Menepi

Semakin ke sini, kian kusadari ketakberdayaan diri. Segala daya hanya titipan. Bahkan, tentang kesadaranmu saat menggendong sang buah hati. Siapa sangka ia yang begitu kau cinta, lepas dari gendonganmu saat kau sedang bermain dengannya, menggendongnya. Ia begitu saja meluncur jatuh membentur lantai yang dingin. 

Esok, bisa jadi nyawa yang tercerabut kala diri belum sempat mengenalkan tuhannya.

Ya Rabb lemahnya hamba. Tiada daya melainkan padaMu…
Semakin ke sini, kian kusadari segala sesuatu begitu semu. Tak ada yang benar-benar kudamba di dunia. Semakin memenjara. Asing. Namun, tak kurasa layak meminta surga. Begitu besar dosa. Waktu yang dilalaikan. Pun, masih saja kulakukan saat ku t’lah menyadarinya. 

Padahal makin jelas tanda masa mendekati akhirnya. Padahal bisa jadi esok maut “membangunkan”. Padahal tak ada jaminan ke mana nanti ku kan “pulang kampung”.
Orangtua kian renta bahkan tiada.

Anak beranjak lepas dari pangkuan.

Sahabat kian jauh. Saudara kian tak saling mengenal. Tak saling melihat ke dalam sepatu orang lain. Semua ditafsirkan seselera ego. Nasihat dianggap racun. Semua berlantang, “ini aku” di panggungnya masing-masing. Entah masihkah doa saling terlantun dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang. Atau semua benar-benar sudah tergantikan dengan belantara dalam kotak kecil yang menyedot semua perhatian. Aku merinding. Sungguh.
Aku berusaha mengingatkan tapi apalah daya. Aku hanyalah si lemah yang masih juga melakukan kesalahan yang sama berulang. Aku pun memakai topeng agar dapat diterima. Tapi kini aku sadar. Tak merasa perlu lagi berpura. Inilah aku. Jika hati dapat bertaut, segala puji bagiNya. Jika tidak, perkara hati adalah kuasaNya. 
Aku tak hendak lagi memaksa diri bersolek sesuai kacamata mereka. Aku hanya ingin mencuri pandangNya. Mohon ampunNya. Mengharap petunjuk dan ridhoNya. Bersama tunas yang baru saja tumbuh. Semoga dapat kujaga fitrahnya.
Aku merindu. Amat merindu. Manisnya tawa kebersamaan. Pelukan hangat menenangkan. Keceriaan sapa dan salam. Seruan penyemangat. Air mata seorang saudara yang meletakkan rasanya karena percaya. Atau nasihat, perhatian yang tulus meski pahit. Saat sesuatu ditangkap sebagaimana adanya. Sentuhan kemanusiaan. Yang kini semakin pudar hadir dan maknanya.
Hingga, suatu saat terlintas, “siapa yang nanti akan tetap mendoakan saat dunia t’lah kutinggalkan?” Dan aku tak sanggup melanjutkan tanya, “apakah saat ini ada yang mendoakanku?”. Di saat keedanan zaman semakin menghimpit. Manusia semakin berpikir tentang diri dan keluarga. Apakah di antara ribuan lebih pengikut di jagat maya ada yang benar-benar mendoakan dengan khusyuk demi kebaikan?
Kuputuskan menepi. Menata hati. Menata diri. Mengikis segala kesombongan, bangga diri. Menyambung persaudaraan yang hakiki.

Aku hanyalah insan yang aibnya sedang ditutupi. Aku hanyalah insan yang sedang dicicipi secuil kemuliaan di mata manusia. Yang amat sangat mudah Ia cabut dalam sekejap hingga ke luar rumah pun tak kan ada nyali. Lantas dengan dasar apa berani melantangkan diri?
Saudaraku, mohon keikhlasannya memaafkan. Jika ada hal yang belum tertunaikan, mohon sekali diingatkan.

Aku hanya ingin saat waktuku habis, tuntas semua soalan. Tak ada yang kan menuntut kelak di “pengadilan”.

Jika di surga nanti kita tak bersua. Sudikah diri ini kau cari?
Atas peraduan,

21 & 25 September 2017

Iklan

​Setulus Cinta

Andai aku t’lah dewasa

Ingin aku persembahkan

Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu

Kau s’lalu kucinta

Sebait lagu dari seorang penyanyi cilik tempo dulu yang umumnya kan membuat hati berderai, melayangkan kenangan ke masa terindah bersama mereka yang tercinta, orangtua. Namun, ada sebagian kita yang justru bagai membuka kotak pandora saat mengeja kata itu. Yang lain bisa jadi hanya menemukan ruangan kosong di hatinya. Datar, hampa.

Bagi saya sendiri, relasi antara orangtua dan anak bukanlah perkara yang sederhana. Ada kasih dan sedih. Ada harap dan tanggung jawab. Ada rindu dan takut. Ada hormat dan iba. Ada marah, kecewa, sesal, cinta. Berbaur saling tindih, berkontradiksi dalam waktu yang bersamaan.

Di samping, ada juga keberanian. Ada keikhlasan. Ada kewarasan. Keyakinan.

Keberanian tuk mengingatkan alfanya.

Keikhlasan tuk memaafkan dan menerima segala keterbatasannya sebagai manusia.

Kewarasan tuk memutus rantai pengasuhan yang salah.

Keyakinan bahwa takdirNya tak pernah menzalimi kita.

Semakin ke sini kian kusyukuri ke-islama-anku yang t’lah menanamkan akhlak kepada orangtua. Bagaimana pun pedihnya rasa yang dihadirkan mereka kepada kita. Betapa pun abainya tanggung jawab mereka atas kita. Wajib kita berbuat baik kepada mereka. Bahkan, ketika keyakinan kita dan mereka berlainan tentang Tuhan. Beda dengan humanisme yang melandaskannya pada timbal balik kebaikan semata. Jika pada orangtua tak ada kasih dan tanggung jawab, lantas bagaimana laku kita kepada mereka?

Amat menyentuh doa yang Allah sendiri ajarkan kepada hambaNya dalam Al Qur’an surat Al israa’: 24 yang artinya, 

“Ya Rabb, ampuni aku dan kedua orangtuaku. Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, mendidikku di waktu aku masih kecil.” 

Kita dituntun memohon ampun bagi diri sendiri yang begitu lemah dan lalai menjalani berbagai peran dalam hidup. Kita pun diajarkan tuk memohonkan maaf bagi orangtua kita yang ada kalanya alfa, seraya memohon kasih sayangNya kepada mereka. Saat kecil adalah di mana kasih sayang orangtua paling membuncah pada sang buah hati. Saat di mana segalanya demi sang buah hati. Maka sungguh-sungguh indah Allah mengajarkan kita tuk meminta cinta yang paling, bagi mereka yang menjadi sebab adanya kita di dunia.

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan: 74.

Sebagai orangtua, tidakkah wajah ananda yang tengah terlelap membuat kita bercermin dan bertanya, bagaimanakah kita mengisi kantung cinta ananda semasa kanak mereka? Apakah dengan ketulusan perhatian dan penerimaan ataukah dengan duka dan luka? Apakah kita t’lah lebih dulu “mencontohkan” durhaka, yang menjadi cetak biru bagi mereka tuk memperlakukan kita kelak? Hingga menjadi pinta mereka kepadaNya agar kita mendapatkan balasan yang sama sebagaimana adab kita kepada mereka di waktu kecil. Pinta yang lahir dari relung terdalam, jauh di bawah lapis kesadaran. Ingat, bahwa ananda tak pernah minta dilahirkan. Tak bisa memilih siapa yang kan menjadi orangtuanya. Lantas, sudahkah kita pantas mengharap mereka menjadi pemimpin peradaban kelak?

Pun sebagai anak, bagaimana selama ini kita mewarnai kehidupan sosok manusia yang kian dimakan usia ini? Apakah dengan tawa bahagia, haru, atau dengan tangis sesal, takut, dan murka mereka? Atau bahkan kesepian yang tak terperi.

Apa yang telah dengan segenap daya kita berikan? Apakah waktu dan perhatian kita yang paling berharga ataukah materi semata (sekali pun jika hanya itu yang mereka berikan kepada kita di waktu kecil) atau jangan-jangan hanya sisa dari itu semua. Yang sudah kita habiskan dengan keluarga kita sendiri, di tempat kerja, lingkungan sekitar, tempat nongkrong, atau bahkan dibandingkan gawai yang selalu menyertai di mana kita. Hingga kita tak pernah tahu apa yang menjadi sebab tangis dalam doa mereka.

Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu

Kutahu kau berjaga dalam langkahku

Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu

Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Ah, ya Rabb, mampukanlah hamba sebagai anak dan orangtua, berbakti kepada yang hamba kasihi semasa hidup mereka dan setelah tiadanya.

Baca yuk!

Ini hari kedua ibu dan ayah bacain buku cerita buat Nuun. Sebelumnya​, saat tilawah ibu suka buka mushafnya di sebelah Nuun, jadi bisa sama-sama ngelihat Qur’annya.
Bagaimana responnya? Masya Allah anak ini antusias! Tahunya gimana? Ada kali ya doi konsen ndengerin dan natap bukunya selama 5 menit, keseling lirak-lirik ke arah lain sejenak lalu balik lagi ke buku (yaiyalah secara bukunya gede membentang di depannya 😁). Ekspresinya benar-benar mendengarkan dengan seksama. Sesekali tersenyum atau mengernyitkan dahi kayak mikir gitu, lucu deh 😋. Begitu juga saat berinteraksi dengan al-Qur’an.
Alhamdulillah, buku bergambar setebal 33 halaman itu selesai dibacakan dalam 2 sesi. Yang pertama, sebelum tidur tadi malam lalu tadi siang setelah bangun tidur.
Emang doi ngerti gitu? Ya, ibu selalu percaya bahwa di usia berapa pun, anak-anak itu punya fitrah belajar. Membacakan cerita itu aktivitas yang bisa menyalurkan energi positif untuk yang mendengarkan maupun yang menceritakan lho. Intonasi, ekspresi, dan gestur yang dimainkan pasti bisa ditangkap oleh bayi, sekali pun ia belum mengerti kata. Selain itu, kita bisa sambil membelai atau mencium kepalanya, mencolek hidung atau pipinya. Menjadikan aktivitas ini penuh kasih sayang.
Saat membacakan cerita, tunjukkanlah semangat. Deskripsikan semua yang bisa diindera anak seperti gambar, warna, bentuk, tekstur dsb, berimprovisasilah. Hitung benda yang bisa dihitung. Ubah intonasi sesuai karakter tokoh, sesekali peragakan apa yang dilakukan oleh tokoh. Tanya pendapat anak tentang apa pun yang ia indera atau cerita yang mungkin terjadi selanjutnya. Kita bisa juga mengaitkan apa yang dilakukan tokoh dengan kebiasaan anak kita. Misalnya, di buku Berilah Senyumanmu ini, Tariq dan Zainab sedang belajar hadits senyum itu ibadah. Ibu bilang ke Nuun, “Wah, seperti Nuun ya, ramah, suka tersenyum.” Banyak yang bisa dieksplor. Pokoknya asyik deh aktivitas yang satu ini. Apalagi dilakukan bersama yang terkasih dengan perhatian penuh. Citra tentang membaca in syaa Allah terbangun dengan kebahagiaan.
Hasilnya? Ya belum kelihatan lah, wong baru 2 hari 😁. Setiap amal butuh proses jadi nikmatin aja sambil berdoa yang terbaik. Semoga aktivitas ini menjadi pembuka pintu ilmu dan manfaat seluas-luasnya bagi anak dan dunia kelak. Terutama tuk meraih ridhaNya.
Tentang manfaat membacakan cerita atau dongeng bisa dengan mudah kok kita cari di jagat maya. Pengalaman sendiri, membaca itu selain memperluas wawasan juga mendayakan akal dan rasa sehingga memunculkan ide-ide kreatif, memperkaya bahasa untuk bercakap maupun nulis, menajamkan logika sekaligus mengasah empati, melatih pemecahan masalah, juga (berdampingan dengan pengalaman) membentuk paradigma yang arif tentang kehidupan. Banyak lagi deh manfaat yang didapat jika kelak anak kita suka membaca. Hubungan kita dengan anak pun jadi semakin erat. Apalagi kalau bisa dan gemar membacanya karena kita. Duh itu sedapnya tabungan pahala nggak putus-putus deh in syaa Allah.
Oya, ingat juga wahyu pertama yang turun kan tentang membaca ya? Membaca karenaNya. Mempelajari dan merenungkan ayat ini pasti akan menghadirkan kebaikan tersendiri.

Jadi, yuk ah kita mulai berbagi cinta lewat membaca 😘
#membacakarenaNya

#storytelling

#tamankhatulistiwa

#bacaituasyik

#gemarbacasejakdini

#predatorbuku

#bayidemenbaca

#banyakajetagarnye😬

Hai

Pernahkah merasakan terjebak dalam kefanaan? Hampa dengan apa yang dijalani meski secara kasat mata biasa bahkan bahagia. 

Pernahkah​ merasa bahwa apa yang di hadapan Kita benar2 sulit dikendalikan? Benar2 di luar kuasa Kita. Bergerak pasti menuju kehancuran. Mudah saja orang melakukannya tanpa pertimbangan matang padahal mengerikan. Tanpa peduli konsekuensinya bagi diri apalagi orang lain. Kini apalagi di akhir nanti. Sudah coba mengingatkan? Sudah, berkali2. Hingga lelah jenuh kecewa menghantui. Hingga terkadang ingin (tanpa peduli) terseret saja dalam pusaran itu. Berkubang dalam kesenangan semu. Tapi tak bisa. Kesadaranmu sudah terlanjur bangun.
Pernahkah​ merasa dunia ini begitu memenjara? Penuh dengan kepalsuan, artifisial, yang dipaksa jejalkan dalam pikiran, laku, perasaan hingga seolah Kita membutuhkan sesuatu itu, nampak indah memikat padahal tidak! Namun, hidupmu sudah terlanjur dipenuhi olehnya. Sekitarmu memujanya, hingga sulit terlepas darinya. Upayamu mengingatkan tak dihirau. Kau mulai lelah dan muak. Bahkan terjerembab tak berdaya. Penuh gemuruh tapi tak ada yg peduli karena mereka terlena. Tergoda kemasannya. Atau mereka rasakan yang sama? Hanya sama tak berdayanya. Tak tahu harus bagaimana… Tinggal kau tergugu di sudut yang tak terjamah oleh sesiapa. Merasa aneh, anomali, asing.
Pelipurmu hanyalah keyakinan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang asing, kelak. Rehatmu bukan di sini.

Maka tegarlah. Sungguh, bersabar itu hanya sebentar hingga Ia memanggilmu. Tetaplah mengakar meski terkapar. Menapak meski terinjak. Mohon petunjuk, penguatanNya untuk tetap menyeru, mengajak, merangkul, terutama mereka yang kau ingin bahagianya kekal bersamamu. Cukupkanlah denganNya yang tak kan ingkar janji.

​Berbahagialah Bu


“Menjadi seorang ibu itu lompatannya besar. Jauh lebih dari saat menikah. Dunia serasa berubah. Itu yang kurasa.” Ujarku kepada seorang kawan.

Tak pernah kubayangkan ada sensasi sedemikian ketika ada sesosok manusia tumbuh di dalam diriku. Yang menyatu, bergantung padaku dengan izinNya. Jantungnya berdetak seiring jantungku. Rasaku adalah rasanya. Hidupku adalah hidupnya. Hingga kami bertemu saat ia keluar dari tubuhku. Menangis keras menyongsong dunia. Lamat-lamat kulantunkan adzan pada pertemuan pertama kami yang amat singkat itu. Saat itu, hatiku kian tertambat padanya. Nuun Khairana Khatulistiwa.
Menjadi seorang ibu. Tidak hanya sekedar mengubah status dan rutinitas. Jelas berkurang waktu tidurku. Tapi bukan itu. Ada yang berubah tentang dunia. Padahal jutaan wanita mengalaminya. 

Ada khawatir yang lebih dari biasanya. 

Ada rindu yang lebih dari biasanya.

Ada syukur yang lebih dari biasanya.

Ada cinta.

Ada banyak lagi yang tak terlukis kata.

Rasanya ingin berkata pada dunia, “Hei, aku jadi seorang ibu!”
Menjadi seorang ibu membuatku semakin haus ilmu. Bagaimana tidak? Apa-apa tentang manusia baru yang tadinya hanya menjadi perhatian sekilas, kini menjadi prioritas. Setiap perubahan selalu menuntunku belajar. Ini lebih dari sekedar beradaptasi dengan luka bekas operasi, batuk-batuk, puting lecet, payudara bengkak, badan nyeri pegal lelah, baju selalu basah di pekan-pekan pertama. Kini ada seorang manusia yang hidupnya bersandar kepadaku dengan izinNya. Yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, kebijaksanaan, kebanggaan, ketulusan, penerimaanku sebagai seorang ibu. Yang masa depannya menjadi tanggung jawabku. Yang akhiratku diperjuangkan melalui hidupnya.
Menjadi seorang ibu membuatku semakin sering merenung. Tentang berbagai peran amanahku, baik di ranah publik maupun domestik. Tentang pertanggung jawabannya kelak di hadapNya. Tentang hisab. Tentang kematian. Aku semakin memperhitungkan tiap amanah publik yang kan kuambil. Bagaimana niatku? Apakah murni untuk menjadi manusia bermanfaat atau masih tergoda dengan kosmetik fana berupa harta, tahta dan pandangan mata? Dalam sujud kupanjatkan doa, memohon petunjuk dan penguatan akan tiap pilihan. Bukan tak pernah aku merasa lelah, jenuh, malas, minder, lemah, diabaikan, tak berdaya. Terjebak media sosial yang hanya menunjukkan hal-hal ideal. Jadi baper, lupa bersyukur. Padahal jika sedikit lebih arif, dengan iman di dada, aku masih jauh lebih beruntung dari banyak insan di luar sana. Ada kalanya ingin keluar, menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Tapi untuk apa? Apakah yang kudapat sebanding dengan apa yang kutinggal? Sedangkan Rabbku telah menitipkan sebuah amanah besar yang adalah bagian dari diriku sendiri. Yang hidupnya berasal dari hidupku.
Lantas, sebuah tulisan menyentuhku. Tulisan yang kurang lebih sama dengan tulisan-tulisan lain tentang peran ibu tetapi ada rasa berbeda yang Ia hadirkan. “Pulanglah ke rumah wahai Ibu”, begitu kira-kira intinya. Tentang pentingnya rasa bangga menjadi seorang ibu. Yang lahir dari paradigma tentang makna seorang ibu bagi buah hatinya, bagi peradaban. Yang meskipun hampir tak kurasa ketika meraba masa lalu. Yang semakin kumaknai seiring waktu. Aku bertekad hendak menjadi ibu sejati. Itulah sebab kelak aku ingin dipanggil “ibu” oleh buah hatiku.
Pun, aku teringat cerita salah seorang ibu. Beliau seorang konsultan pendidikan. Yang baru menikah dan langsung dikaruniai beberapa orang anak dari pernikahan suaminya dengan mendiang istri sebelumnya. Dengan jam terbang tinggi dalam dunia pendidikan, dirasanya masih tak sebanding dengan mengasuh anak. Begitu besarnya pengorbanan ibu rumah tangga. Bahkan lebih dari ibu bekerja. Ibu rumah tangga belum tentu mendapatkan apresiasi layaknya ibu bekerja. Selain itu risiko ibu bekerja adalah interaksinya dengan pria yang bisa jadi bencana. Begitu hemat beliau. 
Aku sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pilihan yang diambil para ibu yang memutuskan keluar rumah dengan menyadari berbagai konsekuensinya. Apalagi jika “kondisi”mengharuskan ia untuk mengorbankan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dengan berbagai tantangan zaman yang sayangnya semakin tak ramah bagi makhluk bernama wanita. Bagi eksistensi sebuah keluarga yang sesuai dengan fitrah. Begitu pula para wanita yang sudah menemukan jalannya tuk berkontribusi bagi dunia karenaNya. Sekali lagi, bagiku niat itu amat penting.

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan bagi para ibu di mana pun yang tengah memperjuangkan makna ibu itu sendiri.
Hanya soal waktu hingga kamu bisa berdaya kembali bagi ummat. Yang penting terus bergerak. Lakukan yang bisa dilakukan meski kecil. Karena peradaban dibangun oleh jiwa-jiwa yang besar bentukan wanita (ibu dan istri) yang bervisi besar lagi berkorban besar. 

“Bukan dari ibu yang “nguplek di dapur aja”, maka untuk saat ini nikmatilah masa-masa bersama anakmu.” Begitu kira-kira nasihat seorang saudari ketika aku curhat. Ya, kita berhak bahagia dengan apa pun kondisi kita dan buah hati kita pun berhak dirawat oleh ibu yang bahagia 🙂
Nak, terimakasih telah hadir dan mewarnai hidup ibu. Mengajarkan ibu banyak hal. Ibu menyayangimu karenaNya.

Dan untukmu para ibu, berbahagialah, bersyukurlah, karena Sang Maha memuliakanmu dengan memperkenankan surga di bawah telapak kakimu.
Sumber gambar

Rahasia KebajikanNya Yang Menjadi Pembeda

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Here I am

* Kebenaran itu mutlak. Relativitas membohongi fitrah.
* Dusta itu mengingkari kebenaran, bukan hanya realitas karena realitasnya kini banyak kedustaan dianggap benar. Maka jujur yang sesuai relitas belum tentu sejalan dengan kebenaran.
* Kebenaran itu tegak di hadapNya kelak meski kini tak dapat pengakuan. Sedangkan pembenaran meski nampak bertahta, ia hanya sementara, fana. 
*Benar belum tentu baik. Baik belum tentu benar. Kita perlu terus belajar memadukan keduanya.
* Integritas itu mahal. Jika bertemu dengan pemiliknya, jagalah ia.
* Konsisten itu berat, lama, tapi hasilnya luar biasa. 
* Sabar itu tak berbatas.
* Carilah kebahagiaan dari Penciptanya. Mustahil membahagiakan semua orang.
* Kokoh dan luwes itu bisa ada dalam satu sosok.
* Menjadi empati, peduli itu perlu pengorbanan. Juga sebaliknya. Yang namanya pilihan itu pasti ada konsekuensinya.
* Berharap kepada manusia rentan kecewa. Berharap kepadaNya tak kan ada yg sia.
* Mulia tidaknya seseorang bukan dari kacamata dunia.
* Menjadi idealis itu perlu, yang jangan perfeksionis karena yang ideal itu ada tapi yang sempurna hanya Ia.
* Usaha dan hasil itu bukan sebab akibat kecuali yang dimaksud berhasil adalah dapat berusaha maksimal.
* Hikmah bisa diperoleh dari mana saja tapi kebenaran datang dariNya.
#edisimerenung