Tentang asa

Kisah manusia dengan asanya takkan pernah surut ditelan masa
Melompati makna suka lara sabar syukur kecewa percaya harap takut cinta
Kadang asa begitu ironis, melampaui apa yg bisa kata lukis
Nurani sebagai perisai diri kan mati jika tak diladeni
Jika tautannya karena ridha Pemiliknya maka cerainya karenaNya
Jika tautannya karena nafsu dan amarah maka cerainya pun karenanya
Perasaan manusia, kita, begitu rapuhnya, hanya bisa mengharap kepada Sang Pembolak balik hati agar teguh dalam taat kepadaNya

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Manusia

human life

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Warna nada wangi rasa teksturnya

Hiasan penuntun akal dan hati temu iman

Sabar

syukur

Reda segala keangkuhan

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Berjalan berlari melompat tersungkur merangkak

Memilih

Bangkit?

Tenggelam?

Benar?

Salah?

Jika tak

Hilang segala cerita, lagu, drama

Lenyap asa

Bukan pula manusia

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Kan temui apa yang kau cari

Lihat-dengar apa yang kau ingin

Tuhan bersama sangkanya

Manusia

Tak perlu heran dengan hidupnya

Karna ada aku, kamu, dia, kita, mereka

Belajar bersama

Ingin kudekap engkau dalam ukhuwah…

karena saat ikatan melemah,

saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan,

saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api,

saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng

bukan ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang

sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya,

mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah

yang compang-camping

 

 

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”

(QS Al-Anfaal: 63)

 

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa

Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran

Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus

Sejuta kebaikan yang lalu

Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali :

“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

 

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja

Menjadi kepompong dan menyendiri

Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam

Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati

Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari

Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

 

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah

Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,

sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji

 

Dalam Dekapan Ukhuwah

Salim A. Fillah

 

 

Taqabalallahu minna wa minkum…

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”

Kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya

Ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan…

Ada panas dan dingin yang bertemu untuk mencapai kehangatan.. itu keseimbangan…

Ada hujan lebat berjumpa tanah subur. lalu tumbuh taman; itu kegenapan

Tapi satu hal tetap sama…

Mereka cocok karena bersama bertasbih memuji Alloh

Seperti segala sesuatu yang di langit & bumi

Ruku’ pada keagunganNya

Dan…

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”

 

Jakarta, 13 Maret 2010

-ROHIS 34 2009-

(unknown author but thx very much =) )

Untukku saja…

Ketika tiada kata untuk melukiskan bilakah cinta itu hadir

Maka hatiMu membimbingku untuk sabar mencari jawabannya

Menghadirkan suasana yang tak pernah terlewat dari benak dan jiwaku

 Ketika tiada kata untuk menjelaskan bagaimana cinta itu mendatangkan kerinduan

Maka rasa rindu itu yang menyadarkan aku pada keberadaan rindu yang kian perihnya

Sampai pada saat ku menyadari keperihan ini begitu ku syukuri

Ketika tiada kata untuk memaparkan caraMu mencintaiku

Maka Kau biarkan waktu bersama kesabaran merangkul diriku mengamati perkaraMu

Membuka tabir kemungkinan yang jauh dari nalarku dengan kuasaMu

Ketika tiada kata untuk menyampaikan betapa cinta aku kepadaMu

Maka kau berikan kesempatan untuk selalu meluruskan hatiku untuk Mu

 Hingga kejenuhan itu tak ingin kuraih dengan menukar waktu yang masih aku punya

Hasan Al-Bana berkata,,,

“Jalan ini bukanlah jalan harum bertabur bunga bagi mata para pecundang manja, tapi hati yang merindu dengan sangat perihlah yang mampu menghadirkan tak terbatas pesona keindahannya”

Kurasa cinta bukan sekedar apa yang aku rasa atau apa yang tertangkap oleh mata

Tapi penggambaran yang tak pernah dapat ku jangkau ketenangannya

Yang tak pernah dapat ku maknai arti nuansanya

Aku bukan yang memahami cinta

Karena ia begitu agung untuk terdefinisi hati yang terlalu merona dengan fana

Aku hanya tahu kata-kata cinta untukMu yang Maha Cinta

Ketika setiap rasa sakit menjadi nikmat yang luar biasa

Berharap Kau izinkan ia tetap ada dan ku rasa

 

 

al ukh nun jauh di Yogya

Sekepak Sayap

 Hari ini sejarah sedang singgah

Sepasang merpati menghijrahkan cinta di atas bahtera

Mereka sematkan semilir syair di antara ikatan do’a

Mahligai yang terbangun penuh keberkahan

Ada cita-cita indah di sana

Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi yang suci

Walau sungguh duri pernah merantas kaki

Menyeru pada kebaikan tak ‘kan pernah henti

Walau sungguh membingkai cinta dalam bahtera iman

Tak berarti kita berhenti menebar kebajikan

‘Tlah dipinang engkau dengan hamdallah

Jadilah merpati mengurai cinta jadi laku

Ada kata yang merangkum ukhuwah

Persembahan terbaik untukmu,

Saudara/iku..

barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi

 

Maaf daku tak bisa hadir karena sedang di kampung, tapi ini puisi buat kalian berdua. Semoga berkah 🙂

(puisi dari seorang rekan. jazakillaah ukhti… 🙂 )

ya mujahid

Ya mujahid,

tegapkan langkahmu!

berlarilah!

kita kan sama-sama berlari dari garis awal kita masing-masing

menyongsong garis akhir takdir

Ridha Allah…

tersenyumlah!

teguhkan tekadmu!

hadapi badai itu layaknya tempaan demi tempaan

tuk asah jiwa mujahid sejati

hingga kabut itu tersingkap

hingga simpul itu terlepas

dan hati benar-benar bersih menggapainya

rongga-rongga kan dipenuhi iman

hingga ia kembali siap

tuk gunung yang lebih terjal

tuk ombak yang lebih ganas

tuk takdir yang lebih dahsyat

karena mujahid sejati,

takkan tunduk dengan dua-tiga dunia

karena mujahid sejati,

tak layak untuk sebuah kata “biasa”

godamnya kan pedih menghantam

apinya kan perih menjilat

hingga pantas

hingga tepat

tuk sandang gelar mulia itu

kelak di hadapNya

ya mujahid pilihan Allah, 

semoga Allah Mempermudah

semoga Allah Ridho

semoga semesta turut bersuka cita