik. Ia yakin bahwa Yang Rahiim akan memberikan ganjaran yang besar manakala ia sabar dalam ujian dan ketaatan kepadaNya. Ia ingin menuntaskan urusannya sendiri dengan hanya bergantung kepada Yang Maha Kuasa, lantas ia tegak berdiri dan berkata ‘Siapa lagi saudara-saudariku yang membutuhkan bantuan?’ ‘Dengan siapa lagi aku dapat berbagi keindahan Islam hari ini?’

Di sisi lain, saat kita berharap ada saudara kita yang sudi menoleh pada kondisi kita, hendaklah permudah diri kita untuk dipahami olehnya. Ingat, saudara kita bukan cenayang yang dapat membaca hati. Ia yang ingin menolong pun mungkin sungkan mendekat ketika ada dinding tak terlihat yang sudah lebih dulu kita pasang di sekeliling diri atau sikap angkuh seolah tidak membutuhkan bantuan. Pun sebaliknya, tidaklah bersikap manja seolah yang paling menderita di muka dunia. Tidak mudah ya? Sekali lagi itu tak mudah bagi kita, tapi ingat saudaraku, ada Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati. Ia pasti dapat menyanggupkan kita untuk berdiri, baik itu melalui saudara-saudari kita maupun di atas kaki kita sendiri karena Allah begitu dekat, lebih dari urat leher kita sendiri (QS Qaaf: 16).

Aku pun senantiasa camkan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl: 125 tentang cara dalam menyampaikan kebenaran,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 (QS An-Nahl: 125)

Serulah dengan hikmah. Hikmah yang berarti perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Terkadang ketika kita mendapati saudara kita sedang futuur, muncul rasa tidak enak kita untuk menasihatinya padahal dalam firmanNya, Allah jelas mengatakan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ini bukan berarti kita lantas menghakimi saudara kita, menyindirnya dengan sinis, apalagi membuka aibnya di depan orang lain dengan maksud merendahkannya, na’udzubillah… Pun, tidak berarti kita memberikan pembenaran atas kekeliruannya. Bersikaplah tegas dan bijak dengan menegakkan bahwa hak adalah hak dan bathil adalah bathil.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS Al-Ahzab: 70-71)

Ada pun aku menuliskan ini karena kepedulianku pada kalian saudara-saudariku, juga pengingatan bagi diriku sendiri.

Semoga kita dikaruniai seni berbicara terbaik dalam Islam.

Semoga Allah menjaga keimanan dalam hati agar senantiasa istiqamah dalam Islam, iman, ukhuwah serta jamaah yang menegakkan keagungan dinul Islam.

Pengorbanan ataukah Kelalaian Besar Kita?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Kita adalah muslim dan muslimah yang mandiri, idealis dan berusaha menampilkannya tanpa ragu di kelas-kelas yang diikutinya di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa muslim, kita tak mau menyerah dengan ilmu-ilmu sekuler juga dosen-dosen dan teman-teman sekulernya. kita yakin benar kalau Islam lah satu-satunya ideologi yang benar mengalahkan segala ideologi kosong buatan manusia. Kita tak kan menyerah menyuarakan kebenaran. Pun di luar kelas. Kita adalah seorang aktivis da’wah di bidang keilmuan. Berusaha menyuarakan bahwa Islam itu cinta dengan ilmu. Islam itu serdas dan berilmu. Kita suarakan itu melalui kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat yang sering kita ikuti. Kita yakin benar bahwa apa yang kita lakukan akan mencapai ridho Allah SWT. Kita yakin benar dengan makna yang terkandung dalam QS Muhammad : 7, bahwa Allah akan Menolong hamba yang berjuang di jalanNya. Kita berjuang menegakkan risalahNya lewat kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat hingga terkadang kita lupa, bagaimana pun kita adalah mahasiswa di dalam suatu institusi sekuler yang punya legalitas atas keberadaannya di kampus, yang selama ini menjadi wujud nyata eksistensinya berjibaku dalam da’wah selama ini, sebagaimana kata yang secara resmi tersemat di belakang kata entitas da’wah itu sendiri, “kampus”, yakni tempat setiap orang menuntut ilmu untuk berbagai tujuan. Intinya yang menjadi penanda legalnya keberadaan da’wah itu sendiri. Institusi sekuler yang mengakui keberadaan da’wah itu sendiri, dan karenanya, kita disebut sebagai mahasiswa, aktivis da’wah kampus.

Lantas? Meskipun kita berprinsip nahdu du’at qobla kulli syai’i, sekali lagi kita tetaplah menumpang dalam sebuah institusi sekuler yang secara legal mengakui pergerakan kita sebagai da’i, maka mahal harga yang mengiringi status tersebut. Tidak hanya secara materi, tetapi juga peranan dan tanggung jawab kita secara legal dan utama dituntut sebagai mahasiswa dibandingkan aktivis yang bahkan sudah diberi tambahan label yang membuatnya resmi berjibaku dengan sasaran da’wahnya, “kampus”.

Peran dan tanggung jawab ini tidak begitu saja melekat pada diri sang da’i seperti tak mudahnya menjalankan peran dan tanggung jawab bagi seseorang yang menyandang predikat “muslim”. Ia harus mengikuti segala peraturan dan konsekuensi yang baik secara struktural maupun kultural tersemat pada predikat mahasiswa. Yang harus benar-benar dipahami adalah status mahasiswa dalam sebuah institusi sekuler bernama kampus itu lebih diakui dan dihargai ketimbang status sebagai aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label “kampus”). Karena itu, secara legal, porsi perhatian yang diberikan bagi kegiatan di dalamnya pun seharusnya lebih banyak bagi status “mahasiswa” ketimbang “aktivis da’wah”.

Tidakkah kita berpikir? Bukanlah hal yang mudah ketika kita tak ragu sedikit pun merasa ragu dengan ayat dan hadits mengenai da’wah di atas tetapi kita sedang berada dalam sebuah institusi sekuler yang punya wewenang resmi atas keberadaan kita di sana? Meskipun kita berdarah-darah dengan da’wah tetapi tak ada yang tahu, tak ada yang mengerti bahkan tak ada yang merasakannya. Na’udzubillah… Apalah arti kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat yang tadi kita persembahkan bagi da’wah jika bahkan untuk menjelaskannya manfaatnya di depan teman-teman kita pun , lidah kelu berkhianat. Untuk apa? Bahkan mereka tidak merasakan keberadaan kita di saat mereka berjibaku demi status mahasiswanya, sedangkan kita lebih memperjuangkan status aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus. Jika begitu, apakah masih pantas disebut da’i?

Ketika kita lebih memenangkan kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat, di atas tugas-tugas kelompok kita yang isinya diselingi gosip, ejekan, candaan, perbincangan yang tak berfaedah, yang mungkin intensitasnya lebih besar dari tugas itu sendiri bahkan keberadaan kita di sana tidak begitu signifikan dalam arti tugas itu tidak sedemikian rumitnya hingga perlu banyak orang untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, bagaimana pun ini legal karena toh sebagian besar orang tua kita pun membiayai kita untuk itu kan? Mahasiswa. Bukan untuk label aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus. Sungguh pelik. Ketika kita sudah muak dijejali teori-teori sekuler oleh dosen-dosen sekuler, ditambah lagi kita harus berjibaku mengerjakan tugas-tugas sekuler bersama teman-teman sekuler padahal misi mulia untuk umat menanti. Eits, tunggu. Misi mulia yang mana? Umat yang mana? Umat yang kita kecewakan karena kita lebih memilih kajian-kajian, diskusi-diskusi, rapat-rapat? Karena lebih memilih berjibaku dengan rencana-rencana da’wah hingga penutupan hari kita, yang memikirkan umat hingga ke peraduan sampai mata terpejam dibandingkan dengan tugas-tugas kelompok kita? Umat yang bahkan tak tahu apa yang sedang kita lakukan dan tidak merasakan sedikit pun dampak darinya? Umat yang menuntut pertanggungjawaban kita dari apa yang kita lalaikan sebagai mahasiswa. Umat yang tak sedikit pun menyinggung tentang status dan peran kita sebagai da’i. Yang mereka tahu kita adalah muslim-muslimah berjilbab panjang, bercelana bahan yang suka beraktivitas di mushola membuat acara-acara Islam yang bahkan meliriknya pun mereka enggan karena sedang sibuk dengan teori-teori sekuler, tugas-tugas sekuler yang diberikan oleh dosen-dosen sekuler. Jika begitu, lantas siapa kita? Da’ikah? Mahasiswakah?

Ya Rabb, hingga kini kami masih ingin meyakini kandungan dari QS Muhammad : 7, masih ingin memegang prinsip nahdu du’at qobla kulli syai’i. Hingga kini kami masih ingin memperjuangkan status kami sebagai seorang aktivis da’wah (yang bahkan meminjam label) kampus yang bukan sekedar mengejar gelar sarjana, bukan sekedar punya ijazah untuk mendapatkan pekerjaan, harta, kuasa, dunia. Teguhkanlah keyakinan kami atas pilihan ini. Berikanlah kami pemahaman yang benar di dalamnya agar apa yang kami perjuangkan ini tidak menjadi sia-sia. Agar ridhoMulah yang benar-benar menjadi tujuan kami kemarin, kini, nanti, selamanya.

Wallahua’lam bish showab

Kemenangan Sejati Selalu Iringi Kebenaran

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”. (AT-Taubah:111)

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul[593], oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”
(QS Al Anfaal : 1)

 

Ketika asumsi dan ego berlomba-lomba menyatakan kebenaran

Hingga sikut angkat bicara dan derai air mata tumpah ruah senada bara-bara emosi

Hati sang mukminlah jadi penyejuk

Hati yang tulus bertahan dalam kekeruhan barisan

Tanpa turut mengobar api amarah, permusuhan

Tak sadarkah musuh kita sedang tergelak di sana?

Baik yang kasat maupun tak nampak

Sedangkan ummat kebingungan menyaksikan da’inya saling meneriaki

[Huff…

Dari mana datangnya pikiran sepicik itu?]

Ya, sementara kita lihat saja bagaimana ukhuwwah bisa bertahan dari terpaan sang badai

Dan ingin kupekikkan bahwa ukhuwwah bukan sekedar sekedar dalam tubuh jamaah

Ia adalah ruh dari pergerakan yang berlandaskan keimanan

Jadi teringat perkataan “Dalam berda’wah kita tak boleh main-,main tetapi kita perlu bermain”

Bermain yang seperti apa?

Tentunya dengan tuntunan Allah dan Rasulullah saw serta barisan orang-orang mukmin yang senantiasa berjihad di jalan Allah, mengorbankan dunianya karena dan untukNya semata

Tak lepas darinya, kita butuh ilmu untuk memahami urgensi aturan dalam “bermain”, memahami hakikat dari pemahaman itu sendiri, ukhuwwah dan kepercayaan agar permainan itu tak ternodai niatan sesat lantas mencederai pemainnya

Semoga Allah SWT Menjaga hati-hati kita

Hati yang Ia titipkan dan kuasa ia bolak-balikkan

Yakinlah, kemenangan sejati selalu iringi kebenaran

Wallahu a’lam bish showab

Hati-hati Ukhti, Jaga Dirimu

Terkadang kita (para akhwat) tak menyadari ketika sedang membicarakan seorang saudari, tercetuslah nada sinis, “Jilbabnya pendek”, “Dia suka baca-baca tentang filsafat”, “Kalau ngomong sama dia itu harus dengan keras juga karena kalau lembut nanti nggak didengerin”. Ukhti, merinding aku mendengar kata-kata itu dari lisanmu. Seolah jilbabnya menghalangimu pandanganmu dari hatinya. Apakah kau bercermin ketika membicarakan aibnya? Apakah engkau tak pikir persepsi akhwat lain yang mendengar ceritamu tentangnya? Engkau tahu ukuran jilbabnya tapi pernahkah kau melihat sorot matanya ketika menggambarkan da’wah? Bagaimana getaran suaranya yang begitu penuh haru. Engkau menghafal Qur’an ukhti, namun begitu fasih menggibah akhwat yang berbeda harokah denganmu, tilawahmu berjuz-juz tapi senang memperolok-olok kelemahan saudarimu. Ia memang membaca filsafat, tak sepertimu, yang senang dengan film dan artis Korea. Engkau menilai seorang akhwat sinis karena ia lebih suka mengatakan kebenaran daripada harus bermanis menjerumuskan, sedangkan engkau, lebih suka membicarakan saudarimu di belakang dengan alasan tidak bisa menyampaikannya atau bahkan kau ungkap di forum sehingga ia tak berkutik lagi menghadapimu yang memojokkannya. Engkau tak suka akhwat yang bersikap “dingin” karena menjaga diri, namun engkau? Tertawa lepas di depan ikhwan. lantas, ketika ia jatuh tersungkur, dengan mudah kau berkata,

“memang sudah sunatullahnya, hanya orang-orang yang punya niat lurus yang akan bertahan di jalan ini”

Mungkin saat ini ia yang terpelanting, namun siapa menjamin kita akan tegak di jalan ini selamanya? sadarkah bahwa hal-hal sederhana semacam ini yang menjadikan imej kita tak seperti yang diharapkan.  pun tak perlu sampai kau berkata, “Udahlah, nggak usah dengerin apa kata orang, kita kan nggak mungkin memaksa mereka merubah persepsi mereka ke kita.” Memang ukhti, tdak mudah merubah persepsi orang lain terhadap kita tetapi kita lah yang perlahan merubah kebiasaan, sesuatu yang kadang luput dari pandangan kita. ana yakin ukhti, ini merupakan suatu perkara yang mudah untuk dirubah.

Sabda Rasulullah, “Katakanlah kebenaran meskipun pahit”

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam…”

(HR Bukhari Muslim)

Jalan da’wah ini memang akan Allah bersihkan dari orang-orang yang punya niat selain daripadaNya. Namun, sisi manusiaku berkata, “punyakah kita alasan untuk menahan hati mereka jika sampai mereka terluka?” kita ini orang-orang terasing ukhti. Orang-orang yang memilih pengorbanan sebagai jalan hidup. Jangan sampai kita turut mengasingkan saudara-saudari kita hanya karena mereka tak “serupa” dengan kita atau pun dengan mudahnya menilai mereka padahal taaruf kita pun belum sempurna dengannya.

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) .”

(QS Hujuraat : 11)

Afwan jiddan ukhti, ana tahu ini pun bukan cara yang bijak untuk mengungkapkannya. Hanya saja fenomena ini tak hanya terjadi sekali dua dan tak hanya di satu dua tempat. terkadang mata kita tertutup akan kepedulian terhadap saudari-saudari kita ketika sedang lelah-lelahnya berjuang sehingga sulit bagi kita untuk mengedepankan husnuzhon.

 Semoga ilustrasi tersebut dapat dijadikan hikmah

Semoga Allah Mengampuni kita serta Melembutkan dan Menguatkan hati kita kepada saudara/i kita seaqidah hingga kita mampu mencari 1001 alasan untuk berhusnuzhon kepadanya kita sembari membantunya berdiri dengan ahsan di kala ia terjatuh.

Wallahu a’lam bish showab.

 Kebenaran dan kebaikan berasal dari Allah pun kembali kepadaNya

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS An Nahl : 125)
 

 

_yanginginmenyayangimukarenaNya_

Pengobatan Tradisional

Sebagai keluarga yang punya daftar riwayat penyakit cukup mengkhawatirkan (secara fisik dan psikis), kami memang terbiasa dengan pola hidup cukup strict soal kesehatan, karena salah makan sedikit saja bisa jadi sakit perut atau sakit tenggorokan lah minimal. Akhir-akhir ini, bapak yang mulai kumat segala penyakitnya dari jantung, batuk yang nggak sembuh-sembuh, pegal-pegal dsb, sedang punya ketertarikan dengan obat-obatan herbal dan pengobatan tradisional. Pas sekali, ada seorang teman bapak yang menekuni beberapa seni pengobatan tradisional seperti akupuntur, prana, dan hipnoterapi. Saya sendiri sebenarnya tertarik dengan seni pengobatan tradisional karena saya yakin Allah telah Menciptakan alam semesta dengan manfaatnya yang begitu besar dan secara alami mampu memulihkan manakala terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh manusia. Selain itu juga karena sedikit trauma dengan pengobatan konvensional yang rada “angker”.

Jadi ingat sewaktu perawatan syaraf gigi hingga lebih dari sepuluh kali bolak-balik ke dokter dengan kocek yang nggak murah, sakit yang aduhai, dan dokternya yang… bener-bener bikin kapok sakit gigi lagi. Sekarang setelah tambalan lepas dan belum sempat (baca : menyempatkan) ke dokter lagi, saya jadi parno kalau mau makan, bawaannya tegang, takut giginya kumat. Karena sekalinya kumat, wuidi… benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Bahkan tidur pun sulit. Kepala rasanya pening, sakit sampai ke telinga dan mata (nggak usah dibayangin, nggak enak deh pokoknya). Baru saja konsultasi dengan Pak H (inisial nama teman bapak itu), saya langsung ditawari tusuk jarum (baca : akupuntur), “Nanti ditusuk di pipi sampai tembus terus tahan sakitnya, cuma lima belas menit kok Mbak, memang sakitnya akan luar biasa (kayak pas lagi kumat) tapi setelah itu nggak akan sakit-sakit lagi” hee??? spontan ekspresiku langsung nggak enak. Dipikir-pikir dulu deh… Sebenarnya cukup berminat karena menurut saya, pengobatan tradisional tanpa efek samping dan terpercaya. Soal menahan sakit, anggaplah sebagai kompensasi yang harus dibayar.

Kembali ke pengobatan tradisional, saya tertarik untuk mempelajari seni pengobatan tradisonal ini. Nah, Pak H ini ternyata mau membagi ilmunya ke orang lain. Beliau punya enam orang murid yang belajar akupuntur namun hanya satu orang yang berhasil menguasainya yaitu seorang ibu. Mungkin penyebabnya karena mereka tidak memiliki bakat atau pun kurang tekun mendalaminya. Sebenarnya yang saya minati adalah hipnoterapi karena menunjang minat saya akan ilmu kejiwaan manusia. Dengan begitu, semoga saya bisa memberikan manfaat kepada orang lain, minimal orang-orang terdekat. Akan tetapi, saya belum memahami persis bagaimana hukum mempelajari hal ghoib semacam in dalam Islam. Hanya yang saya tahu,  Pak Harto mengatakan kalau ini tak ada hubungannya dengan jin. Dipikir-pikir juga kemarin saya baru mendapat pelatihan hipnoterapi yang dikelola ikhwah. Jadi bagaimana ya??? Ada yang mau memberi tanggapan?

Hati tak perlu memilih karena ia tahu ke mana dirinya kan berlabuh…

cover perahu kertas

Satu lagi karya yang Dee (gue) banget dan bisa membuat bendungan itu jebol walau sesaat meskipun sempat ilfeel hingga setengah buku yang teen lit banget. Namun seiring keistiqomahan membacanya, semakin tersibaklah tabir antara realitas dan dongeng hingga klimaks yang mengikhlaskan kita untuk mengakhiri cerita ini. Tetap dengan selera humor yang renyah, penggambaran akan intuisi, emosi, dan rasio yang bermain-main dengan lincah hingga ketulusan. Membuat tokoh dalam cerita ini begitu berkarakter. Alur cerita yang meskipun terasa terlalu cepat, tapi dapat berakhir dengan pas dan secara tak langsung membuktikan bahwa takdir selalu bekerja dengan begitu indah. Menyadarkanku akan takdir yang menggiringku hingga kini. Pokoknya kalo dirating bisa dapet 4,5 stars (of 5). Must be read! terutama bagi penikmat karya-karya Dee

Perahu Kertas itu membawaku pada besarnya energi sebuah impian, kenangan, menenggelamkanku akan dongeng yang menguatkan, menghadapkan pada nyatanya satu realitas, satu-satunya pilihan yang harus tetap dijalani, menjadi diri sendiri, hingga penerimaan akan kemurnian cinta yang mengantarkan pada kejujuran kata hati.

Hati tak perlu memilih karena ia tahu ke mana dirinya kan berlabuh…