Hai

Pernahkah merasakan terjebak dalam kefanaan? Hampa dengan apa yang dijalani meski secara kasat mata biasa bahkan bahagia. 

Pernahkah​ merasa bahwa apa yang di hadapan Kita benar2 sulit dikendalikan? Benar2 di luar kuasa Kita. Bergerak pasti menuju kehancuran. Mudah saja orang melakukannya tanpa pertimbangan matang padahal mengerikan. Tanpa peduli konsekuensinya bagi diri apalagi orang lain. Kini apalagi di akhir nanti. Sudah coba mengingatkan? Sudah, berkali2. Hingga lelah jenuh kecewa menghantui. Hingga terkadang ingin (tanpa peduli) terseret saja dalam pusaran itu. Berkubang dalam kesenangan semu. Tapi tak bisa. Kesadaranmu sudah terlanjur bangun.
Pernahkah​ merasa dunia ini begitu memenjara? Penuh dengan kepalsuan, artifisial, yang dipaksa jejalkan dalam pikiran, laku, perasaan hingga seolah Kita membutuhkan sesuatu itu, nampak indah memikat padahal tidak! Namun, hidupmu sudah terlanjur dipenuhi olehnya. Sekitarmu memujanya, hingga sulit terlepas darinya. Upayamu mengingatkan tak dihirau. Kau mulai lelah dan muak. Bahkan terjerembab tak berdaya. Penuh gemuruh tapi tak ada yg peduli karena mereka terlena. Tergoda kemasannya. Atau mereka rasakan yang sama? Hanya sama tak berdayanya. Tak tahu harus bagaimana… Tinggal kau tergugu di sudut yang tak terjamah oleh sesiapa. Merasa aneh, anomali, asing.
Pelipurmu hanyalah keyakinan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang asing, kelak. Rehatmu bukan di sini.

Maka tegarlah. Sungguh, bersabar itu hanya sebentar hingga Ia memanggilmu. Tetaplah mengakar meski terkapar. Menapak meski terinjak. Mohon petunjuk, penguatanNya untuk tetap menyeru, mengajak, merangkul, terutama mereka yang kau ingin bahagianya kekal bersamamu. Cukupkanlah denganNya yang tak kan ingkar janji.

Iklan

Maaf ya Rabb

Maafkan hamba ya Rabb, yang belum bisa bersabar menerima ketetapanMu
Yang masih kekanakan karena tidak bisa menerima ketidakadilan sedangkan hamba tahu bahwa keadilan sejati hanya di akhirat kelak
Yang tak bisa menerima kebathilan sedangkan hamba tahu bahwa sekarang zaman fitnah
Yang tak bisa melihat orang yang menghalalkan segala cara sedangkan Engkau lebih tahu siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang hendak Kau sesatkan
Apakah hamba harus diam ya Rabb? Atau harus berbuat apa?
Bagaimana cara meminta fatwa kepada nurani sedangkan saat ini ia sedang dipaksa bungkam menyaksikan semua?!

Tentang asa

Kisah manusia dengan asanya takkan pernah surut ditelan masa
Melompati makna suka lara sabar syukur kecewa percaya harap takut cinta
Kadang asa begitu ironis, melampaui apa yg bisa kata lukis
Nurani sebagai perisai diri kan mati jika tak diladeni
Jika tautannya karena ridha Pemiliknya maka cerainya karenaNya
Jika tautannya karena nafsu dan amarah maka cerainya pun karenanya
Perasaan manusia, kita, begitu rapuhnya, hanya bisa mengharap kepada Sang Pembolak balik hati agar teguh dalam taat kepadaNya

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

#savemymindsavemyiman

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Hati ini sekali lagi merasakannya. Melompat dari satu gejolak ke yang lainnya. Bertemu takdir yang entah maknanya –paradoks liar konvensional– pun berujung tanya ‘apakah pencarian itu masih perlu berlanjut?’
#savemymindsavemyiman

ketika semua

ketika semua mengharapkan yang terbaik darimu

ketika semua memberikan kepercayaan padamu

ketika itu semangatmu terlecut

ketika itu pula rasa takut terbersit

“untukNya-kah? atau hanya memuaskan dirimu sendiri pun mereka?”

sebenarnya kau begitu lelah menampakkan bahwa semua baik-baik saja

tapi kau juga muak melihat dirimu sendiri jika malas dan lemah

kau punya idealisme, punya mimpi,

yang tak bisa kau raih dengan santai-santai tanpa pengorbanan

hufff…

make it just simple right?

kau berpikir terlalu rumit

just do it

slowly but sure

ishbir…

tapi manusiawi kan kalau aku bilang “realy need a help?”

 

“Allahuma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal”

‘Ya Allah, aku berlindung kpd-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung kpd-Mu dari kemalasan dan aku berlindung kpd-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kpd-Mu dari tekanan hutang dan paksaan orang.”

(HR. Abu Dawud).