Menepi

Semakin ke sini, kian kusadari ketakberdayaan diri. Segala daya hanya titipan. Bahkan, tentang kesadaranmu saat menggendong sang buah hati. Siapa sangka ia yang begitu kau cinta, lepas dari gendonganmu saat kau sedang bermain dengannya, menggendongnya. Ia begitu saja meluncur jatuh membentur lantai yang dingin. 

Esok, bisa jadi nyawa yang tercerabut kala diri belum sempat mengenalkan tuhannya.

Ya Rabb lemahnya hamba. Tiada daya melainkan padaMu…
Semakin ke sini, kian kusadari segala sesuatu begitu semu. Tak ada yang benar-benar kudamba di dunia. Semakin memenjara. Asing. Namun, tak kurasa layak meminta surga. Begitu besar dosa. Waktu yang dilalaikan. Pun, masih saja kulakukan saat ku t’lah menyadarinya. 

Padahal makin jelas tanda masa mendekati akhirnya. Padahal bisa jadi esok maut “membangunkan”. Padahal tak ada jaminan ke mana nanti ku kan “pulang kampung”.
Orangtua kian renta bahkan tiada.

Anak beranjak lepas dari pangkuan.

Sahabat kian jauh. Saudara kian tak saling mengenal. Tak saling melihat ke dalam sepatu orang lain. Semua ditafsirkan seselera ego. Nasihat dianggap racun. Semua berlantang, “ini aku” di panggungnya masing-masing. Entah masihkah doa saling terlantun dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang. Atau semua benar-benar sudah tergantikan dengan belantara dalam kotak kecil yang menyedot semua perhatian. Aku merinding. Sungguh.
Aku berusaha mengingatkan tapi apalah daya. Aku hanyalah si lemah yang masih juga melakukan kesalahan yang sama berulang. Aku pun memakai topeng agar dapat diterima. Tapi kini aku sadar. Tak merasa perlu lagi berpura. Inilah aku. Jika hati dapat bertaut, segala puji bagiNya. Jika tidak, perkara hati adalah kuasaNya. 
Aku tak hendak lagi memaksa diri bersolek sesuai kacamata mereka. Aku hanya ingin mencuri pandangNya. Mohon ampunNya. Mengharap petunjuk dan ridhoNya. Bersama tunas yang baru saja tumbuh. Semoga dapat kujaga fitrahnya.
Aku merindu. Amat merindu. Manisnya tawa kebersamaan. Pelukan hangat menenangkan. Keceriaan sapa dan salam. Seruan penyemangat. Air mata seorang saudara yang meletakkan rasanya karena percaya. Atau nasihat, perhatian yang tulus meski pahit. Saat sesuatu ditangkap sebagaimana adanya. Sentuhan kemanusiaan. Yang kini semakin pudar hadir dan maknanya.
Hingga, suatu saat terlintas, “siapa yang nanti akan tetap mendoakan saat dunia t’lah kutinggalkan?” Dan aku tak sanggup melanjutkan tanya, “apakah saat ini ada yang mendoakanku?”. Di saat keedanan zaman semakin menghimpit. Manusia semakin berpikir tentang diri dan keluarga. Apakah di antara ribuan lebih pengikut di jagat maya ada yang benar-benar mendoakan dengan khusyuk demi kebaikan?
Kuputuskan menepi. Menata hati. Menata diri. Mengikis segala kesombongan, bangga diri. Menyambung persaudaraan yang hakiki.

Aku hanyalah insan yang aibnya sedang ditutupi. Aku hanyalah insan yang sedang dicicipi secuil kemuliaan di mata manusia. Yang amat sangat mudah Ia cabut dalam sekejap hingga ke luar rumah pun tak kan ada nyali. Lantas dengan dasar apa berani melantangkan diri?
Saudaraku, mohon keikhlasannya memaafkan. Jika ada hal yang belum tertunaikan, mohon sekali diingatkan.

Aku hanya ingin saat waktuku habis, tuntas semua soalan. Tak ada yang kan menuntut kelak di “pengadilan”.

Jika di surga nanti kita tak bersua. Sudikah diri ini kau cari?
Atas peraduan,

21 & 25 September 2017

Iklan

​Setulus Cinta

Andai aku t’lah dewasa

Ingin aku persembahkan

Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu

Kau s’lalu kucinta

Sebait lagu dari seorang penyanyi cilik tempo dulu yang umumnya kan membuat hati berderai, melayangkan kenangan ke masa terindah bersama mereka yang tercinta, orangtua. Namun, ada sebagian kita yang justru bagai membuka kotak pandora saat mengeja kata itu. Yang lain bisa jadi hanya menemukan ruangan kosong di hatinya. Datar, hampa.

Bagi saya sendiri, relasi antara orangtua dan anak bukanlah perkara yang sederhana. Ada kasih dan sedih. Ada harap dan tanggung jawab. Ada rindu dan takut. Ada hormat dan iba. Ada marah, kecewa, sesal, cinta. Berbaur saling tindih, berkontradiksi dalam waktu yang bersamaan.

Di samping, ada juga keberanian. Ada keikhlasan. Ada kewarasan. Keyakinan.

Keberanian tuk mengingatkan alfanya.

Keikhlasan tuk memaafkan dan menerima segala keterbatasannya sebagai manusia.

Kewarasan tuk memutus rantai pengasuhan yang salah.

Keyakinan bahwa takdirNya tak pernah menzalimi kita.

Semakin ke sini kian kusyukuri ke-islama-anku yang t’lah menanamkan akhlak kepada orangtua. Bagaimana pun pedihnya rasa yang dihadirkan mereka kepada kita. Betapa pun abainya tanggung jawab mereka atas kita. Wajib kita berbuat baik kepada mereka. Bahkan, ketika keyakinan kita dan mereka berlainan tentang Tuhan. Beda dengan humanisme yang melandaskannya pada timbal balik kebaikan semata. Jika pada orangtua tak ada kasih dan tanggung jawab, lantas bagaimana laku kita kepada mereka?

Amat menyentuh doa yang Allah sendiri ajarkan kepada hambaNya dalam Al Qur’an surat Al israa’: 24 yang artinya, 

“Ya Rabb, ampuni aku dan kedua orangtuaku. Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, mendidikku di waktu aku masih kecil.” 

Kita dituntun memohon ampun bagi diri sendiri yang begitu lemah dan lalai menjalani berbagai peran dalam hidup. Kita pun diajarkan tuk memohonkan maaf bagi orangtua kita yang ada kalanya alfa, seraya memohon kasih sayangNya kepada mereka. Saat kecil adalah di mana kasih sayang orangtua paling membuncah pada sang buah hati. Saat di mana segalanya demi sang buah hati. Maka sungguh-sungguh indah Allah mengajarkan kita tuk meminta cinta yang paling, bagi mereka yang menjadi sebab adanya kita di dunia.

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan: 74.

Sebagai orangtua, tidakkah wajah ananda yang tengah terlelap membuat kita bercermin dan bertanya, bagaimanakah kita mengisi kantung cinta ananda semasa kanak mereka? Apakah dengan ketulusan perhatian dan penerimaan ataukah dengan duka dan luka? Apakah kita t’lah lebih dulu “mencontohkan” durhaka, yang menjadi cetak biru bagi mereka tuk memperlakukan kita kelak? Hingga menjadi pinta mereka kepadaNya agar kita mendapatkan balasan yang sama sebagaimana adab kita kepada mereka di waktu kecil. Pinta yang lahir dari relung terdalam, jauh di bawah lapis kesadaran. Ingat, bahwa ananda tak pernah minta dilahirkan. Tak bisa memilih siapa yang kan menjadi orangtuanya. Lantas, sudahkah kita pantas mengharap mereka menjadi pemimpin peradaban kelak?

Pun sebagai anak, bagaimana selama ini kita mewarnai kehidupan sosok manusia yang kian dimakan usia ini? Apakah dengan tawa bahagia, haru, atau dengan tangis sesal, takut, dan murka mereka? Atau bahkan kesepian yang tak terperi.

Apa yang telah dengan segenap daya kita berikan? Apakah waktu dan perhatian kita yang paling berharga ataukah materi semata (sekali pun jika hanya itu yang mereka berikan kepada kita di waktu kecil) atau jangan-jangan hanya sisa dari itu semua. Yang sudah kita habiskan dengan keluarga kita sendiri, di tempat kerja, lingkungan sekitar, tempat nongkrong, atau bahkan dibandingkan gawai yang selalu menyertai di mana kita. Hingga kita tak pernah tahu apa yang menjadi sebab tangis dalam doa mereka.

Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu

Kutahu kau berjaga dalam langkahku

Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu

Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Ah, ya Rabb, mampukanlah hamba sebagai anak dan orangtua, berbakti kepada yang hamba kasihi semasa hidup mereka dan setelah tiadanya.

Hai

Pernahkah merasakan terjebak dalam kefanaan? Hampa dengan apa yang dijalani meski secara kasat mata biasa bahkan bahagia. 

Pernahkah​ merasa bahwa apa yang di hadapan Kita benar2 sulit dikendalikan? Benar2 di luar kuasa Kita. Bergerak pasti menuju kehancuran. Mudah saja orang melakukannya tanpa pertimbangan matang padahal mengerikan. Tanpa peduli konsekuensinya bagi diri apalagi orang lain. Kini apalagi di akhir nanti. Sudah coba mengingatkan? Sudah, berkali2. Hingga lelah jenuh kecewa menghantui. Hingga terkadang ingin (tanpa peduli) terseret saja dalam pusaran itu. Berkubang dalam kesenangan semu. Tapi tak bisa. Kesadaranmu sudah terlanjur bangun.
Pernahkah​ merasa dunia ini begitu memenjara? Penuh dengan kepalsuan, artifisial, yang dipaksa jejalkan dalam pikiran, laku, perasaan hingga seolah Kita membutuhkan sesuatu itu, nampak indah memikat padahal tidak! Namun, hidupmu sudah terlanjur dipenuhi olehnya. Sekitarmu memujanya, hingga sulit terlepas darinya. Upayamu mengingatkan tak dihirau. Kau mulai lelah dan muak. Bahkan terjerembab tak berdaya. Penuh gemuruh tapi tak ada yg peduli karena mereka terlena. Tergoda kemasannya. Atau mereka rasakan yang sama? Hanya sama tak berdayanya. Tak tahu harus bagaimana… Tinggal kau tergugu di sudut yang tak terjamah oleh sesiapa. Merasa aneh, anomali, asing.
Pelipurmu hanyalah keyakinan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang asing, kelak. Rehatmu bukan di sini.

Maka tegarlah. Sungguh, bersabar itu hanya sebentar hingga Ia memanggilmu. Tetaplah mengakar meski terkapar. Menapak meski terinjak. Mohon petunjuk, penguatanNya untuk tetap menyeru, mengajak, merangkul, terutama mereka yang kau ingin bahagianya kekal bersamamu. Cukupkanlah denganNya yang tak kan ingkar janji.

Here I am

* Kebenaran itu mutlak. Relativitas membohongi fitrah.
* Dusta itu mengingkari kebenaran, bukan hanya realitas karena realitasnya kini banyak kedustaan dianggap benar. Maka jujur yang sesuai relitas belum tentu sejalan dengan kebenaran.
* Kebenaran itu tegak di hadapNya kelak meski kini tak dapat pengakuan. Sedangkan pembenaran meski nampak bertahta, ia hanya sementara, fana. 
*Benar belum tentu baik. Baik belum tentu benar. Kita perlu terus belajar memadukan keduanya.
* Integritas itu mahal. Jika bertemu dengan pemiliknya, jagalah ia.
* Konsisten itu berat, lama, tapi hasilnya luar biasa. 
* Sabar itu tak berbatas.
* Carilah kebahagiaan dari Penciptanya. Mustahil membahagiakan semua orang.
* Kokoh dan luwes itu bisa ada dalam satu sosok.
* Menjadi empati, peduli itu perlu pengorbanan. Juga sebaliknya. Yang namanya pilihan itu pasti ada konsekuensinya.
* Berharap kepada manusia rentan kecewa. Berharap kepadaNya tak kan ada yg sia.
* Mulia tidaknya seseorang bukan dari kacamata dunia.
* Menjadi idealis itu perlu, yang jangan perfeksionis karena yang ideal itu ada tapi yang sempurna hanya Ia.
* Usaha dan hasil itu bukan sebab akibat kecuali yang dimaksud berhasil adalah dapat berusaha maksimal.
* Hikmah bisa diperoleh dari mana saja tapi kebenaran datang dariNya.
#edisimerenung

Selamat datang

Selamat datang di dunia nyata, di mana sakit itu terasa sakit tanpa ada yang bisa menggantikannya. Bahkan, tak jarang kau harus mengesampingkan perasaan pribadimu untuk sesuatu yang lebih besar hingga menanggung tulah dari kerusakan yang diperbuat orang lain. Ditambah, Ia memberi amanah, peran, di mana kitalah yang harus memperbaiki dampak dari kerusakan itu. Ialah kenyataan bagi siapa yang mau berjuang untuk idealisme yang dicitakan. Untuk mimpi, cinta karenaNya…

Terkadang kita merasa ujian yang menghampiri begitu berat sampai pada titik kita merasa tak sanggup lagi karena perihnya begitu terasa, pun kondisinya membuat kita harus tetap “saya baik-baik saja, hidup ini indah apa pun yang terjadi”. Saat itu barulah kesadaran datang bahwa Allah-lah satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan. Yang takkan pernah mengecewakan. Yang memberikan semua kegetiran itu agar kita tetap tunduk merendah, menengadah kepadaNya. Menjauhi keangkuhan dan kawan-kawannya. Karena apalah kita jika Allah tak berkenan lagi menutup aib kita…

Apa pun yang terjadi. Betapa pun membuat muak, jijik, kecewa. Janganlah pernah lepas dari rahmat Allah. Bertahanlah dalam kendaraan besar ini. Sebobrok apa pun di dalamnya. Karena kesendirian akan menyeretmu dalam kebebasan yang semu. Karena kalau mereka yang tulus pergi dan meninggalkan mereka yang haus kepentingan, senangkah kau menunggu saat kehancurannya? Dan kabar buruknya, kau akan berjumpa lagi dengan ujian yang persis, situasi yang mirip. Tak ada tempat tuk menghindar. Hadapi atau lari. Lantas jika ujian itu berlaku di mana pun, kau hendak meninggalkan dunia karena kecewa? Selamat, kau baru saja mendaftar ke tempat berakhir paling buruk dan akan dicemooh, tertawakan oleh musuh besarmu, setan keparat.

Maka takkan pernah bersanding serasi yang namanya kebenaran dengan keburukan. Amatlah berbeda pembenaran dari kebenaran. Kita hanyalah pemain dalam maha karya hidup. Tugas kita hanya berperan sebaik-baiknya sebagaimana kehendakNya. Hidup mati ada di tanganNya. Bahkan hati, tak sepetak pun kita kuasai.

Wahai Yang Maha Penyayang, maafkan, ampunilah kami atas ketidak tahuan kami yang sering menyakiti diri kami sendiri, mengharap karena nafsu terhadap apa yang sebenarnya buruk bagi kami, lalai dari memohon kebaikan kepadaMu, kufur terhadap nikmatMu, mengulang kesalahan yang sama berulang kali, mengabaikan penjagaanMu pada aib kami. Tuntunlah kami kepada keberkahan dan ketenangan karenaMu. Ajarkan kami syukur dan sabar demi ridhoMu. Kuatkan kami mengikuti kebenaran dan menjauhi keburukan. Teguhkan kami di atas jalan juang hingga raih kemuliaan hidup atau mati. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Merawat Akal

Ada yang masih ingat tulisan “Epilog Ramadhan”? Di awal saya sedikit membahas tentang subyektivitas kemanusiaan, tentang sudut pandang. Betapa kepedulian akan sudut pandang ini semakin lama semakin terasa penting. Di mana gesekan-gesekan (sebagai ujian peningkatan kapasitas dari-Nya) tidak mungkin dapat terelakkan dan saya selalu senang dengan kata “belajar” dan “hikmah”.

Baca lebih lanjut

Epilog Ramadhan

Kalau ukuran kita akan kebenaran pandangan orang lain itu tergantung pada seberapa baik ia kepada kita. Ingatlah, manusia itu makhluk yang subyektif karena perbedaan pola asuh, kondisi sosial, ekonomi, pendidikannya meskipun fitrahnya tetap satu. Makanya kita butuh Tuhan dan teladan yang dapat dipercaya untuk menjalani hidup.

Jadi, tolong dengarkanlah jika ada seorang yang hendak memberi kita nasihat, Janganlah sobat, kita berdalih bahwa ia menggunakan cara yang tidak baik, hanya karena gengsi melihat usia dan status sosialnya. Karena tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan orang lain itu tanda kesombongan. Pun, bukankah Ia mengatakan bahwa untuk menyeru manusia kepada jalan Tuhanmu, lakukanlah dengn hikmah, yakni perkataan yang tegas dan benar sehingga jelas mana hitam dan putih. Dan bukankah pula, makhluk-makhluk yang Ia muliakan karena ketinggian ilmunya dan kerendahan hatinya memberikan contoh bahwa persaudaraan sejati karenaNya tak akan membiarkan yang dikasihi berselubung kealfaan akan kekurangan dirinya sendiri, hanya karena kita tidak mau menyakiti perasaannya atau sebenarnya perasaan kita sendirilah yang lebih kita pedulikan?

Lagipula, (maaf jika kau bosan tapi begitulah adanya) tiada manusia yang sempurna kan? Yang ada ialah ketulusan niat dan semangat untuk terus belajar menjadi lebih baik. Maka jadilah diri yang positif dan tebarkanlah energi positif itu kepada sekitar, mudah-mudahan menjadikan kita lebih berdamai dengan hidup.

Tentang Ramadhan, biarlah menjadi urusan antara hati ini dengan Pemiliknya. Hanya saja, diri yang kadang alfa ini hendak meminta maaf kepada siapa pun yang pernah terluka. Semoga Sang Pembolak-balik hati menggerakkan raga dan mengikhlaskan kita untuk benar-benar saling memaafkan hingga tak ada lagi yang saling menuntut saudaranya di hari akhir kelak. Semoga kita menjadi insan yang menang.
Terima kasih telah menjadi bagian dari mozaik hidupku yang membuatku terus belajar… =)

dandelion_field_sunset

sumber gambar: http://wallpaperan.com/dandelion-field-sunset.html