Baca yuk!

Ini hari kedua ibu dan ayah bacain buku cerita buat Nuun. Sebelumnya​, saat tilawah ibu suka buka mushafnya di sebelah Nuun, jadi bisa sama-sama ngelihat Qur’annya.
Bagaimana responnya? Masya Allah anak ini antusias! Tahunya gimana? Ada kali ya doi konsen ndengerin dan natap bukunya selama 5 menit, keseling lirak-lirik ke arah lain sejenak lalu balik lagi ke buku (yaiyalah secara bukunya gede membentang di depannya 😁). Ekspresinya benar-benar mendengarkan dengan seksama. Sesekali tersenyum atau mengernyitkan dahi kayak mikir gitu, lucu deh 😋. Begitu juga saat berinteraksi dengan al-Qur’an.
Alhamdulillah, buku bergambar setebal 33 halaman itu selesai dibacakan dalam 2 sesi. Yang pertama, sebelum tidur tadi malam lalu tadi siang setelah bangun tidur.
Emang doi ngerti gitu? Ya, ibu selalu percaya bahwa di usia berapa pun, anak-anak itu punya fitrah belajar. Membacakan cerita itu aktivitas yang bisa menyalurkan energi positif untuk yang mendengarkan maupun yang menceritakan lho. Intonasi, ekspresi, dan gestur yang dimainkan pasti bisa ditangkap oleh bayi, sekali pun ia belum mengerti kata. Selain itu, kita bisa sambil membelai atau mencium kepalanya, mencolek hidung atau pipinya. Menjadikan aktivitas ini penuh kasih sayang.
Saat membacakan cerita, tunjukkanlah semangat. Deskripsikan semua yang bisa diindera anak seperti gambar, warna, bentuk, tekstur dsb, berimprovisasilah. Hitung benda yang bisa dihitung. Ubah intonasi sesuai karakter tokoh, sesekali peragakan apa yang dilakukan oleh tokoh. Tanya pendapat anak tentang apa pun yang ia indera atau cerita yang mungkin terjadi selanjutnya. Kita bisa juga mengaitkan apa yang dilakukan tokoh dengan kebiasaan anak kita. Misalnya, di buku Berilah Senyumanmu ini, Tariq dan Zainab sedang belajar hadits senyum itu ibadah. Ibu bilang ke Nuun, “Wah, seperti Nuun ya, ramah, suka tersenyum.” Banyak yang bisa dieksplor. Pokoknya asyik deh aktivitas yang satu ini. Apalagi dilakukan bersama yang terkasih dengan perhatian penuh. Citra tentang membaca in syaa Allah terbangun dengan kebahagiaan.
Hasilnya? Ya belum kelihatan lah, wong baru 2 hari 😁. Setiap amal butuh proses jadi nikmatin aja sambil berdoa yang terbaik. Semoga aktivitas ini menjadi pembuka pintu ilmu dan manfaat seluas-luasnya bagi anak dan dunia kelak. Terutama tuk meraih ridhaNya.
Tentang manfaat membacakan cerita atau dongeng bisa dengan mudah kok kita cari di jagat maya. Pengalaman sendiri, membaca itu selain memperluas wawasan juga mendayakan akal dan rasa sehingga memunculkan ide-ide kreatif, memperkaya bahasa untuk bercakap maupun nulis, menajamkan logika sekaligus mengasah empati, melatih pemecahan masalah, juga (berdampingan dengan pengalaman) membentuk paradigma yang arif tentang kehidupan. Banyak lagi deh manfaat yang didapat jika kelak anak kita suka membaca. Hubungan kita dengan anak pun jadi semakin erat. Apalagi kalau bisa dan gemar membacanya karena kita. Duh itu sedapnya tabungan pahala nggak putus-putus deh in syaa Allah.
Oya, ingat juga wahyu pertama yang turun kan tentang membaca ya? Membaca karenaNya. Mempelajari dan merenungkan ayat ini pasti akan menghadirkan kebaikan tersendiri.

Jadi, yuk ah kita mulai berbagi cinta lewat membaca 😘
#membacakarenaNya

#storytelling

#tamankhatulistiwa

#bacaituasyik

#gemarbacasejakdini

#predatorbuku

#bayidemenbaca

#banyakajetagarnye😬

Iklan

Aku Ingin

Ceritanya, pada hari itu, kelas SD 1 River membuat Pohon Harapan yang akan digantungkan keinginan anak-anak yang bisa dicapai di akhir kelas 1 ini. Mereka menuliskannya di sepotong kertas yang akan digantung pada ranting Pohon Harapan agar dapat melihatnya setiap hari dan turut menyemangati mimpi kawan-kawannya.

Masya Allah, keinginan mereka sungguh luar biasa! Ada yang ingin dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, ingin pintar belajar Qur’an, ingin selesai menghafal juz 30 (sekarang alhamdulillaah sudah sampai Al-Insyiqaq), ingin mengenal Nabi Muhammad lebih dekat karena kerinduannya yang begitu besar akan sosok manusia mulia ini hingga pernah suatu hari ia menitikkan air mata karenanya. Bahkan ia menceritakan dengan begitu semangat tentang mimpinya bertemu baginda nabi shalallaho ‘alayhi wasalam =’).

Impian lainnya yang tak kalah semangatnya ialah menjadi tentara Islam yang hafal Qur’an juga. Ia ingin belajar menembak dan memanah. Ada lagi yang ingin jago Bahasa Arab, jago berenang, jago karate, jago main bola. Ada pula yang ingin agar kelas kami menjadi kompak juga ada yang ingin kelasnya bagus dan rapi (idealis sekali! ^^). Ada keinginan yang paling unik di antara semua. Ia ingin bisa membuat sepatu sendiri! “Aku harus membuat polanya dulu” ujarnya. Out of the box dan kreatif! ;9

Ternyata, menuliskan mimpi tidak begitu mudah untuk beberapa anak. Ketika teman-temannya sudah beranjak ke aktivitas berikutnya, mereka masih belum menuliskan apa-apa. Aku coba menggali apa yang mereka inginkan. Apa yang ingin mereka bisa lakukan atau keinginan mereka untuk kelas ini atau harapan mereka untuk orang tua mereka, guru, atau pun teman-teman mereka. Mereka tetap tak bergeming.

Aku berpikir, kira-kira bagaimana ya agar mereka terinspirasi untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Aku mulai bercerita kepada seluruh kelas.

“Teman-teman, ada yang tahu kalau bayi itu belajar apa saja ya?” aku memulai.

“Belajar ngomong!”

“Belajar berdiri!”

“Belajar jalan!”

“Belajar pegang benda!”

“Iya benar! Kalian dulu juga begitu tidak?”

“Iya Bu! tapi saya nggak ingat!” anak-anak tertawa.

“Hehe, tapi ibu tahu lho ceritanya sewaktu kalian masih bayi. Coba, kalau kalian yang punya adik atau pernah memperhatikan bayi. Bayi kalau belajar berdiri kira-kira sekali langsung bisa berdiri apa jatuh-jatuh dulu?”

“Jatuh dulu!” mereka serempak.

“Kalau jatuh mereka nangis terus nggak mau berdiri lagi apa tetap belajar berdiri lagi ya?”

”Nangis tapi belajar berdiri lagi!”

”Kalau belajar jalan, kira-kira langsung bisa berjalan seperti kalian apa begini dulu ya?” aku memperagakan cara bayi berjalan, anak-anak tertawa.

”Kalau belajar bicara mereka langsung bisa bicara atau ngomong ’ma.. ma..’ dulu ya?” mereka tertawa lagi.

”Aku waktu umur 3 bulan sudah bisa bicara ’Ummi aku mau susu!’” ujar seorang anak.

”Oh ya? Hebat! Subhanallaah… Nah… kalian sewaktu bayi hebat nggak tuh?”

”Hebaaat!” sahut mereka.

”Kira-kira kalian akan bisa berjalan, bicara dan berlari nggak kalau kalian tidak punya keinginan dalam diri kalian ’aku ingin berlari’ begitu di dalam hati kalian?”

”Nggaaak…”

”Kalau mau makan, bisa nggak tiba-tiba makanannya datang sendiri?”

 

“Nggaaak”
“Berarti setiap manusia punya keinginan untuk belajar kan?”
“Punya Bu!”
“Punya mimpi untuk diwujudkan?”
“Punya!”
“Kalau begitu ayo kalian tuliskan pada kertas, mimpi-mimpi kalian itu untuk digantungkan pada Pohon Harapan. Yang sudah menulis dan ingin menambahkan lagi dipersilahkan.”
Alhamdulillah, beberapa anak yang tadi belum menuliskan mimpinya, dengan semangat segera menulis. Tangan-tangan kecil itu menyerahkan kertas-kertas bertuliskan mimpi-mimpi mereka yang siap digantung. Aku tersenyum dan berterima kasih kepada mereka. Anak-anak hebat yang masih diselimuti fitrah.
Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kalian dan menguatkan akar keimanan kalian tuk mewujudkannya anak-anak sungaiku. Sungai yang senantiasa mengalirkan semangat hidup dan memberi manfaat bagi sekitarnya, SD 1 River. (-^___^-)

Memetik Hikmah Dari Mandalawangi dan Sukamantri

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Usia perjalananku di SAI memang masih seumur jagung dan jejak langkahku belumlah seberapa dibanding guru-guru, bahkan para siswa SD yang sudah menjadi bagian dari SAI sejak mereka prasekolah. Namun, seorang pembelajar sejati adalah ia yang dapat memetik hikmah dari segala tanda-tanda kebesaranNya yang terhampar di tiap jengkal semestaNya bukan? Seperti yang banyak kupelajari dari Mandalawangi pada 2012 silam dan Sukamantri, beberapa hari yang lalu.

 

Aku mendapat tugas suci 😀 sebagai Pembimbing Anak Kelompok (PAK) yang bertugas memfasilitasi pembelajaran sekaligus mengases siswa dalam hajat besar Sekolah Alam Indonesia yang melibatkan SDM terbanyak (depierkirakan tahun ini memberangkatkan kurang lebih 250an orang) yakni Out Trekking Fun Adventure (OTFA). Pada OTFA 2012 aku memegang kelompok kecil yakni siswa kelas 1 dan 2 SD, sedangkan pada OTFA 2013 yang bertema Glorious Camp, aku bertugas mendamping kelompok besar atau istilahnya batalyon madya yang beranggotakan kelas 3 sampai dengan 5 SD. Tentunya masing-masing tugas memiliki tantangan tersendiri yang secara langsung maupun tidak akan meng-upgrade kapasitas PAK sebagai fasilitator juga sebagai individu.

 

Saat memegang kelompok kecil, hal yang kurasa paling ter-upgrade adalah fisik, konsentrasi dan kesabaran dalam menghadapi sifat polos anak-anak. Secara fisik, PAK bertugas membantu AK yang fisiknya relatif lebih lemah dari kelompok besar dalam memobilisasi mereka dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal lainnya adalah ke-belum mahir-an mereka dalam memanaje barang-barangnya sendiri meskipun umumnya mereka sudah mandiri (jika dibandingkan anak lain seusianya) atau ketika mereka perlu ditemani ke kamar mandi kapan pun mereka ingin. Dalam hal konsentrasi, kelompok kecil memiliki rentang fokus yang lebih pendek misalnya masih suka bermain atau bercanda sehingga tidak begitu fokus mengikuti acara atau ingin jalan-jalan sendiri untuk mengeksplor alam sekitarnya. Pengawasan pada saat trekking malam pun harus lebih ekstra karena mereka belum begitu memahami prosedur keselamatan seperti hanya mengarahkan penerang ke arah depan atau jalan; berjalan pada satu jalur (tidak miring-miring) karena di kiri/kanan mereka ada jurang yang menganga sehingga perlu diingatkan berkali-kali untuk berjalan lurus. Namun, di sisi lain mereka lebih mudah diingatkan terhadap peraturan.

 

Berbeda dengan saat mendampingi kelompok besar, kekuatan mental (ruhiyah dan fikriyah) lah yang lebih diperlukan untuk lebih bersabar menghadapi tingkah siswa yang mulai beranjak remaja ini. Gejolak emosi yang mulai memberontak seperti bersikap ogah-ogahan atau meremehkan, perasaan terhadap lawan jenis yang dapat mempengaruhi mood saat acara berlangsung, atau gaya “mudah mengeluh” mereka yang terkadang mengundang kejengkelan padahal kalau kita mau berpikir lebih arif, pelaksanaan OTFA yang lebih lama yakni tiga hari dua malam – berbeda dengan kelompok kecil yang menjalaninya dua hari satu malam – pasti menguras energi mereka sehingga tentunya menjadi wajar jika secara fisik dan mental, mereka mengalami kelelahan dan sifat kekanak-kanakannya muncul. Sebenarnya, mendampingi kelompok besar bisa jadi lebih mudah dalam hal manajerial barang-barang karena mereka sudah terbiasa mengatur sendiri barang-barangnya juga lebih berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan aktivitas sehingga tidak perlu banyak dikomandokan.

 

Dalam mengahadapi kelompok besar, keramahan layaknya kawan, kepedulian dan kebijaksanaan layaknya orang tua, dan ketegasan layaknya pemimpin harus pandai-pandai ditempatkan sesuai kondisi. Pun yang terpenting dari semua itu adalah niat yang lurus, tulus dan sikap positif untuk membentuk mereka menjadi mukmin yang gagah, berani, cerdas, dan berakhlak mulia (kuat dan bertakwa) sebagaimana spirit yang dibawa oleh lagu dan mars OTFA.

Interaksi yang mendalam pun dijalani dengan sesama PAK dan panitia yang berragam karakter dan potensinya. Dalam hal ini, aku benar-benar belajar mengamati trik-trik yang digunakan PAK yang lebih senior dalam menyelesaikan suatu kegiatan agar lebih efektif dan efisien. Selain itu, aku juga belajar bagaimana bersikap luwes (lembut sekaligus tegas) dengan AK dan menjaga ritme dengan sesama PAK seperti pada saat masak bersama dan mempersiapkan pentas seni. Adanya perbedaan pendapat atau sedikit kritik tidak perlu mengotori hati dan menjadi perselisihan karena siswa pun belajar cara merespon keadaan dan memanaje masalah dari orang dewasa di sekitarnya sehingga cukuplah bagi para PAK untuk tetap solid dan memancarkan energi positifnya sekali pun ada hal yang dirasa kurang nyaman dengan sesama rekan, tidak perlu ditonjolkan sehingga masing-masing belajar mengendalikan emosinya dan menyelesaikan persoalan dengan efektif dan ahsan. Hal ini juga mencakup komunikasi baik dan tanggung jawab yang harus tetap dijaga dengan siswa yang ditinggalkan di sekolah, guru pengganti, juga orang tua siswa (curcol mode: on :p).

 

Secara pribadi pun, aku merasa ter-upgrade untuk menyelesaikan segala kebutuhanku dengan lebih baik dan cepat karena peran PAK begitu penting dalam memastikan nilai atau hikmah dari segala hal yang dirancang maupun kejadian di luar rencana, tertransfer dengan baik kepada siswa khususnya AK masing-masing sehingga urusan pribadinya pun berpengaruh terhadap AK-nya. Sebagai contoh dalam hal makan, meski rasanya tidak nafsu makan, kita harus tetap menghabiskan makan untuk menjaga stamina dan memberi contoh kepada AK. Aku juga belajar untuk lebih cepat waktu MCK. Biasanya, PAK minta AK untuk bersih-bersih dengan cepat maka sebaiknya PAK konsisten melakukan hal yang sama kecuali di luar waktu yang disediakan seperti pada malam hari sebelum tidur. Kapasitas fisik dan konsentrasi pun kurasakan ter-upgrade saat night adventure atau trekking malam yang mana energi sudah terkuras pada kegiatan hari sebelumnya ditambah medan dan cuaca yang aduhai untuk pemula sepertiku plus jujur saja, kemampuan spatialku tidak begitu baik (baca: nggak banget) untuk mengingat jalan. Alhasil, meski AK-ku sempat protes “Ibu kok salah melulu dari tadi”, aku mencoba tetap tenang, fokus pada situasi dan berdoa kepada Sang Pemberi petunjuk. Selain itu juga bagaimana mengendalikan diri agar tetap berpikir jernih, tenang, dan menenangkan meskipun situasinya genting seperti saat hujan deras mengguyur hingga tenda bocor juga saat ada kejadian-kejadian aneh (colek Bu Hayu, Bu Eha, Bu Ratu ;D).

 

“Di alam, kepribadian kita yang sebenarnya akan tampak. Mana yang benar-benar bersabar, mana yang hanya mementingkan dirinya sendiri”, begitu kurang lebih perkataan Pak Novi pada apel penutupan OTFA 2013 yang mengena bagiku. Aku kembali merenungkan niat, ucapan dan perilakuku saat menjalani OTFA. Banyak bersitighfar dan mengazzamkan tekad kembali untuk menjadi teladan yang lebih baik lagi bagi para calon pemimpin peradaban ini kelak. Semoga para siswa yang bersinggungan denganku terutama AK-ku juga rekan-rekan PAK, panitia, juga guru lain bersedia memaafkan segala kealpaanku selama OTFA.

Terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman berharga yang SAI berikan kepadaku untuk menjadi pembelajar sejati.

 

Depok, 25 Mei 2013 20:46

Langkah Baru

“Aku ingin jadi guru TK”

Sebuah cita yang pernah singgah dalam angan seorang bocah di kala duduk di bangku Sekolah Dasar hingga hidup mengambil perhatiannya dan perlahan cita itu terlupakan, tergantikan.

Singkat cerita, cinta memanggil cita itu menyeruak ke alam sadar mewujud dalam laku saat ia memutuskan mengirim biodata plus lamaran ke suatu tempat yang ia yakini mampu membawa mimpinya jauh melampaui usianya membangun sebuah peradaban paripurna yang membawa rahmat bagi semesta alam dipimpin oleh para khalifah yang hendak memakmurkan bumi, mengembalikannya kepada fitrah sebagai hamba Alloh sebelum tutup usia.

Kini, bersama 18 pejuang dengan impiannya masing-masing, seorang bocah yang bertransformasi menjadi muslimah itu, menjalani rangkaian pembelajaran untuk menjadi seorang guru kehidupan, gurunya manusia, melalui sebuah sarana bervisi sekolah kehidupan.

Perjalanan itu belum mencapai akhir, bahkan baru dimulai, tetapi muslimah ini mendapatkan banyak sekali, tidak hanya ilmu dan pengalaman baru tetapi juga harapan dan energi positif yang meluap, memenuhi relung jiwanya.

Guru pembelajar, penggerak kebaikan, pencetak para pemimpin peradaban.

Dengan ketulusan karenaNya, gelora asa, harmoni ilmu, kemantapan langkah serta dukungan aura positif di sekitarnya.

Ia berjanji untuk menjadi lebih baik, semakin baik dari waktu ke waktu hingga menjadi inspirasi.

Melangkahlah ia bersama senandung cinta…

Selingan…

Hidup di Indonesia itu keras Bung!

Naik angkot diperkosa

Naik KRL desek-desekan, banyak copet

Naik busway dilecehin

Naik pesawat pilotnya narkobaan

Naik kapal laut musim begini? tak usah lah yaw,,

Naik kendaraan sendiri banyak ranjau paku

Jalan kaki di trotoar aja ditabrak! Gimana mo tenang?!

 

Hm.. ya, bismillaahi tawakaltu ‘alallohu laa hawla wa laa quwwata ilaa billaah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya kekuatan melainkan milik-Nya), lah wong di rumah aja bisa kebakaran dan dirampok… ^^v

Pemuda Islam? Bergerak!

17 bulan kurang beberapa hari bahtera kami berlayar. Warna-rasa membaur dengan indah menghadir syukur di tiap dayungnya. Segala puji bagi Rabb semesta alam yang telah mengabulkan keinginanku untuk tetap aktif berdakwah selain di keluarga setelah menikah ini dan 1 hal lagi yang kuanggap sebagai kenikmatan barakah bagi pernikahan ini adalah dakwah yang kami semai bersama di lingkungan tempat tinggal kami. Sungguh, “Nikmat Rabb-mu yang manakah yang sanggup engkau dustakan?”.

Sebulan belakangan ini, Kak Huzu (panggilanku akhir-akhir ini terhadap sosok pemimpin dalam keluarga kecil kami ^^) dan aku merevitalisasi kembali Ikatan Remaja Masjid Baitul Ihsan (IRMBI) di komplek PLN P3B ini.

Ini diawali oleh suatu siang di mana kami shalat Dzuhur bersama di masjid. Hari itu – aku lupa tepatnya – adalah hari kerja sehingga kami bertemu dengan teman-teman dari SMP maupun SMK Utama yang dibangun beberapa tahun yang lalu atas kerjasama LAZIS PLN P3B dengan beberapa lembaga keislaman lain bagi anak-anak berprestasi yang membutuhkan dukungan finansial. Memang, peraturan sekolah mengharuskan siswi sekolah ini mengenakan kerudung saat sekolah. Aku senang sekali berada di antara para pemudi yang akan membangun bangsa ke depan ini. Seusai shalat, aku menyapa dan mengajak berkenalan tiga orang di antara mereka yang berseragam SMP dan SMK. Aku bertanya mengenai kegiatan keislaman di sekolah mereka. Subhanallah, ternyata di luar mata pelajaran agama Islam, para remaja ini diberikan waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Hanya saja mereka belum mengenal aktivitas mentoring. Maka dari itu, kami ingin menularkan semangat berislam kepada teman-teman di sana. Caranya? Dengan merevitalisasi kembali remaja masjid supaya mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan keislaman. Subhanallah, kami juga mendapat dukungan dari pasangan ikhwah muda yang adalah pegawai ayahku. Ayah juga suka memberikan advis atas aktivitas keislaman ini. Maka, Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga Allah ridho.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, seruan kami mendapat respon positif dari para remaja berpotensi ini. Memang, di awal butuh pendekatan ekstra dan ini justru dimulai dari generasi pertama komplek ini (kami adalah generasi kedua). Suamiku yang alhamdulillah menjadi anggota tetap shalat berjamaah, sering berdiskusi dengan para bapak tentang berbagai hal termasuk aktivitas remaja komplek ini, apalagi momennya pas untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai awalan diundanglah para remaja putra untuk perkenalan sekaligus mewacanakan revitalisasi ini ba’da Subuh. Beberapa ikhwan sebayaku menyambut usulan itu maka pertemuan dilanjutkan dengan mengundang semua remaja komplek yang mayoritas adalah muslim. Rapat pertama diawali di hari Ahad di mana masjid memang menjadi tempat pilihan kami karena kami ingin menghidupkan masjid sebagaimana di zaman Rasulullah yang merupakan pusat berbagai aktivitas bagi kaum muslim saat itu.

Dus, beberapa remaja putra dan putri hadir dalam rapat awal itu. Kami coba mengungkapkan lagi tujuan dan urgensi merevitalisasi remaja masjid ini di samping memotivasi mereka sebagai generasi pemuda-pemudi Islam yang siap membangun bangsa. Salah kata-kata “sakti” adalah motto dari seorang tokoh muslim nasional yang menginspirasi yakni,

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid. Bergerak atau mati!”

(HOS Tjokroaminoto)

Dalam rapat itu dan rapat-rapat selanjutnya, kami kembali membentuk struktur yang baru dimulai dari pemilihan sang ketua kemudian korput karena ketua yang lama sudah hengkang ke Bandung (kuliah di UNPAD gitu) dan korputnya sudah menikah (uhuk2! ^^). Di sini harus benar-benar ditekankan bahwa ketua itu bukan tumbal yang nantinya ditinggal sendirian mengerjakan semuanya. So, karena musyawarah tidak menghasilkan mufakat (sepertinya peserta rapat memang nggak terbiasa syuro karena bawaannya bercanda melulu ^^), maka diptuskanlah kita memilih dengan voting dan hasilnya kira-kira >90% mengerucut pada satu nama dan apa boleh buat sang terpilih mesem-mesem aja. suamiku juga sampai diwejangi oleh ayah sang ketua terpilih karena sekarang beliau sudah kelas 3 SMA sehingga harus fokus ke akademis. “siap Pak!”. Korput pun terpilih dari hasil voting para peserta putrid dan terpilihlah seorang mahasiswi semester 2 lulusan pesantren yang memang terlihat punya bakat public speaking dan kepemimpinan yang baik. Barakallah…

Selanjutnya, kami ber-20-an, membahas program kerja selama setahun ke depan. Rencananya, divisi yang akan bekerja hanya 2 yakni (Pengembangan Sumber Daya Manusia) PSDM dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas). PSDM bertugas mengembangkan potensi remaja masjid itu sendiri dengan mengadakan pelatihan kepemimpinan, public speaking, motivasi berprestasi, penulisan, hingga memperingati ulang tahun bersama dan yang terpenting adalah Kajian Keislaman (KK) “Kalau remaja masjid nggak mengkaji Islam sama aja boong” pungkas suamiku. Alhamdulillah mereka setuju dan pelaksanaannya akan dilakukan 2x per bulan. Insya Allah aku yang menjadi penanggung jawab akan KK ini sedangkan suamiku menjadi PJ dari Pengembangan Kompetensi dan Tulisan Kita. Divisi Pengmas yang memiliki koordinator sendiri menghadirkan proker seperti baksos, garage sale, kerja bakti, penyuluhan lingkungan, pengumpulan botol bekas dan sebagainya yang insya Allah bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Pemuda = kontributif kan? 😉

Alhamdulillah, sekarang ini sudah masuk pekan ke-4 berdirinya IRMBI kembali dan masing-masing divisi sedang membuat penjabaran atas proker masing-masing. So, doakan agar kami bisa komitmen dan mendapat ridho Allah SWT ya!

SEMANGat Karena Allah selalu!!! q(-^____________^-)p

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Thabrani dan Daruquthni dengan isnad shahih)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).”

(HR. Thabrani dengan isnad hasan)

Sumber hadits: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat.htm

Fathan Mubiinaa

Menurut hemat ana, aktivitas membina itu sendiri merupakan proses tarbiyah yang kudu harus kita jalani sebagai orang yang bertarbiyah. mengapa? mungkin selama ini kita sering mendengar kalimat “karena kita lahir dari rahim tarbiyah maka kita harus membalas budi dengan mewariskannya” pun Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa: 9,
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Perasaan ingin membalas budi dan takut kepada Allah ini lah yang menjadi alasan kita kembali berjibaku di ranah pembinaan. Apakah perasaan ini salah? Tentu tidak! ana yakin saudara/i di sini faham tentang ganjaran dari Allah bagi mukmin dan mukminah yang senantiasa beramal shalih dan berjihad dengan ikhlash.

Hanya ana ingin sedikit mengingatkan berdasarkan Hadits Shahih Nabi riwayat Imam Ahmad:
“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”
(HR Ahmad 17680).

Ingat kah? bahwa kejayaan Islam niscaya kan kembali kelak. jadi pertanyaannya sekarang, “Mau ambil peran apa ana sekarang dalam mempersiapkannya?” jika sekarang ana belum bisa menjadi tokoh di masyarakat, ahli di bidang inti, donatur abadi dalam pergerakan Islam, atau pemimpin bagi ummat, maka apa yang ana bisa berikan selain sedikit ilmu dan pengalaman yang telah ana dapat dari tarbiyah?

Selanjutnya, ketika kita sudah membina, kita semakin paham bahwa Islam mengatur secara menyeluruh dan integral dari sendi-sendi terkecil hajat individu hingga membentuk sebuah peradaban yang mulia yang mengikrarkan hanya Allah sebagai sesembahan.

Lantas, jika Islam sudah mengatur seperti itu, walaupun kita belum paham benar, apakah kita berani lancang untuk memisah-misahkan satu aspek kehidupan dari fitrah diinnya?
Katakanlah bahwa politik itu rusak, maka kita betulkan dengan aqidah yang lurus
Katakanlah bahwa politik itu kotor, maka kita bersihkan dengan syariat yang benar
Katakanlah bahwa politik itu busuk, maka kita wangikan dengan akhlak yang mulia

Namun, bagaimana jika tidak sampai juga pemahaman kita akannya? Berarti memang tingkatan tarbiyah kita baru sampai sana ukh, akh. Lantas apakah proses tarbiyah kita akan berhenti? Insya Allah tidak! Kita luruskan kembali niat kita, pupuk kembali ilmu kita dan perluas lagi amalan kita. Ana yakin ada balasan terbaik dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi hambaNya yang senantiasa berkomitmen dalam cinta dan ketaatan kepadaNya karena taat di saat damai itu biasa, namun taat di saat badai itu lah sang juara.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ lalu mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidaklah mereka merasa sedih. Mereka itulah para penguhi surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-Ahqaf: 13-14)

“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap istiqamah di atas jalan Allah itu (agama Islam), benar-benar kami  akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). Untuk kami beri cobaan kepada mereka padanya, dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkanNya kedalam azab yang berat.” (QS. Al-Jinn:16-17).

Kejayaan itu niscaya saudaraku, maka sembari kita menunggu giliran kita dipanggil olehNya, mari kita pererat barisan kita, senantiasa berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran karena sungguh, ini tak lain akan kita pertanggung jawabkan di hadapNya kelak

Mari kita persiapkan yang terbaik tuk menyongsong kemenangan yang nyata
FATHAN MUBIINAA….