Let’s Play A Play Dough! ^^

Pasti nggak asing lagi kan dengan mainan yang satu ini?

Iya, itu lho yang mirip lilin mainan atau ‘malam’ yang bisa dibeli di mana-mana dengan berbagai range harga dan kualitas. (Kalau zaman ortuku dulu, sekitar tahun 60an masih lebih mudah menemukan tanah liat (lempung) yang tentu lebih alami.) Sifat play dough yang lembut, lentur dan kalis membuatnya menyenangkan untuk dipegang dan dibentuk.

Faktanya, Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI), 2007, menelusuri bahwa mainan murah yang dipasok dari Cina mengandung kira-kira 80% timbal dan racun. Sungguh angka yang sangat tragis mengingat sebagian besar masyarakat kita sangat tergantung pada produk-produk cina. Kebanyakan mainan dengan harga murah dibuat dari bahan yang telah didaur ulang beberapa kali. Dalam ilmu kimia, timbal (Pb) seringkali dicampurkan pada zat yang berwarna. Fungsinya untuk mengikatkan molekul zat warna pada bahan yang akan dilapisi.

Produk mainan dari cina tidak mempertimbangkan kualitas, hanya mempertimbangkan bentuk yang lucu atau warna yang meriah. Mainan dengan kualitas rendah terbuat dari bahan yang mudah terurai jika terkena panas. Penguraian tersebut menghamburkan timbal ke udara. Akibatnya jika dimainkan dalam jangka waktu lama, timbal akan terhirup dalam pernafasan. Efek ini akan timbul setelah timbal mengendap dalam tubuh yaitu saat anak-anak sudah memasuki usia sekolah. Gangguan yang timbul adalah kelainan otak dan darah, penyakit yang diderita berupa autis, sakit pernafasan, asma, dan lemah konsentrasi.

Lantas apakah kita akan melarang anak kita bermain? Kita tidak ingin menghambat kreatifitasnya bukan? Nah, sebagai alternatif aku mau berbagi sedikit cara membuat play dough yang lebih aman, murah dan mudah untuk dibuat di rumah. Tapi sebelumnya, aku mau membagi info tentang play dough itu sendiri… let’s check it out! 😉

Asal-usul Play Dough

Play dough (pley doh) adalah senyawa pemodelan yang digunakan oleh anak-anak untuk proyek-proyek seni dan kerajinan di rumah dan di sekolah. Playdough terbuat dari tepung, air, garam, asam borat, dan minyak mineral, produk pertama kali diproduksi di Cincinnati, Ohio, AS, sebagai pembersih wallpaper pada 1930-an. (Baca lebih lanjut di sini)

Manfaat Play Dough

Pada dasarnya bermain play dough mempunyai manfaat sebagai berikut:

  • Membantu memperkuat jari, tangan dan pergelangan
  • Meningkatkan kemampuan motorik
  • Meningkatkan kreativitas dan imajinasi
  • Membantu anak membentuk harga diri, tidak ada istilah salah atau benar dalam menciptakan berbagai  bentuk dengan play dough.

Bagi balita, play dough memiliki banyak manfaat seperti,

Kemampuan Sensorik
Salah satu cara bayi untuk mengenal sesuatu yaitu melalui sentuhan. Dengan bermain play dough mereka belajar tentang tekstur, serta bagaimana menciptakan sesuatu.

Kemampuan Berfikir

Bermain play dough bisa mengasah kemampuan berfikir anak. Latihlah dia dengan memeberikan contoh bagaimana bermain dan menciptakan sesuatu dengan play dough.

Self Esteem

Permainan play dough adalah permainan yang tanpa aturan sehingga berguna untuk mengembangkan kemampuan imajinasi dan kreatifitas anak. Dengan bermain play dough dapat meningkatkan rasa ingin tahu si kecil, sekaligus mengajarkannya tentang problem solving yang berguna untuk meningkatkan self esteemnya.

Kemampuan Berbahasa
Meremas, berguling, membuat bola, dan berputar adalah beberapa kata yang akan sering didengar anak anda saat bermain play dough. Gunakan kata-kata untuk mendeskripsikan kegiatan anda bermain play dough. Atau jika perlu berilah nama untuk setiap bentuk yang anda buat dari play dough.

Kemampuan Sosial

selain bermain dengan anda, berilah kesempatan pada sikecil untuk bermain play dough dengan teman-temannya. Dengan bermain bersama, si kecil punya kesempatan untuk menjalin interaksi yang akrab dengan teman-temannya. Seorang anak pada dasarnya berfikiran self center, namun dengan melakukan aktifitas bermain bersama tersebut, maka anak-anak akan belajar bahwa bermain bersama juga sangat menyenangkan.

Anda juga dapat mengajak anak anda belajar tentang warna. Beberapa warna dapat dicampur menjadi warna baru, misalnya biru dan merah dicampur akan menjadi ungu, biru dan kuning menghasilkan warna hijau dan merah dicampur kuning menjadi jingga (orange).

Luar biasa bukan? Nah, ini nih yang ditunggu-tunggu, resep membuat play dough!

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • 2 cup tepung terigu
  • 1 cup garam halus
  • 2 sdm minyak sayur (boleh minyak lain, baby oil, glycerine)
  • 1 cup air
  • 2 sdt krim tar-tar
  • Pewarna makanan/kue
  • Aroma makanan bubuk atau pasta (jeruk, vanilla, strawberry, kayu manis dll.)

Catatan : Banyaknya terigu dan garam bisa disesuaikan dengan kebutuhan asalkan perbandingan terigu dibanding garamnya 2:1. Penggunaan aroma makanan bersifat opsional karena walaupun terbuat dari bahan yang aman, tetap perlu dijaga agar tidak dimakan oleh anak.


Cara membuat

  1. Campur semua bahan (kecuali pewarna) dalam panci diremas-remas/uleni menjadi adonan elastis, seperti membuat kue.
  2. Panaskan dalam panci sampai menjadi gumpalan yang lembut dan licin, agar mudah dibentuk. (tahapan ini bisa dilewatkan)
  3. Adonan dibagi untuk diberi warna, campur pewarna dengan sedikit air, adonan diremas-remas lagi sampai warnanya merata.
  4. Untuk membuat adonan dough yang lebih keras, tambahkan 1 cup tepung terigu lagi.
  5. Tambahkan krim tar-tar, agar lebih awet dan elastis, jadilah dough bikinan kita sendiri.

Cara Menyimpan

Simpan play dough dalam wadah yang tertutup rapat atau kantong plastik, plastic wrap / cling film dan diikat kemudian masukkan dalam kulkas sehingga tidak cepat mengeras. Bila Play-Doh terasa lengket setelah di simpan di kulkas, tambahkan sedikit tepung terigu dan uleni kembali. Ini bisa diulang-ulang hingga play dough menjadi kaku dan tidak bisa dimainkan lagi. Jika demikian, maka sudah waktunya untuk membuat yang baru! ^^

Cara Bermain

Nah, sekarang kita bisa bermain dengan dough kreasi sendiri. Bisa dibentuk apa saja, ditekan-tekan, dirol, dipotong, dicetak dengan cetakan mainan dough atau cetakan kue atau

Hasilnya?

Ini kali pertamaku membuat play dough sewaktu magang di TK A Potato Sekolah Alam Indonesia tahun 2012. Anak-anak begitu antusias memainkannya meskipun ada juga anak yang tidak suka dengan teksturnya yang menempel pada tangan ^^

Naga Isa

Seru khaaan…? Ayo buruan matiin laptopnya trus berkreasi dengan sang buah hati. Semangka mencoba! Oh ya, sebelum mulai bermain, dimulai dengan berdoa dulu ya supaya berkah… ^____^

Sumber

Wikipedia

http://mediadidik.blogspot.com/2011/09/bermain-dengan-play-doh-fun-dan.html

http://www.kafebalita.com/content/articles/read/2009/04/manfaat-bermain-play-dough/1164

http://yellashakti.wordpress.com/2008/04/08/mainan-aman-untuk-anak/

Dokumentasi pribadi

Aku Ingin

Ceritanya, pada hari itu, kelas SD 1 River membuat Pohon Harapan yang akan digantungkan keinginan anak-anak yang bisa dicapai di akhir kelas 1 ini. Mereka menuliskannya di sepotong kertas yang akan digantung pada ranting Pohon Harapan agar dapat melihatnya setiap hari dan turut menyemangati mimpi kawan-kawannya.

Masya Allah, keinginan mereka sungguh luar biasa! Ada yang ingin dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, ingin pintar belajar Qur’an, ingin selesai menghafal juz 30 (sekarang alhamdulillaah sudah sampai Al-Insyiqaq), ingin mengenal Nabi Muhammad lebih dekat karena kerinduannya yang begitu besar akan sosok manusia mulia ini hingga pernah suatu hari ia menitikkan air mata karenanya. Bahkan ia menceritakan dengan begitu semangat tentang mimpinya bertemu baginda nabi shalallaho ‘alayhi wasalam =’).

Impian lainnya yang tak kalah semangatnya ialah menjadi tentara Islam yang hafal Qur’an juga. Ia ingin belajar menembak dan memanah. Ada lagi yang ingin jago Bahasa Arab, jago berenang, jago karate, jago main bola. Ada pula yang ingin agar kelas kami menjadi kompak juga ada yang ingin kelasnya bagus dan rapi (idealis sekali! ^^). Ada keinginan yang paling unik di antara semua. Ia ingin bisa membuat sepatu sendiri! “Aku harus membuat polanya dulu” ujarnya. Out of the box dan kreatif! ;9

Ternyata, menuliskan mimpi tidak begitu mudah untuk beberapa anak. Ketika teman-temannya sudah beranjak ke aktivitas berikutnya, mereka masih belum menuliskan apa-apa. Aku coba menggali apa yang mereka inginkan. Apa yang ingin mereka bisa lakukan atau keinginan mereka untuk kelas ini atau harapan mereka untuk orang tua mereka, guru, atau pun teman-teman mereka. Mereka tetap tak bergeming.

Aku berpikir, kira-kira bagaimana ya agar mereka terinspirasi untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Aku mulai bercerita kepada seluruh kelas.

“Teman-teman, ada yang tahu kalau bayi itu belajar apa saja ya?” aku memulai.

“Belajar ngomong!”

“Belajar berdiri!”

“Belajar jalan!”

“Belajar pegang benda!”

“Iya benar! Kalian dulu juga begitu tidak?”

“Iya Bu! tapi saya nggak ingat!” anak-anak tertawa.

“Hehe, tapi ibu tahu lho ceritanya sewaktu kalian masih bayi. Coba, kalau kalian yang punya adik atau pernah memperhatikan bayi. Bayi kalau belajar berdiri kira-kira sekali langsung bisa berdiri apa jatuh-jatuh dulu?”

“Jatuh dulu!” mereka serempak.

“Kalau jatuh mereka nangis terus nggak mau berdiri lagi apa tetap belajar berdiri lagi ya?”

”Nangis tapi belajar berdiri lagi!”

”Kalau belajar jalan, kira-kira langsung bisa berjalan seperti kalian apa begini dulu ya?” aku memperagakan cara bayi berjalan, anak-anak tertawa.

”Kalau belajar bicara mereka langsung bisa bicara atau ngomong ’ma.. ma..’ dulu ya?” mereka tertawa lagi.

”Aku waktu umur 3 bulan sudah bisa bicara ’Ummi aku mau susu!’” ujar seorang anak.

”Oh ya? Hebat! Subhanallaah… Nah… kalian sewaktu bayi hebat nggak tuh?”

”Hebaaat!” sahut mereka.

”Kira-kira kalian akan bisa berjalan, bicara dan berlari nggak kalau kalian tidak punya keinginan dalam diri kalian ’aku ingin berlari’ begitu di dalam hati kalian?”

”Nggaaak…”

”Kalau mau makan, bisa nggak tiba-tiba makanannya datang sendiri?”

 

“Nggaaak”
“Berarti setiap manusia punya keinginan untuk belajar kan?”
“Punya Bu!”
“Punya mimpi untuk diwujudkan?”
“Punya!”
“Kalau begitu ayo kalian tuliskan pada kertas, mimpi-mimpi kalian itu untuk digantungkan pada Pohon Harapan. Yang sudah menulis dan ingin menambahkan lagi dipersilahkan.”
Alhamdulillah, beberapa anak yang tadi belum menuliskan mimpinya, dengan semangat segera menulis. Tangan-tangan kecil itu menyerahkan kertas-kertas bertuliskan mimpi-mimpi mereka yang siap digantung. Aku tersenyum dan berterima kasih kepada mereka. Anak-anak hebat yang masih diselimuti fitrah.
Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kalian dan menguatkan akar keimanan kalian tuk mewujudkannya anak-anak sungaiku. Sungai yang senantiasa mengalirkan semangat hidup dan memberi manfaat bagi sekitarnya, SD 1 River. (-^___^-)

Memetik Hikmah Dari Mandalawangi dan Sukamantri

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Usia perjalananku di SAI memang masih seumur jagung dan jejak langkahku belumlah seberapa dibanding guru-guru, bahkan para siswa SD yang sudah menjadi bagian dari SAI sejak mereka prasekolah. Namun, seorang pembelajar sejati adalah ia yang dapat memetik hikmah dari segala tanda-tanda kebesaranNya yang terhampar di tiap jengkal semestaNya bukan? Seperti yang banyak kupelajari dari Mandalawangi pada 2012 silam dan Sukamantri, beberapa hari yang lalu.

 

Aku mendapat tugas suci 😀 sebagai Pembimbing Anak Kelompok (PAK) yang bertugas memfasilitasi pembelajaran sekaligus mengases siswa dalam hajat besar Sekolah Alam Indonesia yang melibatkan SDM terbanyak (depierkirakan tahun ini memberangkatkan kurang lebih 250an orang) yakni Out Trekking Fun Adventure (OTFA). Pada OTFA 2012 aku memegang kelompok kecil yakni siswa kelas 1 dan 2 SD, sedangkan pada OTFA 2013 yang bertema Glorious Camp, aku bertugas mendamping kelompok besar atau istilahnya batalyon madya yang beranggotakan kelas 3 sampai dengan 5 SD. Tentunya masing-masing tugas memiliki tantangan tersendiri yang secara langsung maupun tidak akan meng-upgrade kapasitas PAK sebagai fasilitator juga sebagai individu.

 

Saat memegang kelompok kecil, hal yang kurasa paling ter-upgrade adalah fisik, konsentrasi dan kesabaran dalam menghadapi sifat polos anak-anak. Secara fisik, PAK bertugas membantu AK yang fisiknya relatif lebih lemah dari kelompok besar dalam memobilisasi mereka dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal lainnya adalah ke-belum mahir-an mereka dalam memanaje barang-barangnya sendiri meskipun umumnya mereka sudah mandiri (jika dibandingkan anak lain seusianya) atau ketika mereka perlu ditemani ke kamar mandi kapan pun mereka ingin. Dalam hal konsentrasi, kelompok kecil memiliki rentang fokus yang lebih pendek misalnya masih suka bermain atau bercanda sehingga tidak begitu fokus mengikuti acara atau ingin jalan-jalan sendiri untuk mengeksplor alam sekitarnya. Pengawasan pada saat trekking malam pun harus lebih ekstra karena mereka belum begitu memahami prosedur keselamatan seperti hanya mengarahkan penerang ke arah depan atau jalan; berjalan pada satu jalur (tidak miring-miring) karena di kiri/kanan mereka ada jurang yang menganga sehingga perlu diingatkan berkali-kali untuk berjalan lurus. Namun, di sisi lain mereka lebih mudah diingatkan terhadap peraturan.

 

Berbeda dengan saat mendampingi kelompok besar, kekuatan mental (ruhiyah dan fikriyah) lah yang lebih diperlukan untuk lebih bersabar menghadapi tingkah siswa yang mulai beranjak remaja ini. Gejolak emosi yang mulai memberontak seperti bersikap ogah-ogahan atau meremehkan, perasaan terhadap lawan jenis yang dapat mempengaruhi mood saat acara berlangsung, atau gaya “mudah mengeluh” mereka yang terkadang mengundang kejengkelan padahal kalau kita mau berpikir lebih arif, pelaksanaan OTFA yang lebih lama yakni tiga hari dua malam – berbeda dengan kelompok kecil yang menjalaninya dua hari satu malam – pasti menguras energi mereka sehingga tentunya menjadi wajar jika secara fisik dan mental, mereka mengalami kelelahan dan sifat kekanak-kanakannya muncul. Sebenarnya, mendampingi kelompok besar bisa jadi lebih mudah dalam hal manajerial barang-barang karena mereka sudah terbiasa mengatur sendiri barang-barangnya juga lebih berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan aktivitas sehingga tidak perlu banyak dikomandokan.

 

Dalam mengahadapi kelompok besar, keramahan layaknya kawan, kepedulian dan kebijaksanaan layaknya orang tua, dan ketegasan layaknya pemimpin harus pandai-pandai ditempatkan sesuai kondisi. Pun yang terpenting dari semua itu adalah niat yang lurus, tulus dan sikap positif untuk membentuk mereka menjadi mukmin yang gagah, berani, cerdas, dan berakhlak mulia (kuat dan bertakwa) sebagaimana spirit yang dibawa oleh lagu dan mars OTFA.

Interaksi yang mendalam pun dijalani dengan sesama PAK dan panitia yang berragam karakter dan potensinya. Dalam hal ini, aku benar-benar belajar mengamati trik-trik yang digunakan PAK yang lebih senior dalam menyelesaikan suatu kegiatan agar lebih efektif dan efisien. Selain itu, aku juga belajar bagaimana bersikap luwes (lembut sekaligus tegas) dengan AK dan menjaga ritme dengan sesama PAK seperti pada saat masak bersama dan mempersiapkan pentas seni. Adanya perbedaan pendapat atau sedikit kritik tidak perlu mengotori hati dan menjadi perselisihan karena siswa pun belajar cara merespon keadaan dan memanaje masalah dari orang dewasa di sekitarnya sehingga cukuplah bagi para PAK untuk tetap solid dan memancarkan energi positifnya sekali pun ada hal yang dirasa kurang nyaman dengan sesama rekan, tidak perlu ditonjolkan sehingga masing-masing belajar mengendalikan emosinya dan menyelesaikan persoalan dengan efektif dan ahsan. Hal ini juga mencakup komunikasi baik dan tanggung jawab yang harus tetap dijaga dengan siswa yang ditinggalkan di sekolah, guru pengganti, juga orang tua siswa (curcol mode: on :p).

 

Secara pribadi pun, aku merasa ter-upgrade untuk menyelesaikan segala kebutuhanku dengan lebih baik dan cepat karena peran PAK begitu penting dalam memastikan nilai atau hikmah dari segala hal yang dirancang maupun kejadian di luar rencana, tertransfer dengan baik kepada siswa khususnya AK masing-masing sehingga urusan pribadinya pun berpengaruh terhadap AK-nya. Sebagai contoh dalam hal makan, meski rasanya tidak nafsu makan, kita harus tetap menghabiskan makan untuk menjaga stamina dan memberi contoh kepada AK. Aku juga belajar untuk lebih cepat waktu MCK. Biasanya, PAK minta AK untuk bersih-bersih dengan cepat maka sebaiknya PAK konsisten melakukan hal yang sama kecuali di luar waktu yang disediakan seperti pada malam hari sebelum tidur. Kapasitas fisik dan konsentrasi pun kurasakan ter-upgrade saat night adventure atau trekking malam yang mana energi sudah terkuras pada kegiatan hari sebelumnya ditambah medan dan cuaca yang aduhai untuk pemula sepertiku plus jujur saja, kemampuan spatialku tidak begitu baik (baca: nggak banget) untuk mengingat jalan. Alhasil, meski AK-ku sempat protes “Ibu kok salah melulu dari tadi”, aku mencoba tetap tenang, fokus pada situasi dan berdoa kepada Sang Pemberi petunjuk. Selain itu juga bagaimana mengendalikan diri agar tetap berpikir jernih, tenang, dan menenangkan meskipun situasinya genting seperti saat hujan deras mengguyur hingga tenda bocor juga saat ada kejadian-kejadian aneh (colek Bu Hayu, Bu Eha, Bu Ratu ;D).

 

“Di alam, kepribadian kita yang sebenarnya akan tampak. Mana yang benar-benar bersabar, mana yang hanya mementingkan dirinya sendiri”, begitu kurang lebih perkataan Pak Novi pada apel penutupan OTFA 2013 yang mengena bagiku. Aku kembali merenungkan niat, ucapan dan perilakuku saat menjalani OTFA. Banyak bersitighfar dan mengazzamkan tekad kembali untuk menjadi teladan yang lebih baik lagi bagi para calon pemimpin peradaban ini kelak. Semoga para siswa yang bersinggungan denganku terutama AK-ku juga rekan-rekan PAK, panitia, juga guru lain bersedia memaafkan segala kealpaanku selama OTFA.

Terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman berharga yang SAI berikan kepadaku untuk menjadi pembelajar sejati.

 

Depok, 25 Mei 2013 20:46

Sekolah Tepat Untuk Buah Hati

TK B Cat SAI Meruyung :  “Berkebun Yuuk!”

Tergelitik saat ada diskusi tentang sekolah yang bagus bagi anak usia 3-6 tahun di grup Facebook UmmI’s Corner. Berhubung jawabanku panjang jadi sekalian diposting aja (2-3 pulau terlampaui ^^)

Aku mau sedikit share ilmu dan pengalaman ya…
Bebelumnya,Pada anak usia prasekolah (3-6tahun) ada 4 kapasitas yang bisa kita jadikan indikator perkembangan anak yakni akhlak, fisik, bahasa, logika berpikir. yang 3 terakhir bisa jadi relatif sesuai karunia yang Alloh berikan tapi yang pertama dan utama yakni akhlak sebisa mungkin konsisten dan tegas.

menurutku sekolah yang tepat untuk anak usia 3-6tahun itu
1. Mengenalkan konsep keimanan, keislaman dan membiasakan akhlak Islami. dalam teori tabula rasa dan sebagaimana fitrah anak yang seperti kertas putih, tentu kita ingin memberikan celupan yang terbaik kan bunda? Nah, akhlak Islami ini bukan hanya tuntutan bagi anak tapi juga sudah menjadi bagian dari kehidupannya alias butuh keteladanan yang konsisten dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitarnya seperti cinta dengan Al-Qur’an, adab makan, berbagi, cinta lingkungan, berkata yang baik, menghargai orang lain dsb. pun tidak perlu terlalu khawatir jika di sekolah terjadi konflik (selama sekolah peduli dan mencari solusi) karena hal ini justru mengajarkan anak tentang realitas kehidupan dan insya Alloh menjadikan anak imun, bukan steril.

2. Memfasilitasi anak untuk banyak mengeksplor, baik dirinya sendiri
maupun lingkungannya dengan menstimulus panca inderanya, dengan begini kita jadi cepat tahu tipe belajar anak : audio, visual, kinestetik juga minat dan bakat anak jadi tidak hanya fokus pada aspek kognitif saja. di samping itu juga mengajarkan anak cara mengenal dan mengungkapkan perasaan & emosinya sendiri (emosi dasar: senang, sedih, takut, marah) sehingga anak mempunyai kesadaran diri dan lingkungan. jadi tak perlu khawatir jika anak berkotor-kotor ria atau terkesan bermain melulu selama ada hikmah yang bisa anak petik dari berbagai aktivitasnya.

3. Menumbuhkan “kebutuhan belajar” pada anak. belajar kan nggak hanya diukur dengan calistung saja tho? jika anak distimulus untuk berpikir (dengan pertanyaan2) insya Alloh ia akan menjadi manusia yang haus ilmu dan selalu ingin belajar, pun dengan bermain banyak yang bisa anak pelajari misalnya dengan permainan tradisional, anak belajar bersosialisasi, bekerja sama, mengelola emosi (menang/kalah), kejujuran dsb. guru berperan sebagai fasilitator yang menanamkan nilai2 pada setiap aktivitas anak, bukan sekedar mengejar target kognitif untuk jenjang pendidikan berikutnya atau terburu-buru menjejalinya dengan segudang ilmu. percayalah bunda, jika anak tidak mendapat haknya untuk bermain sekarang maka saat dewasa dan harus bertanggung jawab, ia tidak akan siap dan malah menuntut haknya. intinya sekolah ini kaya akan metode pembelajaran dan punya paradigma baik dalam pendidikan.

4. Mengajarkan life skill dan menumbuhkan kemandirian. dalam rentang usia ini, 4 kebutuhan anak yang sebaiknya sudah tuntas adalah eating (mampu makan sendiri, menghabiskan makanan dalam periode tertentu dan fokus serta memperhatikan adab makan), sleeping (tidur cukup http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=2009417114815), toileting (mengenali tanda2 ingin buang air dan menyampaikannya, bersih diri hingga bersih lingkungan), dressing (dari rambut sampai kaki dapat dilakukan sendiri). pun tentang life skill yang sesuai dengan tahap perkembangan anak misalnya membersihkan sisa makanan dan mencuci piring setelah makan. ini mengajarkan anak tanggung jawab, kemandirian, kepercayaan diri, kebersihan, menghargai upaya orang lain pun menghargai makanan. tentunya semua itu dilakukan secara bertahap dan membutuhkan proses sehingga yang perlu kita lakukan adalah pembiasaan dan keteladanan pun perhatikan juga unsur fun-nya sehingga anak senang melakukannya dan lambat laun akan menjadi kebiasaan baik.

5. Mempunyai mekanisme komunikasi yang harmonis dengan ortu. anak kita bukan mobil yang dimasukkan ke bengkel dan bisa kita tinggal sambil makan bakso lalu keluar bengkel sudah terima jadi. sekolah yang peduli dengan kebutuhan anak didiknya tentu akan banyak melibatkan peran ortu dan sering melakukan komunikasi 2 arah untuk menyerasikan apa yang didapat dari rumah dan sekolah, bahkan kalau perlu melibatkan ortu dalam proses KBM.

Kalau sudah begini, tidak perlu kaget kalau prestasi akademis dan non akademis anak melonjak di masa sekolahnya plus berakhlak mulia, karena hak-haknya telah tertunaikan dengan baik dan ia sudah siap untuk menyerap ilmu Alloh yang terbentang di alam semesta ini. percayalah bunda, anak-anak itu lebih cerdas dan lebih peka dari yang kita duga…

Lowongan Kerja Sekolah Alam Indonesia (SAI)

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Sekolah Alam Indonesia (SAI) sedang membutuhkan guru kelas, guru Bahasa Inggris, guru Al-Qur’an, guru pendamping (bagi Anak Berkebutuhan Khusus) dengan kriteria:

1.Cinta anak2.Berakhlak baik3.Pembelajar cepat4.Dapat bekerja dalam tim

5.Usia maksimal 28 tahun

6.Pendidikan akhir D3 atau S1

Surat aplikasi yang ditujukan kepada bagian HRD ditambah lampiran CV, foto, transkrip nilai dapat dikirim via pos ke Jl. Anda No. 7 X, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan DKI Jakarta 12630

Atau email –> sa.indonesia@yahoo.com

Tentang Sekolah Alam Indonesia (SAI) :

(Sekolah Alam Indonesia)
(Komunitas Sekolah Alam Indonesia)
(Profil Sekolah Alam Indonesia 2008)

Mari bergabung dalam keluarga besar kami… (-^^-)/

Membaca “Totto-chan, Gadis Cilik Di Jendela”

Kepolosan dan keceriaan Totto-chan tidak menjadikannya putus asa manakala ia dikeluarkan dari sekolahnya, sebuah Sekolah Dasar konvensional yang kurang cocok dengan anak-anak luar biasa sepertinya. Totto-chan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan jiwa sosial yang besar pula, makanya ia suka berinteraksi dengan orang meskipun tidak dikenalnya seperti penjaga karcis di stasiun kereta, pemusik jalanan, dan bahkan dengan anjingnya, Rocky. Kali lain, ketika ia diam-diam hendak mengundang Yasuaki-chan — temannya yang menderita polio – untuk memanjat pohon yang dianggap sebagai miliknya. Semua itu ia lakukan dengan semangat dan ketulusan seorang gadis cilik yang dididik dengan baik oleh sang Mama dan Papa yang hebat.

Ya, pada umumnya, tempat anak bersosialisasi pertama kali adalah di rumah, dengan keluarganya, yakni ayah dan ibu atau yang biasa dipanggil “Mama” dan “Papa” oleh Totto-chan. Mama dan papa adalah orang tua yang berjiwa besar. Mereka mendidik anak mereka dengan kebebasan dalam arti mengizinkan sang anak mengeksplor berbagai hal untuk memenuhi rasa ingin tahuannya selama itu tidak membahayakan dirinya atau orang lain di sekitarnya. Artinya, hal-hal yang sudah sewajarnya seorang anak lakukan, seperti ketika Totto-chan sering “membuat” celana dalamnya robek dengan bermain menerobos semak-semak atau saat telinganya “tidak sengaja digigit” oleh Rocky. Mama mendengarkan cerita Totto-chan dengan perhatian juga bijaksana dalam menanggapi apa yang dialami putri istimewanya tersebut. Tidak seperti orang tua pada umumnya yang mudah panik atau mencela perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan standar dirinya yang adalah orang dewasa (betapa orang dewasa sering bersikap tidak adil terhadap anak-anak).

Ada pun tokoh yang begitu penting dalam kehidupan Totto-chan yakni kepala sekolah, Pak Susaku Kobayashi. Pertemuan pertamanya dengan Totto-chan begitu membekas di hati gadis cilik itu, ketika sang kepala sekolah tulus memberikan perhatian terhadap ceritanya selama empat jam tanpa terlihat bosan di mata Totto-chan. Itulah awal fase pendidikan Totto-chan di sekolah Tomoe Gakuen. Kepala sekolah selalu menanamkan nilai positif dan meyakinkan Totto-chan bahwa ia benar-benar(dengan penekanan) anak yang baik, dalam arti meyakini dan meyakinkan Totto-chan bahwa betapa pun ajaibnya perilaku gadis cilik itu, dan sebagian orang mungkin menilainya nakal, ia adalah anak yang baik dan pantas untuk mendapat pendidikan terbaik.

Punya mata tapi tak melihat keindahan. Punya telinga tapi tak mendengar musik. Punya pikiran tapi tak memahmi kebenaran, puny hati tapi tak pernah tergerak, itu hal yang harus dtakuti.
(Sosaku kobayashi)

Kepala sekolah adalah sosok yang hangat, berwibawa sekaligus cerdas. Beliau berani menembus sistem dan tradisi umum di masyarakat dengan menggunakan metode mendidik yang tidak lazim namun memberikan kesan dan pelajaran mendalam bagi anak muridnya. Misalnya, ruang kelas yang umumnya berdinding beton diganti dengan bekas gerbong kereta yang membuat anak-anak di dalamnya merasa seperti sedang melakukan perjalanan yang menyenangkan. Selain itu melakukan perjalanan ke luar sekolah sambil belajar seperti perjalanan ke Kuil Kuhonbutsu, mengundang petani sebagai pakar di bidangnya untuk memberikan pelajaran bertani, mengadakan tes keberanian, menggambar di lantai aula, juga berenang tanpa busana di kolam renang sekolah. Setiap aktivitas tersebut melibatkan daya pikir, emosi juga psikomotorik anak yang membuat mereka secara tidak langsung belajar tentang sains, biologi dan sejarah, mengaplikasikan ilmu di bawah bimbingan seorang ahli, mengenali rasa takut dan menaklukannya, bertanggung jawab atas perbuatan, serta makna menghargai perbedaan. Yang terpenting dari semua itu adalah anak-anak menikmati proses belajar itu sendiri. Belajar itu menyenangkan. Di samping itu, kepala sekolah juga pandai dalam mengistimewakan setiap anak dengan memberikan waktu belajar bebas di awal hari di mana sang anak melakukan apa yang menjadi minat dan bakatnya. Hal ini akan mengembangkan potensi sang anak tak terkecuali bagi anak yang memiliki kekurangan fisik seperti Takahashi yang bertubuh kecil. Kepala sekolah berhasil “membesarkannya” di hari olahraga juga memotivasinya dengan mantra ajaib “Kau bisa melakukannya!” seperti Totto-chan

Beberapa peristiwa yang dialami oleh Totto-chan pun memberikan kesan dan hikmah tersendiri bagi perkembangan psikologisnya. Sebagai contoh, saat Totto-chan mengenakan pita baru dan Miyo-chan, putri ketiga kepala sekolah merengek ingin memiliki pita yang sama tetapi tidak ada yang menjual serupa, maka Totto-chan mau mengalah untuk tidak mengenakannya ke sekolah, ia belajar tentang tenggang rasa. Pada masa-masa sulit akibat perang dan papa tidak mau memainkan biolanya, Totto-chan belajar menghargai keteguhan dan pilihan orang lain. Saat anak ayamnya mati, meninggalnya Yasuaki-chan juga kepergian Rocky, memberikan makna mendalam bagi Totto-chan tentang menghadapi rasa kehilangan dan mengikhlaskannya.

Salah satu bagian paling menarik adalah ketika Totto-chan benar-benar memikirkan tentang cita-citanya di masa mendatang berkat inspirasi dari Tai-chan yang disukainya. Ia menemui kepala sekolah dan menyatakan secara dewasa bahwa kelak ia akan menjadi guru di Tomoe. Cita yang menjadi janji namun hangus terbakar kobaran perang. Namum begitu, impiannya untuk terjun dalam dunia pendidikan tidak pudar sedikit pun hingga akhirnya buku ini bisa terbit bahkan di luar negara asalnya.

Bagian akhir dari buku ini menggambarkan perjalanan kepala sekolah yang tidak pantang menyerah dalam bidang yang dicintainya yakni pendidikan dan musik hingga akhir hayatnya. Dedikasinya menjadikan beliau sebagai tokoh pendidikan yang dihormati. Selain itu, apa yang terjadi pada murid-murid Tomoe — teman sekelas Totto-chan – setelah dewasa, menjadi bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan di Tomoe. Semua menjadi apa yang mereka impikan semasa bersekolah di Tomoe Gakuen tercinta.

Membaca Totto-chan membuat saya belajar banyak tentang filosofi pendidikan, metodologi belajar, tumbuh kembang anak yang semua itu menghasilkan harmoni yang indah bagi pembangunan kemanusiaan.

Karya Tetsuko Kuroyanagi