Baca yuk!

Ini hari kedua ibu dan ayah bacain buku cerita buat Nuun. Sebelumnya​, saat tilawah ibu suka buka mushafnya di sebelah Nuun, jadi bisa sama-sama ngelihat Qur’annya.
Bagaimana responnya? Masya Allah anak ini antusias! Tahunya gimana? Ada kali ya doi konsen ndengerin dan natap bukunya selama 5 menit, keseling lirak-lirik ke arah lain sejenak lalu balik lagi ke buku (yaiyalah secara bukunya gede membentang di depannya 😁). Ekspresinya benar-benar mendengarkan dengan seksama. Sesekali tersenyum atau mengernyitkan dahi kayak mikir gitu, lucu deh 😋. Begitu juga saat berinteraksi dengan al-Qur’an.
Alhamdulillah, buku bergambar setebal 33 halaman itu selesai dibacakan dalam 2 sesi. Yang pertama, sebelum tidur tadi malam lalu tadi siang setelah bangun tidur.
Emang doi ngerti gitu? Ya, ibu selalu percaya bahwa di usia berapa pun, anak-anak itu punya fitrah belajar. Membacakan cerita itu aktivitas yang bisa menyalurkan energi positif untuk yang mendengarkan maupun yang menceritakan lho. Intonasi, ekspresi, dan gestur yang dimainkan pasti bisa ditangkap oleh bayi, sekali pun ia belum mengerti kata. Selain itu, kita bisa sambil membelai atau mencium kepalanya, mencolek hidung atau pipinya. Menjadikan aktivitas ini penuh kasih sayang.
Saat membacakan cerita, tunjukkanlah semangat. Deskripsikan semua yang bisa diindera anak seperti gambar, warna, bentuk, tekstur dsb, berimprovisasilah. Hitung benda yang bisa dihitung. Ubah intonasi sesuai karakter tokoh, sesekali peragakan apa yang dilakukan oleh tokoh. Tanya pendapat anak tentang apa pun yang ia indera atau cerita yang mungkin terjadi selanjutnya. Kita bisa juga mengaitkan apa yang dilakukan tokoh dengan kebiasaan anak kita. Misalnya, di buku Berilah Senyumanmu ini, Tariq dan Zainab sedang belajar hadits senyum itu ibadah. Ibu bilang ke Nuun, “Wah, seperti Nuun ya, ramah, suka tersenyum.” Banyak yang bisa dieksplor. Pokoknya asyik deh aktivitas yang satu ini. Apalagi dilakukan bersama yang terkasih dengan perhatian penuh. Citra tentang membaca in syaa Allah terbangun dengan kebahagiaan.
Hasilnya? Ya belum kelihatan lah, wong baru 2 hari 😁. Setiap amal butuh proses jadi nikmatin aja sambil berdoa yang terbaik. Semoga aktivitas ini menjadi pembuka pintu ilmu dan manfaat seluas-luasnya bagi anak dan dunia kelak. Terutama tuk meraih ridhaNya.
Tentang manfaat membacakan cerita atau dongeng bisa dengan mudah kok kita cari di jagat maya. Pengalaman sendiri, membaca itu selain memperluas wawasan juga mendayakan akal dan rasa sehingga memunculkan ide-ide kreatif, memperkaya bahasa untuk bercakap maupun nulis, menajamkan logika sekaligus mengasah empati, melatih pemecahan masalah, juga (berdampingan dengan pengalaman) membentuk paradigma yang arif tentang kehidupan. Banyak lagi deh manfaat yang didapat jika kelak anak kita suka membaca. Hubungan kita dengan anak pun jadi semakin erat. Apalagi kalau bisa dan gemar membacanya karena kita. Duh itu sedapnya tabungan pahala nggak putus-putus deh in syaa Allah.
Oya, ingat juga wahyu pertama yang turun kan tentang membaca ya? Membaca karenaNya. Mempelajari dan merenungkan ayat ini pasti akan menghadirkan kebaikan tersendiri.

Jadi, yuk ah kita mulai berbagi cinta lewat membaca 😘
#membacakarenaNya

#storytelling

#tamankhatulistiwa

#bacaituasyik

#gemarbacasejakdini

#predatorbuku

#bayidemenbaca

#banyakajetagarnye😬

Iklan

Hai

Pernahkah merasakan terjebak dalam kefanaan? Hampa dengan apa yang dijalani meski secara kasat mata biasa bahkan bahagia. 

Pernahkah​ merasa bahwa apa yang di hadapan Kita benar2 sulit dikendalikan? Benar2 di luar kuasa Kita. Bergerak pasti menuju kehancuran. Mudah saja orang melakukannya tanpa pertimbangan matang padahal mengerikan. Tanpa peduli konsekuensinya bagi diri apalagi orang lain. Kini apalagi di akhir nanti. Sudah coba mengingatkan? Sudah, berkali2. Hingga lelah jenuh kecewa menghantui. Hingga terkadang ingin (tanpa peduli) terseret saja dalam pusaran itu. Berkubang dalam kesenangan semu. Tapi tak bisa. Kesadaranmu sudah terlanjur bangun.
Pernahkah​ merasa dunia ini begitu memenjara? Penuh dengan kepalsuan, artifisial, yang dipaksa jejalkan dalam pikiran, laku, perasaan hingga seolah Kita membutuhkan sesuatu itu, nampak indah memikat padahal tidak! Namun, hidupmu sudah terlanjur dipenuhi olehnya. Sekitarmu memujanya, hingga sulit terlepas darinya. Upayamu mengingatkan tak dihirau. Kau mulai lelah dan muak. Bahkan terjerembab tak berdaya. Penuh gemuruh tapi tak ada yg peduli karena mereka terlena. Tergoda kemasannya. Atau mereka rasakan yang sama? Hanya sama tak berdayanya. Tak tahu harus bagaimana… Tinggal kau tergugu di sudut yang tak terjamah oleh sesiapa. Merasa aneh, anomali, asing.
Pelipurmu hanyalah keyakinan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang asing, kelak. Rehatmu bukan di sini.

Maka tegarlah. Sungguh, bersabar itu hanya sebentar hingga Ia memanggilmu. Tetaplah mengakar meski terkapar. Menapak meski terinjak. Mohon petunjuk, penguatanNya untuk tetap menyeru, mengajak, merangkul, terutama mereka yang kau ingin bahagianya kekal bersamamu. Cukupkanlah denganNya yang tak kan ingkar janji.

​Berbahagialah Bu


“Menjadi seorang ibu itu lompatannya besar. Jauh lebih dari saat menikah. Dunia serasa berubah. Itu yang kurasa.” Ujarku kepada seorang kawan.

Tak pernah kubayangkan ada sensasi sedemikian ketika ada sesosok manusia tumbuh di dalam diriku. Yang menyatu, bergantung padaku dengan izinNya. Jantungnya berdetak seiring jantungku. Rasaku adalah rasanya. Hidupku adalah hidupnya. Hingga kami bertemu saat ia keluar dari tubuhku. Menangis keras menyongsong dunia. Lamat-lamat kulantunkan adzan pada pertemuan pertama kami yang amat singkat itu. Saat itu, hatiku kian tertambat padanya. Nuun Khairana Khatulistiwa.
Menjadi seorang ibu. Tidak hanya sekedar mengubah status dan rutinitas. Jelas berkurang waktu tidurku. Tapi bukan itu. Ada yang berubah tentang dunia. Padahal jutaan wanita mengalaminya. 

Ada khawatir yang lebih dari biasanya. 

Ada rindu yang lebih dari biasanya.

Ada syukur yang lebih dari biasanya.

Ada cinta.

Ada banyak lagi yang tak terlukis kata.

Rasanya ingin berkata pada dunia, “Hei, aku jadi seorang ibu!”
Menjadi seorang ibu membuatku semakin haus ilmu. Bagaimana tidak? Apa-apa tentang manusia baru yang tadinya hanya menjadi perhatian sekilas, kini menjadi prioritas. Setiap perubahan selalu menuntunku belajar. Ini lebih dari sekedar beradaptasi dengan luka bekas operasi, batuk-batuk, puting lecet, payudara bengkak, badan nyeri pegal lelah, baju selalu basah di pekan-pekan pertama. Kini ada seorang manusia yang hidupnya bersandar kepadaku dengan izinNya. Yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, kebijaksanaan, kebanggaan, ketulusan, penerimaanku sebagai seorang ibu. Yang masa depannya menjadi tanggung jawabku. Yang akhiratku diperjuangkan melalui hidupnya.
Menjadi seorang ibu membuatku semakin sering merenung. Tentang berbagai peran amanahku, baik di ranah publik maupun domestik. Tentang pertanggung jawabannya kelak di hadapNya. Tentang hisab. Tentang kematian. Aku semakin memperhitungkan tiap amanah publik yang kan kuambil. Bagaimana niatku? Apakah murni untuk menjadi manusia bermanfaat atau masih tergoda dengan kosmetik fana berupa harta, tahta dan pandangan mata? Dalam sujud kupanjatkan doa, memohon petunjuk dan penguatan akan tiap pilihan. Bukan tak pernah aku merasa lelah, jenuh, malas, minder, lemah, diabaikan, tak berdaya. Terjebak media sosial yang hanya menunjukkan hal-hal ideal. Jadi baper, lupa bersyukur. Padahal jika sedikit lebih arif, dengan iman di dada, aku masih jauh lebih beruntung dari banyak insan di luar sana. Ada kalanya ingin keluar, menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Tapi untuk apa? Apakah yang kudapat sebanding dengan apa yang kutinggal? Sedangkan Rabbku telah menitipkan sebuah amanah besar yang adalah bagian dari diriku sendiri. Yang hidupnya berasal dari hidupku.
Lantas, sebuah tulisan menyentuhku. Tulisan yang kurang lebih sama dengan tulisan-tulisan lain tentang peran ibu tetapi ada rasa berbeda yang Ia hadirkan. “Pulanglah ke rumah wahai Ibu”, begitu kira-kira intinya. Tentang pentingnya rasa bangga menjadi seorang ibu. Yang lahir dari paradigma tentang makna seorang ibu bagi buah hatinya, bagi peradaban. Yang meskipun hampir tak kurasa ketika meraba masa lalu. Yang semakin kumaknai seiring waktu. Aku bertekad hendak menjadi ibu sejati. Itulah sebab kelak aku ingin dipanggil “ibu” oleh buah hatiku.
Pun, aku teringat cerita salah seorang ibu. Beliau seorang konsultan pendidikan. Yang baru menikah dan langsung dikaruniai beberapa orang anak dari pernikahan suaminya dengan mendiang istri sebelumnya. Dengan jam terbang tinggi dalam dunia pendidikan, dirasanya masih tak sebanding dengan mengasuh anak. Begitu besarnya pengorbanan ibu rumah tangga. Bahkan lebih dari ibu bekerja. Ibu rumah tangga belum tentu mendapatkan apresiasi layaknya ibu bekerja. Selain itu risiko ibu bekerja adalah interaksinya dengan pria yang bisa jadi bencana. Begitu hemat beliau. 
Aku sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pilihan yang diambil para ibu yang memutuskan keluar rumah dengan menyadari berbagai konsekuensinya. Apalagi jika “kondisi”mengharuskan ia untuk mengorbankan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dengan berbagai tantangan zaman yang sayangnya semakin tak ramah bagi makhluk bernama wanita. Bagi eksistensi sebuah keluarga yang sesuai dengan fitrah. Begitu pula para wanita yang sudah menemukan jalannya tuk berkontribusi bagi dunia karenaNya. Sekali lagi, bagiku niat itu amat penting.

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan bagi para ibu di mana pun yang tengah memperjuangkan makna ibu itu sendiri.
Hanya soal waktu hingga kamu bisa berdaya kembali bagi ummat. Yang penting terus bergerak. Lakukan yang bisa dilakukan meski kecil. Karena peradaban dibangun oleh jiwa-jiwa yang besar bentukan wanita (ibu dan istri) yang bervisi besar lagi berkorban besar. 

“Bukan dari ibu yang “nguplek di dapur aja”, maka untuk saat ini nikmatilah masa-masa bersama anakmu.” Begitu kira-kira nasihat seorang saudari ketika aku curhat. Ya, kita berhak bahagia dengan apa pun kondisi kita dan buah hati kita pun berhak dirawat oleh ibu yang bahagia 🙂
Nak, terimakasih telah hadir dan mewarnai hidup ibu. Mengajarkan ibu banyak hal. Ibu menyayangimu karenaNya.

Dan untukmu para ibu, berbahagialah, bersyukurlah, karena Sang Maha memuliakanmu dengan memperkenankan surga di bawah telapak kakimu.
Sumber gambar

Nuun Khairana Khatulistiwa


Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Menjumpa CintaNya

Menghitung hari

Detik demi detik
Menunggu itu kan menjemukan
(Menghitung Hari 2)

Seolah menjadi soundtrack hidup saat pernikahan menginjak tahun ketiga dan seterusnya. Upaya pertama kali saat pernikahan baru seumur jagung (belum setahun). Sempat diomelin dokternya lantaran tegang saat hendak diperiksa dalam,
“Wah ini sih belum siap jadi ibu kayaknya”. Aku hanya tertawa kecut sambil membesarkan hati sendiri (dalam hati gitu), ‘Ya, gue baru 21 tahun dan masih kuliah gitu. Obrolan n aktivitas sehari-hari apa lagi kalau bukan urusan kampus, organisasi, n paling jadi pendengar buat muda-mudi yang curhat soal jodoh.’ ‪#‎eaaa‬
Sejak saat itu aku semakin memantapkan hati bahwa wanita itu harus semakin kuat. Bukan hanya mentalnya yang kudu tahan banting dengan berbagai kondisi psikologis-domestik-pendidikan-sosial-ekonomi-politik-kultural yang menjelma ujian hidup, tetapi juga secara fisik harus siap “diapain aja” tu onderdil dalem demi mempersiapkan tempat terlayak bagi ciptaanNya yang paling sempurna, menggenapi tiap ikatan bernama pernikahan.

 

“Udah isi belum?”, tanya mereka.
“Belum ni, doakan ya…” kalau lagi shalihah atau,
“Udah, isi nasi.” Nyengir terpaksa.
“Udah periksa?”, tanya yang lain.
“Udah, beberapa kali. Suami juga. Memang, ada sesuatu yang perlu penanganan tapi dokter bilang masih bisa hamil kok.” Senyum menghibur diri.
“Sabar ya, belum dapat kepercayaanNya berarti.”,
“Iya ni, doakan ya…” luguku saat itu. Belakangan baru mendapat pencerahan yang nyata bahwa di luar sana banyak oknum esek-esek yang begitu mudah hamil tanpa usaha keras (pun tanpa keinginan sama sekali) lalu aborsi begitu aja atau membuang anaknya entah di mana atau jadi pelaku KDRT pada anaknya karena nikah tanpa siap jadi orangtua. Apa berarti mereka lebih dipercaya ya? Kalau begitu kaidahnya, Tuhan nggak adil dong, tapi mustahil Ia seperti itu. Berarti sikap kita yang mesti lebih bijak mengolah hikmah atas kehidupan apalagi sampai berani mengomentari orang lain yang pakaiannya saja belum tentu muat kita pakai, ya to?

Aku Tak Sendiri

Kali lain, jumpa teman-teman seperjuangan yang ikhtiar dan kesabarannya menanti buah hati sudah jauh lebih dariku. Ah, sungguh tak sampai hati bersangka bahwa mereka belum layak mendapat kepercayaanNya. Mereka adalah sosok-sosok insan yang taat kepadaNya, nyata karyanya, besar kontribusinya bagi sesama, dan yang mengharukan adalah interaksinya dengan anak-anak yang akan membuat kita berpikir, ‘Alangkah beruntungnya sang buah hati dalam buaian mereka kelak’.
Ini benar-benar tak semudah memilih pakaian yang mau dipakai pas kondangan meski rada ribet juga sih, eh? Ini tentang kuasaNya yang menetapi tiap pilihan hidup manusia. Meski kita dikaruniai daya untuk memilih, tetaplah takdirNya yang bertahta. Rencana kita ada dalam rencanaNya. Maka begitu pulalah kita perlu bersikap arif kepada mereka yang belum bertemu jodohnya, yang punya banyak anak dan nampak kelelahan, yang lahiran nggak bisa normal atau yang ASInya nggak keluar, yang anaknya sakit-sakitan atau nggak segemuk anak seusianya, yang tengah berjuang menerima penyakitnya, yang rizkinya tak kunjung memenuhi hidupnya dan keluarga, yang memiliki masalah pelik dalam hidupnya dan berbagai tantangan kehidupan. Semua sungguh sudah tertulis pada lembaran yang telah mengering tintanya. Sebagai ketetapanNya. HakNya.

Anugerah Terindah

Puji syukur selalu karena di lingkaran terkasih ada dua pasang orangtua yang hampir tak pernah menuntut kecuali sesekali menasihati, turut mengupayakan jalan atau mengungkap rindu pada cucu pertama (aku anak tunggal dan suami anak pertama) tanpa bermaksud memaksa. Ah, sungguh tak seberapa perasaanku saat datang kabar bahagia dari teman-teman seangkatan yang belakangan menikah, adik-adik tingkat, bahkan iparku yang menikah di tahun keempat pernikahanku.
Ah, inilah yang kuinsyafi bahwa baktiku terhadap mereka masihlah perlu diasah.
Rabbighfirli wali wali dayya warhamhuma kamaa rabbayani shaghiiraa

Pernah, sang musuh abadi manusia mengembus rasa berjuang sendiri, bertepuk sebelah tangan, tapi siapa yang tahu dalamnya hati? Hingga suatu saat terlontar dari bibir imamku,
“Aku juga kesal saat orang selalu bertanya tetapi aku berusaha nampak baik-baik saja, santai, supaya mereka nggak menekanmu dan membuatmu stress.”
“Ney, meski akhirnya Allah nggak ngasih kita keturunan, aku tetap ingin kita berdua sampai ke surgaNya.” Kau katakan dengan penuh keyakinan. Betapa romantis meski aku nggak mengucapkannya saat itu karena kamu pasti akan menyangkal dan bilang begini dengan muka sok iye a la bercanda berat,
‘Kamu ini inferiority complex atas identitas muslim terhadap kebudayaan Roma’
Ah, lagi-lagi menginsyafi bahwa taatku kepadamu masih perlu kutambal sulam sayang. Sungguh, kini semakin ingin kuraih ridhamu, Ibu dan Bapak, Sidtu dan Siddi. Setelah dulu sempat beranggapan lebih baik menyibukkan diri bagi sesama agar menjadi amal yang layak menjadi bekalku menghadapNya kelak, ketimbang meratapi nasib seolah diri yang paling merana di bumi. Kusadari bahwa keluarga adalah anugerah terindah yang paling berhak kuberi bakti setelah Sang Maha dan utusanNya yang mulia.

Sebuah Jawaban

6 tahun bahtera kami berlayar. Sungguh yang terjadi jauh lebih uwow dari yang dapat dilukis kata. Tempaan-tempaan iman tlah membuatku tak mudah mengibai diri. Sampai pada satu titik di mana pencarian jawaban akan satu dinamika hidup menemukan sendiri kepingan yang lama dicari. Doa yang terjawab bukanlah apa yang sedang dipinta, melainkan apa yang sudah lama diikhlas-pasrahkan. Hingga dua garis sejajar itu hanya membuatku senyum tersipu sambil menertawai diri karena pertama kalinya muncul pada instrumen yang sudah kadaluarsa tiga tahun, haha. Mencoba kedua kalinya tanpa gejolak berlebih. Hanya harap yang berselimut doa. Alhamdulillah untuk ke sekian kalinya Ia memberi lebih indah dari yang kupinta. Tanpa euforia dan kadang masih rasa tak percaya. Sampai ibu melihat sendiri denyut jantungmu. Sungguh menakjubkan penciptaan manusia dalam kuasaNya.
“Selamat datang Nak dalam kehidupan ibu dan ayah.”
Meski menurut ukuran manusia ini bukan kondisi terbaik kami, tetapi Ia yang paling tahu dan Maha Tahu yang paling baik dan tepat bagi hambaNya.
“Mari Nak, kita belajar bersama menjiwai kehidupan, perjuangan. Ajari ibu untuk selalu bersyukur, bersabar, bahagia ya Nak, hingga kelak kita saling menatap dan memahami tanpa banyak kata. Hingga kelak kita bersama menjumpai Yang Tercinta.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang sanggup engkau dustakan?

Rumahku surgaku,
1Juni 2016 03.30
Pekan ke-8 bersama yang dinanti

dedek mudghah 7w5d

 

Maaf ya Rabb

Maafkan hamba ya Rabb, yang belum bisa bersabar menerima ketetapanMu
Yang masih kekanakan karena tidak bisa menerima ketidakadilan sedangkan hamba tahu bahwa keadilan sejati hanya di akhirat kelak
Yang tak bisa menerima kebathilan sedangkan hamba tahu bahwa sekarang zaman fitnah
Yang tak bisa melihat orang yang menghalalkan segala cara sedangkan Engkau lebih tahu siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang hendak Kau sesatkan
Apakah hamba harus diam ya Rabb? Atau harus berbuat apa?
Bagaimana cara meminta fatwa kepada nurani sedangkan saat ini ia sedang dipaksa bungkam menyaksikan semua?!

Selamat datang

Selamat datang di dunia nyata, di mana sakit itu terasa sakit tanpa ada yang bisa menggantikannya. Bahkan, tak jarang kau harus mengesampingkan perasaan pribadimu untuk sesuatu yang lebih besar hingga menanggung tulah dari kerusakan yang diperbuat orang lain. Ditambah, Ia memberi amanah, peran, di mana kitalah yang harus memperbaiki dampak dari kerusakan itu. Ialah kenyataan bagi siapa yang mau berjuang untuk idealisme yang dicitakan. Untuk mimpi, cinta karenaNya…

Terkadang kita merasa ujian yang menghampiri begitu berat sampai pada titik kita merasa tak sanggup lagi karena perihnya begitu terasa, pun kondisinya membuat kita harus tetap “saya baik-baik saja, hidup ini indah apa pun yang terjadi”. Saat itu barulah kesadaran datang bahwa Allah-lah satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan. Yang takkan pernah mengecewakan. Yang memberikan semua kegetiran itu agar kita tetap tunduk merendah, menengadah kepadaNya. Menjauhi keangkuhan dan kawan-kawannya. Karena apalah kita jika Allah tak berkenan lagi menutup aib kita…

Apa pun yang terjadi. Betapa pun membuat muak, jijik, kecewa. Janganlah pernah lepas dari rahmat Allah. Bertahanlah dalam kendaraan besar ini. Sebobrok apa pun di dalamnya. Karena kesendirian akan menyeretmu dalam kebebasan yang semu. Karena kalau mereka yang tulus pergi dan meninggalkan mereka yang haus kepentingan, senangkah kau menunggu saat kehancurannya? Dan kabar buruknya, kau akan berjumpa lagi dengan ujian yang persis, situasi yang mirip. Tak ada tempat tuk menghindar. Hadapi atau lari. Lantas jika ujian itu berlaku di mana pun, kau hendak meninggalkan dunia karena kecewa? Selamat, kau baru saja mendaftar ke tempat berakhir paling buruk dan akan dicemooh, tertawakan oleh musuh besarmu, setan keparat.

Maka takkan pernah bersanding serasi yang namanya kebenaran dengan keburukan. Amatlah berbeda pembenaran dari kebenaran. Kita hanyalah pemain dalam maha karya hidup. Tugas kita hanya berperan sebaik-baiknya sebagaimana kehendakNya. Hidup mati ada di tanganNya. Bahkan hati, tak sepetak pun kita kuasai.

Wahai Yang Maha Penyayang, maafkan, ampunilah kami atas ketidak tahuan kami yang sering menyakiti diri kami sendiri, mengharap karena nafsu terhadap apa yang sebenarnya buruk bagi kami, lalai dari memohon kebaikan kepadaMu, kufur terhadap nikmatMu, mengulang kesalahan yang sama berulang kali, mengabaikan penjagaanMu pada aib kami. Tuntunlah kami kepada keberkahan dan ketenangan karenaMu. Ajarkan kami syukur dan sabar demi ridhoMu. Kuatkan kami mengikuti kebenaran dan menjauhi keburukan. Teguhkan kami di atas jalan juang hingga raih kemuliaan hidup atau mati. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong.