​Rinduku Kembali Ke Sekolah

_Saatnya kembali ke sekolah_

_Dengan hati senang dan gembira_

_Berada di alam terbuka_

_Di sekolah alamku tercinta._
Menjadi intro yang menggambarkan rasa dan situasi di sekolahku. Sekolah Alam Indonesia cabang Meruyung. Tak hanya bagi anak-anak yang selalu merindukan saat ke sekolah, gurunya pun tidak mengenal istilah “i hate Monday” karena Senin adalah awal memulai niat dan amal shalih terbaik sebagai ibadah dan wujud syukur kepada Sang Pemberi karunia.
Memasuki gerbang sekolah, aku disambut oleh senyum dan sapa ramah bapak penjaga sekolah. Keriangan mulai tampak dari sosok-sosok mungil yang bersemangat pamit kepada bunda, ayah, atau siapa yang mengantar mereka seraya menitipkan doa dan kepercayaan pendidikan ananda pada hari itu. Anak-anak disambut pemandangan meneduhkan dari sosok para pendidik yang tengah melafalkan kalamullah untuk mengecas energi positif sebagai bekal merawat bunga-bunga peradaban. Anak-anak yang datang dengan kemurnian jiwa, siap menyerap apa yang mereka indera-rasakan. Kemudian terlihat suasana sapa salam antara semua warga sekolah di samping aktivitas keseharian Pak Pendi dengan kebun dan taman, Pakde dengan peralatan kebersihan dan pertukangan,  Mpok Dewi dengan sapunya juga guru-guru piket yang berjasa menjaga keindahan sekolah. Semua hal tersebut menambah semangat untuk memberikan yang terbaik di hari itu.
Di kelas-kelas, sudah nampak beberapa anak SD membersihkan kelas ditemani oleh guru kelasnya, juga keceriaan anak-anak KB/TK bermain bersama. Akhirnya bisa kuskyukuri letak kelasku di belakang karena kesempatanku untuk menyapa orang-orang jadi lebih besar sambil memungut sampah yang mungkin masih tercecer satu dua.
_Matahari pun bersinar cerah_

_Mengiringi senyumku merekah_

_Mengobati hati yang gelisah_

_Rinduku kembali ke sekolah_
Kelas dibuka dengan nyanyian gembira dan doa penghuni KB/TK dan lafal al ma’tsurat warga SD. Dilanjutkan dengan _morning talk_ penuh hikmah dari para guru yang menjelma motivator atau pedongeng ulung. Menanamkan nilai akhlak dan kepemimpinan juga mengasah logika berpikir para jiwa yang antusias di cerahnya pagi.
Mentari semakin ceria. Beragam pengalaman dan ilmu disuguhkan dalam bentuk aktivitas bermain, bereksperimen, bernyanyi, berkebun, senam di Rabu Ceria, muhadharah, outbound, renang, presentasi,  _fun cooking, daily writing_ shalat dhuha, juga menghafal Al Qur’an, bahasa inggris, bahasa arab. 
Saat istirahat, anak-anak pun tak luput dari pembelajaran kehidupan. Berbagi saat _snack time,_ pun mengantri saat bermain sudah biasa mereka lakukan meski tanpa diminta. Ada kalanya satu dua berkonflik. Guru akan memediasi mereka untuk menguraikan kejadian secara bergantian. Tidak boleh ada yang menyela saat temannya berbicara. Lantas mereka menyadari posisi masing-masing lalu saling minta maaf dan memaafkan kemudian bermain kembali. Ah, indahnya masa anak-anak. Tak ada dendam meski sampai berlinang air mata.
Raja siang mulai menampakkan teriknya. Seusai merapikan kelas, anak-anak memulai rutinitasnya makan siang. Nenek dan ibu kantin mengambil peran bagi sebagian anak yang ikut katering. Kemudian anak-anak mencuci tempat makannya sendiri, wudhu, shalat berjamaah, berdzikir. Siswa preschool juga SD 1 tutup kelas. Kakak-kakak SD 2 ke atas menikmati istirahat siangnya dengan berbagai aktivitas. Ada yang senang bermain di luar kelas, ada juga yang memilih beraktivitas di kelas. Semua berpadu dalam harmoni hingga kelas ditutup.
Pada momen2 tertentu, sekolah diwarnai dengan _event Market Day, Language Fair, Indonesian Culture_, peringatan Idul Adha, hari kemerdekaan dan hari pahlawan, juga sesi _camping_ seperti OTFA untuk SD 1-5, praOTFA untuk SD 1, _day camp_ untuk KB/TK, juga momen berharga _Ramadhan Camp_ untuk merayakan bulan penuh barakah ini. 
_Ya Allah tambahkan aku ilmu_

_Berkahilah pemahamanku_

_Aku berharap semakin mulia_

_Menjadi manusia berguna_
Ada pun outing menjadi entitas tak terpisahkan dari sekolah. Dari kelas kecil yang bepergian di dalam kota seperti ke mini market, toko bangunan, dokter gigi, perkebunan atau peternakan, kebun binatang, museum, palnetarium, hingga kelas besar yang menyelam di laut, menyusuri bukit dan goa, menjelajahi propinsi bahkan pulau lain untuk mempelajari bentang alam, batuan, hewan langka, bahkan mendapat sesi kuliah di perguruan tinggi.
Segala ilmu, pengalaman, tekad terimplementasikan di sini. Menjadi sekolah kehidupan yang menjadi bekal ananda mengarungi zamannya kelak. Bahkan, di usia belia mereka dapat menghasilkan karya seperti buku, lagu maupun dokumentasi video yang melukiskan proses belajar sekaligus taget pencapaian mereka dalam akhlak, kepemimpinan, dan logika berpikir. Semua sungguh tak ternilai. Tak tergantikan dengan sekedar tes di selembar kertas atau angka di rapot.
_Bermanfaat bagi agama_

_Bermanfaat bagi nusa bangsa_

_Bermanfaat bagi semua_
Semoga doa dalam lirik lagu gubahan Pak Novi tersebut selalu menjadi spirit yang membangkitkan jiwa seluruh komunitas. Menjadi inkubator yang melahirkan pemimpin peradaban kelak, yang berakhlak mulia lagi tajam akalnya. Aamiin Allahumma aamiin.

Iklan

Lovely Slime

Suatu pagi yang cerah, di kelas yang indah, sambil mengomandoi piket bocah-bocah, ada seorang nona mendekatiku dengan sumringah

Nona: “Bu Nesya, aku punya sesuatu buat bu Nesya!” Ujarnya sambil menyembunyikan sesuatu-di-tangan di belakang tubuhnya

Aku: Apa tuuh? Tanyaku sambil tersenyum nggak kalah sumringah

Nona: “Ini dia, slime!” Ia memberikan 2 cup slime warna ungu dan yang satu campuran ungu biru bergliter yang cantik berbungkus plastik dan secarik kertas bertuliskan darinya untuk bu nesya. Aku memang pernah memesan slime kepadanya karena sang kakak berjualan slime. Ternyata dia ingat hihi.

“Terima kasih sayaaaang. Eh tapi kok dua? Kan aku cuma pesan satu”

“Nggak papa itu buat Bu Nesya dua-duanya”

Aku menatapnya haru. Aku teringat ia pernah memberikan hadiah bross manis dan mengatakan dengan malu-malu, “Aku kasih itu karena aku suka Bu Nesya”. Aku memeluknya seraya mendoakan kebaikannya. “Sayang, kapan-kapan kalau kamu mau kasih sesuatu yang kamu buat sendiri ya…” senyumku.

Aku hendak menyimpan slime itu di tas, lalu sang nona memanggilku lagi

Nona: “Bu, sebenarnya itu yang satu untukku sih” ujarnya malu-malu dengan ekspresi pingin-banget-main-slime

Aku: “Ooh, iya bilang atuh neng dari tadi..” aku tertawa menggoda

Nona: “Ibu pilih warna apa?”

Aku: “Terserah kamu saja. Kamu boleh pilih”. Dia pilih warna ungu biru bergliter lantas memainkannya bersama teman-teman.

Di hari lain sepulang sekolah, aku menemui kakak sang nona untuk membayar slime itu. Lantas kakaknya berkata, 

“Itu dia yang bikin sendiri kok buat Ibu”

“Ah masa sih Kak? Bukannya Kakak yang buatin?”

“Nggak kok, beneran itu dia yang bikin, katanya buat bu Nesya”

“Kalau gitu, terima kasih ya Kak..”

“Sama-sama”

Aku senyum-senyum sendiri sambil berkata dalam hati, “Besok kucubit gemes pipinyaaa”
#trend baru

#edisiceloteh4

Let’s Play A Play Dough! ^^

Pasti nggak asing lagi kan dengan mainan yang satu ini?

Iya, itu lho yang mirip lilin mainan atau ‘malam’ yang bisa dibeli di mana-mana dengan berbagai range harga dan kualitas. (Kalau zaman ortuku dulu, sekitar tahun 60an masih lebih mudah menemukan tanah liat (lempung) yang tentu lebih alami.) Sifat play dough yang lembut, lentur dan kalis membuatnya menyenangkan untuk dipegang dan dibentuk.

Faktanya, Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI), 2007, menelusuri bahwa mainan murah yang dipasok dari Cina mengandung kira-kira 80% timbal dan racun. Sungguh angka yang sangat tragis mengingat sebagian besar masyarakat kita sangat tergantung pada produk-produk cina. Kebanyakan mainan dengan harga murah dibuat dari bahan yang telah didaur ulang beberapa kali. Dalam ilmu kimia, timbal (Pb) seringkali dicampurkan pada zat yang berwarna. Fungsinya untuk mengikatkan molekul zat warna pada bahan yang akan dilapisi.

Produk mainan dari cina tidak mempertimbangkan kualitas, hanya mempertimbangkan bentuk yang lucu atau warna yang meriah. Mainan dengan kualitas rendah terbuat dari bahan yang mudah terurai jika terkena panas. Penguraian tersebut menghamburkan timbal ke udara. Akibatnya jika dimainkan dalam jangka waktu lama, timbal akan terhirup dalam pernafasan. Efek ini akan timbul setelah timbal mengendap dalam tubuh yaitu saat anak-anak sudah memasuki usia sekolah. Gangguan yang timbul adalah kelainan otak dan darah, penyakit yang diderita berupa autis, sakit pernafasan, asma, dan lemah konsentrasi.

Lantas apakah kita akan melarang anak kita bermain? Kita tidak ingin menghambat kreatifitasnya bukan? Nah, sebagai alternatif aku mau berbagi sedikit cara membuat play dough yang lebih aman, murah dan mudah untuk dibuat di rumah. Tapi sebelumnya, aku mau membagi info tentang play dough itu sendiri… let’s check it out! 😉

Asal-usul Play Dough

Play dough (pley doh) adalah senyawa pemodelan yang digunakan oleh anak-anak untuk proyek-proyek seni dan kerajinan di rumah dan di sekolah. Playdough terbuat dari tepung, air, garam, asam borat, dan minyak mineral, produk pertama kali diproduksi di Cincinnati, Ohio, AS, sebagai pembersih wallpaper pada 1930-an. (Baca lebih lanjut di sini)

Manfaat Play Dough

Pada dasarnya bermain play dough mempunyai manfaat sebagai berikut:

  • Membantu memperkuat jari, tangan dan pergelangan
  • Meningkatkan kemampuan motorik
  • Meningkatkan kreativitas dan imajinasi
  • Membantu anak membentuk harga diri, tidak ada istilah salah atau benar dalam menciptakan berbagai  bentuk dengan play dough.

Bagi balita, play dough memiliki banyak manfaat seperti,

Kemampuan Sensorik
Salah satu cara bayi untuk mengenal sesuatu yaitu melalui sentuhan. Dengan bermain play dough mereka belajar tentang tekstur, serta bagaimana menciptakan sesuatu.

Kemampuan Berfikir

Bermain play dough bisa mengasah kemampuan berfikir anak. Latihlah dia dengan memeberikan contoh bagaimana bermain dan menciptakan sesuatu dengan play dough.

Self Esteem

Permainan play dough adalah permainan yang tanpa aturan sehingga berguna untuk mengembangkan kemampuan imajinasi dan kreatifitas anak. Dengan bermain play dough dapat meningkatkan rasa ingin tahu si kecil, sekaligus mengajarkannya tentang problem solving yang berguna untuk meningkatkan self esteemnya.

Kemampuan Berbahasa
Meremas, berguling, membuat bola, dan berputar adalah beberapa kata yang akan sering didengar anak anda saat bermain play dough. Gunakan kata-kata untuk mendeskripsikan kegiatan anda bermain play dough. Atau jika perlu berilah nama untuk setiap bentuk yang anda buat dari play dough.

Kemampuan Sosial

selain bermain dengan anda, berilah kesempatan pada sikecil untuk bermain play dough dengan teman-temannya. Dengan bermain bersama, si kecil punya kesempatan untuk menjalin interaksi yang akrab dengan teman-temannya. Seorang anak pada dasarnya berfikiran self center, namun dengan melakukan aktifitas bermain bersama tersebut, maka anak-anak akan belajar bahwa bermain bersama juga sangat menyenangkan.

Anda juga dapat mengajak anak anda belajar tentang warna. Beberapa warna dapat dicampur menjadi warna baru, misalnya biru dan merah dicampur akan menjadi ungu, biru dan kuning menghasilkan warna hijau dan merah dicampur kuning menjadi jingga (orange).

Luar biasa bukan? Nah, ini nih yang ditunggu-tunggu, resep membuat play dough!

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • 2 cup tepung terigu
  • 1 cup garam halus
  • 2 sdm minyak sayur (boleh minyak lain, baby oil, glycerine)
  • 1 cup air
  • 2 sdt krim tar-tar
  • Pewarna makanan/kue
  • Aroma makanan bubuk atau pasta (jeruk, vanilla, strawberry, kayu manis dll.)

Catatan : Banyaknya terigu dan garam bisa disesuaikan dengan kebutuhan asalkan perbandingan terigu dibanding garamnya 2:1. Penggunaan aroma makanan bersifat opsional karena walaupun terbuat dari bahan yang aman, tetap perlu dijaga agar tidak dimakan oleh anak.


Cara membuat

  1. Campur semua bahan (kecuali pewarna) dalam panci diremas-remas/uleni menjadi adonan elastis, seperti membuat kue.
  2. Panaskan dalam panci sampai menjadi gumpalan yang lembut dan licin, agar mudah dibentuk. (tahapan ini bisa dilewatkan)
  3. Adonan dibagi untuk diberi warna, campur pewarna dengan sedikit air, adonan diremas-remas lagi sampai warnanya merata.
  4. Untuk membuat adonan dough yang lebih keras, tambahkan 1 cup tepung terigu lagi.
  5. Tambahkan krim tar-tar, agar lebih awet dan elastis, jadilah dough bikinan kita sendiri.

Cara Menyimpan

Simpan play dough dalam wadah yang tertutup rapat atau kantong plastik, plastic wrap / cling film dan diikat kemudian masukkan dalam kulkas sehingga tidak cepat mengeras. Bila Play-Doh terasa lengket setelah di simpan di kulkas, tambahkan sedikit tepung terigu dan uleni kembali. Ini bisa diulang-ulang hingga play dough menjadi kaku dan tidak bisa dimainkan lagi. Jika demikian, maka sudah waktunya untuk membuat yang baru! ^^

Cara Bermain

Nah, sekarang kita bisa bermain dengan dough kreasi sendiri. Bisa dibentuk apa saja, ditekan-tekan, dirol, dipotong, dicetak dengan cetakan mainan dough atau cetakan kue atau

Hasilnya?

Ini kali pertamaku membuat play dough sewaktu magang di TK A Potato Sekolah Alam Indonesia tahun 2012. Anak-anak begitu antusias memainkannya meskipun ada juga anak yang tidak suka dengan teksturnya yang menempel pada tangan ^^

Naga Isa

Seru khaaan…? Ayo buruan matiin laptopnya trus berkreasi dengan sang buah hati. Semangka mencoba! Oh ya, sebelum mulai bermain, dimulai dengan berdoa dulu ya supaya berkah… ^____^

Sumber

Wikipedia

http://mediadidik.blogspot.com/2011/09/bermain-dengan-play-doh-fun-dan.html

http://www.kafebalita.com/content/articles/read/2009/04/manfaat-bermain-play-dough/1164

http://yellashakti.wordpress.com/2008/04/08/mainan-aman-untuk-anak/

Dokumentasi pribadi

Aku Ingin

Ceritanya, pada hari itu, kelas SD 1 River membuat Pohon Harapan yang akan digantungkan keinginan anak-anak yang bisa dicapai di akhir kelas 1 ini. Mereka menuliskannya di sepotong kertas yang akan digantung pada ranting Pohon Harapan agar dapat melihatnya setiap hari dan turut menyemangati mimpi kawan-kawannya.

Masya Allah, keinginan mereka sungguh luar biasa! Ada yang ingin dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, ingin pintar belajar Qur’an, ingin selesai menghafal juz 30 (sekarang alhamdulillaah sudah sampai Al-Insyiqaq), ingin mengenal Nabi Muhammad lebih dekat karena kerinduannya yang begitu besar akan sosok manusia mulia ini hingga pernah suatu hari ia menitikkan air mata karenanya. Bahkan ia menceritakan dengan begitu semangat tentang mimpinya bertemu baginda nabi shalallaho ‘alayhi wasalam =’).

Impian lainnya yang tak kalah semangatnya ialah menjadi tentara Islam yang hafal Qur’an juga. Ia ingin belajar menembak dan memanah. Ada lagi yang ingin jago Bahasa Arab, jago berenang, jago karate, jago main bola. Ada pula yang ingin agar kelas kami menjadi kompak juga ada yang ingin kelasnya bagus dan rapi (idealis sekali! ^^). Ada keinginan yang paling unik di antara semua. Ia ingin bisa membuat sepatu sendiri! “Aku harus membuat polanya dulu” ujarnya. Out of the box dan kreatif! ;9

Ternyata, menuliskan mimpi tidak begitu mudah untuk beberapa anak. Ketika teman-temannya sudah beranjak ke aktivitas berikutnya, mereka masih belum menuliskan apa-apa. Aku coba menggali apa yang mereka inginkan. Apa yang ingin mereka bisa lakukan atau keinginan mereka untuk kelas ini atau harapan mereka untuk orang tua mereka, guru, atau pun teman-teman mereka. Mereka tetap tak bergeming.

Aku berpikir, kira-kira bagaimana ya agar mereka terinspirasi untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Aku mulai bercerita kepada seluruh kelas.

“Teman-teman, ada yang tahu kalau bayi itu belajar apa saja ya?” aku memulai.

“Belajar ngomong!”

“Belajar berdiri!”

“Belajar jalan!”

“Belajar pegang benda!”

“Iya benar! Kalian dulu juga begitu tidak?”

“Iya Bu! tapi saya nggak ingat!” anak-anak tertawa.

“Hehe, tapi ibu tahu lho ceritanya sewaktu kalian masih bayi. Coba, kalau kalian yang punya adik atau pernah memperhatikan bayi. Bayi kalau belajar berdiri kira-kira sekali langsung bisa berdiri apa jatuh-jatuh dulu?”

“Jatuh dulu!” mereka serempak.

“Kalau jatuh mereka nangis terus nggak mau berdiri lagi apa tetap belajar berdiri lagi ya?”

”Nangis tapi belajar berdiri lagi!”

”Kalau belajar jalan, kira-kira langsung bisa berjalan seperti kalian apa begini dulu ya?” aku memperagakan cara bayi berjalan, anak-anak tertawa.

”Kalau belajar bicara mereka langsung bisa bicara atau ngomong ’ma.. ma..’ dulu ya?” mereka tertawa lagi.

”Aku waktu umur 3 bulan sudah bisa bicara ’Ummi aku mau susu!’” ujar seorang anak.

”Oh ya? Hebat! Subhanallaah… Nah… kalian sewaktu bayi hebat nggak tuh?”

”Hebaaat!” sahut mereka.

”Kira-kira kalian akan bisa berjalan, bicara dan berlari nggak kalau kalian tidak punya keinginan dalam diri kalian ’aku ingin berlari’ begitu di dalam hati kalian?”

”Nggaaak…”

”Kalau mau makan, bisa nggak tiba-tiba makanannya datang sendiri?”

 

“Nggaaak”
“Berarti setiap manusia punya keinginan untuk belajar kan?”
“Punya Bu!”
“Punya mimpi untuk diwujudkan?”
“Punya!”
“Kalau begitu ayo kalian tuliskan pada kertas, mimpi-mimpi kalian itu untuk digantungkan pada Pohon Harapan. Yang sudah menulis dan ingin menambahkan lagi dipersilahkan.”
Alhamdulillah, beberapa anak yang tadi belum menuliskan mimpinya, dengan semangat segera menulis. Tangan-tangan kecil itu menyerahkan kertas-kertas bertuliskan mimpi-mimpi mereka yang siap digantung. Aku tersenyum dan berterima kasih kepada mereka. Anak-anak hebat yang masih diselimuti fitrah.
Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kalian dan menguatkan akar keimanan kalian tuk mewujudkannya anak-anak sungaiku. Sungai yang senantiasa mengalirkan semangat hidup dan memberi manfaat bagi sekitarnya, SD 1 River. (-^___^-)

Memetik Hikmah Dari Mandalawangi dan Sukamantri

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Usia perjalananku di SAI memang masih seumur jagung dan jejak langkahku belumlah seberapa dibanding guru-guru, bahkan para siswa SD yang sudah menjadi bagian dari SAI sejak mereka prasekolah. Namun, seorang pembelajar sejati adalah ia yang dapat memetik hikmah dari segala tanda-tanda kebesaranNya yang terhampar di tiap jengkal semestaNya bukan? Seperti yang banyak kupelajari dari Mandalawangi pada 2012 silam dan Sukamantri, beberapa hari yang lalu.

 

Aku mendapat tugas suci 😀 sebagai Pembimbing Anak Kelompok (PAK) yang bertugas memfasilitasi pembelajaran sekaligus mengases siswa dalam hajat besar Sekolah Alam Indonesia yang melibatkan SDM terbanyak (depierkirakan tahun ini memberangkatkan kurang lebih 250an orang) yakni Out Trekking Fun Adventure (OTFA). Pada OTFA 2012 aku memegang kelompok kecil yakni siswa kelas 1 dan 2 SD, sedangkan pada OTFA 2013 yang bertema Glorious Camp, aku bertugas mendamping kelompok besar atau istilahnya batalyon madya yang beranggotakan kelas 3 sampai dengan 5 SD. Tentunya masing-masing tugas memiliki tantangan tersendiri yang secara langsung maupun tidak akan meng-upgrade kapasitas PAK sebagai fasilitator juga sebagai individu.

 

Saat memegang kelompok kecil, hal yang kurasa paling ter-upgrade adalah fisik, konsentrasi dan kesabaran dalam menghadapi sifat polos anak-anak. Secara fisik, PAK bertugas membantu AK yang fisiknya relatif lebih lemah dari kelompok besar dalam memobilisasi mereka dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal lainnya adalah ke-belum mahir-an mereka dalam memanaje barang-barangnya sendiri meskipun umumnya mereka sudah mandiri (jika dibandingkan anak lain seusianya) atau ketika mereka perlu ditemani ke kamar mandi kapan pun mereka ingin. Dalam hal konsentrasi, kelompok kecil memiliki rentang fokus yang lebih pendek misalnya masih suka bermain atau bercanda sehingga tidak begitu fokus mengikuti acara atau ingin jalan-jalan sendiri untuk mengeksplor alam sekitarnya. Pengawasan pada saat trekking malam pun harus lebih ekstra karena mereka belum begitu memahami prosedur keselamatan seperti hanya mengarahkan penerang ke arah depan atau jalan; berjalan pada satu jalur (tidak miring-miring) karena di kiri/kanan mereka ada jurang yang menganga sehingga perlu diingatkan berkali-kali untuk berjalan lurus. Namun, di sisi lain mereka lebih mudah diingatkan terhadap peraturan.

 

Berbeda dengan saat mendampingi kelompok besar, kekuatan mental (ruhiyah dan fikriyah) lah yang lebih diperlukan untuk lebih bersabar menghadapi tingkah siswa yang mulai beranjak remaja ini. Gejolak emosi yang mulai memberontak seperti bersikap ogah-ogahan atau meremehkan, perasaan terhadap lawan jenis yang dapat mempengaruhi mood saat acara berlangsung, atau gaya “mudah mengeluh” mereka yang terkadang mengundang kejengkelan padahal kalau kita mau berpikir lebih arif, pelaksanaan OTFA yang lebih lama yakni tiga hari dua malam – berbeda dengan kelompok kecil yang menjalaninya dua hari satu malam – pasti menguras energi mereka sehingga tentunya menjadi wajar jika secara fisik dan mental, mereka mengalami kelelahan dan sifat kekanak-kanakannya muncul. Sebenarnya, mendampingi kelompok besar bisa jadi lebih mudah dalam hal manajerial barang-barang karena mereka sudah terbiasa mengatur sendiri barang-barangnya juga lebih berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan aktivitas sehingga tidak perlu banyak dikomandokan.

 

Dalam mengahadapi kelompok besar, keramahan layaknya kawan, kepedulian dan kebijaksanaan layaknya orang tua, dan ketegasan layaknya pemimpin harus pandai-pandai ditempatkan sesuai kondisi. Pun yang terpenting dari semua itu adalah niat yang lurus, tulus dan sikap positif untuk membentuk mereka menjadi mukmin yang gagah, berani, cerdas, dan berakhlak mulia (kuat dan bertakwa) sebagaimana spirit yang dibawa oleh lagu dan mars OTFA.

Interaksi yang mendalam pun dijalani dengan sesama PAK dan panitia yang berragam karakter dan potensinya. Dalam hal ini, aku benar-benar belajar mengamati trik-trik yang digunakan PAK yang lebih senior dalam menyelesaikan suatu kegiatan agar lebih efektif dan efisien. Selain itu, aku juga belajar bagaimana bersikap luwes (lembut sekaligus tegas) dengan AK dan menjaga ritme dengan sesama PAK seperti pada saat masak bersama dan mempersiapkan pentas seni. Adanya perbedaan pendapat atau sedikit kritik tidak perlu mengotori hati dan menjadi perselisihan karena siswa pun belajar cara merespon keadaan dan memanaje masalah dari orang dewasa di sekitarnya sehingga cukuplah bagi para PAK untuk tetap solid dan memancarkan energi positifnya sekali pun ada hal yang dirasa kurang nyaman dengan sesama rekan, tidak perlu ditonjolkan sehingga masing-masing belajar mengendalikan emosinya dan menyelesaikan persoalan dengan efektif dan ahsan. Hal ini juga mencakup komunikasi baik dan tanggung jawab yang harus tetap dijaga dengan siswa yang ditinggalkan di sekolah, guru pengganti, juga orang tua siswa (curcol mode: on :p).

 

Secara pribadi pun, aku merasa ter-upgrade untuk menyelesaikan segala kebutuhanku dengan lebih baik dan cepat karena peran PAK begitu penting dalam memastikan nilai atau hikmah dari segala hal yang dirancang maupun kejadian di luar rencana, tertransfer dengan baik kepada siswa khususnya AK masing-masing sehingga urusan pribadinya pun berpengaruh terhadap AK-nya. Sebagai contoh dalam hal makan, meski rasanya tidak nafsu makan, kita harus tetap menghabiskan makan untuk menjaga stamina dan memberi contoh kepada AK. Aku juga belajar untuk lebih cepat waktu MCK. Biasanya, PAK minta AK untuk bersih-bersih dengan cepat maka sebaiknya PAK konsisten melakukan hal yang sama kecuali di luar waktu yang disediakan seperti pada malam hari sebelum tidur. Kapasitas fisik dan konsentrasi pun kurasakan ter-upgrade saat night adventure atau trekking malam yang mana energi sudah terkuras pada kegiatan hari sebelumnya ditambah medan dan cuaca yang aduhai untuk pemula sepertiku plus jujur saja, kemampuan spatialku tidak begitu baik (baca: nggak banget) untuk mengingat jalan. Alhasil, meski AK-ku sempat protes “Ibu kok salah melulu dari tadi”, aku mencoba tetap tenang, fokus pada situasi dan berdoa kepada Sang Pemberi petunjuk. Selain itu juga bagaimana mengendalikan diri agar tetap berpikir jernih, tenang, dan menenangkan meskipun situasinya genting seperti saat hujan deras mengguyur hingga tenda bocor juga saat ada kejadian-kejadian aneh (colek Bu Hayu, Bu Eha, Bu Ratu ;D).

 

“Di alam, kepribadian kita yang sebenarnya akan tampak. Mana yang benar-benar bersabar, mana yang hanya mementingkan dirinya sendiri”, begitu kurang lebih perkataan Pak Novi pada apel penutupan OTFA 2013 yang mengena bagiku. Aku kembali merenungkan niat, ucapan dan perilakuku saat menjalani OTFA. Banyak bersitighfar dan mengazzamkan tekad kembali untuk menjadi teladan yang lebih baik lagi bagi para calon pemimpin peradaban ini kelak. Semoga para siswa yang bersinggungan denganku terutama AK-ku juga rekan-rekan PAK, panitia, juga guru lain bersedia memaafkan segala kealpaanku selama OTFA.

Terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman berharga yang SAI berikan kepadaku untuk menjadi pembelajar sejati.

 

Depok, 25 Mei 2013 20:46

Sekolah Tepat Untuk Buah Hati

TK B Cat SAI Meruyung :  “Berkebun Yuuk!” (Sumber: dokumentasi pribadi)

Tergelitik saat ada diskusi tentang sekolah yang bagus bagi anak usia prasekolah (3-6 tahun) di grup Facebook UmmI’s Corner (sekarang menjadi Mommee​.org ) . Berhubung saat itu pendapatku cukup panjang, jadi sekalian saja diposting (2-3 pulau terlampaui ^^).

Saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman saya yang tak seberapa. Semoga bermanfaat 😉

Sebelumnya, berdasarkan Permendiknas no. 58 tahun 2009, ada 5 aspek yang menjadi indikator perkembangan anak usia dini yakni nilai agama dan moral, motorik (fisik), kognitif, bahasa, dan sosial emosional. 4 aspek terakhir bisa jadi berbeda-beda sesuai potensi yang Tuhan berikan tetapi yang pertama dan utama yakni nilai agama dan moral sebisa mungkin ditanamkan dengan lugas dan konsisten sejak dini. Memilih sekolah yang sesuai dengan harapan orangtua adalah seperti memilih belahan jiwa yang dengannya, masa depan ananda kan diukir bersama. Pengaruhnya bisa sangat mendalam dan panjang.

Menurut saya ada beberapa poin yang bisa dijadikan acuan bagi orangtua untuk memilih sekolah yang tepat bagi sang buah hati yakni,

1. Memiliki visi misi yang sesuai dengan visi misi orangtua. Adalah keniscayaan bahwa tanggung jawab utama pendidikan anak ada pada orangtuanya. Menanamkan nilai kebenaran dan kebaikan berdasarkan ajaran agama dan moral juga membangun karakter positif adalah pondasi penting. Dalam teori tabula rasa pun sebagaimana fitrah anak yang bagai kertas putih, tentu kita ingin menggoreskan warna-warni terindah bukan? Karakter dibangun bukan sebagai tuntutan bagi anak tetapi bagai lagu yang iramanya mengiringi tingkah lakunya yang spontan sekali pun hingga terinternalisasi dalam dirinya. Maka dari itu, butuh keteladanan yang konsisten dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitarnya seperti cinta pada agama, keluarga, kemanusiaan, lingkungan, juga negeri. Orangtua tidak perlu terlalu khawatir jika di sekolah terjadi konflik (selama sekolah peduli dan mencari solusi) karena hal ini justru mengajarkan anak tentang realitas kehidupan yang kan membentuk imunitas anak, alih-alih menjadikan anak steril.

2. Memfasilitasi anak untuk banyak eksplorasi, baik pada dirinya sendiri
maupun lingkungannya. Manusia memiliki 3 potensi yakni fisik,  akal dan perasaan. Anak usia dini perlu banyak aktivitas yang menstimulasi panca inderanya. Dengan begitu orangtua jadi memahami tipe belajar anak : audio, visual, kinestetik juga minat dan bakat anak sehingga tidak hanya fokus pada aspek kognitif saja. Di samping itu, anak juga perlu diajari cara mengenal dan mengungkapkan emosinya (emosi dasar: senang, sedih, takut, marah, jijik). Anak yang tumbuh dengan memahami dan bisa mengendalikan emosinya akan menjadi orang yang empati. Ini bekal dasar untuk ia berkontribusi kelak.  Jadi tak perlu khawatir jika anak berkotor-kotor ria atau terkesan bermain melulu selama ada hikmah yang bisa anak petik dari berbagai aktivitasnya.

3. Menumbuhkan “kebutuhan belajar” pada anak. Belajar kan nggak hanya diukur dengan calistung saja tho? jika anak distimulasi untuk mencari tahu dan berpikir (dipancing dengan pertanyaan), ia akan menjadi manusia yang haus ilmu dan selalu ingin belajar. Sekali pun melalui aktivitas bermain. Dengan bermain, banyak yang bisa anak pelajari misalnya dengan permainan tradisional, anak belajar bersosialisasi, bekerja sama, mengelola emosi (menang/kalah), kejujuran dsb. Guru berperan sebagai fasilitator yang menanamkan nilai pada setiap aktivitas anak, bukan sekedar mengejar target kognitif untuk jenjang pendidikan berikutnya atau terburu-buru menjejalinya dengan segudang ilmu. Jika anak tidak mendapatkan haknya untuk bermain sesuai usianya, maka maka saat dewasa dan harus bertanggung jawab, ia bisa jadi belum siap dan malah menuntut haknya tadi. Intinya sekolah ini kaya akan metode pembelajaran dan punya paradigma baik dalam pendidikan.

4. Mengajarkan keterampilan hidup dan menumbuhkan kemandirian. Dalam rentang usia ini, 4 kebutuhan anak yang sebaiknya sudah tuntas adalah makan (mampu makan sendiri, menghabiskan makanan dalam periode tertentu dan fokus serta memperhatikan adab makan), tidur (bisa tidur sendiri dan kuantitasnya cukup http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=2009417114815), buang air (mengenali tanda-tanda ingin buang air dan menyampaikannya, bersih diri hingga bersih lingkungan), berpakaian (dari rambut sampai kaki dapat dilakukan sendiri). Anak-anak juga sudah bisa diajarkan keterampilan hidup sederhana yang sesuai dengan tahap perkembangan anak misalnya membersihkan sisa makanan dan mencuci piring setelah makan. Ini mengajarkan anak tanggung jawab, kemandirian, kepercayaan diri, kebersihan, menghargai upaya orang lain maupun menghargai makanan. Tentunya semua itu dilakukan secara bertahap dan membutuhkan proses sehingga yang perlu kita lakukan adalah memberikan kepercayaan, motivasi dan keteladana. Jangan lupa untuk memperhatikan juga unsur fun-nya sehingga anak senang melakukannya dan lambat laun akan menjadi kebiasaan baik.

5. Mempunyai mekanisme komunikasi yang baik dengan wali anak. Anak kita bukan mobil yang dimasukkan ke bengkel dan bisa kita tinggal sambil makan bakso lalu keluar bengkel sudah terima jadi. Sekolah yang peduli dengan kebutuhan anak didiknya tentu akan banyak melibatkan peran ortu dan sering melakukan komunikasi dua arah untuk menyerasikan apa yang didapat dari rumah dan sekolah. Bahkan kalau perlu melibatkan orangtua dalam proses KBM.

Kalau sudah mengikuti acuan-acuan tersebut, tidak perlu kaget kalau prestasi akademis dan non akademis anak melonjak tanpa diduga. Yang paling penting karakter positif anak terbangun karena hak-haknya telah tertunaikan dengan baik dan ia akan siap untuk belajar lebih banyak dan memberikan manfaat luas bagi alam semesta. Percayalah, anak-anak itu lebih cerdas dan lebih peka dari yang kita duga…

(Diperbaharui pada Juli 2018)